"ISTIKHARAH pada hakikatnya bukan untuk memilih diantara dua pilihan, tapi untuk menetapkan hati disatu pilihan." Anisa Rahman.
"CINTA adalah ruang dan waktu yang diukur oleh hati, dan terdiri dari satu jiwa yang menghuni dua tubuh." Rahmat Hidayatullah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GADIS DARI SEBERANG MUSI
Setelah pembahasan di balkon itu selesai, Hanifah membawa Yusuf ke kamarnya untuk mandi, dan umi Kalsum mengajak Anisa untuk berjalan-jalan diarea pesantren. Sementara abi Ridwan tetap berada dibalkon bersama Indra, menantunya.
"Abi, kenapa tidak memberitahu Anisa saja kalau sebenarnya Rahmat adalah laki-laki yang dijodohkan dengannya?" tanya Indra.
"Tadinya Abi ingin seperti itu, tapi kata Rahmat biarkan saja dulu. Rahmat ingin tahu apa yang membuat Anisa kabur dari perjodohan, bahkan sebelum dia bertemu dengan laki-laki yang dijodohkan dengannya." jawab abi Ridwan.
Indra nampak memanggut-manggutkan kepalanya. "Semoga semuanya berjalan lancar ya, Bi. Seperti aku dulu dan Hanifah." ujar Indra sambil tersenyum, ia mengingat bagaiman kisahnya dulu dengan sang Istri yang juga dijodohkan.
Abi Ridwan menoleh menatap menantunya itu, kemudian tersenyum hangat. "Amiin, Insya Allah jika Allah menghendaki semuanya akan berjalan sebagaimana mestinya." ucap Abi Ridwan.
"Amiin..." Indra mengaminkannya, ia juga berharap jika adik iparnya itu segera menemukan tambatan hatinya.
"Astagfirullah, Abi lupa telepon Pak Usman kalau Anisa ada disini, mereka sekarang pasti kelimpungan cari Anisa." Abi Ridwan segera beranjak dari tempat duduknya.
"Ndra, Abi ke kamar dulu ya mau telepon orangtuanya Anisa." pamit abi Ridwan.
"Iya, Bi." jawab Indra sembari menganggukkan kepalanya, dan abi Ridwan segera pergi ke kamarnya untuk menelpon pak Usman.
Sepeninggalan abi Ridwan menuju kamarnya, Indra pun beranjak kemudian pergi dimana adik iparnya itu berada saat ini. Indra tahu, jika sedang tidak ada kegiatan Rahmat selalu menghabiskan waktunya diruangan yang sudah seperti perpustakaan didalam rumah, membaca berbagai macam buku hadist disana.
"Rahmat... " panggil Indra setelah sampai diruangan itu, dan Rahmat yang sudah tau itu suara siapa, tersenyum simpul lalu menutup bukunya. Kemudian ia membalikkan seluruh badannya menghadap sang kakak ipar.
Seperti halnya Baginda Rasulullah SAW. Jika beliau dipanggil, beliau akan menengok dengan seluruh anggota tubuhnya. Apabila bercakap-cakap dengan seseorang, beliau tidak memalingkan wajahnya sampai orang itu pergi.
"Iya, ada apa, Mas?" tanya Rahmat.
"Gak, siapa tau kamu mau keliling area pesantren, Mas bisa temenin kamu." jawab Indra sekaligus menawarkan diri.
"Keliling Pesantren?" Rahmat mengerutkan keningnya.
"Umi lagi ajak Anisa keliling Pesantren, siapa tau kamu pengen lihat calon Istri kamu." ujar Indra kemudian mengatupkan bibirnya menahan senyum.
"Calon Istri yang kabur." ucap Rahmat terkekeh. "Kita lihat dari sini saja." sambungnya sembari menunjuk kearah monitor CCTV yang ada diruangan itu.
Rahmat pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian berpindah duduk dikursi yang berhadapan dengan layar monitor tersebut. Sementara Indra berdiri dibelakangnya.
Di layar monitor itu memperlihatkan Umi Kalsum dan Anisa yang sedang duduk dikursi panjang dibawah pohon besar yang terletak disamping Mushollah, dan terdapat kolam ikan didepannya.
"Oh ya, Abi sama Umi memang kenal ya sama orangtuanya Anisa?" tanya Indra. "Sehingga gadis dari seberang Musi itu yang dijodohkan denganmu. Padahal disini juga banyak anak gadis." sambungnya sambil terkekeh.
"Kata Abi, Abi ketemu sama Ayahnya Anisa di Majelis Ta'lim yang diadakan di Masjid Agung waktu itu." jawab Rahmat. "Terus kata Abi, Abi iseng bertanya pada Ayahnya Anisa apakah beliau punya anak gadis, dan ternyata punya."
"Dialah Anisa." sambung Indra.
Rahmat tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. "Dan Anisa itu ternyata anak tunggal." ucap Rahmat.
"Oh ya? Wah, kok Mas yang jadi gak sabar ya pengen lihat kamu cepat-cepat nikah sama Anisa. Anisa anak tunggal dan kamu anak bungsu. Kata orang anak tunggal itu cocok dengan anak bungsu karena jika dipasangkan mereka dapat melengkapi satu sama lain, karena anak tunggal memiliki sindrom kedekatan dengan orang tua hal ini lekat dengan karakter si anak bungsu yang juga kata nya dekat sama orangtua alias manja. Cocok banget tuh." ucap Indra, yang membuat Rahmat terkekeh.
"Masa gitu sih, Mas? Tapi aku gak merasa manja kok." ucap Rahmat membela diri.
"Oh ya? Terus yang sering Mas lihat tiduran dipangkuan Umi minta dielus kepalanya, siapa ya? Terus yang juga sering disuapin sama Umi itu siapa?" Hem, mungkin Yusuf. Ah tapi gak mungkin Yusuf, soalnya yang Mas lihat itu bayi besar." ucap Indra sambil tertawa, sementara Rahmat, ia tertunduk malu karena yang dikatakan oleh kakak iparnya itu adalah benar. Ia memang sering tiduran dipangkuan Umi nya, dan meminta Umi nya itu menyuapinya.
_________________------------________________
"Anisa... " panggil Umi Kalsum.
Anisa yang sedang melihat kearah kolam ikan, segerah mengalihkan tatapannya pada Umi Kalsum.
"Ya Umi, ada apa?" tanyanya.
"Umi boleh tanya gak?" ucap Umi Kalsum dengan pertanyaan pula.
"Tanya apa ya, Umi?" Anisa menatap Umi dengan menautkan kedua alisnya menunggu apa yang akan ditanyakan oleh Umi Kalsum padanya.
"Maaf ya sebelumnya, bukannya Umi mau ikut campur dengan permasalahan kamu. Tapi, untuk kebaikan kita bersama dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tolong kamu ceritakan yang sebenarnya, kenapa kamu bisa sampai disini?"
Anisa tersentak mendengar pertanyaan Umi Kalsum, ia ingin jujur namun ia juga malu untuk mengatakan jika ia sedang kabur dari perjodohannya. Apa yang nanti akan Umi katakan tentangnya.
"Umi gak bermaksud apa-apa, apalagi mau ikut campur dengan masalah kamu. Tapi kami perlu tau alasan kamu ingin tinggal disini, apa keluarga kamu setuju?" tanya Umi Kalsum lagi.
Lagi-lagi Anisa terdiam, sejujurnya ia merasa tak nyaman dengan pertanyaan Umi, namun ia juga tak ingin berbohong. Dan pada akhirnya Anisa pun mengatakan yang sebenarnya.
"Umi, sebenarnya aku kabur dari rumah." jawab Anisa dengan lirih, dan Umi Kalsum tentu tidak terkejut mendengar hal itu karena ia sudah tau. Namun, tetap saja ia harus berpura-pura terkejut agar Anisa tidak curiga.
"Astagfirullah, apakah masalahmu sepelik itu sehingga kamu harus kabur dari rumah?" Umi mengelus dadanya seolah ia benar-benar terkejut.
"Kalau kamu berkenan, ceritakan masalahmu pada Umi, nanti kita cari jalan keluar nya sama-sama." ucap Umi Kalsum. "Anggap saja Umi juga Ibu kamu." sambungnya.
"Tidak ada masalah yang besar, Umi." ucap Anisa lirih. "Hanya saja aku pergi dari rumah karena tidak mau dijodohkan." sambungnya.
Umi Kalsum menghela nafas nya, sebenarnya ia sudah geregetan ingin menginterogasi calon menantunya yang kabur ini. Namun, sebisanya Umi bersikap tenang seolah ia memang tidak mengenal Anisa.
"Kenapa tidak mau? Apakah laki-laki yang dijodohkan denganmu itu tidak tampan sehingga kamu kabur?" tanya Umi sambil terkekeh. "Atau laki-laki itu bukan kreteria laki-laki impianmu?" tanya nya lagi.
"Sebenarnya aku belum bertemu dengan laki-laki itu, Umi." jawab Anisa, ia menunduk malu karena Umi pasti akan mengejeknya, begitulah pikir Anisa.
seandainya dia crt ke rahmat atau abi ridwan soal mimpinya
jazakillah khairan thor, sukses selalu dlm karya2 nya
🥰🥰🥰🥰
thot terima kasih, jazakillah khairon 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰 🤗🤗🤗🤗🤗🤗
.
bukan rambut kepala di sambung dgn rambut saja.
.
beda daerah beda panggil an kali yahh..