Kisah ini tentang aksi seorang anak laki-laki yang bernama Annas. Ia ingin membalaskan dendam almarhum ayahnya dengan cara menjadi seperti dirinya. Menegakkan keadilan. Meskipun dia masih menginjak usia 17 tahun di bangku kelas 2 SMA, tapi bagi dirinya, tidak ada kamus ketakutan, selama jalan yang ia ambil demi mengungkap kebenaran.
Seperti saat ini, ketika di sekolahnya terjadi sesuatu yg mencurigakan, dia tidak bisa diam saja. Bahkan dia mengincar kedudukan ketua OSIS demi mendapat akses penuh untuk mencari tahu siapa dalang yang sebenarnya.
Tak disangka, dia juga dipertemukan dengan seorang gadis yang mampu membaca pola kasus yang sama di setiap tahunnya ketika disadarkan oleh pemuda yang selalu mengejarnya sejak dulu. Sama seperti dirinya, dia mampu membaca pola aksi pelaku.
Selain itu, Annas juga bekerja sama dengan seorang pemuda tengil yang pandai sekali di bidang TIK. Tak usah diragukan lagi, semua rencana dan strateginya adalah hasil kedua otak pemuda ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Litlerose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wabah OSIS
"TIIIIIIIN!!! TIIIIIIIIIN!!!"
Suara klakson motor yang ditekan panjang dan tanpa ampun memekakkan telinga siapa saja yang berada di area parkir sekolah. Semua mata sontak tertuju ke sumber suara.
Di tengah jalan keluar, motor sport hitam milik Annas tertahan. Bukan karena macet, melainkan karena barikade manusia berwujud tiga siswi yang berdiri nekat tepat di depan ban depan motornya.
Fitri merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, persis polisi lalu lintas, bedanya di wajahnya terpasang senyum genit yang merekah lebar. Di belakangnya, dua temannya ikut terkikik genit.
"Ya Allah, Fitri! Minggir napa! Ini jok motor panas, woy! Pantat gue mateng bentar lagi!" teriak Fadhil. Wajahnya sudah memerah sejak tadi, campuran antara emosi, malu dilihatin satu sekolah, dan kepanasan karena matahari sore.
"Nggak mau!" sahut Fitri manja. "Anterin kita dulu sampai depan gerbang, baru boleh lewat! Kan searah, Nas!"
Annas tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Wajahnya tertutup kaca helm full face yang gelap. Tapi dari gestur tangannya yang kaku dan kembali menekan tombol klakson, yang kali ini jauh lebih lama dan lebih nyaring, jelas sang Ketua OSIS sedang menahan diri untuk tidak menabrak barikade yang bernyawa itu.
"TIIIIIIIIIIIIIIIIIN!!!!"
Suara bising itu membuat beberapa siswa lain menutup telinga, tapi Fitri dan teman-temannya justru tertawa, merasa sukses mendapatkan perhatian sang Pangeran, meski perhatian itu berupa polusi suara.
Beberapa meter dari kerusuhan itu, di dekat pos satpam, Febby menutup telinganya dengan wajah masam.
"Cih. Caper!" desisnya pelan, matanya menatap tajam ke arah Annas yang masih berperang dengan klaksonnya.
"Siapa? Annas atau Fitri?" tanya Ani yang berdiri di sampingnya sambil menenteng helm bogo warna krem.
"Dua-duanya, lah!" jawab Febby ketus. "Yang satu gila perhatian, yang satu ngasih panggung. Norak."
Ani terkekeh geli. "Ya ampun, Feb. Itu namanya pesona ketua OSIS. Kamu aja yang imunnya kuat banget sampai nggak mempan!"
'Imun?'
Satu kata itu tiba-tiba membuat kejengkelan Febby terhadap Annas lenyap seketika, digantikan oleh sesuatu yang dingin yang merambat di punggungnya. Pikirannya tidak lagi berada di parkiran yang bising, melainkan terlempar kembali ke ruang OSIS, pada kalimat yang diucapkan Satria tadi saat dia makan nasi kuning.
"Kan kamu bentar lagi mau jadi menantu ibuku."
Febby mendengus kesal. "Sat, kebiasaan deh!"
Satria nyengir. "Iya, iya. Maap. Canda doang, Feb. Lanjutin gih makannya, aku temenin sampai selesai."
Febby menghela napas, ia melanjutkan makannya.
Melihat Febby menurut, Satria tersenyum tipis. "Maksud aku tuh, biar imun kamu nggak lemah kayak pengurus OSIS tahun-tahun lalu."
Febby mengerutkan keningnya, tapi ia tetap lanjut makan tanpa merespon satu kata pun, karena merasa tak nyaman berduaan dengan laki-laki di ruangan yang sepi itu.
"Tapi tahun ini juga, sih. Aneh nggak sih, Feb? Perasaan anak OSIS imunnya lemah semua. Terutama yang megang duit."
Febby akhirnya menoleh. "Maksud kamu?"
"Kalau nggak bendahara ya sekretaris, mereka imunnya lemah semua. Itu sih yang dikatakan kakak sepupuku. Dia kan alumni sekolah sini, dia juga mantan ketua OSIS di sekolah ini. Yaa, kalau kita lagi ngumpul bareng dia cerita-cerita soal OSIS. Makanya, aku nggak mau kamu sampai telat makan hanya karena ngurusin acara sekolah yang cuma sehari."
Tawa Ani perlahan memudar saat melihat ekspresi Febby berubah drastis. Dari yang tadinya kesal, kini menjadi kaku dan serius. Ia tiba-tiba mematung, pandangannya kosong menatap aspal.
"Feb? Kamu kenapa?" Ani menyenggol lengan sahabatnya. "Kok malah bengong? Kesambet lho, nanti."
Febby tersentak, ia menoleh perlahan, mengabaikan suara motor Annas yang akhirnya berhasil lolos dari kepungan Fitri dan melaju kencang melewati mereka.
"An, kamu tahu Manda?" suara Febby terdengar rendah, nyaris tertelan deru kendaraan lain.
"Manda? Bendahara satu?" Ani mengernyit bingung dengan perubahan topik yang mendadak ini. "Tahu lah. Kenapa emangnya?"
"Dia masuk sekolah nggak hari ini?"
"Enggak," jawab Ani, mencoba mengingat-ingat. "Kan udah seminggu dia izin sakit. Katanya tipes, atau demam berdarah gitu, aku lupa. Kenapa sih?"
"Kalau Sarah? Bendahara dua?"
Ani tampak berpikir sejenak, telunjuknya mengetuk-ngetuk helmnya. "Sarah... kayaknya tadi pagi masuk, tapi pas istirahat kedua dia pulang dijemput ibunya. Katanya asam lambungnya naik parah sampai pingsan di UKS."
Mata Febby menyipit di balik kacamatanya. Pola itu mulai terlihat.
"An, coba ingat-ingat. Tahun lalu, Kak Ratna, bendahara OSIS periode sebelumnya... dia berhenti di tengah jalan kenapa?"
Wajah ceria Ani berubah murung seketika. Suaranya memelan. "Oh, Kak Ratna... kan meninggal, Feb. Katanya sakit komplikasi ginjal mendadak. Serem ya, padahal orangnya kelihatan sehat banget sebelumnya."
Febby terdiam.
Tiga orang. Semuanya perempuan. Semuanya memegang jabatan bendahara atau berhubungan dengan keuangan OSIS. Dan semuanya tumbang karena penyakit yang berbeda-beda tapi waktunya selalu berdekatan dengan pencairan dana acara besar sekolah. Pikiran Febby mulai kemana-mana.
"Kenapa sih, Feb? Kok tiba-tiba nanya horor gitu?" Ani bergidik ngeri melihat ekspresi Febby yang semakin pucat. "Jangan bikin takut, ah!"
"Nggak apa-apa, cuma ngerasa... kebetulan yang terlalu rapi."
Febby menatap gerbang sekolah yang kini mulai sepi. Tanpa ia sadari, dari jendela lantai dua gedung utama yang gordennya sedikit terbuka, sepasang mata sedang mengawasi gerak-geriknya di bawah sana.
Sosok itu tersenyum miring, lalu mengetik pesan singkat di ponselnya.
Siapa Sekretaris I tahun ini? Febby?
Iya. Kenapa?
Dia mulai mengacak-acak anggaran. Coba beri dia peringatan.
-BERSAMBUNG.