Bagaimana jika hubungan yang telah di jalin selama empat tahun terbentang oleh restu orangtua?
Apa harus terus bertahan hingga restu itu datang tanpa kepastian hubungan? atau memilih untuk mengakhiri hubungan dan menjalani kehidupan masing-masing? Atau malah memilih bertahan dan memantapkan hubungan itu meski harus melawan restu?
Begitu lah dengan kisah Kriss dan Delia yang hubungannya harus terombang-ambing karena RESTU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Mama Lastri juga sudah sampai di rumah satu jam yang lalu.
"Mau kemana kamu?" Tanya Mama Lastri saat melihat Kriss yang hendak keluar dari rumah.
"Mau main." Jawab Kriss dingin.
Mama Lastri menarik nafasnya dalam lalu membuangnya perlahan.
"Sabar Lastri... sabar. Kalau bukan demi melancarkan rencana, udah ku ketok kepala anak ini!!" Gumam Mama Lastri dalam hati.
"Mau main apa mau jemput Delia?" Tanya Mama Lastri lembut.
Kriss mengernyitkan keningnya saat mendengar sang Mama menyebut nama Delia. Nama yang sangat haram untuk Mama nya ucapkan apalagi Mamanya menyebut nama sang kekasih dengan sangat lembut.
Kriss menoleh ke arah Mama nya.
"Mama tadi bilang apa?" Tanya Kriss untuk memastikan apa yang barusan ia dengar.
"Mama tadi tanya, kamu mau main apa mau jemput Delia?" Tanya Mama Lastri sekali lagi.
"Mama gak lagi sakit kan?" Tanya Kriss sambil memicingkan matanya.
"Gak. Kenapa, ada yang salah?"
"Mama barusan nyebut nama Delia."
"Bukannya selama ini Mama juga sering nyebut nama Delia?"
"Gak. Biasanya Mama nyebut Delia dengan sebutan 'pacar kamu' atau gak 'perempuan itu'." Jawab Kriss.
Mama Lastri tidak menjawab, ia hanya mengibaskan rambutnya lalu berpura-pura membaca majalah yang sejak tadi ia pangku.
"Kalau kamu mau jemput Delia, pake mobil Mama aja. Sekalian, ajak Delia kesini, kita makan malam bareng." Ucap Mama Lastri tanpa melihat wajah Kriss.
Mata Kriss membelalak sempurna.
"Mama serius?" Tanya Kriss masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
Mama Lastri mendongakkan wajahnya.
"Apa Mama terlihat sedang main-main?" Mama Lastri bertanya balik.
"Tapi kok tiba-tiba? Mama gak lagi merencanakan sesuatu kan untuk Delia?"
PLAAK. Mama Lastri memukul kepala Kriss dengan majalah.
"Pikiran kamu tuh yah jahat banget sama Mama kamu!! Kalau Mama mau berbuat jahat sama Delia, ngapain juga harus sekarang. Udah dari waktu pertama kamu pacaran sama dia, Mama akan berbuat jahat sama Delia seperti yang di sinetron-sinetron!!" Protes Mama Lastri.
"Terus kenapa sekarang Mama tiba-tiba berubah?"
"Pertama, karena Mama gak mau kehilangan kamu, makanya Mama mengalah, asal kamu benar-benar bahagia dengan Delia. Kedua, karena Mama takut karma akan menimpa Ivanna kalau Mama bersikeras melarang hubungan kamu dengan Delia, apalagi Ivanna kan sekolah di Singapore, Mama gak bisa memantau adik kamu itu dua puluh empat jam, Mama takut nanti adik kamu kena karma dari keegoisan Mama. Mama ingin anak-anak Mama bahagia dengan pilihan mereka." Jawab Mama Lastri.
Senang karena sang Mama akhirnya merestui hubungannya dengan Delia, Kriss pun memeluk erat sang Mama.
"Makasih yah Mah, makasih. Akhirnya Mama ngerestuin hubungan Kriss dengan Delia." Ucap Kriss sambil memeluk Mamanya.
"Sama-sama sayang. Yang penting kamu bahagia." Balas Mama Lastri.
"Udah sana jemput Delia, dan bawa kesini. Biar Mama bicara langsung dengan dia." Ucap Mama Lastri lagi.
Kriss pun melepaskan pelukannya dari sang Mama.
"Kriss pergi dulu yah. Cup." Pamit Kriss lalu mencium pipi Mamanya sebelum beranjak meninggalkan Mamanya yang ada di ruang tengah.
Setelah tubuh Kriss sudah tidak terlihat lagi, Mama Lastri pun tersenyum licik.
"Bersenang-senang lah kamu sekarang Kriss, anggap saja kamu lagi mengukir kenangan terakhir dengan perempuan itu." Gumam Mama Lastri.
"Ani... Ani..." Teriak Mama Lastri memanggil asisten rumah tangganya.
"Iya Bu." Jawab Ani dari dapur. Ani pun berlari menghampiri Mama Lastri.
"Kenapa Bu?"
"Tolong kamu beliin lima menu untuk makan malam yah. Ada tamu spesial yang mau datang." Perintah Mama Lastri. Mama Lastri pun mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada Ani.
Ani pun mengambil uang itu dari tangan Mama Lastri.
"Saya pergi dulu Bu." Pamit Ani. Ani pun pergi dari hadapan Mama Lastri.
Sepeninggal Ani, Mama Lastri kembali tersenyum licik membayangkan keberhasilan rencananya.
Bersambung...