Tiga tahun lalu, Lin Tian adalah jenius nomor satu di Kota Daun Merah sebelum takdir menghancurkan seluruh meridiannya. Menjadi sampah yang diinjak-injak semua orang tidak membuat pemuda ini menyerah pada nasib buruknya.
Keberuntungan berubah saat darahnya membangkitkan Mutiara Yin-Yang Primordial, pusaka kuno yang menyimpan jiwa Permaisuri Iblis seksi bernama Yue Chan. Di bawah bimbingan sang permaisuri, Lin Tian memulai jalan kultivasi ekstrem melalui pembantaian dan kultivasi ganda.
Dia bukan pahlawan suci, melainkan kultivator bermuka tebal yang sangat realistis. Jika musuh terlalu kuat, dia akan melarikan diri, menyebarkan racun, atau menikam dari belakang.
Namun, siapa pun yang berani menyentuh wanitanya akan menghadapi pembalasan paling kejam. Saksikan kisah Lin Tian menghancurkan surga dan menjadi penguasa tertinggi alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Persiapan Perang
Air kotor menetes pelan dari wajah pucat Tuan Muda Kota Wang Teng yang terlihat sangat menyedihkan. Dia baru saja membilas sisa kotoran berbau busuk dari tubuhnya sebanyak puluhan kali di kamar mandi.
Rasa mual masih terus bergejolak hebat di dalam rongga dada dan bagian bawah perutnya. Urat kemarahan menonjol dengan sangat jelas di sekitar pelipis kanannya yang terus berkedut tegang.
Gu Tua duduk bersila di atas ranjang giok dengan ekspresi wajah keriput yang sangat suram. Aura pembunuhan dari ahli ranah Pembentukan Inti itu membuat seluruh pelayan di ruangan gemetar ketakutan.
Pintu kayu berukir naga di ruangan megah itu tiba-tiba didorong terbuka secara kasar dari luar. Seorang mata-mata berpakaian hitam pekat masuk ke dalam dengan gerakan langkah kaki yang tergesa-gesa.
Mata-mata itu segera berlutut dan menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah permukaan lantai batu marmer. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari dagunya akibat menahan sisa tekanan spiritual Gu Tua.
“Tuan Muda, kami baru saja menemukan laporan yang sangat menarik tentang senjata pedang raksasa hitam. Senjata tanpa mata pisau itu sangat identik dengan milik pemuda bermarga Lin.”
Mata-mata tersebut mulai menjelaskan secara rinci tentang kejadian di arena turnamen Klan Lin siang tadi. Lin Tian telah menghancurkan dantian lawannya secara brutal menggunakan pedang berat yang dirampasnya.
Wang Teng seketika meremas cangkir teh porselen di tangannya hingga hancur berkeping-keping akibat lonjakan emosi. Darah segar menetes dari telapak tangannya yang terluka akibat goresan pecahan keramik tajam tersebut.
PRAANGG!
Serpihan keramik berhamburan mengenai lantai batu marmer tepat di bawah ujung sepatu bot kulitnya. Kilatan kebencian yang amat pekat seketika membakar sepasang matanya yang masih sedikit membengkak kemerahan.
“Jadi alkemis tua bangka yang misterius itu adalah penyamaran dari sosok pemuda sampah tersebut. Dia benar-benar berani mempermainkan martabat agung faksi kota dan mencuri uangku di pelelangan!”
Gu Tua perlahan membuka sepasang matanya yang tampak sangat cekung ke dalam tengkoraknya. Kilatan cahaya keemasan langsung membelah udara kosong di depannya laksana ujung mata pedang yang tajam.
“Pemuda itu memiliki banyak rahasia kotor dan kelicikan akal yang jauh melampaui usianya. Namun di hadapan kekuatan militer yang absolut, semua tipu dayanya hanyalah sebuah lelucon belaka.”
Tidak lama setelah itu, seorang pria paruh baya dengan pakaian zirah harimau melangkah masuk ke ruangan. Dia adalah Zhao Feng, pemimpin utama Klan Zhao yang sedang diliputi oleh duka dan amarah.
“Tuan Muda Kota, aku mendengar bahwa kita berdua memiliki satu target pembunuhan yang sama malam ini. Klan Zhao bersedia mengerahkan seluruh pasukan elit untuk meratakan kediaman anjing bermarga Lin itu.”
Zhao Feng mengepalkan kedua tangannya hingga terdengar suara tulang buku-buku jarinya bergemeretak keras. Dendam atas lumpuhnya kultivasi putra kesayangannya membuat akal sehat pria itu tertutup kabut darah.
“Putra kebanggaanku Zhao Kun kini terbaring lumpuh di ranjangnya laksana bongkahan daging mati tak berguna. Aku akan menguliti kulit Lin Tian perlahan-lahan untuk membuat karpet di ruang tamu kediamanku.”
Wang Teng menyeringai ganas dengan gigi-giginya yang bergemeretak keras menahan gejolak amarah jiwanya. Sebuah kesepakatan pembantaian yang sangat kejam telah resmi terbentuk di dalam ruangan berhawa dingin tersebut.
“Kita akan membagi dua kekayaan Paviliun Harta yang disembunyikan oleh bocah kotor itu di cincinnya. Seluruh anggota wanita di klan Lin akan menjadi budak pemuas nafsu bagi para prajurit kita.”
Sementara itu, angin malam berhembus dingin menyapu dedaunan kering di halaman belakang wilayah Klan Lin. Keadaan paviliun utama tampak sangat sunyi seolah tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan di sana.
Bayangan gelap berkelebat cepat melewati tembok pembatas tinggi dengan gerakan fisik yang sangat mulus. Sosok itu mendarat di atas cabang pohon ek besar tanpa menimbulkan suara ranting patah sedikitpun.
Lin Tian mengawasi rute patroli para penjaga malam klan dari balik kerimbunan daun pohon tersebut. Sepasang matanya menghitung interval waktu pergantian penjaga dengan tingkat keakuratan yang sangat presisi.
Jari-jari tangannya bergerak cepat mengambil dua keping batu spiritual kelas rendah dari dalam dimensi cincinnya. Dia melempar batu itu ke sudut halaman semak-semak sempit untuk mengalihkan pandangan para penjaga.
TUKK!
Suara benturan batu kecil itu langsung membuat dua orang penjaga menoleh serentak ke arah sumber suara. Memanfaatkan celah kelengahan sepersekian detik itu, Lin Tian melesat masuk menembus koridor utama klan.
Dia menyusup ke dalam bayang-bayang pilar batu layaknya hantu malam yang sama sekali tak kasat mata. Lin Tian berjalan melewati paviliun tempat para murid elit klan sedang tertidur pulas di kamar mereka.
Terdengar suara dengkuran keras dari kamar sepupunya yang paling gemar merundungnya secara fisik di masa lalu. Sifat pragmatisnya sama sekali tidak memiliki niat baik untuk membangunkan mereka sebagai bentuk peringatan bahaya.
Dia akan membiarkan saja para lintah klan yang angkuh ini menjadi perisai daging untuk menahan serangan musuh. Lin Tian lebih memilih menyimpan tenaganya daripada harus berdebat kosong dengan para tetua klan yang kolot.
Langkah kakinya yang sangat ringan membawanya langsung menuju ke ruang meditasi pribadi milik Kakeknya. Pintu kayu berukir naga di ruangan itu sedikit terbuka dan memancarkan cahaya lilin yang sangat redup.
Hawa dingin yang sangat tidak wajar merembes perlahan keluar dari celah lantai kayu pembatas ruangan. Lin Tian mendorong pintu kayu itu secara hati-hati lalu melangkah masuk ke dalam tanpa ragu.
Dia melihat Kakeknya sedang duduk bersila tegak dengan bibir pucat yang telah membiru pekat. Lapisan es tipis menutupi bagian alis dan rambut putih pria tua penjaga utama klan tersebut.
Racun dingin di dalam dantiannya sedang memberontak ganas mencoba membekukan seluruh sirkulasi aliran meridian tubuhnya. 'Bocah, jika kamu terlambat datang sepuluh menit saja, lelaki tua ini sudah menjadi patung es pajangan.'
Suara Yue Chan terdengar mencemooh dengan nada malas di dalam pusat kesadaran spiritual pikiran Lin Tian. Lin Tian mengabaikan ejekan permaisuri iblis itu dan segera mengeluarkan sebuah kotak kayu giok berukir.
Kotak itu berisi ramuan herbal penekan racun yang baru saja dibelinya dari pelelangan Paviliun Harta. “Kakek, telan pil ini sekarang juga dan serap esensi panasnya perlahan-lahan ke dalam jalur meridianmu.”
Bisikan Lin Tian terdengar tegas sembari meletakkan pil merah menyala ke atas telapak tangan kakeknya. Patriark Lin membuka matanya dengan susah payah dan menatap wajah cucunya yang dipenuhi keseriusan mutlak.
Dia tidak membuang waktu untuk banyak bertanya dan langsung menelan pil herbal tersebut ke dalam kerongkongannya. Energi panas seketika meledak liar di dalam pusat rongga dada pria tua berambut putih itu.
Kabut uap putih mulai mengepul lebat dari seluruh pori-pori kulitnya untuk mengusir hawa dingin tersebut. Lin Tian menempelkan kedua telapak tangannya tepat di bagian punggung kakeknya untuk menyalurkan murni energi qi.
Dia membantu mengarahkan jalur penyebaran obat itu menuju langsung ke pusat dantian yang hampir membeku. Setelah belasan tarikan napas panjang, warna kulit wajah Patriark Lin berangsur memerah menjadi normal kembali.
Dia perlahan mencondongkan tubuhnya ke depan dan membuka mulutnya lebar-lebar dengan ekspresi wajah menahan rasa sakit. Segumpal darah hitam berbau busuk dimuntahkannya langsung ke dalam mangkuk perak yang berada di sampingnya.
UHUKK!
“Tian-er, dari mana kamu mendapatkan pil spiritual tingkat tinggi ini pada jam larut malam begini. Obat ini pasti menghabiskan ribuan batu spiritual kelas rendah yang tidak mungkin bisa kamu miliki.”
Lin Tian mengambil sehelai kain sutra bersih dan mengusap sisa darah kotor di bagian dagu kakeknya. Wajah pemuda itu terlihat sangat serius dan tidak menyisakan sedikitpun ruang santai untuk bercanda.
“Aku melelang beberapa pil gairah kuno di Paviliun Harta dengan menyamar sebagai seorang master alkemis tua. Namun identitasku kemungkinan besar sudah terbongkar oleh kelompok mata-mata dari faksi Tuan Muda Kota.”
Tangannya bergerak cepat memasukkan seluruh barang berharga di ruangan itu ke dalam cincin penyimpanan spasial miliknya. Dia sama sekali tidak mempedulikan nilai sejarah dari lukisan kuno atau vas antik peninggalan para leluhur.
“Klan Zhao dan faksi kota pasti sedang mengumpulkan seluruh pasukan elit mereka pada saat ini juga. Bertahan di tempat ini sama saja dengan tindakan bunuh diri menggali liang kubur bagi kita sendiri.”
Patriark Lin terbelalak lebar mendengar penjelasan analisis cucunya yang sangat berani dan terlampau pragmatis. Dia segera mencoba berdiri tegak dari atas kasurnya untuk mengambil tombak pusaka di sudut ruangan.
“Kakek akan menahan gelombang serangan mereka di gerbang depan demi mengulur batas waktu pelarian bagimu. Kamu harus segera lari keluar dari kota ini malam ini juga dengan membawa Su-er pergi.”
Lin Tian langsung menekan pundak kakeknya dengan sangat kuat agar pria tua itu kembali duduk diam. Sorot matanya memancarkan sebuah ketegasan absolut yang sama sekali tidak bisa dibantah oleh siapapun juga.
“Mati secara konyol demi membela kehormatan klan yang sudah membuang kita adalah tindakan yang paling bodoh. Kita bertiga akan pergi menembus neraka ini bersama-sama melalui jalur rahasia selokan bawah tanah kota.”
Lin Tian tidak menunggu bantahan jawaban kakeknya dan segera berbalik berjalan menuju keluar dari ruang meditasi. Dia melesat membelah kegelapan malam menuju ke kamar tidur pelayan pribadi yang berada di sayap kiri.
Jendela kamar kayu itu tidak terkunci dari bagian dalam sehingga dia bisa melompat masuk dengan sangat mudah. Aroma bunga melati yang sangat lembut dan menenangkan langsung menyapa masuk ke dalam indra penciumannya.
Gadis muda itu sedang tertidur pulas dengan selimut katun tebal yang menutupi bagian sebatas dadanya. Napasnya terdengar berirama teratur dan wajah cantiknya terlihat sangat damai di bawah siraman cahaya bulan.
Lin Tian menepuk pipi lembut gadis itu dengan tenaga yang sangat terukur agar dia segera tersadar. Su-er perlahan membuka sepasang matanya dan terkejut mendapati siluet sosok pria tegap di dalam kamarnya.
“Tuan Muda, apa yang sedang terjadi sampai Anda harus menyelinap masuk ke kamarku pada larut malam begini. Apakah Anda sedang membutuhkan sebuah pelayanan sesuatu secara khusus dariku di malam hari ini?”
Lin Tian langsung menarik lengan kecil gadis itu agar segera bangkit dari atas ranjang kayu sederhananya. Dia melemparkan sebuah jubah musim dingin berwarna gelap ke arah pangkuan gadis yang masih kebingungan itu.
“Jangan banyak membuang waktu untuk bertanya dan segera pakai pakaian tertebal yang kamu miliki di dalam lemarimu. Kita harus pergi mengevakuasi diri meninggalkan rumah ini dalam batas waktu kurang dari lima menit.”
Su-er bisa langsung merasakan ketegangan yang sangat pekat dari intonasi nada suara Lin Tian yang berat. Dia tidak membantah instruksi sedikitpun dan langsung mengganti pakaian tidurnya dengan gerakan yang sangat cepat.
Lin Tian sengaja memunggungi posisi gadis itu sembari terus mengawasi keadaan luar melalui celah jendela kayu. Indra spiritual jiwanya terus meluas menembus dinding bangunan untuk mendeteksi setiap anomali energi di sekitar wilayah.
Otaknya yang sangat realistis sedang sibuk menghitung rute pelarian paling aman untuk menghindari kepungan pasukan penyergap. Dia tahu persis bahwa gerbang utama klan dan pintu jalur belakang pasti sudah dikunci rapat oleh musuh.
Tangan Lin Tian bergerak mengeluarkan beberapa botol kecil berisi bubuk racun gatal dari dalam cincin spasialnya. Dia menaburkan serbuk putih itu di area sekitar kusen jendela dan lantai pintu kamar sebagai jebakan kecil.
Sifat protektif di dalam dirinya tidak akan membiarkan siapapun menyentuh sembarangan ruang pribadi milik orang-orang terdekatnya. Siapapun kultivator musuh yang berani merangsek masuk ke kamar ini akan merasakan penderitaan kulit yang terkelupas.
“Tuan Muda, aku sudah siap membawa seluruh perbekalan dasar medis dan beberapa potong makanan kering milik kita,” ucap Su-er sembari menyandang sebuah tas kain kecil berwarna coklat di belakang punggungnya.
Lin Tian berbalik badan dan mengangguk puas melihat tingkat efisiensi pelayan pribadinya yang sangat mandiri itu. Dia meraih telapak tangan kecil Su-er lalu menariknya berlari keluar kamar secara diam-diam menyusuri dinding.
Sebelum melangkah meninggalkan lorong halaman utama, Lin Tian mengeluarkan beberapa pasang bendera formasi peledak tingkat rendah. Dia menanamkan benda sihir itu ke bawah celah ubin batu pijakan yang mengarah menuju ke ruang pusaka.
Jika ada pasukan musuh yang mencoba menjarah harta klan, mereka akan langsung disambut oleh ledakan elemen api. Sifat kejam Lin Tian memastikan bahwa pihak musuh harus selalu membayar harga mahal untuk setiap tarikan napas.
Mereka berdua bergerak cepat tanpa suara menyusuri koridor bayangan menuju ke area halaman depan paviliun utama. Patriark Lin ternyata sudah berdiri sangat tegap di sana dengan mengenakan setelan baju zirah perang tuanya.
Pria tua itu menggenggam batang tombak peraknya dengan sangat erat sembari memandang lurus ke arah gerbang utama. Hawa pembunuhan gabungan yang sangat masif tiba-tiba menyapu jatuh menekan seluruh lapisan udara di atas klan.
Langit malam musim gugur yang semula gelap gulita mendadak berubah menjadi terang benderang oleh pantulan ratusan obor. Suara derap langkah kaki ratusan kultivator terdengar secara bersamaan menggetarkan seluruh permukaan batuan tanah jalanan kota.
DUUMMM!
Sebuah genderang perang ukuran besar ditabuh dengan sangat keras hingga memecah kesunyian malam yang tadinya begitu mencekam. Teriakan nyaring penuh dengan kebrutalan terdengar bergema mengintimidasi dari arah luar tembok tinggi pembatas klan.
“Lin Tian, serahkan nyawamu sekarang juga atau kami benar-benar akan membantai seluruh anjing di klanmu malam ini. Tidak ada satu pun dari kalian yang akan masih bernapas untuk melihat indahnya matahari terbit esok hari!”
Lin Tian segera menarik pinggang Su-er dengan paksa untuk berlindung di balik pilar batu giok yang sangat besar. Dia menatap tajam ke arah gerbang depan klan dengan sebuah senyuman sinis yang memancarkan aura kekejaman mutlak.
“Mereka datang menyerbu jauh lebih cepat dari batas perkiraan waktu rasional di dalam hitungan kepalaku. Sepertinya gerombolan anjing-anjing itu benar-benar kelaparan dan sudah tidak sabar untuk mencari tulang segar malam ini.”
Pedang Berat Hitam langsung ditarik keluar dari dalam ruang dimensi cincin penyimpanannya tanpa keraguan sedikitpun. Hawa dingin dari senjata tumpul itu menyatu dengan sangat sempurna dengan kilatan niat membunuh di mata Lin Tian.
tapi ini kok aku rasa keterlaluan bersikap dingin kepada semuanya walaupun orang itu baik dan benar-benar setia kepada dia
bahkan terhadap orang yang berbuat baik kepadanya
tak perlu membuang-buang energi hanya untuk menyelamatkan orang yang pernah mencampakkanmu dan memandang rendah pada dirimu👍👍👍