Di Indonesia mendadak muncul sebuah gerbang yang ternyata di dalamnya terdapat banyak monster khayalan orang-orang, namun kini mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dan seorang remaja bernama Satriaji menjadi salah satu seorang yang mendapatkan kekuatan untuk melawan para monster yang ada, di sisi lain ia mendapatkan kenyataan yang pahit tentang sahabat masa kecilnya yang sudah dianggapnya seperti kakak kandung.. apa itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadly Abdul f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 06 : Hari Kedua
Satriaji membuka kedua kelopak mata mendapatkan pemandangan yang tidak familiar. Dirinya berada di dalam tenda, ada Vlad bersama beberapa orang tengah tertidur di sampingnya dan ia mengingat apa yang terjadi sebelum pindah mengenai Artha sontak buatnya kaget. Lelaki ini mengernyitkan alis beserta dahinya menampakkan wajah seorang lansia.
"Semuanya bangun!" Teriak guru dari luar tenda. Seluruh laki-laki bangun dari tidurnya, keluar dari tenda bersama rasa kantuk begitu juga terpaksa bergerak dari sebelah dalam tenda keluar ke sebelah luar. Vlad ikut membuka pelopak mata. Mengulurkan tangan ke atas tegang-tegang bersama mengangakan mulut mengeluarkan napas karena mengantuk, wajah malas terlihat jelas di raut mukanya.
Satriaji melebarkan senyumnya sebelum berkata, "selamat pagi.. tidurmu begitu nyenyak."
"Kak Satriaji bangun ? Bagaimana keadaanmu ?!" Vlad memegang kedua pundak temannya menatap wajahnya cemas. Merasa bila wajahnya terlalu dekat Satriaji menjauhkan sedikit jarak mukanya, meminta untuk menjelaskan apa yang terjadi setelah dirinya pingsan adik kelasnya tidak mengatakan apapun. Membisu bagai orang tak bisa bicara.
Selang beberapa lama selepas mereka bersiap-siap, matahari telah memperlihatkan wajahnya akan tetapi semua murid menatap langit terkagum. Bukan sebuah kesamaan bila ada dua bulan, samar-samar terlihat benda seperti bulan yang ada di bumi berbeda akan tetapi warnanya merah gelap.
"Karena perbedaan musim serta hewan yang memiliki kemampuan tertentu, dunia ini berbeda dengan tempat tinggal kita.. dan banyak sekali hal yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat, maka dari itu jangan heran kalau kalian bertemu sesuatu yang tidak masuk akal semacam monster akan hal lainnya."
Guru membuang napas sambil memelas setelah bicara demikian, ia menatap beberapa orang yang telah memburu monster yang sulit untuk di taklukan. Meskipun tentara yang ada tidak bisa menghadapi mereka, anak-anak di depannya bisa melakukannya tanpa kesalahan apapun.
"Ada hewan yang menjaga hutan ini dari ancaman, jangan heran lagi kalau ada hewan yang tidak bisa merusak pohon atau apapun yang ada di wilayahnya," tunjuk guru pada Satriaji. Satriaji membuka kedua matanya, ia teringat mengapa harimau kemarin tidak menyebabkan kebakaran saat menyentuh pohon dan tujuannya hanya ingin melindungi hutan.
"Berarti mereka punya akal ?" Batin Satriaji. Tidak memahami lagi dengan keadaan di dunia ini, ia melirik ke sekitarnya menyadari kalau mereka sudah membuat bangunan dan telah menebang sejumlah pohon untuk menjadikannya bangunan. Tujuan mereka saat ini memperluas wilayah, karena setiap negara muncul gerbang yang sama dan ada kemungkinan tentara dari negara lain juga keberadaannya dekat dengan mereka.
Komunikasi mereka tidak bisa digunakan, tanpa henti alat untuk berkomunikasi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ponsel juga sama, hanya bisa digunakan untuk melihat peta serta hal lainnya selain menelpon atau menggunakan internet karena tak ada sinyal atau jaringan sedikitpun.
Seseorang mengangkat tangannya bertanya, "lalu apa yang harus kami lakukan sekarang ?"
"Selama sebulan penuh kalian akan terus membasmi monster," jawab guru dengan wajah kesal. Dalam waktu yang cukup singkat itu sangat sulit, Satriaji mulai mengerutkan kening beserta menghela napas berulang kali berpikir sekolah memanfaatkan siswa dengan baik belasan kali dan Satriaji bingung mengapa dirinya begitu ingat berapa kali hal semacam ini terulang.
"Mengapa tidak mengirim prajurit bersama kami ? Meskipun mereka mungkin takkan terlalu banyak membantu, paling tidak bisa mengarahkan kami, bukan ?" Satriaji mengangkat tangannya. Pandangan murid semuanya beralih padanya, guru bukannya menjawab malah terdiam seperti tengah memikirkan jawaban untuk pertanyaan dari salah satu muridnya.
Dia berpikir kalau tak heran akan ada murid yang berpikiran seperti itu. Tapi, ia tidak bisa mengatakan apapun sebelum satu diantara mereka tewas ataupun semuanya lulus dengan selamat tanpa adanya satupun nyawa menjadi korban. Tentu pilihan kedua itu yang diinginkannya, melainkan juga untuk keselamatan mereka kalau terjadi sesuatu.
Pada akhirnya, pertanyaan Satriaji tidak dijawab hanya ditenggelamkan pada pembicaraan antara guru dengan anak didiknya.
Hampir tiga jam berlalu, mereka kini seperti biasa melakukan hal semacam kemarin akan tetapi tujuan kemarin di kirimnya satu orang dan hanya diperbolehkan untuk berpisah bertujuan untuk memberikan pandangan pada mereka macam apa dunia ini. Dan itu menghasilkan banyak pemikiran dalam otak murid tentang bagaimana dunia ini bekerja, serta yang paling berat di pikiran mereka hanyalah menerima pertanyaan. Bagaimana sihir bisa ada di dunia ini.
Bagai kendaraan, pasti kendaraan takkan berjalan jika tidak ada bensin atau energi yang menghidupkan mesin sebagaimana mestinya sihir juga demikian. Akan tetapi jawaban masih belum di temukan dan hanya menjadi perdebatan sendiri.
***
"Kita ke dekat gunung ? Katanya ada semacam mahkluk kecil yang berwarna hijau," kata Vlad terdengar pelan agak berbisik. Tentu sebagai pendengar Satriaji hanya mendengarkan setiap ocehan kata melontar dari mulutnya, walau wajah memelas tampak enggan untuk mendengarkan perkataannya yang membosankan.
Dari sejak awal Satriaji tidak tertarik pada hal berbau fantasi atau semacamnya, kebanyakan murid laki-laki pasti memiliki pikiran mengenai itu berbeda dengan Satriaji. Pohon-pohon yang tumbuh besar serta banyak serangga berukuran sebesar kepalan tangan hidup di pepohonan, dan sama halnya dengan predator kebanyakan yang tinggal di atas pohon.
Tempat yang di tuju Satriaji sebelumnya ialah tempat di mana tak ada binatang seperti itu, hanya binatang besar saja yang ditemuinya dan tak ada satupun mahkluk kecil seperti serangga. Walaupun ia berpikir bahwa setiap mahkluk hidup di sini tengah mempertahankan wilayah mereka masing-masing, mereka juga tidak ingin sampai gerbang itu membawa masuk monster tersebut dan masalah bersamanya ke dunia mereka.
"Tapi, tak ada satupun manusia ya.. padahal aku berharap ada satu saja manusia!" Vlad berkata cukup keras lantang ia bicara. Yang mendengarkan ia bicara tidak membalas. Malahan sebaliknya, Satriaji berharap mereka tidak bertemu manusia karena akan cukup gawat bila dianggap sebagai penjajah atau semacamnya apalagi datang dari tempat yang tidak diketahui sama sekali.
Vlad membuka peta sebelum berkata, "harusnya ada manusia atau mahkluk yang memiliki akal karena bisa menuliskan pesan."
"Pesan yang ada di gerbang ?"
"Ya kak!" Angguk Vlad dengan senyum kecil. Serasa ada yang mengikuti dari belakang salah satu anggota kelompoknya berhenti berjalan, dan benar seperti dugaannya ada satu mahkluk seperti manusia akan tetapi ia tidak tinggi dan terlihat seperti anak kecil. Sesuatu yang membedakan hanyalah telinga agak panjang serta tubuh hijau keseluruhan, dan mata mereka juga warna kuning cerah membawa sebuah pentungan.
Semua menarik senjata mereka, mendadak mahkluk ini mundur beberapa langkah terlihat ia sedikit berkeringat seolah ketakutan. Sesudah mundur hitungan langkah, tanah tiba-tiba bergetar seperti muncul gempa bumi akan tetapi suara itu berasal dari suara Injakan kaki raksasa. Serentak kelompok Satriaji kaget dengan kedatangan mahkluk itu. Vlad menarik pedangnya, ia mengigit bibir selepas mendapatkan raksasa di hadapan.
tapi, yang aku tahu disini sepertinya monster di dalam gerbang tidak bersalah kan? mungkin hanya zombie yang menyerang saja
yang mulai menyerang duluan juga manusia dari bumi, apakah ada kesalahan dalam mengartikan TULISAN DI PINTU itu?
lalu, kata "Sebaiknya jangan terlalu memikirkan mengapa aku tak mau satu kelompok denganmu"
apakah ia akan meminum darah dari hewan yang ia buru?