Nadila terkejut saat pulang dari butik nya, dia menemukan wanita hamil di rumah nya. Irfan, suami nya Nadila mengatakan bahwa dia adalah Rani, sepupu nya yang baru saja datang dari desa.
Irfan mengatakan bahwa bahwa suami nya Rani baru saja meninggal dunia dan dia tidak punya siapa- siapa di desa.
Itu lah sebab nya dia pergi ke kota, awal nya Nadila percaya dengan semua ucapan suami nya. Tapi tidak berselang lama Nadila menemukan bukti, bahwa wanita itu bukan lah sepupu nya Irfan, melainkan istri sirih nya.
Setelah ketahuan, Irfan membela diri dan mengatakan alasan dia menikahi Rani karena Nadila tidak bisa memberi nya keturunan.
Nadila membalas semua perbuatan Irfan, setelah itu dia membeberkan sebuah fakta yang membuat Irfan menyesal seumur hidup nya.
Ikuti kisah nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Tidak berselang lama, Irfan sudah kembali lagi ke dalam kamar nya. Di tangan nya dia membawa 2 porsi makan malam untuk mereka berdua.
"Sayang, ayo kita makan!" Ujar Irfan.
"Iya mas, aku udah laper banget sejak tadi!" Jawab Rani.
Kedua nya langsung makan malam berdua saja, saat ini Irfan sudah tidak perduli lagi dengan Nadila. Yang dia perdulikan hanya Rani dan anak yang ada di dalam kandungan nya.
Ketika mereka berdua sedang menikmati makam malam nya, tiba - tiba listrik pun padam.
"Mas, ada apa ini? Kenapa jadi gelap begini?" Tanya Rani yang mulai panik.
"Kamu tunggu di sini, mas akan memeriksa nya sebentar!" Jawab Irfan sambil menyalahkan senter yang ada di ponsel nya.
"Jangan lama - lama mas, aku takut!" Ucap Rani lagi.
"Iya sayang!" Jawab Irfan sambil melangkah keluar.
Irfan langsung pergi ke depan, untuk memeriksa meteran listrik di rumah ini. Pada saat yang sama Nadila pun keluar dari dalam kamar nya, dia pun menggunakan cahaya dari senter ponsel nya.
"Nadila, kenapa listrik bisa padam? Sedang kan rumah orang lain semua nya menyala dengan terang?" Tanya Irfan heran.
"Coba cek meteran nya, mungkin saja token nya habis!" Jawab Nadila denan santai nya.
Irfan bergegas keluar, dia memeriksa meteran listrik yang menempel di tembok rumah bagian depan. Benar saja, semua angka di sana menunjuk kan angka nol.
"Nadila cepat ke sini!" Panggil Irfan dengan suara keras.
"Ada apa mas?" Tanya Nadila yang sudah berdiri di depan pintu.
"Aku tidak mengerti ini semua, angka nya nol!" Ujar Irfan sambil menunjuk pada meteran listrik rumah mereka.
"Itu arti nya token nya habis dan harus di isi ulang!" Jawab Nadila lagi.
"Nadila, kenapa kau begitu ceroboh? Kau biarkan kita kehabisan token seperti ini!" Irfan membentak Nadila.
"Kenapa kau membentak ku mas? Akhir - akhir ini aku sudah mengingatkan mu, untuk memenuhi semua tanggung jawab mu terhadap kebutuhan di rumah ini. Tapi kau tidak mengindahkan nya, kau lebih perduli pada semua keinginan gundik mu itu. Jadi rasakan saja sendiri akibat nya!" Balas Nadila dengan kalah garang nya.
Irfan menjambak rambut nya sendiri, kini dia tidak menyangka kehidupan nya akan runyam seperti ini.
"Mas, aku takut. Di dalam sesak dan pengap, aku tidak bisa bernafas di dalam gelap mana gerah lagi!" Tiba - tiba Rani muncul di depan pintu.
"Nadila, selama ini kamu kan yang mengurusi semua kebutuhan di rumah ini. Jadi sekarang kamu aku tidak mau tahu, kamu urus tuh token listrik!" Irfan memberi perintah pada Nadila.
"Tidak mas, kau kepala keluarga di rumah ini. Jadi kau lah yang bertanggung jawab terhadap semua kebutuhan di rumah ini, bukan aku!" Nadila menolak perintah dari Irfan.
'Enak saja mau minta aku yang isi token nya, tidak lagi mas. Mulai saat ini aku tidak akan membantu pengeluaran apapun di rumah ini lagi!' Batin Nadila di dalam hati.
"Dil, jika token nya tidak di isi, maka kita akan gelap malam ini!" Irfan berkata dengan nada penuh frustasi.
"Terserah, silahkan urus sendiri semua nya!" Jawab Nadila sambil berlalu masuk ke dalam rumah.
"Mas, bagai mana ini? Aku tidak tahan gelap dan gerah?" Rani kembali merengek pada Irfan.
"Ya udah, kamu tunggu saja di sini dulu. Aku akan bicara sama Nadila!" Irfan segera masuk ke dalam rumah untuk menyusul Nadila.
Irfan masuk ke dalam kamar mereka, di sana ruangan tampak terang benderang karena Nadila sudah menyiapkan lampu darurat dan juga kipas angin portable untuk diri nya sendiri.
"Dil, aku mohon Dil untuk kali ini bantu aku. Tolong kamu pake uang kamu dulu buat isi token listrik nya!" Irfan membujuk Nadila.
"Aku tidak punya uang mas, lagian kan selama ini kamu tidak pernah memberikan aku uang nafkah. Jadi dari mana aku punya uang?" Nadila dengan tegas menolak permintaan suami nya.
"Dil, Rani tidak bisa tidur dalam gelap dan gerah. Jadi kalau kau tidak mau mengisi token nya, malam ini Rani akan tidur di dalam kamar ini!" Kini Irfan semakin menjadi.
"Apa??? Rani ingin tidur di kamar ini? Tidak akan ku biarkan jalang itu memasuki kamar ini. Satu langkah saja kau berani membawa wanita itu masuk ke kamar ku, maka akan pastikan kalian berdua akan mendekam di dalam penjara!" Nadila balik mengancam Irfan.
"Kau berubah Nadila, kau bukan lagi Nadila yang aku kenal dulu!" Irfan merasa kecewa karena Nadila menolak keinginan nya.
"Nadila yang dulu sudah mati, kau yang membunuh nya. Cepat keluar dari kamar ku, mas. Silahkan kau isi token listrik di rumah ini jika tidak mau gelap!" Nadila berkata dengan nada yang penuh dengan ejekan.
Irfan melangkah kan kaki nya meninggal kan kamar nya dan Nadila, tapi sebelum dia mencapai pintu, Nadila kembali berkata.
"Mas Irfan, token listrik di rumah ini berkisar satu juta lima ratus perbulan nya. Jadi siapkan uang segitu kalau mau listrik nya bertahan selama satu bulan!" Ucap Nadila lagi.
"Nadila, kamu jangan bohong. Mustahil listrik saja bisa sebesar itu!" Irfan terkejut mendengar ucapan Nadila.
"Memang nya kau fikir semua benda di rumah ini tidak menggunakan listrik, ingat Mas 3 kamar di rumah ini menggunakan Ac semua!" Jelas Nadila lagi.
Irfan terpaksa pergi keluar, mau tidak mau malam ini dia harus membeli token listrik jika tidak mau gelap.
"Mas, kamu mau kemana?" Tanya Rani yang masih berada di teras rumah.
"Kamu tunggu di sini, mas akan membeli token listrik dulu!" jawab Irfan.
Setelah berkata seperti itu, Irfan segera pergi ke luar. Dia menuju ke warung terdekat yang menjual token listrik, Irfan hanya mengisi token sebanyak satu juta saja. Karena saat ini uang tabungan yang rencana nya akan di gunakan untuk biaya resepsi pernikahannya dan Rani, kini tinggal sedikit lagi.
Selama ini Irfan tidak pernah tahu berapa biaya listrik, jaringan internet dan semua kebutuhan dapur serta kebutuhan kamar mandi mereka. Semua itu di biayai oleh Nadila, tapi kini semua nya di limpahkan oleh Nadila pada Irfan.
Lampu langsung menyala dan rumah langsung terang benderang, Rani pun bisa bernafas dengan lega. Malam ini dia tidak perlu tidur di dalam gelap. Sedang kan Irfan tampak termenung, uang tabungan nya sudah mulai menipis saat ini. Belum lagi semua kebutuhan yang lain nya di rumah ini.
"Mas, kamu kenapa kok kamu termenung begitu?" Tanya Rani pada Irfan.
"Tidak papa sayang!" Jawab Irfan sambil tersenyum.
Irfan tidak mau Rani tahu, bahwa saat ini kehidupan mereka sedang berada di kurang kemiskinan. Dia tidak mau jika hal itu sampai mempengaruhi bayi yang ada di dalam kandungan Rani, karena Irfan sangat menantikan anak ini.
mungkin arsen gk megang perusahaan jd gk tau apapun ttg bpk nya 🤣.
berarti Arsen gk punya kuasa. bpk nya sampe beli rumah buat gundik dia gk tau. berarti perusahaan seratus persen yg nangani bpk nya.
Arsen berarti gk punya kedudukan 🤣 Dan kuasa sama sekali.