Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MINTA CERAI
Alena pulang dengan perasaan hancur , Ia duduk di teras sampai matahari terbenam, menunggu suaminya pulang.
Saat suara motor terdengar, Alena langsung berdiri menyambutnya.
"Mas..." panggilnya pelan.
Hendra turun dengan wajah datar. "Kamu kenapa belum masuk?"
"Mas, tadi aku ke kantor Mas. Aku melihat Mas sama Siska," kata Alena langsung.
Wajah Hendra seketika berubah tegang. "Kamu ke sana buat apa? Mengintai aku?"
"Aku cuma mau bicara baik-baik. Tapi ternyata benar semua yang aku takutkan," suara Alena mulai bergetar.
"Kamu jangan sembarangan menuduh. Dia cuma teman kerja," elak Hendra.
"Teman kerja sampai meluk lengan begitu? Mas kamu kira aku buta?" Alena menatap suaminya tajam.
Belum sempat Hendra menjawab, Ibu Sari sudah keluar dari dalam rumah.
"Kamu ini kenapa sih Lena? suami baru Pulang langsung menuduh sembarangan, Kamu memang nggak pantas jadi istri Hendra!" bentak Ibu Sari.
"Bu, Ibu jangan selalu membela Mas Hendra. Ibu sendiri yang mendekatkan mereka berdua kan?" balas Alena memberanikan diri.
"Jadi kamu menuduh Ibu juga? Dasar menantu nggak tahu diri!" Ibu Sari langsung memukul lengan Alena.
"Bu!" seru Alena terkejut.
Hendra hanya diam melihat itu semua.
"Mas, lihat kan Ibu memukul aku! Kenapa Mas diam saja?" tanya Alena memohon.
Hendra malah memalingkan wajah. "Kamu yang salah duluan. Jangan menantang Ibu."
"Salah? Aku cuma minta keadilan sebagai istri!" Alena menangis.
"Sudahlah, jangan berisik! Kalau kamu nggak betah di sini, pergi saja!" sahut Ibu Sari keras.
"Bu kenapa bilang gitu? Aku ini istri sah Mas Hendra!"
"Kamu istri yang tak berguna! sudah Lima tahun tapi nggak punya anak, udah miskin, dan banyak menuntut lagi! Hendra lebih baik menceraikanmu saja dan menikah dengan Siska!" bentak Ibu Sari.
Hendra hanya terdiam , lalu menatap Alena dengan wajah dingin.
"Mungkin Ibu benar, Lena.selama ini Kita memang nggak bahagia bersama," ucapnya pelan.
Alena terbelalak tak percaya. "Mas... maksud Mas apa?"
"Kita pisah saja. Aku sudah nggak sanggup lagi hidup seperti ini," jawab Hendra singkat.
"Mas... kamu serius bicara begitu? Setelah lima tahun aku mengabdi dan bersabar?" air mata Alena menetes
"Aku sudah memikirkan semuanya. Siska bisa membantuku untuk maju, sedangkan kamu..." Hendra tak melanjutkan kalimatnya.
"Sedangkan aku cuma beban ya Mas?" potong Alena pedih.
Hendra diam saja.
"Baiklah Mas. Kalau itu yang kamu mau, aku akan pergi. Tapi ingat janji Mas dulu, Mas pernah bilang nggak akan pernah menyakitiku," kata Alena dengan suara parau, lalu berjalan masuk ke kamar.
Malam itu mereka tak saling bicara sepatah kata pun. Alena duduk memeluk lutut di sudut kasur, merasakan sakit yang tak terlukiskan.
Keesokan paginya, Alena bangun lebih awal. Ia tidak langsung pergi, melainkan berusaha bicara sekali lagi.
"Mas, bisakah kita bicarakan ini baik-baik? Aku masih mau perbaiki semuanya," ucap Alena saat sarapan.
Ibu Sari langsung menimpali. "Sudahlah Lena! Jangan harap lagi! keputusan Hendra sudah tepat "
"Aku bicara sama Mas Hendra, bukan sama Ibu!" jawab Alena tegas.
Hendra meletakkan sendoknya kasar. "Sudah Lena, jangan banyak berharap. Aku sudah nggak mencintaimu lagi."
Mendengar itu, hati Alena rasanya mati seketika. Ia berdiri perlahan.
"Baiklah. Aku mengerti sekarang. Mulai hari ini aku nggak akan merepotkan Mas lagi," ucapnya tenang.
Sejak hari itu, sikap Alena berubah. Ia tidak pernah lagi menangis di depan mereka, tidak pernah lagi memohon perhatian. Ia mulai berpikir untuk mencari pekerjaan sendiri.
Suatu sore saat Hendra dan Ibu Sari tidak ada di rumah, Alena menyusun surat lamaran kerja. Tiba-tiba Dinda datang masuk ke kamar.
"Hei, kamu nulis apaan?" tanya Dinda sinis.
"Aku mau cari kerja," jawab Alena singkat.
"Kerja? Kamu pikir ada yang mau menerima orang sepertimu? Mending kamu pergi saja dari sini," ejek Dinda.
"Aku akan buktikan kalau aku bisa," balas Alena tak mau kalah.
"Kamu jangan bermimpi ya! Tapi bagus juga sih, Kak Hendra pasti malah makin senang kalau kamu bisa cari uang sendiri, berarti dia makin nggak perlu menafkahimu lagi!" sahut Dinda lalu pergi.
Alena tidak peduli lagi. Ia terus berusaha. Hingga beberapa hari kemudian, ia mendapat panggilan untuk wawancara kerja di sebuah toko pakaian.
Saat hendak berangkat, Ibu Sari melihatnya berpakaian rapi.
"Kamu mau ke mana?" tanyanya curiga.
"Aku mau cari kerja Bu," jawab Alena tenang.
"Kerja apa? Paling juga cuma jadi pembantu!" ejek Ibu Sari.
"Siapa tahu Bu. Doakan saja aku diterima," ucap Alena, lalu berjalan keluar meninggalkan rumah itu dengan perasaan baru yang lebih berani.
BANTU KEMBANGKAN YA DENGAN CARA LIKE DAN KOMEN YANG SOPAN, 🥲🥲