NovelToon NovelToon
Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.

Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Jejak Ratu yang Hilang

Pagi kedua di lereng Gunung Sumbing datang tanpa kehangatan matahari. Kabut tebal menggantung rendah di atas hamparan perkebunan, seolah alam pun ikut menutupi rahasia kelam yang baru saja terungkap. Di ruang makan penginapan desa, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Keluarga Saraswati duduk mengelilingi meja kayu panjang, namun tidak satu pun yang menyentuh piring hidangan di depan mereka.

Aditya meletakkan cangkir kopinya dengan bunyi yang cukup keras hingga membuat semua orang menoleh. Wajahnya masih memerah menyimpan emosi sejak kemarin. “Kalian bisa terus menutup mata, tapi faktanya tetap ada. Surat itu asli. Tanda tangan Buyut kita ada di sana. Kalau kita bersikeras bertahan di pengadilan, kita tidak hanya berisiko kalah. Kita akan menjadi bahan tertawaan seluruh negeri. Keluarga yang selama ini diagung-agungkan sebagai penjaga warisan, ternyata dibangun di atas tanah curian.”

“Kita tidak tahu konteksnya, Paman!” sahut Lala tajam. Gadis remaja itu sudah mengenakan jaket tebalnya, tas ransel siap tergantung di bahu, siap pergi menyelidiki. “Setiap cerita punya dua sisi. Mungkin ada alasan yang tidak tertulis di surat itu.”

“Alasan apa? Alasan untuk mengingkari janji? Alasan untuk merampas hak orang lain?” Aditya tertawa sinis. Ia menatap kakaknya, Ibu Saras, yang sejak tadi hanya diam menatap kosong ke luar jendela. “Kak, bicara dong. Engkau yang paling tahu watak Ayah dan Ibu kita. Apa mungkin mereka merahasiakan hal sebesar ini kalau memang tidak ada yang perlu ditutupi?”

Ibu Saras menghela napas panjang. Tangan tuanya gemetar saat memegang cangkir teh hangat. “Aku tidak tahu, Aditya. Selama ini aku mengira kita tahu segalanya tentang keluarga kita. Ternyata… kita tidak tahu apa-apa.”

Agung bangkit berdiri. Ia merasakan sakit kepala yang berdenyut hebat di pelipisnya. Kurang tidur, beban perusahaan, ancaman Kevin, dan kini gugatan tanah yang bisa meruntuhkan segalanya — semuanya menumpuk menjadi satu beban yang hampir tak sanggup ia pikul. Ia melirik Larasati yang duduk di ujung meja. Wajah istrinya juga pucat, namun matanya masih menyimpan bara api yang tak pernah padam.

“Cukup,” kata Agung tenang namun tegas. “Bertengkar seperti ini tidak menyelesaikan apa pun. Malah justru memainkan permainan mereka. Kalian lupa siapa yang ada di balik Mbah Hardo? Kevin Darmawan. Dia senang sekali melihat kita saling mencurigai. Dia mau kita hancur dari dalam sebelum dia menyerang dari luar.”

Ia melangkah keluar ruangan, memberi isyarat pada Larasati untuk mengikutinya.

 

Di kamar kayu yang sepi, pintu baru saja terkunci rapat ketika Agung langsung memukul dinding kayu dengan kepalan tangannya. Rasa lelah, marah, dan takut yang ia tahan di depan keluarga akhirnya meledak juga. “Aku lelah, Laras. Setiap kali kita merasa sudah mencapai puncak, selalu saja ada yang datang menjatuhkan kita kembali ke lembah. Kali ini… rasanya berbeda. Seolah akar dari semua yang kita bangun memang busuk sejak awal.”

Larasati tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berjalan mendekat, memeluk pinggang suaminya dari belakang, menempelkan seluruh tubuhnya ke punggung bidang pria itu. Ia bisa merasakan setiap denyut ketegangan di otot-otot punggung Agung, setiap napas yang terasa berat dan menyakitkan.

“Kau tidak sendirian memikulnya, Ingat?” bisiknya lembut di telinga suaminya. Bibirnya menyentuh cuping telinga Agung, menjalar turun ke leher yang berdenyut kencang. “Aku di sini. Selalu.”

Agung berbalik perlahan. Tatapannya gelap, bercampur hasrat dan kebutuhan akan kepastian yang mendesak. Tanpa berkata banyak, tangannya yang besar mencengkeram kedua sisi wajah Larasati, lalu menciumnya dengan kasar dan mendesak. Ciuman itu bukan lagi ungkapan cinta manis. Itu adalah tuntutan, bukti, pelarian dari dunia yang kacau di luar sana.

Larasati membalasnya dengan sama kuatnya. Ia tahu suaminya butuh ini — butuh diingatkan bahwa ada satu hal yang tidak bisa digugat, tidak bisa dirampas, tidak bisa dijadikan barang sengketa: milik mereka satu sama lain. Tangan-tangan kecilnya bergerak lincah membuka kancing kemeja Agung satu per satu, memperlihatkan kulit hangat di bawahnya, sementara bibir mereka tidak pernah terlepas walau sedetik pun.

Agung mengangkat tubuh istrinya dengan mudah, menyandarkannya di tepi meja rias kayu. Barang-barang kecil di atasnya berjatuhan ke lantai, tapi tidak satu pun yang peduli. Ia meremas pinggang Larasati erat, seolah ingin menyatu sepenuhnya dengan wanita itu, menghilangkan segala celah yang bisa dimasuki keraguan.

“Katakan padaku kalau aku salah,” desah Agung di sela-sela ciuman yang turun ke leher istrinya, meninggalkan bekas kemerahan yang akan sulit disembunyikan keesokan harinya. “Katakan kalau sebaiknya kita menyerah saja.”

Larasati menggeleng cepat. Ia menarik wajah suaminya naik lagi, menatap mata pria itu dalam-dalam sambil tangannya menjelajah turun ke bawah, membuat Agung mengerang pelan. “Kau tidak akan pernah menyerah. Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu. Kita lewati ini bersama. Seperti selalu.”

Cahaya redup masuk lewat celah jendela yang berkabut, menyinari dua tubuh yang saling memiliki dengan penuh keputusasaan sekaligus harapan. Setiap sentuhan adalah pengingat. Setiap gerakan adalah peneguhan. Saat mereka akhirnya bersatu, perlahan namun dalam, Larasati menggigit bahu Agung menahan erangannya, sementara pria itu membenamkan wajahnya di dada istrinya, bergumam nama wanita itu berulang kali seolah itu adalah satu-satunya kata yang tersisa di kamus hidupnya.

Di saat-saat seperti itu, tidak ada gugatan tanah, tidak ada dendam keluarga, tidak ada takdir yang kejam. Yang ada hanya mereka berdua: dua jiwa yang telah diikat oleh waktu, air mata, dan keringat, menjadi satu ikatan yang lebih kuat dari sekadar sumpah pernikahan.

Ketika semuanya selesai, mereka tetap saling berpelukan di atas tempat tidur yang berantakan, napas mereka masih terengah tidak beraturan. Larasati menggambar garis tak beraturan di dada bidang suaminya dengan ujung jari. “Setelah ini selesai… kita ambil cuti panjang. Bawa anak-anak ke pantai. Tidak ada telepon, tidak ada laporan, tidak ada musuh. Hanya kita.”

Agung tersenyum tipis, senyum pertama sejak kemarin sore. Ia mengecup ubun-ubun istrinya. “Janji. Kita akan lakukan itu.”

 

Sementara itu, di ujung desa yang paling jauh, Lala dan Bagas berjalan menyusuri jalan setapak becek menuju rumah Mbah Satem — satu-satunya penduduk desa yang usianya sudah melewati seratus tahun, yang konon masih sempat melihat kakek buyut Saraswati hidup-hidup ketika ia masih kecil.

Rumah kayu itu tua, hampir runtuh, dipenuhi tanaman obat di halamannya. Saat mereka masuk, seorang lelaki tua sangat ramping dengan rambut putih sepanjang bahu sedang duduk di kursi rotan sambil meracik jamu. Matanya yang keriput tampak tajam saat melihat kedua cucu Saraswati itu berdiri di ambang pintu.

“Kalian datang menanyakan tanah itu, kan?” suaranya parau seperti gesekan batu. “Kalian juga mau membantah seperti orang tuamu? Bilang surat itu palsu?”

Lala maju selangkah, berusaha terlihat setenang mungkin. “Kami tidak datang untuk membantah apa pun, Mbah. Kami datang untuk mencari kebenaran. Siapa Ratu? Mengapa namanya tertulis di catatan Buyut kami, tapi tidak ada di silsilah keluarga?”

Mbah Satem tertawa pelan, suara itu terdengar seperti daun kering yang bergesekan. Ia meletakkan gelas jamunya di meja, lalu menatap kedua remaja itu dengan tatapan yang seolah bisa menembus jiwa. “Ratu… dia adalah bunga terindah yang pernah tumbuh di lereng gunung ini. Dan juga luka terbesar yang pernah dibuat keluarga Saraswati.”

Cerita yang keluar dari mulut Mbah Satem kemudian mengguncang dunia Lala dan Bagas seketika.

Seratus sepuluh tahun lalu, daerah ini dikuasai oleh dua keluarga besar: keluarga Saraswati yang kaya raya dari kota, dan keluarga Hardo — tuan tanah asli gunung ini yang dihormati semua warga. Putra tunggal keluarga Saraswati, yaitu kakek buyut mereka, jatuh cinta sangat dalam pada Ratu: putri tunggal keluarga Hardo yang cantik, cerdas, dan sangat dicintai rakyat. Keduanya berjanji akan menikah dan menggabungkan kedua keluarga, sehingga tanah itu akan menjadi milik bersama selamanya.

“Tapi takdir berkata lain,” lanjut Mbah Satem dengan suara berat. “Tepat sebelum pernikahan, terjadi pemberontakan besar di daerah ini. Keluarga Hardo dituduh membantu pemberontak oleh penguasa kolonial saat itu. Semua harta mereka disita, semua anggota keluarga diancam akan dibuang ke pulau pembuangan. Untuk menyelamatkan nyawa Ratu dan sisa keluarganya, kakekmu — Saraswati muda — membuat perjanjian palsu itu. Dia menulis surat seolah tanah itu hanya dipinjam, padahal sebenarnya dia membeli seluruh hak miliknya secara resmi dari penguasa kolonial dengan seluruh harta keluarganya. Tujuannya satu: supaya tanah itu tidak disita negara, supaya Ratu tidak kehilangan tempat tinggalnya.”

Lala memegang dada sesak. “Jadi… selama ini surat itu bukan bukti pengkhianatan. Itu bukti pengorbanan?”

“Belum selesai ceritanya, Nak,” Mbah Satem menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca. “Ratu tahu semua itu. Dia malah sangat bangga pada tunangannya. Tapi malang… di tengah kekacauan itu, Ratu tiba-tiba menghilang. Tidak ada mayat yang ditemukan. Tidak ada jejak. Konon dia diculik oleh pihak kolonial yang tidak puas dengan kelicikan Saraswati muda. Konon dia bunuh diri karena malu. Yang jelas… sejak hari itu Saraswati muda berubah total. Dia tidak pernah menikah seumur hidupnya. Dia mengangkat anak dari kerabat jauh untuk meneruskan garis keturunannya — yaitu kakek dari Ibu Saras kalian. Dia menghabiskan sisa hidupnya merawat tanah ini, membangun desa, mensejahterakan warga, sebagai penebusan dosa karena merasa telah gagal melindungi wanita yang dicintainya.”

Bagas mencatat semuanya dengan tangan gemetar. “Tapi… mengapa Bu Wulan dan Ayah Ibu Saras merahasiakan ini? Mengapa tidak menjelaskan pada keluarga Hardo sekarang?”

Mbah Satem menghela napas panjang. “Karena ada bagian paling kelam yang tidak ingin diketahui siapa pun. Hari Ratu menghilang… ada saksi yang melihat Saraswati muda bertengkar hebat dengannya di tepi jurang. Ada yang mendengar teriakan Ratu memanggil namanya, lalu keheningan. Selama seratus tahun, keluarga Hardo percaya satu hal: bahwa Saraswati mudalah yang membunuh Ratu, lalu memalsukan surat pinjam tanah untuk menutupi kejahatannya dan menguasai segalanya.”

Darah seolah berhenti mengalir di pembuluh darah Lala. “Jadi… inti masalahnya bukan tanah. Tapi darah. Keluarga Hardo percaya Buyut kita membunuh Ratu, leluhur mereka.”

“Benar,” jawab Mbah Satem pendek. “Dan selama kebenaran tentang hilangnya Ratu belum terungkap… tidak ada perdamaian yang mungkin terjadi antara kedua keluarga. Perang ini tidak akan berakhir sampai salah satu dari mereka binasa.”

 

Di tempat yang berbeda, di sebuah vila mewah tersembunyi di kaki gunung, Kevin Darmawan duduk bersila di hadapan Mbah Hardo. Di atas meja kayu di antara mereka terbentang peta kuno wilayah perkebunan, dengan tanda merah di satu titik tertentu di tengah hutan lindung.

“Kita sudah berhasil menanam keraguan di dalam keluarga mereka,” kata Kevin dingin sambil memutar gelas anggur merah di tangannya. “Besok berita gugatan ini akan masuk ke halaman depan semua surat kabar. Harga saham Saraswati akan anjlok. Investor akan lari ketakutan.”

Mbah Hardo mengangguk pelan. Wajah tua itu penuh dendam yang telah dipendam empat generasi. “Bagus. Tanah itu harus kembali ke kami. Dan darah Ratu harus dibalas.”

Kevin tersenyum tipis. Ia mengeluarkan amplop cokelat dari saku jasnya, meletakkannya di atas meja. “Tapi ingat janji kita, Pak. Setelah tanah itu jatuh ke tanganmu, bagian yang ditandai merah di peta ini menjadi milikku sepenuhnya. Apa yang ada di bawah tanah sana… itu urusanku. Keluargamu tidak boleh ikut campur sedikit pun.”

Mbah Hardo melirik tanda merah di peta itu. Ia mengernyit. “Apa sebenarnya yang ada di sana, Nak? Selama ini daerah itu hanya hutan lebat yang tidak berguna.”

Kevin tertawa pelan, penuh rahasia. “Sesuatu yang jauh lebih berharga dari seluruh perkebunan kopi di dunia ini, Pak. Sesuatu yang dicari oleh orang-orang yang jauh lebih berkuasa dari kita semua. Dan sebentar lagi… itu akan menjadi milikku.”

Di luar vila, langit mulai mendung gelap. Guntur menggelegar jauh di seberang gunung, seolah alam memberikan peringatan akan badai yang jauh lebih besar yang sedang bergerak mendekat.

 

Malam harinya, saat seluruh keluarga berkumpul kembali, Ibu Saras masuk ke ruangan dengan wajah yang pucat pasi. Di tangannya ia membawa sebuah kotak kayu kecil berukir bunga melati — kotak yang baru saja ia temukan tersembunyi di balik dinding kamar tua Bu Wulan di rumah besar, yang dikirimkan ke sini oleh Denok dengan mobil pagi tadi.

“Ibu menemukan ini,” suara Ibu Saras bergetar hebat. Ia membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya ada sebuah kalung emas tua dengan liontin permata biru, dan setumpuk surat yang ditulis tangan Bu Wulan selama bertahun-tahun, ditujukan untuk anak cucunya di masa depan.

Agung mengambil surat paling atas, membacanya perlahan dengan suara lantang agar semua orang bisa mendengar. Isinya membuat setiap orang yang mendengarnya menahan napas:

Untuk anak cucuku yang membaca ini di masa depan,

Jika surat ini sampai padamu, berarti rahasia terbesar keluarga kita akhirnya mulai terungkap. Aku minta maaf telah merahasiakan ini semua. Aku tidak punya pilihan. Karena kebenaran tentang Ratu… tentang apa yang benar-benar terjadi malam itu di tepi jurang… jauh lebih mengerikan dari apa pun yang bisa kalian bayangkan. Kakek buyut kita tidak membunuhnya. Tapi apa yang dia lakukan… jauh lebih buruk dari sekadar membunuh.

Dia membiarkannya pergi. Dengan membawa rahasia yang jika terbongkar, bukan hanya keluarga kita yang akan hancur. Tapi seluruh negeri ini bisa runtuh karenanya.

Surat itu terputus di situ. Halaman berikutnya hilang, disobek dengan sengaja.

Dan di belakang surat itu, tertulis satu kalimat pendek dengan tinta yang hampir memudar:

Cari kotak besi di bawah pohon beringin tua dekat air terjun. Di sanalah semua jawabannya berada. Tapi ingat: begitu kamu membukanya, tidak ada jalan kembali.

Keheningan yang mematikan menyelimuti ruangan. Tidak ada yang bersuara. Hanya suara hujan yang mulai turun deras, memukul atap seng dengan bunyi yang menakutkan, seolah rintihan ribuan jiwa dari masa lalu yang mulai bangkit menuntut keadilan.

Lala menatap Bagas. Bagas menatap Lala. Di mata mereka berdua, ada ketakutan — tapi juga ada api penasaran yang tak bisa dipadamkan.

Mereka tahu, esok pagi, mereka harus pergi ke air terjun itu.

Dan apa pun yang akan mereka temukan di sana… akan mengubah segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!