Kisah seorang santri bernama Zahra Khoirunnisa yang di jodohkan dengan seorang pengusaha muda bernama Arkan yang tak lain adalah teman dari kakak nya.
Di satu sisi Zahra sudah menyukai seseorang dalam hatinya. Di sisi lain Zahra tidak bisa menolak keinginan ayahnya.
"Bagaimana aku bisa menikah dengannya, sedangkan hatiku sudah untuk orang lain"_Zahra
"Aku bukan orang baik, aku pemabuk dan aku juga tidak suka wanita sepertimu" _Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri risdi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saaah
Hari menjelang sore, sebentar lagi ayah dan bang Reza pulang. Mengingat janji bang Reza yang akan mengajak keluar, aku bergegas bersiap siap agar nanti tidak terburu buru
Sudah lama sekali kami tidak menghabiskan waktu bersama, jujur saja aku sangat rindu., apalagi sebentar lagi aku akan menikah, sudah pasti waktu dengan keluarga ku akan sangat terbatas.
Selesai bersiap aku memutuskan menunggu Bang Reza dan Ayah di ruang tamu.
Saat keluar kamar, ku lihat ternyata mereka sudah ada di ruang tamu.
"Loh Abang sama Ayah sudah pulang" kataku
"Udah dari tadi, dari mana sih, kirain gak ada orang di sini," jawab Abang
"Zahra tadi siap siap bang, katanya Abang tadi ngajak Zahra jalan jalan keluar"
"Hah kapan Abang bilang" Bang Reza memasang ekspresi pura pura bingung.
"Duuuh gak usah pura pura lupa deh, gak mempan yah"
"Hahaha ya udah Abang bersih bersih dulu, kami tunggu sebentar"
"Jangan lama lama dandan nya bang" ucapku.
" enak aja emang nya kamu" jawab Abang.sambil beralu ke kamar.
Tinggal aku dan ayah di sini.
"Ayah capek? ko ayah diem aja" ku lihat Ayah tersenyum lembut.
"Ayah gak cape, Ayah cuma merasa waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin Ayah gendong kamu, sekarang Putri Ayah ini sudah akan menikah" ucap Ayah sendu.
segera ku peluk laki laki kesayangan ku ini.
"Ayah jangan sedih, walaupun nanti sudah menikah, Zahra kan gak akan tinggal jauh yah, Zahra juga pasti sering sering tengokin ayah"
"Iya sayang, Ayah cuma pesan sama kamu, kamu harus nurut sama suami, sayangi dia karna bagaimanapun nanti surgamu ada pada ridho suami mu." Ayah mengusap kepala ku yang tertutup hijab.
"Iya Ayah, Zahra pasti ingat pesan Ayah"
Di tengah pembicaraan kami, bang Reza datang dengan tampilan baru.
"Ada apa nih kok pada pelukan kaya Teletubbies?" ucapnya
"Mau tau aja" jawabku
"CK ya udah deh kalau gak boleh tau"
"Jadi kalian mau jalan jalan kemana? tanya ayah.
"ke mall aja kan bang? katanya Abang mau belanjaan adik kesayangannya yah," ucapku.
"Iya deh yang adik kesayangaaan" jawab Abang.
"Ya udah pulang nya jangan terlalu malam" ucap Ayah
"iya yah. Yuk bang udah sore nih." aku bergegas menyalami ayah
"Yuk"
"Assalamu'alaikum ayah"
"waalaikumsalam"
kami pun segera berangkat karena takut kesorean.
"kita mau kemana dulu nih dek" tanya Abang.
"Gimana kalau kita ke Timezone bang"
"Boleh deh udah lama juga kita gak main main"
Akhirnya kami menghabiskan waktu di Timezone.
"Udah mau magrib dek. Abang mau beli kemeja nih keburu magrib yuk" ucap Abang.
"Ayo. tapi aku boleh pilih juga gak?"
"Boleh lah,"
"Ya udah yuk keburu magrib."
"let's go bang"
Akhirnya kami pergi ke tempat baju. pertama kami memilih kemeja untuk bang Reza. Kemudia ke tempat gamis karena aku ingin membeli beberapa gamis.
Setelah membeli beberapa pakaian, kami memutuskan untuk sholat Maghrib dan segera pulang.
##
Hari hari berlalu, sekarang adalah hari pernikahan ku. Jujur saja aku merasa tegang. Entah kenapa, padahal aku tidak akan mengikrarkan ijab Qabul, tapi aku merasa tegang. apa semua pengantin seperti aku.
"Saah"
Satu kata yang menjelaskan bahwa aku sudah bukan gadis lajang. Sekarang aku seorang istri dari pengusaha muda Arkan Prayoga. Ku raih dan ku cium punggung tangannya. Darahku terasa berdesir saat kemudian dia mengecup keningku.
Setelah menyambut para tamu undangan, aku beranjak ke kamar, meninggalkan suami yang masih mengobrol dengan Ayah dan bang Reza.
Setelah selesai mandi ku lihat sekeliling kamarku, rupanya mas Arkan belum kemari. Kuputuskan untuk merebahkan diri. Sampai mataku tertarik dengan sebuah amplop merah muda yang dihiasi pita. Ku bangun dan membukanya. Ternyata isinya sebuah surat. Karna penasaran ku lihat isi surat itu.
"Assalamualaikum, Zahra selamat atas pernikahan mu. Perkenalkan saya Aisyah, kamu biasanya memanggil saya Ustadzah Aisyah, benar saya salah satu guru di pindok. Zahra saya ingin berterima kasih karna kamu sudah menolak pinangan suami saya. Mungkin kamu bingung, biar saya beri tahu. Ustadz Rama, dia adalah suami saya. Mungkin kamu tidak menyangka mendengar ini. Awalnya pernikahan kami begitu indah, sampai suatu hari, Mas Rama dan saya pulang kampung, kamu sepertinya tidak sadar kami pulang bersamaan. Karna sudah satu tahun menikah saya belum juga di beri keturunan, maka kami putuskan memeriksa kesehatan bersama. Sampai akhirnya dokter bilang saya mandul. Disitulah rumah tangga kami di uji. Mas Rama ingin menikah lagi. Sakit, hati yang tergores dengan ucapannya itu membuat saya tak sanggup menahan bendungan air mata. Sampai dia katakan wanita yang ingin dinikahinya adalah kamu. Tak kuasa saya melarangnya karna kekurangan begitu terlihat jelas ada pada diri saya. Kemudian dia pergi mendatangi rumahmu bersama kedua orang tuanya. Sampai dia pulang dengan wajah kusut dan penampilan berantakan.Dia bilang kamu sudah menerima pinangan pria lain. Sungguh mendengar itu saya sangat lega. Meski mungkin dia akan mencari madu yang lain." Tak terasa, aku membaca dengan uraian air mata, merasakan kepedihan yang di alaminya sebagai sesama wanita.
Mungkin inilah rencana Allah. Dengan hadirnya mas Arkan, membuatku tidak menikahi pria beristri dan menjadi duri rumah tangga orang lain. Jujur saja jika mengetahui fakta ini walau belum menikahpun takkan mau aku menjadi madu.
Aku memutuskan melupakannya dan belajar mencintai suamiku.
"Assalamu'alaikum Zahra boleh saya masuk"
Suara diluar kamar menyadarkan ku dari lamunan. suara siapa lagi kalau bukan Mas Arkan.
Segera ku buka pintu kamar.
"Sudah tidur?" tanya mas Arkan
"Belum mas. Mas mau mandi? Biar aku siapin air hangat nya dulu ya."
"Iya"
Tak lupa ku bawa handuk yang akan di pakai suamiku ke kamar mandi.
Meski belum saling mencintai, setidaknya aku ingin membiasakan diri menyiapkan segala kebutuhannya.
Ku lihat Mas Arkan sedang duduk di pingggir ranjang dengan hp di tangannya.
"Mas airnya udah siap, handuknya juga sudah aku siapin."
"iya, makasih" jawabnya .
ku lihat mas Arkan beranjak ke kamar mandi.
Aku segera menyiapkan pakaian nya yang memang masih di dalam koper.
"Celana tidur sudah, kaos sudah, apalagi ya"
"oh iya ****** ********, duuh ingat ****** ***** ko aku jadi kepikiran ini malam pertama kami, ya ampun jadi deg degan sendiri."
"mending aku buru-buru tidur aja ya sebelum Mas Arkan selesai mandi"
Aku bergegas ke tempat tidur dan menyelimuti tubuhku.
##
Hay readers ku jangan bosen bosen baca karyaku ya. jangan lupa dukung juga ya😘😘