NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029: Lokasi Syuting dan Enam Tersangka

Rombongan berangkat dari Surabaya pukul tiga sore.

Mobil pertama diisi Adira, Arka, Bambang, dan satu penyidik Polda Jatim. Mobil kedua membawa dua anggota Inafis, perlengkapan dokumentasi, dan kotak sampel.

Di kursi belakang, Arka membuka map ringkas.

Nama korban: Kirana Ayu Prameswari.

Nama panggung: Rusa Kecil.

Lokasi jatuh: Studio alam di kawasan Batu.

Ketinggian: sekitar delapan meter.

Alat: wiraga panggung, satu tali utama, satu harness tubuh, dua pengait keamanan, satu sistem katrol, satu meja kontrol.

Pengait kanan patah.

Adira duduk di depan. "Polda sudah mengirim hasil awal metalurgi?"

Penyidik Polda, Ipda Taufik, menjawab, "Baru lisan. Mereka setuju ada keausan tidak wajar. Angka awal tiga puluh lima sampai empat puluh persen non-natural wear. Laporan tertulis menyusul."

Bambang mendengus. "Jadi bukan cuma perasaan dokter kita."

Arka tidak mengangkat wajah. "Perasaan saya tidak masuk BAP. Angka lab yang masuk."

"Itu maksud saya, Dok."

Adira menoleh sedikit. "Di Batu, kita akan ditemui Polres setempat. Jaga bahasa. Mereka mungkin tidak suka wilayahnya didatangi tim Surabaya."

"Kalau mereka kerja sama, saya manis," kata Bambang.

"Itu yang saya takutkan."

Arka menutup map.

Perjalanan memakan hampir tiga jam karena hujan turun di dekat Pandaan. Ketika mobil masuk kawasan Batu, langit sudah gelap. Udara lebih dingin. Jalan menanjak, lampu vila dan tempat wisata muncul di sisi bukit.

Hotel yang disiapkan untuk mereka berada di gang sempit.

Bangunannya tua. Papan namanya redup. Lobi kecilnya berbau karbol dan mi instan.

Bambang menatap Adira. "Bu, ini penginapan atau barang bukti?"

Adira tidak tertawa.

Seorang polisi berseragam mendekat.

"Kompol Adira? Saya Iptu Candra Wirawan, dari Polres Batu."

Ia tersenyum sopan, tetapi bahunya kaku.

Sistem di wajahnya menyala begitu Arka melihat.

[Waspada]

[Teritorial]

[Resistensi]

[Merasa Diambil Alih]

Adira menjabat tangannya. "Terima kasih sudah menyiapkan tempat."

"Maaf seadanya, Bu. Kota sedang penuh karena akhir pekan panjang."

Bambang melihat parkiran hotel yang kosong.

Arka menunduk sedikit agar tidak tersenyum.

Adira hanya berkata, "Kami tidak datang untuk wisata. Besok pagi kita ke lokasi."

Iptu Candra mengangguk. "Bisa. Tapi kami sudah olah TKP awal. Kru juga sudah banyak dipulangkan. Menurut pemeriksaan kami, ini kecelakaan alat."

Adira membuka tas, mengeluarkan salinan ringkas laporan IKF dan catatan lisan Polda.

"Mungkin. Tapi sekarang ada temuan abnormal pada pengait. Jadi arah penyidikan diperluas."

Candra membaca sekilas. Wajahnya berubah tipis.

"Baik, Bu. Kami dukung."

Label di wajahnya tidak hilang.

[Terpaksa menyesuaikan]

Malam itu, mereka tidak banyak bicara. Arka tidur tiga jam. Pukul enam pagi, ia sudah turun ke lobi dengan kit forensik.

Bambang muncul sambil membawa kopi hitam dalam gelas plastik.

"Tidur, Dok?"

"Cukup untuk tidak salah pegang sampel."

"Standar hidup kita rendah sekali."

Pukul tujuh, mereka tiba di studio alam.

Gerbangnya dijaga sekuriti. Di dalam, beberapa bangunan set berdiri seperti kota palsu. Ada jalan batu buatan, rumah kayu, aula besar, dan panggung terbuka tempat adegan terbang direkam.

Garis polisi masih terpasang, tetapi jejak aktivitas kru terlihat di mana-mana.

Kabel digulung ulang. Kotak alat dipindah. Satu meja konsumsi sudah dibersihkan.

Adira melihat itu dan langsung menoleh ke Candra.

"Siapa yang mengizinkan kru masuk setelah kejadian?"

Candra menjawab kaku, "Mereka mengambil barang pribadi dengan pengawasan anggota."

"Berapa orang?"

"Belasan."

"Nama?"

Candra diam setengah detik. "Sedang kami susun."

Bambang menutup wajah dengan tangan.

Adira berkata dingin, "Mulai sekarang tidak ada orang masuk tanpa daftar, tanda tangan, dan pendamping."

"Siap, Bu."

Arka tidak ikut memarahi.

Ia berjalan ke panggung.

Tempat jatuh Rusa Kecil berada di antara dua alas busa yang sudah bergeser. Di atasnya ada rangka besi setinggi delapan meter. Sistem katrol menggantung di bagian atas. Meja kontrol berada di sisi kiri panggung, dekat tumpukan kotak properti.

Ia berdiri di bawah titik jatuh.

Tidak ada label merah pada lantai. Hanya sisa garis kapur, noda bekas pembersih, dan bekas sol sepatu.

Tempat yang sudah disentuh terlalu banyak tangan jarang mau jujur.

Arka naik ke area meja kontrol.

Ada tuas, sakelar, layar kecil, gulungan kabel, dan kotak perkakas. Meja itu tampak bersih. Terlalu bersih dibanding lantai sekitarnya.

Ia menyalakan senter samping.

Di celah antara papan meja dan rangka besi, sistem memunculkan label abu-abu.

[Sisa Serbuk Logam Mikro]

[Komposisi: Mirip Pengait Keamanan Patah]

[Lokasi: Celah Bawah Meja Kontrol]

[Kontaminasi: Rendah]

Arka berhenti.

Ia tidak langsung memanggil semua orang.

Ia berjongkok, mengamati celah itu dari sudut rendah. Secara kasat mata hanya ada debu kelabu tipis. Kalau disapu, hilang. Kalau dilihat terburu-buru, tidak berarti apa-apa.

"Bu Adira," katanya.

Adira mendekat. "Ada apa?"

"Saya butuh foto makro di celah bawah meja. Jangan sentuh dulu."

Inafis datang. Foto diambil dari tiga sudut. Arka meminta swab kering, spatula mikro, dan kertas lipat sampel.

Candra berdiri di belakang. "Itu debu biasa, Dok. Lokasi syuting memang banyak logam dan alat."

"Bisa jadi," kata Arka. "Karena itu kita ambil. Kalau tidak relevan, lab akan bilang tidak relevan."

Bambang menatap Candra. "Debu juga punya hak masuk laporan, Pak."

Candra tidak menjawab.

Arka mengambil sampel dari celah meja, dari lantai di bawah kotak perkakas, dan dari sisi dalam laci alat. Semua diberi kode berbeda.

Ia tidak menulis kesimpulan.

Hanya lokasi, waktu, metode, saksi, dan nomor foto.

Satu jam berikutnya, mereka memeriksa jalur wiraga. Rangka atas difoto. Bekas gesekan tali dicatat. Kotak perkakas disegel. Daftar orang yang membuka meja kontrol diminta.

Masalahnya muncul saat daftar kru diberikan.

Ada 137 nama.

Pemain, kru kamera, lighting, properti, konsumsi, keamanan, make-up, manajemen artis, tim stunt, tim wiraga, sopir, dan pekerja harian.

Bambang menatap kertas itu. "Kalau semua diperiksa satu-satu, kita pensiun di Batu."

Adira berkata, "Kita sempitkan."

Arka membuat kolom di buku catatan.

Akses alat.

Kesempatan.

Motif awal.

Perubahan perilaku setelah kejadian.

Data digital.

Mereka mulai dari akses fisik. Siapa yang boleh menyentuh pengait, harness, dan meja kontrol sebelum adegan.

Nama pertama: Rafi Wiratama, teknisi wiraga utama.

Nama kedua: Bagus Prakoso, koordinator aksi.

Nama ketiga: Seno Wibowo, manajer produksi yang memegang jadwal set.

Nama keempat: Raka Mahendra, pekerja properti harian yang diberi tugas membantu alat.

Lalu dari lingkaran korban.

Nama kelima: Ratna Sari, ketua grup artis pendukung sekaligus teman satu manajemen Rusa Kecil.

Nama keenam: Mawar Anggraini, manajer pribadi Rusa Kecil.

Adira menatap daftar itu. "Kenapa Ratna dan Mawar masuk? Mereka tidak menyentuh alat."

"Belum tentu tidak," kata Arka. "Mereka punya akses dekat ke korban dan jadwal. Kalau pengait dilemahkan sebelum adegan, pelaku harus tahu kapan Rusa Kecil memakai set itu, selain tahu cara mengikis logam."

Bambang mengangguk. "Teknisi tahu alat. Manajemen tahu jadwal. Teman satu grup tahu kebiasaan korban."

Candra menerima telepon. Wajahnya berubah saat mendengar suara di seberang.

Ia menutup telepon dan mendekati Adira.

"Bu, dari Polda. Hasil lisan metalurgi diperbarui. Mereka menyebut non-natural wear sekitar tiga puluh delapan persen, dengan pola gesekan alat halus."

Adira menatapnya. "Masih kecelakaan alat?"

Candra tidak langsung menjawab.

Labelnya berubah.

[Resistensi menurun]

[Tekanan institusional meningkat]

Akhirnya ia berkata, "Kami akan dukung penuh pemeriksaan lanjutan."

Bambang berbisik ke Arka, "Lab bicara lebih manis daripada kita."

"Lab tidak pakai emosi."

"Itu sebabnya orang takut angka."

Menjelang sore, area panggung disegel ulang. Sampel serbuk logam dikemas untuk Polda. Daftar enam nama dicetak tiga rangkap.

Adira menempelkan satu salinan di papan kerja hotel.

Rafi Wiratama.

Bagus Prakoso.

Seno Wibowo.

Raka Mahendra.

Ratna Sari.

Mawar Anggraini.

Enam nama.

Dari 137 orang, lingkaran pertama sudah mengecil.

Arka berdiri di depan papan itu.

Sistem bergerak pelan.

[Progres Misi: 18%]

[Jejak Fisik Ditemukan]

[Daftar Subjek Prioritas Terbentuk]

[Catatan: Pelaku Belum Tentu Pelaksana Tunggal]

Kalimat terakhir membuat Arka menyipitkan mata.

Belum tentu pelaksana tunggal.

Berarti ada kemungkinan orang yang mengikis, orang yang membayar, dan orang yang memastikan korban berdiri di titik yang tepat adalah orang berbeda.

Adira menunjuk nama Ratna.

"Besok pagi kita mulai dari dia. Jadwalnya paling dekat dengan korban, dan dia yang paling keras menangis di depan kamera."

Bambang mengangkat alis. "Menangis keras masuk indikator?"

"Tidak," kata Arka. "Tapi kadang orang yang paling ingin dilihat sedih adalah orang yang paling takut tidak dipercaya."

Di papan, nama Ratna Sari tampak biasa saja.

Tetapi besok, air matanya harus diuji seperti barang bukti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!