Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Vroom. Ciiiit.
Tiga buah mobil berwarna hitam pekat berhenti secara serentak di pelataran lobi utama markas besar Sanjaya Corp.
Gedung pencakar langit berlantai lima puluh itu menjulang tinggi sebagai simbol kekuasaan Keluarga Sanjaya selama puluhan tahun.
Namun hari ini, simbol itu akan segera diruntuhkan dan diganti dengan bendera yang baru.
Pintu Lamborghini Aventador SVJ terbuka ke atas dengan gerakan yang sangat mulus tanpa suara.
Rizal melangkah keluar dengan setelan jas hitam arangnya, memancarkan aura seorang penakluk yang datang untuk menagih upeti.
Clara Wijaya turun dari mobil SUV di belakangnya, diikuti oleh empat orang pengacara elit yang membawa koper berisi dokumen legal.
"Mari kita bersihkan tempat ini, Nona Clara."
Rizal memberikan perintah singkat sambil berjalan memimpin rombongan tersebut memasuki pintu kaca otomatis.
Di dalam lobi utama yang sangat luas itu, suasana terlihat cukup ramai oleh para karyawan dan jajaran manajer tingkat menengah.
Mereka sedang berkerumun mengelilingi Dion Sanjaya yang berdiri dengan sangat angkuh di tengah-tengah lobi.
Dion sedang menikmati pujian dan jilatan dari para bawahannya setelah dia menyiarkan kebohongan soal suntikan dana sepuluh triliun tadi.
"Tuan Muda Dion memang luar biasa! Anda menyelamatkan perusahaan kita dari kebangkrutan!"
Seorang manajer berpenampilan necis memuji dengan suara yang sengaja dikeraskan.
"Tentu saja, Keluarga Sanjaya memiliki koneksi di seluruh dunia, tidak seperti Wijaya Group yang cuma mengandalkan keberuntungan!"
Dion tertawa terbahak-bahak sambil membusungkan dadanya yang terbalut kemeja mahal.
"Besok pagi, kita akan menggunakan dana itu untuk menghancurkan bisnis Rizal sampai ke akar-akarnya!"
"Tuan Muda Dion hidup! Hidup Sanjaya Corp!"
Beberapa karyawan yang ingin mencari muka ikut bersorak memberikan dukungan palsu mereka.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah sepatu pantofel yang sangat berwibawa tiba-tiba memecah sorak-sorai menjijikkan tersebut.
Semua orang di lobi langsung menoleh ke arah pintu masuk.
Mata Dion seketika membelalak lebar saat melihat siapa yang datang mengganggu perayaan kecilnya.
"Rizal?! Sedang apa kau di sini?!"
Dion berteriak kaget sambil menunjuk wajah pemuda yang paling dia benci di dunia ini.
Rizal melangkah santai membelah kerumunan karyawan yang otomatis menyingkir untuk memberikannya jalan.
"Aku datang ke sini untuk memeriksa aset baruku, tentu saja."
Rizal menjawab dengan nada tenang yang sangat menusuk telinga Dion.
"Aset barumu? Kau pasti sudah gila karena ketakutan mendengar suntikan dana sepuluh triliunku kan?!"
Dion mendengus kasar dan memberi isyarat kepada puluhan petugas keamanan gedung yang berjaga di sudut lobi.
"Satpam! Seret gembel ini dan antek-anteknya keluar dari gedungku sekarang juga!"
"Kalau dia berani melawan, patahkan saja kakinya, aku yang akan menanggung biaya rumah sakitnya!"
Belasan petugas keamanan berbadan tegap langsung berlari mendekat sambil mencabut tongkat pemukul mereka.
Namun sebelum mereka sempat menyentuh Rizal, Clara Wijaya melangkah maju ke depan bosnya.
"Jika kalian berani menyentuh sehelai saja rambut Tuan Rizal, kalian akan saya tuntut dengan pasal penyerangan berlapis!"
Suara Clara menggema sangat tegas dan mengintimidasi layaknya seorang ratu es.
Kepala petugas keamanan itu menghentikan langkahnya dan menatap Clara dengan ragu.
Clara kemudian mengambil sebuah map tebal berwarna merah dari salah satu pengacaranya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Perhatian semuanya! Mulai pukul sembilan pagi ini, Sanjaya Corp telah resmi berpindah tangan!"
Pernyataan dari Clara itu sukses membuat seluruh lobi mendadak hening seperti kuburan.
"Melalui pembelian saham di pasar terbuka, Tuan Rizal kini adalah pemegang lima puluh satu persen saham Sanjaya Corp!"
Clara menyerahkan salinan dokumen pengesahan itu kepada kepala petugas keamanan yang berdiri paling dekat dengannya.
"Beliau adalah pemilik sah dan direktur utama yang baru di gedung ini, bukan Dion Sanjaya."
Kepala petugas keamanan itu membaca sekilas dokumen berlambang garuda tersebut dan wajahnya langsung memucat.
Bruk.
Tanpa banyak bicara, kepala satpam itu langsung menjatuhkan tongkatnya dan menundukkan kepala dalam-dalam ke arah Rizal.
"M-maafkan ketidaksopanan kami, Direktur Rizal!"
Melihat komandannya tunduk, belasan satpam lainnya langsung ikut menundukkan kepala mereka secara serentak.
Dion yang melihat adegan itu langsung berteriak histeris seperti orang kesurupan.
"Apa yang kalian lakukan?! Kenapa kalian malah menunduk pada gembel itu?!"
Dion berlari mendekati kepala satpam dan merebut dokumen salinan itu dari tangannya dengan kasar.
Mata Dion bergerak liar membaca deretan angka dan nama yang tertera di atas kertas bermaterai tersebut.
"I-ini tidak mungkin... lima puluh satu persen?! Bagaimana kalian bisa membelinya dalam waktu secepat ini?!"
Dion menggelengkan kepalanya dengan kuat menolak realitas yang sedang menghantam kewarasannya.
"Terima kasih atas bantuanmu di televisi tadi, Dion."
Rizal melangkah mendekati Dion yang wajahnya kini sudah sepucat mayat.
"Uang sepuluh triliun yang kau bualkan itu ternyata benar-benar datang, tapi sayangnya masuk ke rekening pialangku."
"K-kau... kau mencuri dana dari investor Timur Tengah itu?!"
Dion masih mencoba berpegang teguh pada kebohongan yang dia ciptakan sendiri.
"Tidak ada investor Timur Tengah, anak manja. Itu hanyalah ilusi dari mulut besarmu yang ketakutan."
Rizal menepuk pelan pipi Dion dengan punggung tangannya.
"Dan ilusi itu telah diubah menjadi senjata yang merobek leher perusahaanmu sendiri."
Dion mundur beberapa langkah hingga menabrak meja resepsionis karena kakinya terasa lemas.
"Ini pasti penipuan! Dokumen ini pasti palsu!"
Dion mengangkat dokumen itu dan merobeknya menjadi dua bagian dengan penuh amarah.
"Aku punya kenalan orang dalam di Otoritas Jasa Keuangan!"
Dion mulai melontarkan ancaman putus asa di depan seluruh karyawannya.
"Orang dalamku di OJK pasti akan membatalkan transaksi ilegal ini karena kalian menggunakan cara kotor!"
"Dokumen palsu ini tidak akan pernah diakui oleh negara sampai kapan pun!"
Ting!
Suara mekanis sistem berdenging nyaring merespons bualan Dion yang menolak kebenaran finansial di depannya.
[Mendeteksi adanya penolakan realitas, fitnah pemalsuan dokumen, dan bualan mengenai orang dalam di lembaga negara.]
[Kebohongan: Dokumen akuisisi itu palsu dan orang dalam OJK akan membatalkannya.]
Layar holografik biru kembali muncul di depan mata Rizal dengan pesan eksekusi yang sangat memuaskan.
[Memproses manipulasi realitas tingkat birokrasi negara...]
[Manipulasi berhasil. Sistem telah mengarahkan agenda inspeksi dadakan dari jajaran direktur utama OJK ke gedung ini.]
[Validasi mutlak dari negara akan dijatuhkan untuk membungkam keraguan musuh Anda.]
Syuuu.
Pintu kaca otomatis lobi kembali terbuka lebar tepat setelah notifikasi sistem itu menghilang.
Sekelompok orang berseragam rapi dengan lencana resmi lambang negara berjalan masuk ke dalam lobi dengan pengawalan polisi.
Pria paruh baya yang berjalan paling depan adalah Direktur Utama Otoritas Jasa Keuangan pusat.
Kehadirannya di sana membuat para manajer Sanjaya Corp menahan nafas karena terkejut.