ALVINA ....
Itu namaku. Gadis berumur 17tahun baru lulus SMA. Aku yatim piatu yang diasuh oleh seorang wanita berhati mulia bernama Ardhina Devi. Wanita yang rela menghabiskan seluruh hidupnya untuk membesarkanku, mengorbankan kebahagiaannya demi merawatku dan merelakan cintanya untuk menyayangiku.
Hidupku berubah setelah kepergiannya, ditinggal untuk selamanya oleh satu-satunya orang yang aku sayangi, membuatku seperti kehilangan sebagian diriku.
Ini bukan kisah tentang anak angkat yang mencari siapa dan darimana dia sebenarnya. Tapi ini tentang diriku dan cintaku.
Maaf, jika ada kesamaan nama, karakter dan penggambaran tokoh yang aku ambil. Semua hanya buat pelengkap saja. Semoga suka dan menarik kalian baca sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sita Azzaky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
•Gombal•
Meski pelan tapi terdengar suara ponselku berdering. Dengan cepat aku lari mengambilnya sebelum mengganggu istirahat Kak Dhina.
Fathir, kontak nama yang tertulis.
"Assalamualaikum," kataku pelan.
"Waalaikumsalam, kamu belum tidur?"
"Kamu sendiri juga belum tidur."
"Aku nggak bisa tidur, aku udah nggak sabar pengen ketemu kamu, rasanya ...."
"Hooaaammm ...." Sengaja aku pura-pura menguap, biar gombalannya nggak kemana-mana. "Kamu nggak sedang ngigau kan?"
"Kenapa kamu selalu menghindar dan mencari topik lain?" Dia terdengar kesal tapi nggak marah.
"Aku takut terbiasa dengan gombalanmu!"
"Lalu kenapa? Aku bisa lakuin itu tiap hari buat kamu."
"Aku ngantuk banget. Kita ketemu besok ya ... Assalamualaikum ...."
"Waalaikumsalam," jawabnya dengan helaan nafas berat. Aku pasti sudah membuatnya kecewa.
"Fath, jangan mimpi indah ya .... Mimpiin aku saja!" Dengan cepat aku matiin ponselku. Dadaku berdetak nggak seperti biasanya. Apa aku mulai menyukai Fathir?
Ponselku bergetar lagi. Aku takut buat mengangkatnya. Aku takut dia tahu kalau aku mulai ketagihan dengan rayuan gombalnya. Aku mulai nyaman bersamanya.
Ponselku nggak berhenti bergetar.
"Iya." Aku seolah-olah malas padahal dalam hati campur aduk nggak karuan.
"Kamu godain aku?"
"Aku mau tidur, besok aku harus bangun pagi, ketemu besok lagi ya ...."
"Aku kesana sekarang, aku nggak sabar nunggu besok." Dia matiin ponselnya.
Kesini? Yang benar saja.a Sudah jam sebelas, nggak mungkin dia kesini. Gombal!
Aku tarik selimutku, aku harus tidur. Besok jadwal cuci darah Kak Dhina.
#######
Aku lipat mukenaku. Jam dinding Doraemon di kamar menunjukkan pukul lima pas. Aku intip kamar Kak Dhina, Kak Dhina sibuk dengan ponselnya di atas tempat tidur.
Udara sejuk menyerangku saat aku buka jendela depan, aku hirup dalam-dalam, aku menikmatinya sambil menggeliat dengan mata terpejam. Saat membuka mata, aku lihat Fathir duduk di tanah bersandar pada ban mobilnya.
Astaga, apa aku mulai nggak waras? Kenapa aku lihat Fathir ada dimana-mana? Aku pejamkan mataku lagi, aku buka pelan-pelan dan memastikan dia masih ada di halaman rumah. Fathir melambaikan tangannya, apa dia nyata? Atau dia benar-benar Fathir?
Apa yang dia lakukan sepagi ini? Aku berlari masuk kamar, aku ambil switer hasil rajutan Kak Dhina untuk menutupi ketiakku.
"Apa yang kamu lakuin disini sepagi ini?" Tanyaku. Dia hanya menatapku. "Ayo masuk! Aku bikinin teh." Aku menarik tangannya, tapi dia justru menarikku lagi. Aku membelakanginya, dengan tetap menggenggam tanganku dia lingkarkan tangannya di atas perutku.
"Semalaman aku nunggu disini bukan untuk minum teh," bisiknya di telingaku.
"Lalu? Apa? Lagian siapa yang suruh bermalam di sini?"
"Karena mimpi indahku saat bisa melihatmu ada di sampingku," bisiknya lagi. Mulai gombalannya.
"Oh ya?"Aku hendak membalikkan tubuhku, tapi dia justru menggenggam erat tanganku.
"Tetap diam seperti ini sebentar saja"
"Kalau Kak Dhina tiba-tiba keluar gimana?"
"Biarin saja." Fathir letakkan keningnya di pundakku.
Apa yang dia lakukan? Aku mulai merasakan sesuatu, tubuhku seperti gemetar kedinginan, dadaku berdetak lebih cepat. Reaksi seperti ini baru aku rasakan.
"Kak Dhina?" Dengan cepat Fathir melepasku dari pelukannya dan spontan mendorongku. Aku tutup mulutku, aku sembunyikan senyum kemenanganku.
"Dasar!" Mulutnya mecabik menahan emosinya. Alisnya bergabung saat tahu aku membohonginya. Dengan kesal dia meninggalkanku kembali ke mobilnya.
"Masuklah dulu, sarapan atau sekedar minum teh." Aku berusaha membuatnya kembali. Tapi dia tetap pergi seolah-olah nggak dengar suaraku. Dia benar-benar marah? "Please ...."
Namun, Fathir tetap berlalu. Aku kembali masuk ke rumah saat mobilnya sudah pergi dari rumahku.
"Apa itu Fathir?" Tanya Kak Dhina. Aku ngangguk menjawabnya. "Kenapa nggak di suruh masuk?" Tanyanya lagi.
"Kesusu mungkin Kak." Aku angkat bahuku.
"Trus ngapain sepagi ini sudah disini?"
"Gombalin aku!" Jawabku singkat lalu masuk ke kamar.
HBD 😘😘🎉🎉🎂🎂🎁🎁🦀♋🦀♋🌷🌷💜💜😂😂
Welcome Cancer ♋🦀♋HBD Author 🎉🎉🎉🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎂🎂🎂🎉🎉🎁🎁🎁
HBD 🎂🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎁♋♋♋♋♥️♥️♥️♥️🦀🦀🦀🦀💜💜💜💜🌷🌷🌷🌷🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎉🎉🎉🎉
HBD
🎂🎂🎂💜💜💜♋♋♋🦀🦀🦀
🎂🎂🎂♥️♥️♥️🎁🎁🎁🌷🌷🌷
HBD ♋♋♋💜💜💜🎁🎁🎁♥️♥️♥️