Lintang Wiryateja atlet badminton yang sedang naik daun, terancam didegradasi dari pelatnas dengan tuduhan menghamili pacarnya dan menolak bertanggungjawab. Ditengah ombang-ambing karirnya Lintang menemui keluarga mantan pacarnya, Regata Saraswati. Sebuah surat yang ditulis Regata delapan tahun lalu, membawa Lintang pada sebuah kebenaran.
Slow update
DISCLAIMER
Cerita ini adalah fiksi belaka, apabila ada kesamaan nama, alur, penokohan dll bukanlah suatu kesengajaan, dan tidak bermaksud merendahkan suatu profesi.
Apabila ada bagian cerita (penyakit, jabatan, ketentuan olahraga, kaidah olahraga, dll yang kurang sesuai silahkan tinggalkan komentar kalian)
Terima kasih🙏
Credit Cover Picture : 'that tree' by Chris Neil McKay (sudah diganti dengan cover dari editor NT🙏)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsje Artemis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulangan Matematika
Sabtu siang adalah hari yang paling dibenci Mia. Pelajaran terakhir di siang itu adalah Matematika, dan hari ini diadakan ulangan tentang operasi bilangan bulat dan pecahan.
“Yang belum menyelesaikan ulangan tidak boleh pulang” ujar Ibu Rian sambil mengelilingi kelas dengan membawa rotan di tangannya.
Rotan itu Ibu Rian gunakan untuk menakut-nakuti siswa, agar tidak malas belajar.
Mia membolak-balikan kertas yang berisi soal ulangan. Kertas jawabannya hanya berisi jawaban nomor satu yang menurutnya mudah dikerjakan. Mia berulangkali menjumlahkan pecahan tersebut namun tidak yakin dengan angka yang dikerjakannya.
Mia menatap sekeliling kelas, satu persatu murid maju mengumpulkan hasil ulangannya, dan berpamitan pulang.
Ibu Rian memperhatikan Mia yang celingak-celinguk melihat sekelilingnya. Sebagian besar kertas cakarannya masih kosong dan sebagian lagi berisi gambar rumah dan pohon.
Tidak lama kemudian, Aldo murid paling nakal di kelas itu mengumpulkan kertas ulangannya. Mia tentu saja kaget dan makin deg-degan mengingat dari sepuluh soal, hanya satu yang bisa dikerjakannya.
Jika Aldo yang menurut Mia bodoh dalam pelajaran matematika bisa mengerjakan ulangan, kenapa dirinya tidak. Ah, mungkin saja Aldo mengerjakan ulangannya secara asal, agar segera pulang batin Mia.
Dengan semangat empat lima, Mia memenuhi kertas ulangannya dengan angka-angka hasil penjumlahan dan dengan percaya diri mengumpulkan dan pulang dengan santainya.
Pada pelajaran matematika berikunya, ulangan dibagikan kepada seluruh anak-anak di kelas itu.
“Yes,yes, yes dapat tujuh puluh lima” ujar Mia memamerkan nilai ulangan pada teman yang duduk dekat dengannya.
“Aldo kamu dapat berapa?” Tanya Mia pada Aldo yang duduk agak jauh darinya.
“Delapan puluh” ujar Aldo sambil menyodorkan kertasnya.
Cuma beda lima angka pikir Mia. Tidak apa, pulang nati dia akan menunjukan hasil ulangan pada mamanya.
“Selamat siang” sapa Mia pada seisi rumah.
Regata menyambut kedatangan putrinya dan Bi Nina. Mia tampak bahagia. Regata bertanya pada putrinya apa yang membuatnya tampak senang. Mia menyodorkan hasil ulangannya.
Regata marah besar saat melihat nilai ulangan puterinya.
“Tujuh puluh lima dari mana?” tunjuk Regata pada hasil ujian Mia.
Ternyata nilai ulangannya 0,75. Regata meneliti hasil ulangannya. Nomor satu diberi 0,75 oleh gurunya karena mengerjakan soal setengah benar alias ditengah jalan hasilnya berubah. Sisanya mendapat tinta merah.
“Mulai hari ini gak boleh nonton TV sampai nilaimu bagus. Mama akan daftar les tambahan”
Regata memijat kepalanya pelan melihat kelakuan Mia.
Saat sekolah dasar dulu Regata merupakan siswa teladan yang sering menjadi juara umum, dan sering diutus mewakili sekolahnya mengikuti perlombaan. Sedangkan putrinya, nilai paling bagus adalah kesenian dan olahraga sisanya standar dan matematika di bawah standar.
“Coba sekarang enam kali delapan berapa” Regata menguji Mia setelah membaca evaluasi dari wali kelas bahwa putrinya tidak menghafal perkalian.
“enam kali enam tiga puluh enam, enam kali tujuh empat puluh dua, enam kali delapan…. Enam kali delapan…” Mia tampak berpikir keras.
Regata tidak sabar menunggu putrinya menjawab pertanyaannya.
“Enam kali delapan?” Regata mengulang pertanyaannya.
Mia ingat gurunya pernah berkata enam kali delapan sama dengan menghitung enam sebanyak delapan kali, atau sebaliknya delapan sebanyak enam kali. Maka mulailah Mia menghitung dengan
jari-jari mungilnya.
Regata menyerah. Dibiarkan putrinya menghitung dengan jari-jarinya. Mia terus menghitung jari-jarinya berualang kali seolah tidak yakin akan jawaban dari pertanyaan ibunya.
Keesokan harinya Regata memajang poster besar tabel perkalian di kamar putrinya.
...----------------...