PART DUA Novel KETIKA KEHORMATAN KU DI PERTANYAKAN.
"BISMILLAH CINTA" seru Khadijah sebelum ia bersujud di sepertiga malam nya. Setelah pagi tadi ia merasakan gugup dan jantung nya berdetak kencang untuk pertama kali nya saat dekat dengan seorang laki-laki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumtazah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Khadijah masih kuliah, biarkan dia menyelesaikan kuliah nya. Aku gak mau kuliah nya yang tinggal beberapa bulan lagi terganggu dengan tanggung jawab seorang istri"
"Rafa bukanlah laki-laki yang banyak menuntut, abi Usman. Untuk kegiatan Khadijah, in sya Allah Rafa tidak mempermasalahkan nya."
"Tidak, bukan seperti itu. Kamu kan masih harus pulang ke rumah mu, sedangkan Khadijah masih kuliah di sini. Aku hanya tak mau kalian berjauhan saja"
"Lalu?" Rosyid bertanya karena merasa bingung dengan arah pembicaraan Usman.
"Biarkan Dijah menyelesaikan kuliah nya dulu. Aku tak mau Dijah menikah siri, apalagi setelah nikah kalian jauh-jauh an"
Semua masih diam, jantung Rafa langsung berdetak kencang.
"Kenapa, bi? Rafa tidak akan menganggu nya. Rafa sendiri merasa tertekan dengan semua ini, takut menjadi ladang dosa bagi Rafa dan juga Khadijah"
"Bukan seperti itu, Rafa sayang" Ucap usman yang mulai tidak enak hati "Abi Usman gak mau Khadijah menikah siri, jujur saja kejadian waktu umi Hanum dulu membuat Abi usman trauma"
"Apa hubungannya dengan kisah Hanum dulu, man?" tanya rasyid "Dulu Faris adalah orang lain, orang luar. Sedangkan Rafa masih keponakan kalian, hubungan kita juga dekat"
"Tapi itu benar-benar membuatku trauma. Waktu itu, aku menjadi saksi saat Hanum mengetahui Faris punya istri lagi. Aku takut, sampai sekarang kejadian itu tidak hilang dari kepala ku" wajah usman berubah cemas, seperti nya ia sungguh-sungguh dengan perkataan nya.
"Maaf, usman. Jika aku memaksa nya, aku tak bermaksud apapun, cuma.. "
"Tidak apa-apa, mas rosyid" potong usman, ia mencoba untuk tenang dan mengendalikan diri nya.
"Aku cuma takut saja, kita tidak tau dan jangan sampai ada kejadian yang tidak baik di kemudian hari. Tapi jujur Khadijah adalah kesayangan ku, aku takut dia sakit hati seperti Hanum, naudzubillah"
"Begini saja" Hamish berbicara sambil membenarkan posisi duduk nya "tiga hari lagi Rafa dan Khadijah akan bertunangan dulu. Mumpung keluarga dari Jawa Tengah datang juga"
Semua diam.
"Bagaimana Rafa, mas Rasyid?" tanya Hamish sambil melihat Rafa dan rasyid bergantian.
"Hmm.. Seperti nya itu keputusan yang paling bijak. Aku setuju" Ucap Rasyid yang merasa tak ada masalah dengan keputusan itu. Tapi seperti nya Rafa kecewa, ia berharap bisa menikah secepatnya.
"Bagaimana Rafa?" Tanya usman
"Rafa ngikut bagaimana baik nya saja" Rafa tersenyum menyembunyikan rasa kecewa nya.
"Saat ini Rafa harus bisa menahan semua nya, kalau bisa puasa saja ya"
"InsyaAllah, abi Hamish. Rafa insyaallah sudah menahan nya selama bertahun-tahun. InsyaAllah menunggu sampai Khadijah lulus tidaklah lama"
Kabar bahagia ini dalam sekejap langsung menjadi kabar hangat pembicaraan semua orang.
Malam ini juga, dengan kesibukan yang super duper sibuk. Beberapa santri yang juga berusaha memantaskan diri untuk bisa bersanding dengan Khadijah pun langsung patah hati. Tapi tidak dengan Cakra, ia menolak mentah-mentah berita ini dan dengan santai nya mengatakan kabar ini, kabar Hoax.
Setelah keputusan Khadijah dan Rafa akan bertunangan tiga hari lagi, Hanum tidak mengizinkan Khadijah keluar dari rumah. karena Hanum gadis penurut, ia pun hanya bisa berdiam di dalam kamar.
Setetes air mata menetes, entah apa yang sedang Hanum rasakan saat ini. Hanya dia, Allah dan author saja yang tau.
"Semua pasti akan menikah, anak gadis seperti ku pasti akan menjadi milik suami. Di usia ku sekarang ini seperti nya sudah sangat tepat dan ideal. Tapi kenapa aku merasa bahwa ini terlalu cepat, atau aku saja yang masih belum bisa jauh dari Abi."
Hanum duduk di atas kasur, menatap foto-foto masa kecil nya dulu bersama keluarga besar nya.
"Yaa Allah, mantapkan hatiku di atas Cinta ku kepada mu, kepada Abi ku dan kepada suami ku kelak. Sungguh cinta yang aku rasakan saat ini tumbuh begitu saja, aku tak meminta nya atau bahkan tidak mengagumi nya. Tapi hati ku berdebar saat melihat nya, bahkan wajah nya slalu ada di mataku. Ampuni aku, yaa Allah. Aku tau ini tidak baik. Aku meminta kepadamu, untuk menghilang kan semua rasa ini, jika membuatku berbuat dosa. Jauhkan aku dari rasa ini, jika di dalam rasa ini syetan juga bersemayam di dalam nya"
Di sisi lain, tiga serangkai yang tak lain adalah Akbar, Bilal dan Ali sedang bersembunyi di balik tembok.
Note: author sengaja mengganti alur dari sepuluh pengawal Khadijah menjadi tiga yang akan sering muncul di cerita. ini di perlukan agar pembaca tidak bingung karena kebanyakan tokoh. Terima kasih.
"Yang mana sih, mas" Tanya Bilal
"Yang pakai baju hitam Itu" Jawab Akbar
"Semua nya pakai baju hitam, mas Akbar" Kini Ali mulai emosi juga.
Tiga pemuda ini tidak tau situasi, di saat banyak sekali tamu berdatangan, ia malah sibuk mengintip seseorang. Walau Akbar terkenal tegas, namun tetap saja darah Bar-bar karin mengalir di dalam tubuh nya. Akbar terkadang termakan dan akan berbaur menjadi nakal seperti Bilal dan Ali.
"Sudahlah, kalian ini buta" Akbar langsung berjalan, saat seseorang yang sedang mereka perhatikan sudah enyah dari pandangan mereka.
"Aku akan adukan ke Abi hamish" Ancam Bilal
"Awas saja kalau kalian berani macam-macam, tak adukan juga ke Abi Hamzah, kalau kalian suka pergi diam-diam ke... "
"Kita hanya bercanda kok, mas. Heheh" Ali tersenyum kuda
"Iya, mas. Jangan anggap serius ya" Bilal dan Ali membuntut di belakang Akbar, mencoba merayu Akbar agar tidak mengadukan kenakalan mereka.
Ketiga pemuda tampan akhirnya memlih untuk pergi menemui para tamu.
"Oh, ini yang nama nya Akbar" Ucap seorang pria paruh baya.
"Inggih, pak Yai" Jawab Usman
"Ganteng juga, seperti Almarhumah Kyai Alif"
Untuk pertama kali nya, Akbar merasakan deg deg an. Bahkan saat ujianpun, akbar tidak pernah setegang ini. Bahkan akbar mendadak menjadi bisu, tidak berbicara sepatah kata pun. Tersenyum pun ia merasa bibir nya kaku.
"Nak Akbar, main ke rumah ya" Ucap pria tersebut
"Inggih, pak Yai" Akhirnya akbar berbicara juga, tapi keringat dingin mulai membasahi dahi nya.
"Kamu teman nya anak ku, Haqi kan?"
"Inggih, pak Yai"
"In syaa Allah, jika ada waktu kami akan berkunjung ke sana, Kyai Rofiq" Ucap Hamish.
Akbar langsung memandang Abisnya itu dengan tatapan tajam. Namun tak membuat Hamish takut.
"Kami sudah merencanakan nya, cuma karena masih sibuk ada acara khaul jadi ketunda, heheh"
"Baiklah, aku akan tunggu kedatangan kalian"
...****************...
Akbar sudah berada di Rumah nya. Tak biasanya ia pulang ke rumah orang tua nya, karena seperti sepuluh tahun belakangan ini ia slalu di tidur di rumah utama bersama Ali dan Bilal. Karin yang lelah tidak peduli, ia tak menanyai Akbar sebab akibat kepulangan nya. Karin malah memilih tidur dahulu, karena besok pagi acara haul.
"Assalamu'alaikum" Hamish dengan santai masuk ke rumah nya.
"Waalaikumsalam, abi" Akbar buru-buru menyeret abi nya, lalu mereka berdua duduk di sofa ruang tengah. Hamish pun diam saja, ia tentu tau apa maksud anak nya ini.
BERSAMBUNG.....
Penasaran ......
ko gak up
lama lohh nunggu nya...