Pikiran Nara masih saja penuh dengan ajakan menikah dari direktur gilanya itu, Nara jadi tidak begitu konsen dalam bekerja.
Kenapa aku bisa sesial ini pergi ke perjodohan malah ketemu sama bos sendiri?!
Masalahnya Nara hanya wanita yang menyamar sebagai sahabatnya.
Akankah perjalanan cinta Nara dengan statusnya sebagai janda berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duajempol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Berjodoh!
"Syukurlah berkat pak direktur pabrik akan kembali menyuplai barang secara normal." Bastian mencatat semua poin poin penting dalam rapat tadi di tab kerja miliknya, meski berjalan dengan sangat alot karena GM Kendra sedikit berdebat dengan Rey pada akhirnya pria tua itu mengaku kalah kali ini meski Rey tau bahwa suatu hari nanti Kendra akan bisa menjadi batu sandungan untuknya.
Rey menghela nafas panjang dan memijat pangkal hidungnya, jelas wajahnya terlihat sangat lelah namun kadar ketampanannya tidak berkurang sedikitpun. Dia mendesah dan melirik arlojinya,
"Aku sudah terlambat hingga 1 jam." Gumamnya.
Bastian yang menyadari hal itu juga bergumam, "Mungkin dia jodoh anda jika dia masih disana menunggu, tapi itu sedikit musta.."
Melihat Rey yang bangkit berdiri dan memakai kembali jasnya, Bastian cukup terkejut. "Pak direktur mau kemana?"
"Tentu saja kembali ke cafe itu, kau bilang sendiri kan bisa saja kami berjodoh." Rey menoleh kembali sesaat sebelum keluar pintu, "Aku akan memakai supir, kamu disini saja mengurus sisanya."
"Ta.. tapi.." Bastian hanya menggaruk kepalanya dan mendesah bingung.
Nara duduk di meja samping jendela, menatap sembarang lalu lalang mobil dan orang orang yang berjalan di trotoar. Teringat direkturnya bersikeras untuk mengajak Natha menikah membuat lamunannya melayang kepada kejadian 3 tahun silam, meskipun tidak ada yang mengetahui status jandanya namun tetap saja jika suatu saat jika dia akan menikah dan calon suaminya mengetahui hal tersebut akankah itu berjalan dengan baik. Dengan posisinya seperti ini dia memang percaya diri meski berstatus janda karena dia sama sekali tidak pernah berhubungan lebih jauh dengan pria, dia benar benar masih murni tersegel. Namun apa calon suami atau calon mertuanya bisa menerima statusnya.
Nara menghela nafas, pantulan dirinya pada kaca membuat dia tertawa hambar. "Andai saja aku bisa berubah dan menyamar seperti ini terus sampai orang tidak mengenali aku dan tidak bertanya masa laluku." Tak terasa hujan mulai turun membasahi tanah dan mata Nara sayup sayup menahan kantuk karena bosan menunggu.
Rey masuk ke dalam cafe, sejujurnya hatinya sedikit berharap cemas. Apa wanita itu masih menunggunya, namun dia sedikit tercekat, hatinya menghangat tanpa dia sadari lekungan bibirnya naik melihat wanita itu memangku wajahnya dengan telapak tangannya dan bersandar pada kursi tertidur. Rey duduk diam di sebrang Nara yang menyamar, memperhatikan Nara yang tertidur beberapa kali bahkan kepalanya terantuk bagi Rey wanita dihadapannya ini terlihat sangat lucu dan menarik.
"Hmmm.. aku .. tidak mau.." kedua alis Nara berkerut dan kepalanya bergerak gerak meski matanya masih terpejam.
"Mimpi apa dia?" Rey terkekeh melihat Nara yang mengigau, "Persis anak anjing." Lagi lagi Rey terkekeh merasa lucu dengan tingkah Nara.
"Jangan paksa.. aku!" Saat itu juga mata Nara terbuka dan menatap Rey yang dihadapannya.
"Aku.. tertidur?? Jam berapa ini?" Nara melihat arlojinya dan terkejut. "Aku sudah dua jam disini? Kenapa anda tidak membangunkan saya??" Nara bingung melihat Rey yang duduk dengan ekspresi datar menatap dirinya.
"Sepertinya kamu tidur dengan sangat nyenyak sampai bermimpi. Aku tidak tega membangunkanmu." Rey menyeruput kopi panasnya.
Nara menjebikkan bibirnya, Tentu saja aku bermimpi tetapi itu mimpi buruk! Bahkan aku bermimpi dipaksa untuk menikah dengan anda!! Nara menghela nafas kasar dan menggerutu. "Baiklah, jika anda sudah datang disini maka sekarang saya akan menyelesaikannya. Kita tidak bisa menikah dan aku tidak akan pernah mau menikah dengan anda!" Tegas Nara. Hebat kamu Nara bisa setegas ini! Wanita itu menyibak rambut palsunya dan tersenyum sempurna berbangga atas dirinya.
"Katakan alasannya." Lagi lagi ekspresi wajah Rey datar.
Nara terdiam dan sudah menduga bahwa pria di hadapannya ini pasti tidak akan mudah untuk dibuat menyerah. "Jelas karena aku tidak suka dengan status menikah, aku masih ingin bersenang senang dan tidak ingin.."
"Aku tidak akan mengekangmu, uang akan ku berikan setiap bulan, aku tidak akan mengatur ngatur kehidupanmu. Yang aku butuhkan hanya status menikah dan aku bisa memberikan kebebasan untuk kamu."
Nara membelakkan matanya, Benar benar suami idaman! "Aku tetap tidak mau, terus terang saja tuan Reynold, anda bukan tipe saya!" Nara memalingkan wajahnya.
"Aku akan berusaha menjadi yang kamu suka." Tegas Rey tanpa ragu.
Nara mengerutkan alisnya sedikit kesal, "A.. aku.. tidak suka gaya pakaianmu! Gaya bicaramu, rambutmu, sepatumu, tanganmu, matamu, alismu semuanya! Anda bukan tipe saya anda terlalu biasa saja!" Nara sampai kehabisan kata kata untuk menolak Rey.
"Kamu salah," Rey tersenyum dan mencondongkan badannya. "Aku jelas tidak biasa saja nona Nathania."
Wajah Nara merona dan dia bersingut mundur.
Se.. senyum apa itu??!! i.. ini sangat berbahaya!!!!!
"Po.. pokoknyanya aku tetap menolak menikah!! Kenapa sih anda sangat memaksa untuk menikahi saya?"
"Ini sudah malam, mari aku antar pulang." Rey melirik arlojinya dan bangkit berdiri, "Kalau ga, kita akan debat terus seperti ini sampai pagi." Lagi lagi Nara merasa senyum Rey sangat fatal dan berbahaya.
Sepanjang perjalanan mereka pulang, Rey hanya diam duduk di dalam mobil seperti sedang tenggelam dalam pikirannya. Begitu juga Nara, dia merasa lelah untuk berdebat yang pasti dia akan tetap bertekad untuk menolak pernikahan tak masuk akal ini sedangkan pria itu pasti akan tetap memaksa dirinya. Tak butuh waktu lama mobil yang di kendarai oleh supir Rey memasuki komplek perumahan Nara. "Disini saja." Nara jelas tidak ingin Rey mengetahui dimana rumahnya. Lalu supir itu menepikan mobilnya dan Nara keluar, "Terimakasih sudah mengantar saya." Nara bergegas akan pergi secepat kilat.
"Nona Nathania." panggilan Rey menahan Nara. "Tadi kamu bertanya kan kenapa aku sangat ingin menikah dengan kamu." Rey membuka kaca jendelanya dan membuat Nara menatapnya bingung. "Aku suka pada nona Nathania." Lagi lagi Rey tersenyum.
Nara tergugu mendengar ucapan Rey dan pipinya merona. Apa? Dia bilang apa?!
"Tunggu!!" Nara menahan jendela yang akan menutup. "Saya kan sudah bilang, saya tidak ingin menikah dengan anda! Saya jelas datang ke perjodohan karena saya tidak ingin menikah, saya mempunyai prinsip untuk menunggu jodoh saya datang bukan dari per..."
"Hari ini."
"Hah??!" Nara memasang wajah bertambah bingung.
"Hari ini dimana jodoh kamu sudah datang." Rey menipiskan bibirnya.
"Anda sudah tidak waras yah? Jelas saya sudah menolak dan saya anggap ini sudah selesai! Saya tidak ingin berdebat lagi."
"Sampai jumpa, nanti aku akan hubungi lagi." Rey melambai dan perlahan mobil berjalan.
"Tidak akan aku angkat!!!" Teriak Nara frustasi.
****
Setelah hari itu memang Rey selalu menghubungi Nara, tapi sesuai perkataan Nara dia tidak menggubris satu kalipun panggilan dari Rey karena dia sudah menganggap ini selesai. Lagipula ada hal yang lebih penting dari itu, "Hari ini hari gajian!!" Nara dengan membusungkan dada pulang kerumah membawa uang untuk membayar sewa bakery milik orang tuanya.
"Kakak!" Andra, adik Nara satu satunya keluar, "Kenapa baru pulang? Bakery ramai sekali tadi. Aku lelah!" Andra duduk di bangku pengunjung mengusap keningnya. Bakery kecil milik oramg tua Nara memang jauh dari kesan mewah, namun bakery berukuran 5x12 itu cukup ramai akan pengunjung. Para pembeli bisa langsung menikmati roti hangat dan berbagai jenis short cake yang dibuat baru setiap harinya. Bakery itu juga menyediakan minuman kopi sebagai teman memakan roti, lagipula lokasi bakery juga berdekatan dengan universitas juga wilayah perkantoran sehingga ramai akan pengunjung yang tergiur dengan aroma harum dari roti yang baru selesai di panggang.
"Jangan memasang wajah lelah seperti itu, kamu akan bahagia jika tau apa yang kakak bawa." Nara mengipas ngipas amplop dibtangannya sambil tersenyum jumawa.
Andra bangkit dari duduknya memasang wajah antusias, "kakak bawa apa??"
"Uang sewa toko!!!!!" Andra dan Nara menari dengan gembira sembari memegang amplop berisi uang itu.
"Yah ampun kedua anak ini! Cepat masuk ke dalam." Wanita paruh baya yang berwajah mirip dengan Nara berdecak melihat tingkah kedua anaknya yang tidak berubah meski sudah memasuki usia dewasa.
aku baca bab ini pas lagi makan Ampe keselek,gara2 Nara baca UUD.
KK jgn sampe Nara dan Natha musuhan karna cowo.