NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24 — Petembak Terpilih

“Siapa pun yang mengira seleksi petembak hanya soal akurasi, keluar sekarang.”

Pak Cakra berdiri di depan ruang simulasi laser dengan wajah yang membuat tidak ada orang keluar.

Di belakangnya, tiga jalur latihan menyala. Jalur pertama penuh target bergerak. Jalur kedua penuh penghalang yang muncul acak. Jalur ketiga adalah arena sempit dengan drone tembak otomatis dan lantai miring.

Di kursi penilai, beberapa instruktur duduk dengan tablet data. Pak Mahar ada di samping, wajahnya datar. Mira duduk di pagar penonton, masih memakai jaket latihan, matanya langsung mencari Tri.

Bagas berdiri dua baris di depan dengan Mecha abu barunya dalam kalung penyimpanan sederhana. Ia tampak seperti orang yang akan memukul target bila target menolak jatuh.

Hendra duduk di tribun, bukan sebagai peserta. Komandan tidak ikut seleksi petembak, tetapi matanya mengikuti seluruh lapangan seperti sedang menyusun peta perang.

Tri berdiri di antara peserta, kalung Titis Darah tersembunyi di balik kerah.

Pak Cakra mengangkat tangan. “Petembak Terpilih bukan orang yang menembak paling banyak. Dia orang yang membuat tim tetap hidup dari jarak yang tidak bisa disentuh orang lain. Nilai hari ini: akurasi, pilihan sasaran, gerak Mecha, dan keputusan saat dikepung.”

Seorang murid berbisik, “Jadi semua.”

Pak Cakra menoleh.

Murid itu langsung berdiri lebih lurus.

“Benar,” kata Pak Cakra. “Semua.”

Nama pertama dipanggil.

Murid itu masuk jalur pertama dan menembak cepat. Akurasinya bagus, tetapi target prioritasnya salah. Ia menghabiskan peluru pada drone kecil saat target komandan muncul dua detik. Pak Cakra tidak berkata apa-apa. Nilainya berkata cukup.

Nama kedua.

Ketiga.

Mira bersiul bosan.

Bagas maju sebelum Tri. Ia tidak petembak murni, tetapi semua murid A diminta ikut seleksi awal. Mecha abu buatannya sendiri berdiri di jalur kedua. Bagas menembak sedikit, lebih banyak menahan dan bergerak maju. Target yang ia tembak hancur bersih, tetapi pola geraknya tetap berat.

Pak Cakra menulis sesuatu.

“Bagas, bukan buruk. Tapi kau menembak seperti ingin memukul peluru.”

Bagas mengangguk. “Saya akan latihan, Pak.”

“Bagus. Berikutnya, Tri.”

Suara di ruangan berubah.

Raja Pemanjat Tembok.

Murid pinjaman.

Orang yang mengalahkan Mira dengan menembak lantai.

Tri berjalan ke garis masuk.

Pak Cakra menatapnya. “Jangan menembak fasilitas jika tidak perlu.”

Tri berpikir.

“Definisi perlu, Pak?”

Beberapa instruktur batuk menahan tawa.

Pak Cakra mengangkat senapan latihan ke bahunya. “Kalau kau bertanya lagi, aku definisikan dengan peluru.”

“Saya mengerti, Pak.”

Tri memanggil Titis Darah.

Mecha merah tua muncul di arena simulasi. Setiap kali ia melihatnya, jari Tri masih ingin membuka panel. Tetapi hari ini bukan hari membongkar. Hari ini hari memperlihatkan cukup banyak agar mendapat kursi, cukup sedikit agar tidak dibawa ke ruang pemeriksaan.

Kokpit menutup.

Data masuk jernih.

Tri menahan output di batas yang ia sebut aman.

Jalur simulasi menyala.

Target bergerak muncul dari kiri.

Tri tidak menembak.

Drone kecil muncul dari kanan.

Ia juga tidak menembak.

Target ketiga, siluet Komandan dengan perisai Indra palsu, muncul di belakang penghalang bergerak.

Titis Darah mengangkat senapan laras ganda.

Dua tembakan.

Tembakan pertama mengenai engsel penghalang.

Penghalang miring.

Tembakan kedua masuk melalui celah yang baru terbuka dan mengenai pusat target Komandan.

Lampu hijau.

Tribun langsung ribut.

Pak Cakra tidak bergerak.

Tri lanjut.

Di jalur kedua, lantai miring bergerak. Drone otomatis menembak dari atas. Titis Darah tidak berlari lurus. Ia melangkah diagonal, memakai bayangan penghalang sebagai perlindungan, lalu menembak titik lintas drone. Drone pertama jatuh sebelum mencapai sudut tembak. Drone kedua menabrak serpihannya.

Mira berdiri di pagar. “Itu bukan pola akademi.”

Hendra mendengar dari tribun dan matanya menyipit.

Instruktur di kursi penilai mulai saling melihat.

Tri tahu.

Terlalu banyak bau arena bawah.

Ia mengubah ritme.

Gerakannya dibuat sedikit lebih formal pada jalur ketiga. Titis Darah masuk ke arena sempit, menerima pengepungan dari enam target sekaligus. Dua target berat, satu target ringan, tiga drone gangguan. Ia bisa menyelesaikannya lebih cepat dengan menembak lantai dan memantulkan sudut.

Tidak.

Pak Cakra sudah memperingatkan.

Tri memilih cara yang lebih bersih.

Ia menembak target ringan dulu. Target itu memegang sudut yang bisa mengunci jalur mundur. Lalu satu tembakan menghantam kaki target berat kiri, cukup untuk membuatnya menutup jalur tembak target berat kanan. Tiga drone gangguan turun bersamaan.

Titis Darah berputar.

Senapan kiri menembak dua kali.

Senapan kanan satu kali.

Drone jatuh berurutan seperti baut dilepas dari papan.

Target terakhir muncul di belakangnya.

Tri sudah menunggu.

Ia tidak menolehkan tubuh penuh. Hanya memutar pergelangan mekanik dan menembak dari bawah siku.

Lampu hijau terakhir menyala.

Simulasi selesai.

Akurasi: 96%.

Prioritas sasaran: unggul.

Kerusakan fasilitas: rendah.

Efisiensi peluru: unggul.

Gerak Mecha: melebihi standar A.

Ruangan diam.

Tri keluar dari kokpit.

Pak Cakra membaca data, lalu menatapnya. “Melebihi standar A.”

Tri berdiri tegak. “Saya beruntung, Pak.”

Mira tertawa dari pagar. “Keberuntunganmu punya laras ganda.”

Bagas menatap Titis Darah dengan mata serius, seolah-olah sedang menghafal sesuatu.

Pak Mahar mengetuk tablet. “Nilai cukup.”

Pak Cakra mendengus. “Cukup? Kalau ini cukup, setengah murid di sini harus kembali belajar memegang senapan.”

Setengah murid tidak berani tersinggung.

Pengumuman keluar setelah semua peserta selesai.

Petembak Terpilih tahun ini:

Tri.

Tambahan kredit kelas: 30.

Lencana: Mawar Laras Ganda.

Tri menatap angka 30 lebih lama daripada lencana.

Tiga puluh.

Setengah hidupnya yang dihancurkan Mayor Bara mulai tumbuh lagi.

Pak Cakra menyerahkan lencana kecil berbentuk mawar dan dua laras bersilang. “Jangan membuatku menyesal.”

Tri menerima dengan dua tangan. “Saya akan berusaha membuat Pak menyesal sekecil mungkin.”

“Itu bukan janji bagus.”

“Itu janji realistis, Pak.”

Pak Cakra mengusirnya dengan tatapan.

Di tribun, Hendra yang sejak tadi memperhatikan tiba-tiba menegakkan punggung.

Tri baru memasang lencana ketika udara di sisi kiri arena bergetar tipis.

Sangat tipis.

Bukan suara.

Bukan angin.

Seperti jarum dingin menyentuh jaringan Daya Indra dari jauh, lalu hilang.

Tri hampir tidak merasakannya karena ia sengaja menahan Indra.

Hendra merasakannya.

Sebagai Komandan tingkat 3S, wajahnya berubah dalam satu detik.

Ia berdiri, menatap kerumunan murid yang mulai bubar.

“Di sini...” katanya pelan.

Tri menoleh.

“Ada orang tingkat S?”

Hendra tidak menjawab langsung. Matanya menyapu tribun, pintu samping, lorong instruktur, barisan murid A, dan sudut tempat beberapa peserta baru tertawa lega.

Tidak ada yang terlihat salah.

Justru karena itu salah.

Getaran tadi terlalu bersih untuk murid A.

Terlalu cepat hilang untuk ditangkap.

Hendra turun satu anak tangga, tetapi kerumunan sudah bergerak. Orang-orang keluar dari ruang simulasi, menutup jalur pandang, membawa suara, bau keringat, dan cahaya Kom yang berkedip-kedip.

Tri berjalan mendekat. “Apa?”

Hendra masih menatap pintu.

“Gue tidak yakin,” katanya.

“Kalau tidak yakin, mahal kalau dikejar.”

Hendra meliriknya. “Ini bukan soal uang.”

“Semua hal akhirnya soal biaya.”

Hendra tidak tertawa.

Di ujung lorong, seseorang sudah menghilang sebelum namanya sempat menempel di pikiran mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!