Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
“Ini ada dua kotak, makanlah satu kotak.”
Marchel meraih tas tersebut dan mengeluarkan dua kotak makanan. Tirta memicingkan matanya, berpikir bahwa semua ini adalah taktik pria itu untuk menjebaknya. Merasa dirinya sedang diinterogasi oleh tatapan gadis itu, Marchel segera menepis pikiran kotor tersebut.
“Aku memang selalu disediakan dua boks makanan setiap malam, karena saat malam hari terkadang aku merasa lapar.” Bohongnya.
Arga membuatnya harus memikirkan alasan untuk setiap perbuatannya. Nanti saat pria itu datang, dirinya akan membuat Arga ingin memecahkan kepalanya sendiri.
Tentu saja ini adalah rencana sepupunya. Pria itu akan menyusun banyak hal yang bisa membuatnya bangkit dari keterpurukan. Arga berpikir Marchel tidak tahu rencananya untuk mendekatkan dirinya dengan Tirta. Padahal, bahkan sebelum Arga menyadarinya, Marchel sudah mengetahui semuanya.
Sekarang pertanyaannya adalah, kenapa Marchel mengikuti semua jebakan yang dibuat oleh Arga? Hanya pria itu yang tahu isi kepalanya sendiri, dan sikapnya yang meladeni setiap tingkah Tirta benar-benar di luar kepribadiannya.
“Kamu tinggal di sini sendirian?” tanya gadis itu sembari membuka sekotak nasi yang ia bawa tadi. Marchel hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
“Ayo makan juga. Aku tidak bisa makan sendirian.” Gadis itu membuka satu kotak yang tersisa untuk pria tersebut. Tanpa protes, Marchel duduk sambil memperhatikan Tirta yang menyingkirkan botol di hadapannya.
“Aku tidak bisa menggapainya,” kata pria itu sambil menunjuk sekotak nasi yang sebenarnya tidak jauh dari tangannya. Tirta mengambil nasi itu, lalu menaruhnya di pangkuan pria tersebut agar tidak ada protes lagi. Ia juga langsung memberikan sendok kepadanya.
“Apa tidak ada air minum di sini?” tanyanya sambil menatap kamar yang seluas lapangan bola. Marchel menunjuk sudut ruangan dengan dagunya. Tirta menoleh ke sana dan berjalan menuju minibar yang ada di kamar itu.
Tirta hanya tercengang saat melihat minibar itu hanya berisi banyak botol air mineral dan beberapa kaleng cola, yang sepertinya digunakan sebagai campuran minuman yang diminum Marchel. Bahkan cola itu hanya tersisa empat kaleng.
Tanpa banyak bicara, gadis itu mengambil dua kaleng cola dan dua botol air.
Marchel juga tidak bertanya. Pria itu sudah mulai menikmati makanan yang ada di tangannya. Tirta pun makan tanpa berbicara karena memang itulah kebiasaannya. Kecuali ada hal-hal tertentu yang harus dibicarakan, dirinya hanya akan makan dengan tenang.
Pria yang sedang makan itu juga diam. Sesekali dirinya melirik gadis yang duduk di sebelahnya. Senyum tipis terbit tanpa sepengetahuan Tirta.
Ini adalah pertama kalinya, setelah delapan tahun mengurung diri, ada seseorang yang makan bersamanya tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu. Tentu saja jika dirinya ditanya apakah mau makan bersama atau tidak, maka sudah jelas jawabannya adalah tidak.
Kesepian dan kesendirian sudah melekat padanya, dan dia sudah sangat nyaman dengan semua itu. Namun lihat sekarang, kenapa dirinya justru sangat menikmati suasana hening berdua dengan gadis bernama Tirta ini?
Selesai makan, Tirta mengambil kotak makanan yang ada di pangkuan pria itu lalu berdiri mencari tempat sampah. Karena suasana di luar sudah sangat gelap, kamar itu pun terasa begitu redup.
“Ini kamar lebih gelap dari gudang di perusahaan. Bagaimana bisa dia tinggal di tempat seperti ini?” gerutunya sambil berjalan perlahan tanpa arah.
“Hidupkan lampu di kamar ini.” Perintah pria itu membuat lampu seketika menyala terang. Tirta terkejut, lalu tersenyum kagum menatap pria yang masih tetap duduk itu. Setelahnya, ia membuang sampah ke tempatnya.
“Kamu bisa menghidupkan lampu tanpa memencet tombol. Tolong hidupkan juga lampu di seluruh rumah supaya aku bisa pulang.” Pinta gadis itu sembari berjalan menghampiri pria tersebut.
“Alatnya rusak,” sahutnya tanpa ekspresi seperti biasa.
“Oh... kalau begitu, tunjukkan saja tombol lampunya di mana, nanti aku yang menghidupkannya.” Tirta duduk kembali di sebelah pria itu dengan wajah polosnya. Marchel tidak menyahut. Malah pria itu meneguk whiskey alih-alih air minum. Apa aku salah bertanya, ya? Sudah lama sepertinya pria ini tidak keluar rumah, mungkin dia juga tidak tahu tombolnya ada di mana.
Batin Tirta dengan rasa bersalah. Gadis itu terlalu berpikir polos, padahal pria itu memang sengaja tidak ingin menjawab di mana letak tombol tersebut. Tirta kembali bangkit dari duduknya, membuka sepatu putih yang ia kenakan, lalu berjalan mengambil gelas kosong. Ia menuangkan whiskey dari botol ke dalam gelas, kemudian mencampurnya dengan cola yang tadi ia bawa.
“Kamu tahu apa yang sedang kamu tuangkan?” tanya pria itu penasaran. Tirta tersenyum lalu menaik-turunkan kedua alisnya.
“Tentu saja. Aku sudah sering meminumnya,” ucap gadis itu dengan nada sombong. Marchel menatapnya dengan sorot mata menyelidik.
“Kenapa tidak percaya? Wajahku memang polos, tapi aku adalah seorang peminum ahli. Ayo, aku temani kamu minum. Cheers.” Gelas yang ia pegang dibenturkan pelan dengan milik Marchel, lalu ia meneguk seluruh isi minuman itu hingga tandas.
Yang membuat Marchel tersenyum lebar adalah ekspresi gadis itu yang tampak mati-matian menahan rasa pahit minuman tersebut. Dia bilang dirinya ahli minum? Apa yang dia maksud minum air, bukan alkohol?
Namun Marchel tetap diam tanpa mencegahnya. Mereka minum sambil sesekali berbicara tentang beberapa hal. Lebih tepatnya, Tirta yang terlalu banyak bertanya, sedangkan pria itu hanya menjawab seperlunya.
“Tidak asyik kalau tidak ada musik...”
Kata gadis itu sembari merogoh tasnya untuk mengambil ponsel. Seketika itu juga, kamar yang biasanya sunyi kini dipenuhi alunan musik dangdut yang diiringi suara Tirta bernyanyi.
Marchel berhenti minum. Dirinya tidak ingin nanti ikut mabuk seperti gadis di hadapannya. Tirta sudah terhuyung ke kanan dan ke kiri setelah meneguk empat gelas minuman. Melihat hal itu membuat pria yang jarang tersenyum tersebut terus menyunggingkan senyumnya, terlebih saat mendengar racauan Tirta.
“Lihat kukuku, cantik, bukan?” tanya gadis itu sembari memamerkan kukunya yang dicat merah marun dengan hiasan bintang dan kupu-kupu.
“Hmm...” sahut Marchel sambil tersenyum. Tirta mendekat dan duduk di sebelah pria itu, masih memamerkan kukunya.
“Apa kamu tidak kesepian di rumah ini sendirian?” tanyanya sambil menatap Marchel dalam-dalam. Gadis itu duduk bersila, berhadapan dengan pria yang masih selonjoran.
“Sedikit...” Marchel membenarkan rambut yang menutupi sebagian wajah gadis itu. Jika Tirta mabuk, apa pun yang terlintas di kepalanya pasti akan langsung diucapkannya.
“Apa kamu sangat mencintai kekasihmu sampai tidak mampu menjalani hidupmu dengan wanita lain?” tanyanya polos. Pria itu masih membelai wajah gadis tersebut dengan sangat lembut.
“Hmm, iya dulu, tapi—”
“Syuttt...” Tirta mendesis sambil meletakkan telunjuknya di bibir pria itu. Setelah itu, ia mematikan musik yang masih mengalun. Gadis itu kembali mengambil gelas untuk mengisi minuman lagi, tetapi kali ini Marchel mencegahnya dengan menggeleng.
“Tidak. Kamu sudah mabuk.” Pria itu mengambil gelas yang ada di tangan Tirta.
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜