Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Ruangan direktur itu terasa sangat hening selama beberapa saat.
Indah masih terus menatap lekat ke arah pot berisi Akar Tunjung Langit tersebut.
"Rizky, saya tidak akan bertele-tele dan langsung menyebutkan angka," buka Indah memecah kesunyian.
"Klinik Bintang Abadi bersedia membeli tanaman ini seharga lima ratus juta rupiah tunai."
Rizky berusaha sekuat tenaga menahan rahangnya agar tidak jatuh menganga ke lantai.
Uang lima ratus juta rupiah adalah jumlah yang tidak pernah berani ia mimpikan seumur hidupnya.
"Tawaran yang sangat adil dan masuk akal Nona Indah," jawab Rizky dengan nada suara datar.
"Saya setuju melepas Akar Tunjung Langit ini di angka tersebut untuk klinik Anda."
Indah menghela napas lega dan senyum manis langsung mengembang di wajah cantiknya.
"Terima kasih banyak Rizky, Anda baru saja menyelamatkan reputasi klinik kami."
BRAAAK.
Pintu ruangan direktur tiba-tiba didorong terbuka dengan sangat kasar dari luar.
Seorang perawat wanita masuk dengan wajah pucat pasi dan napas tersengal-sengal.
"Nona Indah, gawat darurat, kondisi Tuan Darmawan tiba-tiba memburuk drastis," lapor perawat itu panik.
Indah langsung berdiri dari sofa kulitnya dengan raut wajah sangat tegang.
"Bukannya tadi kondisinya sudah stabil setelah ditangani Dokter Wijaya?" tanya Indah cepat.
"Dokter Wijaya baru saja menyuntikkan obat penurun tensi dosis tinggi buatan luar negeri."
"Tapi bukannya membaik, Tuan Darmawan malah kejang-kejang dan detak jantungnya nyaris berhenti sekarang."
Wajah Indah seketika berubah sepucat kertas HVS mendengar laporan mengerikan tersebut.
Tuan Darmawan adalah konglomerat properti nomor satu di kota ini sekaligus donatur utama klinik mereka.
"Cepat bawa Akar Tunjung Langit ini ke ruang perawatan VVIP lantai bawah," perintah Indah menoleh pada Rizky.
Rizky segera bangkit memeluk potnya erat-erat dan berlari mengikuti langkah cepat Indah.
Mereka berdua bergegas turun menggunakan lift dengan suasana yang sangat mencekam.
"Apakah tanaman ini bisa langsung diberikan ke pasien begitu saja?" tanya Rizky di dalam lift.
"Harusnya diekstrak dulu di laboratorium medis, tapi kita kehabisan waktu, pasien bisa mati," jawab Indah cemas.
TING.
Pintu lift terbuka di lantai dua dan mereka langsung berlari menuju ruangan paling ujung lorong.
Di dalam ruang VVIP yang sangat mewah itu, suasana kacau balau sedang terjadi.
Mesin monitor jantung berbunyi bising tiada henti dengan garis merah yang naik turun tak beraturan.
TIIIT TIIIT TIIIT.
Seorang pria paruh baya terbaring kaku di ranjang dengan tubuh kejang dan mulut mengeluarkan busa.
Di samping ranjang, seorang dokter pria berkacamata tebal tampak berkeringat dingin membasahi jasnya.
Dokter yang papan namanya bertuliskan dr. Wijaya itu sedang memarahi dua orang perawat di sebelahnya.
"Cepat siapkan alat kejut jantung, dasar perawat bodoh tidak becus kerja!" bentak Dokter Wijaya kasar.
"Dokter Wijaya, hentikan tindakan Anda sekarang juga!" teriak Indah memasuki ruangan.
Dokter senior itu menoleh dengan wajah sangat marah ke arah Indah yang baru datang.
"Ini urusan medis Indah, kamu cuma apoteker jadi jangan ikut campur kewenangan spesialis," balas Dokter Wijaya ketus.
Otak super jenius Rizky langsung memproses semua informasi yang ditangkap matanya di ruangan itu.
Rizky menatap layar monitor medis dan mengamati rona kulit pasien yang membiru gelap.
"Pasien ini tidak butuh alat kejut jantung, itu malah akan langsung membunuhnya," potong Rizky tiba-tiba.
Semua mata di ruangan itu sontak beralih menatap pemuda berpakaian lusuh yang memeluk pot tanaman.
"Siapa gembel ini? Kenapa ada orang gila dibiarkan masuk ke ruang VVIP?" teriak Dokter Wijaya murka.
"Dia membawa obat herbal murni yang bisa menyembuhkan Tuan Darmawan, Dok," bela Indah tegas.
"Obat herbal? Kamu mau meracuni pasien sakaratul maut dengan rumput liar tidak jelas itu?" ejek Dokter Wijaya tertawa sinis.
Rizky melangkah maju mendekati ranjang pasien dengan tatapan mata sangat tajam dan dingin.
"Anda menyuntikkan beta-blocker sintesis pada pasien yang memiliki riwayat penyempitan katup jantung bawaan."
"Itu bukan mengobati, Anda baru saja memicu syok kardiogenik yang membuat sirkulasi darahnya berhenti."
Mata Dokter Wijaya terbelalak lebar seakan mau melompat keluar dari kelopaknya.
"Ba-bagaimana kamu bisa tahu riwayat penyakitnya hanya dengan melihat sekilas?" suara Dokter Wijaya bergetar.
Rizky tidak mempedulikan dokter arogan itu dan langsung menoleh pada apoteker di sampingnya.
"Nona Indah, minta perawat siapkan air panas murni dan sebuah mangkuk keramik bersih sekarang," perintah Rizky.
Indah yang sudah percaya penuh pada Rizky langsung memberi isyarat tangan pada perawat jaga.
"Cepat ambilkan apa yang dia minta, jangan membuang waktu sedetik pun," perintah Indah pada bawahannya.
"Kalian semua sudah gila, saya tidak bertanggung jawab sama sekali kalau pasien ini mati!" teriak Dokter Wijaya mundur menjauh.
Perawat segera berlari membawa mangkuk keramik putih dan segelas air panas yang masih menguap.
Rizky meletakkan potnya di atas meja nakas lalu memetik tiga helai daun Akar Tunjung Langit.
Ia meremas perlahan ketiga daun ungu keemasan itu di dalam genggaman telapak tangannya.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, Rizky mengalirkan sedikit energi murni dari Liontin Dewi di dadanya.
Energi hangat itu bekerja mempercepat proses pelepasan sari pati obat dari dalam serat sel daun.
Tetesan cairan kental berwarna ungu terang perlahan menetes dari sela-sela jari Rizky ke mangkuk.
TES TES TES.
Aroma harum yang luar biasa kuat seketika memenuhi seluruh penjuru ruang perawatan VVIP itu.
Bahkan Dokter Wijaya yang tadinya marah kini mendadak terdiam mencium aroma yang sangat menenangkan tersebut.
Rizky mencampurkan cairan ekstrak murni itu dengan sedikit air panas lalu mengaduknya sangat cepat.
"Nona Indah, bantu saya membuka mulut pasien sedikit agar obat ini bisa masuk," instruksi Rizky tenang.
Indah mendekat dan menahan rahang bawah Tuan Darmawan dengan tangan yang sangat hati-hati.
Rizky menuangkan perlahan cairan ungu hangat itu ke dalam mulut pasien yang masih kejang.
Cairan ajaib itu langsung meresap ke bawah lidah dan masuk ke dalam aliran darah dengan seketika.
Hanya butuh waktu kurang dari lima belas detik untuk melihat keajaiban medis terjadi.
Tubuh Tuan Darmawan yang tadinya kejang hebat mendadak rileks dan ototnya sangat tenang.
Warna kulitnya yang kebiruan perlahan berubah menjadi merah muda tanda aliran oksigen kembali lancar.
TIIIT TIIIT TIIIT.
Suara mesin monitor jantung perlahan berubah menjadi berirama stabil dan berdetak sangat normal.
Dokter Wijaya menjatuhkan stetoskop dari tangannya saking terkejutnya melihat fenomena di luar nalar itu.
"Gagal jantung separah itu sembuh hanya dalam hitungan detik pakai air perasan daun?" gumam Dokter Wijaya lemas.
Indah menghela napas lega yang luar biasa panjang hingga tubuhnya nyaris merosot jatuh ke lantai.
"Tuan Darmawan sudah melewati masa kritisnya, detak jantungnya kembali normal sempurna," lapor perawat dengan gembira.
Rizky membersihkan tangannya menggunakan tisu yang ada di meja lalu tersenyum sangat puas.
"Ini baru khasiat daunnya saja, kalau akar utamanya diolah dengan benar maka jantungnya akan sehat kembali," ucap Rizky santai.
Pasien paruh baya di ranjang itu perlahan membuka matanya yang sayu lalu menatap sekitarnya.
"Apa yang terjadi? Tubuhku rasanya enteng sekali dan rasa sesak di dadaku hilang total," ucap Tuan Darmawan parau.
Indah segera mendekat dan menatap ramah pada donatur utama klinik kesehatan tersebut.
"Tuan Darmawan baru saja mengalami masa kritis, tapi untungnya pemuda ini datang membawa obat ajaib."
Tuan Darmawan menoleh menatap Rizky yang berpenampilan kumal namun memancarkan aura luar biasa percaya diri.
"Anak muda, kamu yang menyelamatkan nyawa tua bangka ini dari pintu maut?" tanya sang konglomerat dengan suara bergetar.
"Bisa dibilang begitu Pak, kebetulan saya punya tanaman obat yang sangat cocok dengan penyakit Bapak," jawab Rizky rendah hati.
Tuan Darmawan mencoba duduk dan perlahan dibantu oleh perawat yang berjaga di sampingnya.
"Aku Darmawan Kusuma, berhutang nyawa padamu anak muda, siapa gerangan namamu?"
"Nama saya Rizky Pratama, Pak Darmawan."
Darmawan lalu menatap tajam ke arah Dokter Wijaya yang sedari tadi hanya diam mematung di sudut ruangan.
"Dokter Wijaya, bukankah Anda tadi meyakinkan saya bahwa obat buatan Anda itu paling aman?" sindir Darmawan dingin.
"Ma-maafkan saya Tuan Darmawan, itu murni kesalahan diagnosis karena komplikasi yang mendadak," elak Dokter Wijaya mengelap keringat derasnya.
"Kesalahan yang nyaris mengirimku ke alam baka, aku tidak sudi melihat wajahmu lagi di klinik ini."
Keputusan tegas Darmawan itu membuat kaki Dokter Wijaya lemas seketika dan langsung jatuh terduduk di lantai.
Karirnya sebagai dokter spesialis senior yang paling bergengsi baru saja hancur berantakan dalam semalam.
Darmawan kembali menatap Rizky dengan senyum yang sangat bersahabat dan penuh rasa terima kasih.
"Nak Rizky, sebagai rasa terima kasihku, katakan apa pun yang kamu inginkan dari saya sekarang juga."