Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. pertemuan kembali yang tak di sengaja
****
Pagi itu Lauren berdiri di depan gedung kaca menjulang yang selama ini hanya pernah ia lewati dari kejauhan, tanpa pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan melangkah masuk sebagai salah satu karyawannya.
Ia mengenakan blazer abu-abu yang baru dibelinya dua hari lalu, satu-satunya pakaian formal yang cukup pantas untuk hari pertama kerja di perusahaan sebesar Nozer Holdings. Tangannya menggenggam tas kerja kecil, sedikit gemetar karena campuran gugup dan gembira yang sulit ia pisahkan satu sama lain.
Lobi gedung itu jauh lebih megah dari yang ia bayangkan di lantai marmer mengilap, langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal, dan resepsionis berjajar rapi di balik meja panjang berwarna hitam mengilap.
Lauren melangkah pelan, mencoba tidak terlihat terlalu terpukau, meski matanya tidak bisa berhenti menjelajahi setiap sudut ruangan yang terasa begitu jauh dari dunia kecil kedai kopi yang selama ini menjadi tempatnya berpijak.
"Selamat pagi, saya Lauren Varles, hari ini mulai kerja di divisi administrasi lantai dua puluh dua," katanya kepada resepsionis, suaranya sedikit gemetar meski ia berusaha terdengar tenang.
Resepsionis itu memeriksa layar komputernya sebentar, lalu tersenyum ramah sambil menyerahkan kartu identitas sementara. "Selamat datang, Nona Varles. Selamat karena bisa keterima bekerja di sini. Silahkan gunakan Lift di sebelah kanan, dan jangan lupa gunakan kartu ini untuk mengakses lantai Anda."
Lauren mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu berjalan menuju deretan lift yang berjajar seperti pintu-pintu raksasa berlapis logam mengilap.
Ia menekan tombol panggil, menunggu dengan jantung berdebar, mencoba mengingat kembali semua nasihat yang diberikan pemilik kedai kopi semalam sebelum ia pergi.
jujur, teliti, jangan pernah setengah-setengah.
Pintu lift terbuka, dan Lauren melangkah masuk bersama beberapa karyawan lain yang tampak sudah terbiasa dengan rutinitas ini, sibuk dengan ponsel masing-masing tanpa banyak bicara.
Ia menatap panel tombol yang berjajar rapi, mencari angka dua puluh dua, tapi kartu aksesnya yang masih baru membuatnya sedikit bingung membaca instruksi kecil yang tertera di sampingnya.
Ketika satu per satu penumpang lain turun di lantai masing-masing, Lauren justru semakin gugup, tangannya menekan tombol yang ia kira benar tanpa benar-benar memperhatikan detailnya dengan seksama.
Pintu lift menutup lagi, membawanya semakin tinggi, jauh melampaui lantai dua puluh dua yang seharusnya menjadi tujuannya.
Ia baru menyadari kesalahannya ketika pintu lift terbuka di lantai yang jauh berbeda dari yang ia bayangkan, ruangan yang jauh lebih sepi, lebih senyap, dengan karpet tebal berwarna gelap yang meredam setiap langkah kaki, dan pintu-pintu kayu besar yang tampak jauh lebih formal dibanding lantai-lantai kerja biasa yang sempat ia lewati.
"Ini... lantai berapa?" gumam Lauren pada dirinya sendiri, melangkah keluar dengan ragu, mencoba mencari petunjuk arah di dinding.
Sebuah plakat kecil di dinding dekat lift bertuliskan "Lantai Direksi, Akses Terbatas" membuat jantung Lauren serasa berhenti sejenak.
Ia buru-buru berbalik untuk kembali masuk ke lift, tapi pintu sudah tertutup rapat, dan tombol panggil tidak merespons secepat yang ia harapkan.
Di tengah kepanikan kecilnya, sebuah pintu di ujung lorong terbuka, dan langkah kaki yang tegas terdengar mendekat. Lauren menoleh cepat, dan seketika dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar.
Alex berdiri di sana, mengenakan setelan jas hitam yang dipotong sempurna mengikuti bentuk tubuhnya, rambut cokelatnya tertata rapi, mata birunya menatap lurus ke arah Lauren dengan ekspresi yang sulit dibaca, campuran antara terkejut dan sesuatu yang jauh lebih dalam yang segera ia sembunyikan di balik topeng ketenangannya yang biasa.
Lauren tertegun di tempat, jantungnya berdegup kencang mengenali sosok yang berdiri di hadapannya.
Pria itu.
"Kau... kenapa bisa ada di sini?" tanya Lauren duluan, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ini perusahaanku," jawab Alex datar, tangannya terselip santai di saku celana jasnya, seolah pertanyaan itu sesuatu yang begitu sepele untuk dijawab. "Wajar kalau aku ada di lantai ini."
Lauren terperangah, belum sempat mencerna sepenuhnya jawaban itu, ketika Alex balik bertanya, suaranya tajam menyelidik, matanya menatap lurus ke arah Lauren tanpa berkedip."Kau kenapa bisa ada di lantai ini?"
"Aku salah pencet tombol tadi di lift," jawab Lauren, wajahnya memerah karena malu dan gugup bercampur jadi satu. "Ini pertama kalinya aku naik lift ini, aku belum tahu kalau lantai ini terbatas. Maaf, aku tidak tahu."
Sebelum Alex sempat menjawab lagi, seorang wanita lain muncul dari arah yang sama, berjalan dengan langkah anggun namun tegas, matanya yang tajam segera menangkap sosok Lauren yang berdiri kikuk di tengah lorong.
Zara, Tunangannya.
Meski Lauren tidak mengenal namanya, insting perempuannya langsung menangkap sesuatu yang tidak nyaman dari cara wanita itu menatapnya. Tatapan yang menilai, mengukur, dan diam-diam bermusuhan di balik senyum tipis yang dipaksakan.
"Alex, siapa dia?" tanya Zara, suaranya halus namun ada nada tajam yang tersembunyi di baliknya, matanya tidak lepas dari sosok Lauren dari ujung kepala hingga ujung sepatu.
"Tidak kenal," jawab Alex singkat, nadanya datar sempurna, tanpa secuil pun keraguan yang bisa terbaca di wajahnya.
Alis Zara terangkat, tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban itu. "Kalau tidak kenal, kenapa dia bisa sampai naik ke lantai ini? Kau tahu sendiri, lantai ini akses terbatas, tidak sembarang orang bisa sampai ke sini begitu saja."
Alex diam sejenak, seolah baru mempertimbangkan pertanyaan itu, lalu menoleh ke arah Lauren dengan ekspresi yang dibuat seolah baru menyadari sesuatu.
Alex memasang eksperi berpura-pura tidak tahu apa-apa, seolah pertemuan mereka di lorong ini murni kebetulan yang baru saja terjadi baginya juga. "Kau karyawan baru, ya?" tanyanya, nadanya dingin dan formal, jauh berbeda dari cara ia biasa memandang Lauren selama ini.
"I-iya Pak," jawab Lauren, sedikit terkejut dengan perubahan sikap Alex yang tiba-tiba terasa begitu asing, seolah pria di hadapannya sekarang adalah orang yang sama sekali berbeda dari sosok yang selama ini ia kenal di jalanan London. "Maaf, aku salah naik lift. Aku permisi dulu Tuan, Nyonya."
Ia menekan tombol panggil lift lagi dengan tergesa, kali ini pintu terbuka lebih cepat dari sebelumnya. Sebelum melangkah masuk, ia mencuri satu pandangan terakhir ke arah Alex.
Dan untuk sepersekian detik, di balik ketenangan yang selalu ia tunjukkan, Lauren menangkap sesuatu yang menyerupai kekhawatiran, seolah pria itu ingin mengatakan sesuatu namun memilih untuk menahannya.
Pintu lift menutup, membawa Lauren turun kembali menuju lantai dua puluh dua yang seharusnya menjadi tujuannya sejak awal. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan hanya karena rasa malu atas kesalahannya, tapi juga karena kenyataan yang baru saja terkuak begitu telak di hadapannya.
Pria yang selama delapan bulan terakhir muncul di momen-momen paling tidak terduga dalam hidupnya, pria yang menolongnya diam-diam tanpa pernah mau ia tahu namanya lebih jauh, ternyata bukan sekadar karyawan biasa di gedung ini.
Ia adalah pemiliknya.
Lauren bersandar ke dinding lift, mencoba mencerna kenyataan itu dengan napas yang masih memburu.
Kalau benar Alex adalah pemilik perusahaan sebesar ini, maka pertanyaan yang selama ini menggantung di benaknya adalah soal bagaimana ia bisa diterima kerja tanpa proses lamaran resmi, soal wawancara yang berjalan begitu ringan tanpa uji kompetensi sama sekali. Tiba-tiba semuanya terasa memiliki jawaban yang jauh lebih jelas, sekaligus jauh lebih mengkhawatirkan dari yang pernah ia bayangkan.
Pintu lift terbuka di lantai dua puluh dua, menyambutnya dengan suasana kerja yang jauh lebih ramai dan hidup dibanding kesunyian mencekam lantai direksi tadi.
Seorang staf HRD yang sudah menunggu di dekat lift langsung menyambutnya dengan senyum ramah, mengarahkannya menuju meja kerja barunya, memperkenalkannya pada beberapa rekan kerja yang akan menjadi bagian dari hari-harinya mulai sekarang.
Meja kerjanya terletak di dekat jendela besar, menghadap langsung ke pemandangan kota London yang membentang luas di bawahnya.
Lauren duduk perlahan di kursi barunya, menyentuh permukaan meja yang masih terasa asing, mencoba menenangkan detak jantungnya yang belum juga stabil sejak kejadian di lantai direksi tadi.