NovelToon NovelToon
Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikah Kontrak
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"

Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.

Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.

Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang ke Dekapan Es

Deru mesin mobil sedan mewah yang mengerem mendadak di atas aspal basah terdengar nyaring di depan klinik. Belum sempat mobil itu berhenti sempurna, pintu penumpang belakang sudah terbuka kasar. Jiro turun dari mobil dengan bertumpu pada tongkat penyangganya. Gerakan kakinya yang belum pulih seratus persen itu dipaksa melangkah cepat, mengabaikan rasa nyeri yang menusuk di persendian lututnya.

"Tuan Muda, tolong pelan-pelan. Lantainya licin karena air hujan," peringat Adriano panik, berusaha memayungi tubuh atasannya yang sudah separuh basah kuyup terkena tampias angin malam.

Begitu Jiro melangkah masuk ke dalam ruko temaram itu, dia melihat Senjani sedang duduk menyendiri di atas kursi plastik di sudut ruangan. Tubuh kecil istrinya dibalut oleh jaket kain tebal milik salah satu pengawal pribadinya yang sengaja dipasangkan untuk mengurangi rasa menggigil. Wajah Senjani pucat pasi, tatapan matanya kosong menatap lantai dengan sisa-sisa air mata yang masih menggenang di bulu matanya yang lentik.

Jiro menghardik asistennya dengan lambaian tangan yang kasar. Tatapan matanya lurus terfokus pada pecahan kaca yang berserakan di pintu masuk klinik yang berantakan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di rongga dadanya. Rasa takut kehilangan wanita ini jauh lebih mengerikan daripada rasa lumpuh yang pernah menyiksanya selama setengah tahun.

"Senjani!"

Suara serak Jiro memecah kesunyian lorong ruko. Senjani tersentak, mendongakkan kepalanya dengan cepat. Begitu netra jernihnya menangkap sosok Jiro yang berdiri di sana dengan napas terengah-engah dan pakaian yang basah, air mata yang sejak tadi dia tahan kembali meluncur deras tanpa bisa dibendung lagi.

"Mas Jiro..." rintih Senjani dengan suara yang sangat parau.

Jiro menjatuhkan tongkat penyangganya ke atas lantai begitu saja hingga menimbulkan suara dentingan logam yang keras. Dengan sisa kekuatan di kedua kakinya, dia menyeret langkahnya mendekati Senjani, lalu langsung menjatuhkan tubuh tegapnya untuk berlutut di depan kursi plastik yang diduduki oleh istrinya.

Kedua tangan kekar milik Jiro mencengkeram erat kedua belah bahu Senjani, menarik tubuh kecil wanita itu masuk ke dalam pelukan protektifnya yang sangat erat. Jiro mendekap kepala Senjani di dadanya, menyembunyikan wajahnya sendiri di sela rambut harum lavender milik istrinya yang sedikit lembap karena keringat dingin.

"Maaf... Maafkan aku, Senjani..." bisik Jiro dengan suara bariton yang bergetar hebat, menahan isak tangis ego pria profesionalnya yang runtuh total malam ini. "Aku salah. Aku bodoh karena telah membuangmu ke tempat terkutuk ini. Aku bersumpah demi nyawaku, tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh atau menyakitimu selama aku masih bernapas di dunia ini."

Senjani melingkarkan kedua lengannya di sekeliling leher tegap Jiro. Dia meremas kain kemeja basah suaminya dengan cengkeraman jari yang kuat, meluapkan seluruh rasa takut, rindu, dan kepedihan yang menyiksa batinnya selama beberapa hari terakhir. Di bawah dekapan dada kokoh Jiro, Senjani bisa mendengar dengan sangat jelas bagaimana detak jantung suaminya berdegup dengan ritme yang sangat cepat dan kacau, sebuah bukti mutlak bahwa Jiro telah mati ketakutan karena mengkhawatirkan keselamatannya.

"Aku takut, Mas... Aku pikir aku tidak akan bisa melihatmu lagi malam ini..." tangis Senjani pecah di dalam pelukan hangat Jiro. Dia tidak lagi memedulikan status ayahnya yang merupakan penyebab kelumpuhan Jiro, dan Jiro pun tampaknya telah melupakan dendam masa lalu itu demi keselamatan wanita yang terlanjur merajai seluruh sukmanya.

Jiro melonggarkan sedikit dekapannya, lalu mengulurkan kedua telapak tangannya yang hangat untuk membingkai wajah mungil Senjani. Dia menyeka air mata di pipi pucat istrinya menggunakan ibu jarinya dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh kehati-hatian, seolah-olah sedang menyentuh barang porselen yang sangat rapuh dan berharga.

"Ayo kita pulang sekarang, Senjani. Pulang ke rumah kita," ucap Jiro dengan nada suara yang dalam, mutlak, dan tidak menerima bantahan sedikit pun dari istrinya.

Senjani menatap mata elang Jiro yang kini dipenuhi oleh kabut asmara dan rasa bersalah yang amat mendalam. "Tapi, Mas... bagaimana dengan masalah ayahku? Keberadaanku di sampingmu hanya akan terus mengingatkanmu pada kecelakaan tragis itu. Etika profesi saya sebagai terapis juga melarang saya egois membiarkan pasien saya tersiksa batinnya karena memori buruk masa lalu—"

"Persetan dengan etika dan masa lalu itu, Senjani!" potong Jiro cepat dengan tatapan mata yang membakar jiwa. "Memang benar, ayahmu adalah penyebab kakiku sempat mati selama enam bulan. Tapi kamu... kamu adalah satu-satunya alasan mengapa kakiku bisa kembali melangkah malam ini! Sentuhan tanganmu, senyumanmu, dan ketulusanmu yang telah menghidupkan kembali jiwaku yang sudah lama mati."

Jiro mendekatkan wajahnya hingga kening mereka berdua saling bertumpu erat, membiarkan embusan napas hangat mereka saling berkejaran di udara malam yang dingin.

"Jika menjauh darimu justru membuat jiwaku terasa lebih lumpuh dan mati daripada sebelumnya, maka aku memilih untuk mendekapmu seumur hidupku, terlepas dari apa pun kutukan masa lalu yang mengikat kita," bisik Jiro dengan suara serak yang penuh gairah kepemilikan yang mutlak. "Kamu adalah istri sahku, Senjani Nandotomo. Dan tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang memiliki kekuatan untuk memisahkanmu dariku lagi. Mengerti?"

Senjani tertegun, matanya berkedip lambat menatap ketegasan di wajah suaminya. Rasa hangat yang luar biasa menjalar dari ulu hatinya, mengusir semua sisa-sisa rasa takut dan dingin dari trauma preman tadi. Dia mengangguk pelan, memberikan sebuah senyuman tipis yang sangat manis di sela-sela tangis harunya. "Iya, Mas. Aku mengerti."

Jiro tersenyum puas, sebuah senyuman tulus yang sangat langka yang hanya dia persembahkan untuk wanita penyembuh hatinya. Dia meraih tubuh Senjani, mengangkat wanita itu ke dalam gendongan ala bridal style dengan kekuatan lengannya yang kokoh, mengabaikan fakta bahwa kedua kakinya sendiri sebenarnya masih terasa lemas dan bergetar hebat karena memikul beban ganda mereka berdua.

Adriano yang melihat hal itu dari pintu masuk segera memungut tongkat penyangga Jiro dan membukakan pintu mobil belakang dengan sigap. Jiro membawa Senjani masuk ke dalam kehangatan kabin mobil mewah mereka, meninggalkan klinik kecil yang berantakan itu di belakang mereka dalam hempasan badai yang mulai mereda. Malam itu menjadi saksi bisu bahwa sang Tuan Muda Nandotomo yang angkuh telah resmi menyerah kalah, takluk sepenuhnya di bawah pesona dan pelukan hangat sang terapis yang paling dicintainya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!