Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Karena kecoak berujung manja
Hari libur tiba. Pasangan muda itu, Aquilla dan Altair, memilih menghabiskan waktu di rumah sederhana mereka. Tidak ada liburan mewah, tidak ada rencana keluar kota. Tidak ada nongkrong bersama teman. Hanya mereka berdua dan rutinitas rumah yang baru.
Pagi itu Aquilla terbangun dengan mata berat. Ini pertama kalinya ia bangun pagi khusus untuk mencuci pakaian dengan tangan. Tidak ada mesin cuci. Tidak ada asisten rumah tangga. Hanya ember, sabun, dan tenaga.
Rambutnya di cepol asal-asalan. Anak-anak rambut berjatuhan di pelipis dan leher. Ia mengenakan kaos oversize yang menjuntai sampai paha, dipadukan dengan hotpants selut. Penampilannya berantakan sekali. Tapi tak mengurangi kecantikan gadis itu.
Wajahnya kusut saat mengucek kaos. Gerakannya kaku dan tidak mahir. Jari-jarinya terasa perih terkena deterjen. Ia benar-benar tidak bisa.
Altair baru bangun. Ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Begitu masuk dan melihat pemandangan istrinya, ia terkejut.
Aquilla tampak sangat berantakan. Rambut kusut, mata bengkak, muka ditekuk. Pemandangan itu justru membuat tawa geli lolos dari bibir Altair.
Aquilla menoleh. Ia cemberut. Bukan karena marah diejek, melainkan karena lelah. Jika ia meladeni ejekan suaminya, tenaganya pasti akan habis. Ia lebih memilih diam.
Matanya kemudian menatap punggung Altair yang sedang membungkuk di wastafel. Dengan suara serak dan wajah putus asa, ia berkata.
"Al, beliin mesin cuci dong."
Wajah Altair masih penuh busa sabun. Ia menoleh ke belakang. Tatapannya bertemu dengan mata Aquilla yang sudah berkaca-kaca. Gadis itu benar-benar frustrasi.
Altair membilas wajahnya, mengusap air dengan handuk kecil.
"Lain kali. Kalau ada tugas dari mantan papa lo."
Aquilla mendesah. Ia mengangkat kedua tangannya yang memerah.
"Kira-kira lama nggak? Liat nih tangan gue, jadi kasar."
Altair mengeram pelan. Ia berjalan mendekat lalu bersandar di kusen pintu.
"Lo banyak maunya sih."
Aquilla mengerucutkan bibirnya. Ia sudah terbiasa dibentak Altair sejak dulu. Ia tidak baper. Hanya kesal saja.
"Ya udah kalau nggak mau. Jangan bentak juga," sahut Aquilla sambil kembali mengucek pakaian dengan kesal dan agak kasar. Mulutnya komat-kamit mengoceh tidak jelas.
Altair menghela napas panjang. Sikap istrinya yang ngedumel sendiri itu lucu sekaligus menyebalkan. Nada suaranya melunak.
"Nanti gue pikirin."
Aquilla tidak menoleh. Tangannya tetap sibuk.
"Nggak apa-apa kok. Gue nggak maksa. Siapa tahu lo punya uang lebih buat beli mesin cuci," ucapnya cemberut.
Hening sejenak. Lalu Aquilla angkat suara lagi, kali ini dengan nada setengah bercanda.
"Gimana kalau kita sewa apartemen dekat kampus? Nanti uang sewa bagi dua. Kalau gue dapat kerjaan sih."
"Aquilla?" geram Altair. Alisnya naik.
Aquilla langsung tertawa kecil. Ia menutup mulutnya dengan punggung tangan yang berbusa.
"Iya iya, gue diem."
Ini yang Altair suka dari gadis itu. Tidak mudah baper. Tidak drama. Dan... Terpenting tidak berlarut-larut dengan kenyataan hidupnya saat ini. Hanya anak angkat.
Altair kembali ke kamar. Ia mengambil tumpukan baju kotornya sendiri. Ia berjalan ke arah Aquilla, sengaja menggoda.
"Punya gue sekalian."
Aquilla menatap tumpukan baju itu lalu menatap wajah Altair. Ia menggeleng tegas.
"Nggak mau... cuci sendiri sana. Punya tangan kan?"
Altair menyipitkan mata. Ia mengancam dengan nada datar.
"Oke... mulai sekarang lo masak sendiri."
Ancaman itu langsung mempan. Aquilla panik. Ia tidak bisa masak. Gila apa? Bisa-bisa ia mati kelaparan. Dengan cepat ia meraih tumpukan baju kotor Altair.
"Nih, kasih sini."
Altair terkekeh puas. Ia berbalik melangkah keluar kamar. Di ambang pintu, Aquilla kembali berteriak menahan.
"Al, nanti bantuin gue jemur ya."
Langkah Altair terhenti. Ia menoleh setengah badan, menyalakan rokok di ujung bibirnya.
"Iya, nanti gue bantu. Gue mau ngerokok dulu di luar."
Aquilla menggerutu lagi. Tapi kali ini ada senyum kecil di ujung bibirnya. Weekend pertama mereka sebagai pasangan suami istri memang kacau. Tapi setidaknya, tidak membosankan.
---
Suara knalpot motor meraung di depan rumah itu. Tidak lama kemudian terdengar ketukan pintu tiga kali.
Altair keluar. Dua motor sport terparkir. Tiga orang turun. Ia mengenal mereka. Mantan anak buahnya di geng motor.
Rian, yang sekarang menjabat ketua setelah Altair keluar, melangkah paling depan. Wajahnya serius dan rahangnya mengeras.
"Bang, gue butuh pendapat lo," ucap Rian.
Altair mengangguk. Ia membuka pintu lebih lebar. "Masuk."
Ketiganya masuk. Rumah sempit itu jadi terasa makin sesak. Bau oli motor masih nempel di jaket mereka.
Di ruang tamu, Rian langsung to the point. Ia duduk di lantai karena kursinya cuma satu.
"Jadi gini Bang. Tadi malem anak buah gue, Dika, digebukin orang Black Viper di depan bengkel. Patah rahang. Kita nggak tau pemicunya apa. Gue yang minim pengalaman jadi ketua, nggak mau gegabah. Takut salah langkah," jelas Rian.
Temannya yang satu lagi, Fajar, nimpalin. "Iya Bang. Anak-anak udah panas. Mau langsung nyerang balik. Tapi gue tahan."
Altair bersedekap. Matanya menatap mereka satu-satu. Lama ia diam sebelum akhirnya bicara. Nadanya datar, tapi tegas.
"Gini. Kalian dengerin gue baik-baik," kata Altair.
"Pertama, jangan balas sekarang. Emosi itu musuh lo. Kalau lo nyerang balik dalam keadaan panas, lo yang rugi. Black Viper emang mancing biar lo gerak duluan."
" kedua, cari tau dalangnya. Jangan langsung nuduh Black Viper satu geng. Bisa aja cuma oknum yang mau adu domba. Suruh anggota yang paling diem buat mata-mata. Liat siapa yang order gebukin Dika. Bukti, bukan gosip."
"Ketiga, amankan anggota lain yang lemah. Dika taro di tempat aman. Rumah sakit yang dijaga orang lo sendiri. Jangan di RS umum. Terus keluarga anggota lain lo amankan juga. Lo potong jalur mereka buat nyerang titik lemah lo."
"Terakhir, kasih tekanan halus. Kirim satu orang doang ke base mereka. Bukan buat berantem. Bilang, 'Dika diem. Tapi kita nggak lupa'. Kasih tau lo tau, tapi lo nggak mau ribut. Itu bikin mereka mikir dua kali."
Rian manggut-manggut. Fajar sampai garuk kepala.
"Gila bang... pantes aja nama geng kita selalu jaga di tangan lo. Kepala lo dingin, Bang," ucap Rian.
"Gue udah capek perang," jawab Altair singkat. "Lo ketua sekarang. Jangan jadiin geng ini ajang balas dendam pribadi. Pahamin?"
"Paham, Bang," jawab ketiganya kompak.
Sebelum pulang, Rian mengeluarkan dua bungkus bubur ayam dari kantong plastik.
"Ini buat lo sama istrinya, Bang. Gantiin jatah rokok," kata Rian sambil tertawa canggung.
"Oh iya," lanjut Rian. "Gue udah ketemu yang lo mau. Kerjaan buat istri lo, bang. Di supermarket punyanya om gue. Bisa duduk di kasir atau nata barang. Gaji UMR, jam kerja 8 jam."
Altair menerima bungkus bubur itu. "Oke. Nanti gue kasih ke dia. Makasih."
Belum sempat ia membuka bungkusnya, suara pekik melengking memecah suasana.
"ALTAIR!!!"
Suara Aquilla dari dalam kamar. Tegang dan panik.
Altair langsung berdiri. Ia hendak menghampiri, tapi tidak jadi. Karena sedetik kemudian Aquilla sudah berlari keluar kamar. Wajahnya pucat. Matanya liar ketakutan.
Tanpa pikir panjang, Aquilla langsung melompat dan bergantung di tubuh Altair seperti koala. Kedua kakinya melingkar di pinggang Altair. Tangannya memeluk leher suaminya erat-erat. Tubuh Altair menegang. Ia kaget.
"Ada apaan sih?" tanya Altair, menahan tawa.
"Ada kecoak! Kecoak gede banget di kamar mandi! Ih, jijik!" isak Aquilla. Air matanya beneran jatuh. Bahunya gemetar di pelukan Altair.
Rian dan dua temannya hanya melongo. Tadi mereka bahas strategi perang geng, sekarang di depan mereka ada istrinya ketua lama bergelantungan sambil nangis karena kecoak.
Altair malah menaikkan alis. Ia sengaja menggodanya.
"Kecoak doang nangis? Lemah banget lo," ejek Altair. Ia menepuk pelan punggung Aquilla.
Mendengar itu, Aquilla malah makin kencang nangisnya. Ia menenggelamkan wajah di ceruk leher Altair.
"Gue benci! Gue takut! Bunuh dia, Al!" rintih Aquilla.
Altair menghela napas. Tapi tangannya malah mengusap punggung istrinya pelan. Kontras banget sama mulutnya yang ketus.
"Ya udah diem. Nanti gue bunuh. Turun dulu, berat," katanya ketus, tapi pelukannya tidak dikendurkan sedikitpun.
Beberapa detik kemudian Aquilla tersadar. Ia sadar posisinya. Sadar ada tiga pasang mata menatap mereka.
Wajahnya langsung merah padam. Dari pucat ketakutan jadi merah malu. Matanya yang tadinya merah karena nangis jadi makin merah karena sungkan.
Ia buru-buru turun dari tubuh Altair. Kaki gemetar. Ia menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap Rian dan teman-temannya.
"Eh... maaf," gumam Aquilla pelan. Suaranya serak habis nangis.
Rian cepat-cepat batuk untuk memecah keheningan canggung. "Eh iya, Bang. Jadi strateginya gitu ya. Kita jalan dulu. Makasih, Bang."
"Ya," jawab Altair singkat. Tatapannya tidak lepas dari Aquilla yang masih menunduk.
Setelah pintu tertutup, Aquilla langsung mencubit lengan Altair keras.
"Salah lo! Kenapa digodain! Malu tau gue!" ketusnya sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
Altair meringis tapi tertawa. Ia menoyor keningnya agak kasar.
"Ya salah lo juga. Tiba-tiba loncat. Manis sih, tapi malu-maluin," kata Altair.
Aquilla mendengkus. Ia tetap menutup wajahnya dengan kedua tangan, meski mulutnya manyun. Romantis, tapi tetap ketus.
"Lo nggak tahu aja, gue trauma sama binatang menjijikkan itu. Dulu saat camping di SMA, piring milik gue jatuh kecoa, Al." cerita Aquilla.
Altair malah tertawa geli. "Sampe lo buang makanan di piring ke muka pak djarot?! Gue masih inget kejadian itu, Illa. Sumpah lo lucu banget"
Mendengar ledekan suaminya, mood Aquilla kembali buruk, dia mencubit kuat lengan tanpa kain itu. "Ish...lo nyebelin banget sih. Nggak usah di perjelas juga kali. Itu hari paling buruk di hidup gue"
Bukannya menepis tangan Aquilla, Altair malah salfok dengan wajah kesal istrinya. Itu sangat lucu. Menggemaskan. Apalagi sebagian mukanya tertutup dengan anak rambut.
"Illa..." Tangannya bergerak merapikan rambut gadis itu.
"Iya"
"Tetap kayak gini. Jangan nangis. Lo jelek kalo nangis. Tapi... Lucu" Sebelum menuju ke dapur, Altair mengacak-acak rambut istrinya.
Aquilla malah terdiam dengan wajah merona. Tadi dia di sentuh suaminya? Dia nggak bermimpi kan?