Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Sidang Cerai
"Satu..." hitung Evan, menatap Rafa dengan tatapan menantang.
Rafa memejamkan mata sejenak, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menyerahkan flashdisk itu, karena itulah satu-satunya senjata yang ia miliki untuk menuntut keadilan. Jika ia menyerah sekarang, maka perjuangannya untuk membongkar korupsi Negara Group akan sia-sia.
"Dua..." suara Evan semakin berat dan sarat akan ancaman. Api di korek apinya semakin besar, seolah menunggu perintah untuk membakar segalanya.
Rafa menatap Evan tepat di matanya. "Lakukan, Evan. Bakar rumah ini. Tapi ingat, flashdisk itu sudah ada di tangan yang tepat, dan meskipun kamu membakar rumah ini, kamu tidak akan pernah bisa membakar bukti kejahatanmu."
Evan tertegun sejenak. Ia tidak menyangka Rafa akan lebih memilih untuk mengorbankan rumah orang tuanya daripada menyerahkan rahasia itu. Keraguan sesaat melintas di wajah Evan, namun amarah dan harga diri yang terluka segera mengubur keraguan itu kembali.
"Tiga!"
Evan mendekatkan api koreknya ke lantai yang sudah basah oleh bensin. Bau bensin yang tajam menusuk hidung, dan ketegangan di ruangan itu mencapai puncaknya. Semua orang menahan napas, menanti apakah pria yang sudah kehilangan kewarasannya itu akan benar-benar membakar semuanya.
Tepat saat api hampir menyentuh lantai, sirine mobil polisi terdengar melengking di kejauhan, mendekat dengan cepat ke arah rumah mereka. Rupanya salah satu tetangga yang ketakutan telah menelepon pihak berwajib saat melihat Evan merusak pintu dan membawa jeriken bensin.
Evan tersentak kaget. Ia menoleh ke arah jendela, melihat kilatan lampu biru dan merah dari mobil polisi yang mulai mendekat. Wajahnya yang tadi garang mendadak pucat. Amarahnya seketika tersapu oleh rasa takut akan tertangkap basah melakukan tindakan kriminal berat.
"Sial!" umpat Evan kasar. Ia melempar jeriken bensin itu ke arah lantai, untungnya api di tangannya tidak sempat menyambar bensin yang meluber.
"Ini belum berakhir, Rafa!" teriak Evan sebelum berlari keluar melewati pintu yang hancur, menuju mobil mewahnya yang terparkir di depan.
Ia melompat ke dalam mobil dan tancap gas meninggalkan tempat itu sebelum pihak kepolisian sampai di sana. Rafa langsung bergegas memeluk ibunya yang menangis ketakutan dan memeriksa ayahnya yang masih terlihat syok. Rumah itu kini berbau menyengat bensin, pintunya hancur, namun mereka semua selamat.
Rafa menarik napas panjang, menatap debu di lantai. Serangan ini justru membuat tekadnya semakin bulat. Evan sudah menunjukkan wajah aslinya yang brutal, dan Rafa tidak akan membiarkan pria itu lolos begitu saja.
****
Ruang sidang Pengadilan Agama itu terasa pengap, meskipun penyejuk ruangan berputar maksimal di langit-langit yang tinggi. Aroma debu bercampur keringat dan aroma parfum mahal yang menyengat dari kursi pengunjung menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada. Rafa Sasmita duduk sendirian di meja penggugat, mengenakan kemeja putih sederhana dengan rambut yang diikat rapi. Wajahnya pucat, namun kepalanya tegak. Di seberangnya, kursi pihak penggugat kosong melompong—Evan Wirya Negara bahkan tidak repot-repot hadir, hanya mengutus tim pengacara papan atas yang mengenakan jas-jas mahal berkilau.
Namun, yang paling mencolok di ruang sidang bukanlah pengacara-pengacara itu, melainkan sosok Nena Apriandini yang duduk di barisan depan dengan gaya angkuh, serta Zaskia Mulandari yang duduk di sampingnya, memamerkan perhiasan berlian yang mencolok, seolah-olah ia sedang menghadiri pesta gala, bukan sidang perceraian yang penuh air mata.
Hakim ketua yang memimpin sidang itu adalah seorang pria paruh baya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung. Sejak awal sidang dimulai, nada suaranya terdengar tidak netral, seolah ia telah dicuci otak oleh narasi yang dibangun keluarga Wirya Negara.
"Saudari Rafa Sasmita," suara hakim itu menggema, dingin dan menghakimi. "Berdasarkan bukti-bukti dan testimoni yang diajukan oleh pihak penggugat, pengadilan menilai bahwa Anda telah gagal menjalankan kewajiban sebagai istri. Anda tidak mampu memberikan keturunan, dan lebih parahnya, terdapat laporan bahwa Anda sering menghabiskan waktu dengan pria lain di saat suami Anda sedang bekerja keras membangun Negara Group."
Rafa tersentak. Ia berdiri, tangannya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Yang Mulia, itu adalah fitnah yang keji! Saya tidak pernah menghianati pernikahan saya! Selama empat tahun, saya—"
"Cukup!" bentak hakim, memukul meja dengan palu kayu. "Jangan membantah! Fakta bahwa Anda mandul adalah alasan yang cukup kuat untuk menunjukkan ketidakmampuan Anda sebagai seorang istri. Selain itu, perilaku Anda yang tidak tahu diuntung telah mencemarkan nama baik keluarga Wirya Negara yang terhormat."
****
Rafa menatap hakim itu dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang penegak hukum bisa berbicara sekeji itu? Ia menoleh ke arah Nena, yang saat ini sedang menyunggingkan senyum kemenangan. Ia tahu, uang Evan Wirya Negara pasti telah menyuap siapa pun yang ada di ruangan ini agar sidang ini berjalan sesuai skenario mereka: menghancurkan Rafa hingga ke akar-akarnya.
"Sidang ini tidak memerlukan mediasi lebih lanjut," lanjut hakim tersebut dengan nada final.
"Mengingat kerugian moral dan pencemaran nama baik yang dialami keluarga Wirya Negara akibat tindakan tidak pantas Anda, pengadilan menuntut Anda untuk membayar ganti rugi sebesar dua miliar rupiah sebagai kompensasi atas hancurnya reputasi keluarga mereka."
Di bangku penonton, Zaskia Mulandari tidak bisa lagi menahan tawanya. Ia tertawa histeris, suara melengkingnya memecah kesunyian ruang sidang yang sakral tersebut. Ia menatap Rafa dengan tatapan merendahkan, seolah-olah Rafa adalah seekor serangga yang baru saja ia injak hingga mati.
"Dengar itu, Rafa?!" teriak Zaskia dari bangkunya, tidak memedulikan aturan pengadilan. "Dua miliar! Apa kamu sanggup bayar? Atau kamu mau jual organ tubuhmu karena tidak punya apa-apa lagi selain rahim yang tidak berguna itu?"
Rafa merasa dunianya seolah runtuh. Bukan karena uang—ia punya bukti untuk meruntuhkan kerajaan mereka—tapi karena ia melihat betapa korupnya sistem yang ia hadapi. Hakim ini tidak sedang menegakkan keadilan, ia sedang melakukan eksekusi terhadap dirinya atas perintah keluarga Wirya Negara.
Pengacara Evan hanya duduk diam, membiarkan hakim melanjutkan sandiwara busuk ini. Evan, sang pengecut, bahkan tidak berani menatap wajah Rafa secara langsung.
Setelah palu diketuk sebanyak tiga kali sebagai tanda sidang ditutup, Rafa melangkah keluar dengan lutut yang terasa lemas. Ia melewati barisan bangku penonton dengan tatapan kosong, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan yang penuh dengan cincin berlian menjambak kerah bajunya dengan kasar.
****
Nena Apriandini berdiri di depannya, wajah wanita tua itu dipenuhi kebencian yang murni. Ia menarik Rafa hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
"Dengar baik-baik, perempuan tidak tahu diuntung!" bisik Nena dengan suara berdesis layaknya ular. "Dua miliar itu baru permulaan. Aku akan memastikan kamu membusuk di penjara jika kamu tidak bisa membayarnya. Kamu pikir kamu bisa mencuri rahasia anakku dan selamat begitu saja? Kamu salah besar, Rafa!"