NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 — Malam yang Ternyata Diatur

BAB 5 — Malam yang Ternyata Diatur

Lima detik berlalu tanpa jawaban.

Ia berdiri di depan foto pernikahan kami, masih mengenakan kemeja yang sama sejak pagi. Dasi sudah dilepas. Lengan bajunya terlipat sampai siku. Penampilannya hampir biasa, seolah kami hanya pulang terlambat dari acara kantor dan sedang membicarakan tagihan rumah.

Rendra selalu memakai diam untuk memilih kalimat yang sulit diserang. Malam itu aku tidak memberinya waktu lebih lama.

“Ya atau tidak?”

“Yayasan keluargaku membiayai pemindahan lokasi dan satu sesi tambahan.”

Dadaku terasa kosong. “Sesi mediasi keluarga yang membuat mereka mengundangku?”

“Iya.”

Aku mengangguk beberapa kali. Lebih supaya tubuhku tetap bergerak daripada karena aku benar-benar memahami jawabannya.

Enam tahun lalu, aku datang ke seminar itu dengan blus biru yang kancing lengannya hilang satu. Tara meminjamkan peniti dan memintaku berdiri dengan tangan kiri tidak terlalu banyak bergerak. Aku belum menjadi pembicara utama. Namaku bahkan dicetak paling kecil di poster.

Rendra duduk di baris kedua.

Setelah sesi selesai, ia menghampiriku di dekat meja kopi dan berkata, “Anda menjelaskan perceraian seperti dokter menjelaskan operasi. Menakutkan, tapi orang tetap merasa perlu mendengar.”

Aku mengira itu pujian yang buruk.

Aku menjawab, “Dan Anda membuka percakapan seperti orang yang jarang ditolak.”

Ia tersenyum.

Malam itu kami bicara hampir satu jam. Tentang pekerjaanku, tentang kenapa banyak pasangan datang terlambat mencari bantuan, tentang kopi hotel yang terlalu pahit. Ketika hujan turun, ia menawarkan payung, bukan tumpangan. Aku menyukai caranya yang seolah tahu batas.

Seminggu kemudian kami bertemu lagi.

Enam bulan setelahnya, aku mengizinkannya mengantarku pulang.

Selama bertahun-tahun, aku menyimpan malam seminar itu sebagai bukti bahwa kami tidak dibangun dari kebutuhan. Tidak seperti hubungan yang sering kutangani di kantor, kami bertemu saat sama-sama punya kehidupan, lalu memilih berjalan mendekat.

Ternyata bahkan tempat pertemuan itu sudah dipindahkan agar aku melewatinya.

“Kenapa lokasi awal dibatalkan?” tanyaku.

“Kontraknya dibeli vendor yang terhubung dengan perusahaan. Aku menyetujui anggarannya, lalu seminar dipindahkan dua blok dari apartemen yang juga kupilihkan untukmu.”

“Jadi kamu membuat tempat pertama tidak tersedia.”

“Iya.”

Jawabannya pelan. Kali ini ia tidak bersembunyi.

Aku berjalan menuju ruang kerja. Rendra mengikuti dari jarak beberapa langkah. Aku membuka laptop di atas meja, tetapi layar masuk meminta kata sandi. Jemariku sempat berhenti.

Dulu kata sandinya adalah tanggal pertemuan kami.

Aku menggantinya dua tahun lalu setelah Rendra menebak kode itu untuk mengambil dokumen yang tertinggal. Saat itu aku menertawakannya.

“Kamu terlalu tahu isi kepalaku.”

Ia menjawab, “Itu karena aku memperhatikan.”

Sekarang kalimat itu kembali dengan rasa yang berbeda.

Aku masuk ke akun surel lama dan mencari nama seminar. Ratusan pesan muncul: undangan, konfirmasi pembicara, revisi materi, serta foto-foto setelah acara. Aku membuka surel pertama dari panitia.

Tanggal pengirimannya tujuh hari sebelum seminar.

Kami mendapat tambahan dukungan dana sehingga dapat memindahkan kegiatan ke lokasi yang lebih mudah dijangkau dan menambahkan sesi mediasi keluarga. Kami berharap Ibu Nadira bersedia mengisi sesi tersebut.

Aku tidak pernah mempertanyakan siapa yang memberi dana. Saat itu aku terlalu senang karena pertama kalinya diminta berbicara di acara yang cukup besar.

“Nama yayasannya?” tanyaku.

“Jembatan Keluarga.”

Aku mengetik nama itu di kotak pencarian. Muncul satu lampiran laporan acara yang dikirim panitia beberapa minggu kemudian. Daftar sponsor berada di halaman paling bawah.

Yayasan Jembatan Keluarga.

Di bawahnya, dengan huruf kecil: didukung Kalyana Foundation.

Aku membuka buku abu-abu dan mencari tanggal yang sama. Tidak butuh waktu lama. Nama Bu Ratna muncul lagi, diikuti catatan lokasi apartemen dan gedung seminar.

Kodenya tetap satu kata.

PINDAHKAN.

Tiga hari sebelum surel undangan dikirim kepadaku, sebuah pembayaran masuk.

Aku membalik layar laptop agar Rendra melihatnya. “Pembayaran masuk tiga hari sebelum undangan. Sudah berapa lama kamu merencanakan pertemuan kita?”

“Beberapa bulan. Aku tidak merencanakan apa yang terjadi setelahnya.”

Kuperhatikan wajahnya. Tidak tampak bangga atau lega karena akhirnya mengaku. Hanya lelah.

“Kenapa aku?” tanyaku.

Tatapan Rendra berhenti di laptop, bukan padaku. “Awalnya karena Laksmi.”

“Jangan berlindung di belakang Ibu. Kalau dia meminta kamu mengawasiku atau menikahiku, kamu tetap bisa menolak.”

“Aku tidak menolak pengawasan. Tapi aku tidak menikahimu karena satu kata di buku.”

“Lalu kenapa datang ke seminar?”

“Aku ingin melihatmu dari dekat dan memastikan kamu baik-baik saja.”

“Lalu menunggu enam bulan karena kamu tahu pendekatan cepat akan membuatku curiga.”

“Iya. Aku juga mencoba menjauh dan tidak berhasil.”

Kejujuran itu membuatku kehilangan kata-kata.

“Karena kamu jatuh cinta?”

“Iya.”

Aku menutup laptop.

Selama pernikahan kami, kata cinta dari Rendra selalu terasa kokoh. Ia tidak mengucapkannya sembarangan. Bahkan ketika bertengkar, ia tidak memakai kata itu untuk menghentikan percakapan.

Malam ini aku mendengarnya dan yang terlintas justru seorang lelaki yang mempelajari jarak aman sebelum mendekati target.

“Kapan kamu tahu aku menyukaimu?” tanyaku.

“Saat kamu mulai menjawab pesanku setelah lewat tengah malam. Itu tidak kuatur.”

Ia mengakui sudah tahu aku akan hadir pada pertemuan kedua, meminta panitia menempatkan kami semeja pada pertemuan ketiga, dan mengubah waktu rapat agar bisa datang ke kantorku. Bahkan hujan di depan apartemen sudah ia perkirakan.

Aku menatapnya. Aku tidak tahu harus tertawa atau melempar sesuatu.

“Ada satu kenangan awal kita yang tidak kamu siapkan?”

“Percakapan kita. Aku tidak bisa mengatur apa yang kamu katakan.”

“Tapi kamu mengatur agar selalu ada di tempat aku akan mengatakannya.”

Rendra terdiam.

Aku membuka folder foto seminar. Gambar-gambar lama memenuhi layar. Dalam salah satunya, aku berdiri memegang mikrofon, terlihat gugup dan terlalu serius. Rendra berada di latar belakang, sedikit kabur, menatap ke arahku.

Dulu foto itu kusukai karena kupikir seseorang tanpa sengaja mengabadikan awal kami.

Sekarang aku memperbesar gambar tersebut.

Di meja depan Rendra ada map hitam. Logo Kalyana Foundation tercetak kecil di sudutnya. Ia tidak datang sebagai peserta biasa. Ia sudah menjadi bagian dari acara sebelum aku memasuki ruangan.

Aku menutup folder.

“Aku ingin daftar lengkap—semua pembayaran, akses, orang, dan acara yang kamu sentuh—disusun oleh pengacara independen.”

“Ada dokumen yang dilindungi kerahasiaan.”

“Cari jalan hukumnya. Kamu selalu menemukan cara saat ingin sesuatu terjadi.”

Ia menerima kalimat itu tanpa membela diri.

Aku mengambil ponsel, dompet, dan buku abu-abu. Ketika berjalan menuju tangga, Rendra tidak menghadang. Ia hanya mengikuti sampai ruang depan.

“Mau ke mana?” tanyanya.

“Kantor. Dan jangan mengatur kondisiku hanya karena aku lelah.”

Ia berhenti. “Benar.”

Aku meraih gagang pintu, lalu menyadari cincin di jari manisku terasa sesak. Mungkin karena sejak tadi tanganku terus mengepal. Mungkin juga karena baru malam ini aku benar-benar memahami berat benda kecil itu.

Rendra melihat ketika aku menyentuhnya.

“Nadira.”

Aku menarik cincin itu perlahan. Kulit di bawahnya lebih pucat, meninggalkan lingkaran tipis.

Rendra tidak mendekat.

Aku meletakkan cincin di atas buku abu-abu, tepat pada halaman bertuliskan NIKAHI.

“Pernah berniat memberitahuku?” tanyaku.

“Iya.”

“Kapan?”

Rendra diam.

Aku menunggu beberapa detik, lalu mendorong cincin ke arahnya. Logam itu bergeser beberapa sentimeter, lalu berhenti di antara kami.

“Besok aku akan mengajukan cerai,” kataku. “Dan kali ini, Rendra, kamu tidak boleh membayar siapa pun untuk menghentikanku.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!