Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Dokumen Masa Lalu Yang Terkubur
Ruang kerja Dante masih menyala meskipun sebagian besar mansion telah tenggelam dalam kesunyian.
Lampu meja menerangi tumpukan dokumen di hadapannya. Di luar jendela, malam menutup halaman mansion dengan kegelapan pekat. Hanya lampu-lampu taman yang membentuk garis cahaya samar di antara pepohonan.
Dante duduk tak bergeming di balik meja. Namun pikirannya tidak berada pada laporan keuangan yang terbuka di hadapannya. Pikirannya kembali pada Ara.
Ketukan terdengar. "Masuk."
Pintu terbuka. Luca muncul sambil membawa sebuah tablet.
Dante mengangkat pandangan.
"Tuan, Ada sesuatu yang perlu Anda lihat." Luca berjalan mendekati meja dan meletakkan tablet di hadapan Dante.
"Beberapa hari terakhir, sistem keamanan menangkap aktivitas mencurigakan di sekitar mansion." Luca melanjutkan laporannya.
Dante tidak langsung menyentuh tablet.
Luca membuka rekaman. "Sebuah mobil beberapa kali terlihat di jalan yang sama."
Rekaman pertama muncul. Sebuah sedan hitam melintas di jalan depan mansion.
Rekaman kedua. Mobil dengan bentuk yang sama muncul beberapa jam kemudian.
Rekaman ketiga. Mobil yang sama. Namun kali ini nomor pelatnya berbeda.
Dante menyipitkan mata. "Pelatnya berbeda setiap kali."
Luca menggeser layar.
"Awalnya kami mengira kendaraan yang berbeda. Tetapi setelah sistem mencocokkan bentuk kendaraan, ukuran bodi, kerusakan kecil di bagian belakang, dan pola pergerakannya..." Ia memperbesar gambar. "Mobilnya sama."
Dante akhirnya mengambil tablet itu. Matanya mengamati rekaman satu demi satu. Mobil itu tidak pernah berhenti terlalu lama. Tidak pernah mendekati gerbang. Tidak pernah memasuki area mansion. Hanya lewat. Berputar. Kemudian muncul kembali beberapa jam kemudian. Seolah seseorang sengaja mengamati tempat ini.
"Sejak kapan?"
"Empat hari lalu."
Dante mengangkat pandangan.
"Empat hari?"
"Ya."
"Kenapa baru sekarang kau laporkan?"
"Karena awalnya kami tidak mencurigai nya. Baru setelah melihat pola pergerakan berulang nya, kami melakukan pencocokan manual."
Empat hari. Tepat ketika keadaan di mansion mulai berubah.
"Siapa pemiliknya?"
"Kami belum menemukan identitasnya."
Dante meletakkan tablet.
"Cari."
Luca mengangguk.
"Sudah kami lakukan. Semua nomor pelat yang terlihat mengarah ke kendaraan berbeda. Beberapa bahkan menggunakan pelat yang tidak terdaftar pada kendaraan dengan tipe tersebut."
Dante menatap layar. Ia memicingkan mata."Pelat palsu."
"Sepertinya begitu."
"Dan orang di dalamnya?"
"Kami belum bisa memastikan."
Luca membuka rekaman lain.
"Kami menemukan ini."
Rekaman berhenti pada sebuah frame.
Mobil hitam itu sedang melambat. Pintu pengemudi terbuka. Seseorang turun. Seorang perempuan. Wajahnya tidak terlihat. Tubuhnya hanya tampak beberapa detik sebelum perempuan itu kembali masuk ke mobil.
Dante mengambil tablet. "Perbesar."
Luca memperbesar gambar. Kualitas rekaman memburuk. Wajah perempuan itu tetap tidak terlihat.
Dante mengamati postur tubuhnya. Rambut panjang. Mantel gelap. Perempuan itu berdiri beberapa detik di pinggir jalan.
Dante menatap tidak bergerak. Alessia Milano. Nama itu muncul begitu saja di kepalanya. Ia memperbesar gambar sekali lagi.
Luca menatapnya bingung. "Tuan?" panggilnya.
Dante belum menjawab. Ingatan lama tiba-tiba muncul. Sebuah aula besar. Bunga-bunga putih. Para tamu yang menunggu. Alessia. Perempuan yang seharusnya berdiri di sampingnya hari itu. Justru menghilang beberapa jam sebelum upacara.
Awalnya, Dante menganggap kasus itu selesai. Alessia kabur. Ia tidak ingin menikah. Keluarganya tidak menemukannya. Dan akhirnya Ara datang menggantikannya. Namun sekarang—Dante menatap layar dan memikirkan semuanya lagi dengan dingin.
"Putar lagi!" perintah Dante datar.
Luca memutar rekaman. Perempuan itu turun dari mobil. Berjalan tiga langkah. Berhenti. Menoleh sedikit. Kemudian kembali ke mobil.
Dante memicingkan mata. "Berapa persen kemungkinan itu dia?"
Luca mengamati layar pada tablet. "Kami belum bisa memastikan."
"Aku tidak bertanya apakah kau bisa memastikan."
Luca menatap layar. "Kalau berdasarkan postur tubuh dan pergerakan nya..." Ia berhenti sejenak. "Mungkin."
Beberapa menit kemudian, Dante membuka sebuah folder lama. Folder yang sudah bertahun-tahun tidak disentuh.
ALessia Milano — Wedding Incident. Dokumen-dokumen lama muncul di layar. Laporan pengamanan. Rekaman CCTV. Percakapan dengan keluarga. Daftar kendaraan. Panggilan telepon. Semuanya tersimpan.
Dante membuka laporan pertama. Tanggal pernikahan. Beberapa jam sebelum upacara, Alessia masih berada di gereja. Kemudian—hilang.
Dante menggeser layar. Ada sesuatu yang selama ini tidak pernah ia ceritakan kepada Ara. Satu laporan kecil. Hampir tenggelam di antara puluhan laporan lainnya.
Pukul 08.17 — Alessia menerima panggilan dari nomor tidak dikenal.
Dante berhenti. Rahangnya mengeras.
Hari itu. Pukul delapan lewat tujuh belas, Alessia menerima telepon. Tidak lama setelahnya, sikapnya berubah. Menurut salah satu pelayan, Alessia masuk ke kamar rias dan meminta perias mengambilkan buket di depan ruangan. Setelah itu—tidak ada yang melihatnya lagi.
Dante membuka catatan penyelidikan. Nomor tersebut sudah ditelusuri. Nomor prabayar. Aktif hanya beberapa jam. Setelah itu mati.
Dante pernah memerintahkan anak buahnya untuk mencari pemilik nomor itu tetapi tidak pernah diketemukan. Orang yang menggunakan nomor itu juga seolah tidak pernah ada.
Dante menatap layar lama itu. Selama bertahun-tahun ia menganggap informasi tersebut tidak cukup untuk membuktikan apa pun. Namun sekarang ada satu hal yang mengganggunya. Jika Alessia memang hanya ingin kabur dari pernikahan—kenapa ia baru kabur setelah seseorang menghubunginya beberapa jam sebelum upacara pernikahan?
Dante membuka dokumen lain. Ada satu catatan dari penyelidikan lama. Sumber komunikasi tidak ditemukan.
Dante mengerutkan kening. Dulu ia berhenti mencari karena tidak ada petunjuk. Sekarang—petunjuk itu kembali muncul di depan matanya.
Dante menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia menutup mata sesaat.
Luca menunggu. "Tuan?"
Dante membuka mata. "Jangan beri tahu nyonya."
Luca mengangguk. Ia tidak bertanya lagi. Dante mematikan layar tablet.
Ruangan kembali sunyi. Tetapi sebelum Luca meninggalkan ruangan, Dante berkata, "Kalau perempuan itu benar-benar Alessia..." Ia menatap layar yang sudah gelap. "...sangat mungkin ada konspirasi di baliknya."
Luca menunggu kalimat berikutnya.
Dante melanjutkan dengan suara rendah. "Dia selama ini bersembunyi, tiba-tiba muncul dan mencari istriku."
"Tuan memikirkan..."
"Ya, aku mengkawatirkan dia atau siapapun orang di baliknya sedang mentargetkan Ara."
"Baik, Tuan, saya mengerti apa yang harus saya lakukan," ujar Luca menerima perintah.
Kalau Alessia benar-benar kembali—maka pertanyaannya bukan lagi kenapa dia kabur dari pernikahan. Melainkan—siapa yang membuatnya takut hingga ia harus kembali?Dan yang lebih penting—mengapa orang pertama yang didekati adalah Ara?
Dante berdiri. Wajahnya berubah dingin. "Mulai malam ini, gandakan pengamanan mansion."
"Baik, Tuan." Luca mengangguk lalu keluar ruangan.
Pintu tertutup. Dante berdiri sendirian di ruang kerjanya. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Sorot matanya penuh kewaspadaan.
Karena kalau dugaannya benar—Alessia bukan sedang kembali untuk mengambil kembali tempatnya sebagai istri Dante. Wanita itu mungkin kembali karena sesuatu yang jauh lebih berbahaya sedang mengancam nya.
***