NovelToon NovelToon
Pewaris Makam Para Raja 2

Pewaris Makam Para Raja 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:19.1k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Beranjak dari takhtanya sebagai penguasa berdarah di perbatasan selatan.

Lin Xiao kini melangkahkan kaki ke dalam pusaran konspirasi mematikan Kota Awan Suci, tempat di mana eksistensi Jiwa Murni berkeliaran layaknya prajurit biasa dan Empat Sekte Suci mengendalikan langit.

Di musim kedua ini, tirai misteri Makam Para Raja perlahan ditarik lebih lebar melalui sebuah ekspedisi menegangkan ke dalam reruntuhan dimensi kuno yang tidak hanya menguji batas kekuatannya untuk menembus ranah Jiwa Murni, tetapi juga menguak luka, penyesalan, serta masa lalu dari para roh kaisar yang bersemayam di dalam tubuhnya.

Ditemani oleh Xue Mingyue, raksasa setia Meng Shan, dan seorang gadis bercadar misterius yang menyimpan rahasia terdalam dari pusat benua, Lin Xiao harus menyeimbangkan ambisi penaklukannya dengan ikatan emosional yang semakin kuat, membuktikan bahwa di balik arogansi dan kekejaman seorang Kaisar Bayangan, terdapat jiwa manusiawi yang terus berjuang mendobrak takdir para dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Aura ungu yang memancar dari tubuh Lin Xiao menekan seluruh sisa reruntuhan aula hingga bongkahan batu yang berjatuhan seketika berhenti di udara.

Pemuda itu mengambang dengan anggun, jubah hitamnya berkibar pelan tertiup oleh sisa-sisa angin dari retakan dimensi raksasa di atas mereka.

Lin Xiao menunduk dan menatap Xue Mingyue serta Putri Suci yang sudah jatuh terkapar kelelahan di lantai altar.

"Kalian sudah bekerja terlalu keras hari ini, biarkan aku yang mengambil alih kemudinya sekarang." bisik Lin Xiao mengangkat tangan kanannya.

Wush.

Dengan pemahaman baru dari warisan Kaisar Ilusi Bintang, Lin Xiao menggenggam udara kosong dan menariknya dengan kuat ke arah bawah.

Retakan dimensi raksasa yang sedari tadi mencoba menghisap altar tersebut mendadak tertutup rapat layaknya sebuah ritsleting yang ditarik paksa.

Brak.

Seluruh bongkahan batu yang sempat tertahan di udara langsung jatuh berdebam ke lantai, namun tidak satu pun yang mengenai area di sekitar kelompok Lin Xiao.

Meng Shan menatap tuannya dengan mata terbelalak lebar, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

"T-Tuan Lin Xiao, Anda berhasil mencapai tahap Jiwa Murni!" seru pemuda raksasa itu dengan suara bergetar haru.

"Dan Anda bahkan bisa mengendalikan ruang dimensi layaknya monster-monster tua di kota itu!"

Lin Xiao tersenyum tipis dan melayang turun mendarat di samping Putri Suci yang masih memuntahkan darah segar.

"Jangan buang tenagamu untuk berteriak, raksasa bodoh, makam ini akan segera runtuh sepenuhnya ke dalam kehampaan." ucap Lin Xiao memerintah.

"Gendong Xue'er di pundakmu, aku akan membawa Nona Bangsawan ini keluar dari sini." lanjutnya menunduk ke arah sang Putri Suci.

Tanpa menunggu persetujuan, Lin Xiao mengangkat tubuh ramping Putri Suci itu ke dalam pelukannya secara horizontal.

"A-apa yang kau lakukan, Lin Xiao... lepaskan aku." protes Putri Suci dengan wajah yang merona merah, meskipun tubuhnya sama sekali tidak memiliki tenaga untuk menolak.

"Diamlah, kau terlalu banyak bicara untuk ukuran orang yang organ dalamnya nyaris hancur." balas Lin Xiao dengan ketus namun dekapannya terasa sangat melindungi.

Sring.

Lin Xiao memicu energi ruang dari Dantian Jiwa Murninya yang baru, menciptakan sebuah pusaran dimensi berwarna ungu di depan mereka.

"Ayo pergi, Meng Shan!" teriak Lin Xiao melangkah menembus pusaran dimensi tersebut.

Meng Shan segera memanggul tubuh Xue Mingyue yang pingsan ke atas bahu besarnya dan melompat menyusul tuannya sesaat sebelum seluruh altar hancur berkeping-keping.

Wush.

Pemandangan gelap dari makam kuno itu seketika berganti menjadi sinar matahari siang yang sangat menyilaukan mata.

Mereka mendarat dengan mulus di atas hamparan rumput hijau di luar ngarai Hutan Awan Hitam, tempat mereka pertama kali membuka gerbang dimensi tersebut.

Angin sejuk berhembus menerpa wajah mereka, membawa kelegaan yang luar biasa setelah berjam-jam terjebak di dalam neraka gravitasi.

"Hah... kita berhasil kembali ke dunia nyata dengan nyawa yang masih utuh." helaan napas lega keluar dari mulut Meng Shan saat dia merebahkan Xue Mingyue di bawah pohon rindang.

Namun Lin Xiao tidak ikut merayakan pelarian mereka yang sukses tersebut.

Mata cokelatnya yang kini memancarkan kilauan bintang menatap tajam ke arah barisan pepohonan lebat di depan mereka.

"Istirahatnya ditunda dulu, Meng Shan." ucap Lin Xiao dengan suara bariton yang berat.

"Kita sepertinya memiliki tamu kehormatan yang datang untuk menyambut kepulangan kita."

Srak. Srak.

Dari balik pepohonan tersebut, puluhan sosok berjubah perak dengan lambang bulan sabit melangkah keluar membentuk formasi pengepungan setengah lingkaran.

Mereka memancarkan aura tekanan spiritual yang sangat seragam dan mengerikan, jauh melampaui kelompok pembunuh bayaran yang mereka hadapi sebelumnya.

"Dua puluh orang kultivator di tahap puncak Inti Emas, dan lima orang di tahap awal Jiwa Murni." gumam Lin Xiao menganalisis kekuatan musuh dalam sekejap.

"Pasukan penyambut yang cukup mewah untuk sebuah hutan pinggiran kota."

Putri Suci yang masih berada dalam pelukan Lin Xiao langsung membelalakkan matanya dengan panik saat melihat barisan tersebut.

"I-itu adalah Pasukan Elite Pengawal Istana... mereka berhasil melacak resonansi esensi jiwaku saat aku menahan runtuhnya makam tadi!" bisik Putri Suci dengan tangan bergetar.

"Lin Xiao, turunkan aku sekarang juga dan pergilah sejauh mungkin bersama rekan-rekanmu!" mohon gadis itu menatap wajah Lin Xiao.

"Kau tidak akan bisa menang melawan lima ahli Jiwa Murni sekaligus, apalagi kau baru saja menerobos ranah tersebut!"

Seorang pria paruh baya yang memiliki pedang panjang di punggungnya melangkah maju dari barisan ahli Jiwa Murni tersebut.

Pria itu adalah Komandan Penegak Hukum Istana Bayangan Bulan, ayah dari Tuan Muda Lu yang dibunuh oleh Lin Xiao.

"Putri Suci, sungguh sebuah penghinaan melihatmu berada di dalam pelukan seorang pengelana rendahan setelah melarikan diri dari perjodohan suci." ucap Komandan Lu dengan nada dingin dan penuh tekanan.

"Dan kau, pemuda iblis." Komandan Lu mengarahkan tatapan membunuhnya lurus ke arah Lin Xiao.

"Kau membunuh putra semata wayangku dengan racun keji di dalam hutan ini kemarin." geram sang komandan dengan urat leher yang menonjol keluar.

"Hari ini, aku akan mencabut jantungmu hidup-hidup dan menjadikan kepalamu sebagai hiasan di gerbang istana kami!"

Mendengar ancaman kematian yang ditujukan pada pria yang memeluknya, Putri Suci mencoba meronta untuk turun dan menghadapi para pengejarnya sendiri.

Namun Lin Xiao justru mengencangkan pelukannya, menolak untuk melepaskan gadis itu.

"Bukankah sudah kubilang untuk diam, Nona Yue?" bisik Lin Xiao dengan senyum psikopat yang perlahan mengembang.

"Kau dan teman-temanmu sudah bekerja keras di dalam sana, sekarang giliran bosmu ini yang menunjukkan bagaimana cara membersihkan sampah elit pusat benua."

Lin Xiao menurunkan tubuh Putri Suci dan menyandarkannya perlahan ke batang pohon di samping Xue Mingyue.

Pemuda itu kemudian berbalik, melangkah maju menghadapi barisan pasukan elit Istana Bayangan Bulan dengan tangan bersedekap santai.

"Putramu mati karena dia terlalu berisik dan tidak tahu malu." ejek Lin Xiao memecah keheningan yang mencekam.

"Tapi melihat dari mana dia berasal, sepertinya sifat berisik itu adalah penyakit genetik di keluarga kalian, Komandan."

Wajah Komandan Lu seketika berubah merah padam karena amarah yang tidak bisa lagi dibendung.

"Bunuh pemuda itu! Cincang dagingnya menjadi ribuan bagian!" raung sang komandan memberikan perintah mutlak.

Wush. Wush. Wush.

Dua puluh ahli Inti Emas puncak langsung melesat maju dari berbagai arah, menebaskan pedang spiritual mereka yang membentuk formasi jaring bulan sabit.

Mereka berharap bisa memotong-motong tubuh Lin Xiao dalam satu kali serangan gabungan.

Namun sang Kaisar Bayangan yang baru saja naik tahta ke ranah Jiwa Murni itu bahkan tidak repot-repot mencabut pedang dari pinggangnya.

"Domain Ilusi Bintang, Manipulasi Gravitasi Seratus Kali Lipat." rapal Lin Xiao dengan suara yang luar biasa tenang.

Brak.

Ruang udara di atas kepala dua puluh ahli Inti Emas itu mendadak terdistorsi hebat.

Sebuah tekanan gravitasi yang setara dengan dijatuhi sebuah gunung batu menghantam mereka secara serempak sebelum pedang mereka sempat menyentuh Lin Xiao.

"Aaaarrghh!" jerit kesakitan massal meledak saat tubuh mereka terbanting ke tanah dengan kekuatan yang menghancurkan tulang.

Krak. Krak.

Dua puluh ahli tingkat puncak Inti Emas itu langsung berubah menjadi tumpukan daging cincang yang mengenaskan, organ dalam mereka meledak akibat tekanan gravitasi yang melampaui batas ketahanan fisik manusia.

Darah segar membasahi hamparan rumput hijau, menyisakan lima komandan Jiwa Murni yang kini mematung dengan rahang terjatuh ngeri.

"A-apa yang baru saja dia lakukan?!" gagap salah satu komandan mundur selangkah dengan lutut gemetar.

"Itu adalah sihir gravitasi tingkat tinggi... tapi dia tidak merapal segel apa pun!"

Komandan Lu menggertakkan giginya, menekan rasa takutnya dan mencabut pedang pusaka dari punggungnya.

"Jangan panik! Dia hanya menggunakan trik murahan untuk menakuti kita!" teriak Komandan Lu mencoba mempertahankan moral pasukannya.

"Kita berlima berada di tahap Jiwa Murni! Serang bersama dan hancurkan domain gravitasinya!"

Kelima komandan itu menyatukan energi spiritual mereka, meledakkan pilar cahaya bulan yang membelah tekanan udara di sekitar mereka.

Mereka melesat maju dengan kecepatan yang merobek dimensi, berniat menebas kepala Lin Xiao secara serempak.

Lin Xiao hanya menguap pelan melihat serangan mati-matian dari lima ahli yang setara dengan Ketua Sekte Pedang Batu Hitam tersebut.

Sring.

Lin Xiao perlahan mencabut pedang peraknya dari sarung, membiarkan kilauan logam kuno itu memantulkan sinar matahari siang.

"Kelompok pembunuh bayaran kemarin memberikan tantangan pemanasan yang lebih menarik daripada kalian." bisik Lin Xiao menyipitkan matanya.

Wush.

Lin Xiao menggunakan kecepatan ilusi dari Kaisar Bayangan yang kini telah diperkuat oleh hukum ruang Kaisar Bintang.

Tubuhnya mendadak menghilang dan terbelah menjadi lima bayangan hitam yang melesat ke arah lima komandan tersebut di waktu yang bersamaan.

Cras. Cras. Cras.

Suara tebasan pedang yang sangat halus terdengar saling bersahutan memecah angin.

Kelima komandan Jiwa Murni itu berhenti melangkah secara mendadak, pedang mereka tertahan di udara sebelum sempat diayunkan.

Tubuh asli Lin Xiao kembali mewujud dengan sempurna di belakang punggung Komandan Lu, pedang peraknya meneteskan darah perlahan ke atas rumput.

"K-kecepatan apa ini..." rintih Komandan Lu memegangi lehernya yang mulai memancurkan darah.

Bruk. Bruk. Bruk.

Empat kepala komandan lainnya jatuh menggelinding ke tanah secara serempak, disusul oleh tubuh tanpa kepala mereka yang ambruk ke atas genangan darah.

Komandan Lu menjadi satu-satunya yang tersisa, jatuh berlutut sambil mencoba menutupi luka sayatan yang sangat dalam di tenggorokannya.

Lin Xiao berbalik dan berjalan mendekati komandan yang sedang meregang nyawa tersebut dengan tatapan kosong.

"Tolong... ampuni... aku..." ratap Komandan Lu dengan suara yang keluar dari celah lehernya yang robek.

"Kau seharusnya bersyukur, Komandan, aku berbaik hati mengirimmu ke neraka untuk menemani putramu agar dia tidak kesepian." bisik Lin Xiao menempelkan ujung pedangnya ke dada pria itu.

"Sampaikan salamku padanya."

Jleb.

Pedang perak itu menembus jantung Komandan Lu dan mencabut sisa nyawanya secara instan.

Pembantaian puluhan elit Istana Bayangan Bulan itu selesai dalam waktu kurang dari satu menit, sebuah demonstrasi kekuatan yang melampaui logika akal sehat kultivasi mana pun.

Meng Shan yang sedari tadi menonton dari balik pohon hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah.

Bahkan baginya yang sangat haus darah, efisiensi dan kekejaman Lin Xiao dalam membunuh ahli tingkat tinggi terasa sangat tidak masuk akal.

Putri Suci menatap punggung tegap Lin Xiao yang berdiri di tengah lautan mayat tersebut dengan pandangan yang dipenuhi oleh kekaguman dan kerinduan yang mendalam.

Pemuda arogan ini telah menyelamatkan nyawanya untuk kedua kalinya hari ini, mengabaikan ancaman dari salah satu sekte terkuat di benua demi melindunginya.

Lin Xiao menyarungkan kembali pedangnya dan berjalan mendekati Putri Suci dengan wajah yang sudah kembali datar seperti biasa.

"Pasukan pelacakmu sudah kubersihkan, Nona Bangsawan." lapor Lin Xiao berjongkok menyamakan tinggi pandangannya dengan gadis itu.

"Sekarang, mari kita bicarakan kebohonganmu yang hampir membuat kami semua terkubur di dalam makam tadi."

Tatapan Lin Xiao kini kembali dingin dan penuh perhitungan, mengunci mata amethyst Putri Suci tanpa memberikan ruang untuk melarikan diri dari interogasinya.

Domain Bintang Jatuh telah berakhir dengan mandi darah, namun intrik dari pusat Benua Surgawi baru saja dibuka.

1
VirgoRaurus 31Smile
cincin kan di pakai di jari... kenapa Meng Shan pakai peluk mayat segala, kalau cuma mau ambil cincin....
VirgoRaurus 31Smile
emangnya orang koma itu pasti tubuhnya kaku ya ..
Muh, Manan
mc lemah banyak ngomong..
VirgoRaurus 31Smile
menikah dg siapa... bukankah calon pengantin pria sudah mati...?
Salafudin
lanjut....
Hironimus Dachi
cadassss
aliff mocet
bagusssss
sutrimo trimo
semangat thir lanjut💪💪💪💪
Hironimus Dachi
mantaps
Bambang Hartono
lanjut Thor... semangat
VirgoRaurus 31Smile
mati aja belum kok terbaring kaku... 🤭
VirgoRaurus 31Smile
mencabut pedang es nya ke arah leher MC... maksudnya gimana Thor...?
Ironside
Request tambahkan makam raja insect Kak /Smile/
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Han Boshalvaya
Busetttt, ditunggu insect nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!