NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4 - TUJUH TAHUN YANG MEMBEKU

Hembusan angin dingin bertiup dari jendela yang tidak tertutup rapat dan diam-diam menyentuh pergelangan tangan Wulan yang terbuka di atas selimut. Ia menggigil tanpa sadar, dan kenangan kehidupan masa lampau yang selama ini ia kubur dalam-dalam kembali membanjiri pikirannya seketika — membanjir seperti air bah yang meruntuhkan bendungan, tanpa menyisakan ruang untuk ia bernapas. Matanya membuka lebar ke arah langit-langit kamar yang redup, tetapi yang ia lihat hanyalah gelapnya air yang menelan tubuhnya malam itu.

Di kehidupan sebelumnya, pria yang telah menggendongnya dan menyayanginya selama empat tahun itu tidak hanya memberinya kedudukan paling terhormat di dunia, tetapi juga memberinya semua hal yang membuat para wanita iri — perhiasan termahal, pakaian terindah, dan tempat yang selalu aman dari segala angin ribut.

Namun untuk pria yang lain, ia tidak bisa tidak mencintainya. Dengan sifat keras kepala yang tak mau mendengarkan siapa pun, ia beberapa kali menimbulkan masalah dan pada akhirnya menciptakan bencana besar bagi dirinya sendiri. Dulu ia menganggapnya sebagai kebebasan; kini ia tahu itu hanyalah kebutaan.

Dalam empat tahun itu, tidak ada satu waktu pun ketika Nalendra tidak membereskan akibat ulahnya. Jika bukan karena dia, ia pasti sudah mati berkali-kali — diracun orang, ditikam di pasar, atau jatuh ke dalam lubang yang ia gali sendiri karena kebodohannya. Setiap kali ia hampir celaka, selalu lengan itulah yang datang lebih dulu, selalu bayangan tinggi itulah yang berdiri di antara ia dan bahaya, diam-diam menahan semua tusukan yang seharusnya menjadi bagiannya. Ia baru menyadari semua itu setelah segalanya terlambat.

Akibatnya, pria seperti itu, demi menyelamatkan ayah dan saudara-saudara laki-lakinya, berdiri sendirian menahan gerbang Lembah Sigar ketika reruntuhan yang disiapkan musuh runtuh menimpanya — tanpa menyisakan sedikit pun jasadnya. Hingga hari ini, tak seorang pun tahu di tanah mana ia dimakamkan. Batu demi balok runtuh di atas tubuhnya, namun ia tetap berdiri di depan gerbang, menjadi tameng terakhir bagi keluarganya yang sedang melarikan diri. Orang yang begitu gagah dan angkuh, yang tidak pernah tunduk kepada siapa pun, pada akhirnya mati tanpa meninggalkan jasad — seperti angin yang berlalu, seperti kabut pagi yang menguap tanpa jejak.

Setelah kematian Nalendra di kehidupan sebelumnya, Adipati Ardani dijebak oleh seorang pengkhianat. Sultan Kanaka murka kepada keluarga Ardani karena kematian itu, menganggap merekalah yang harus bertanggung jawab atas hilangnya panglima kesayangannya. Sang ayah dipenjarakan secara tidak adil dan meninggal untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah.

Kakak tertuanya, Maruta, diasingkan ke perbatasan yang jauh; Nenek Utari jatuh sakit dan meninggal karena dendam yang menggerogoti hatinya. Rumah yang dulu hangat itu berubah menjadi sunyi, setiap kamar menyimpan keheningan yang berbeda. Bahkan kakak keenam, Waskita, yang paling menyayanginya, harus menukar nyawanya sendiri untuk membereskan kekacauan yang ia tinggalkan.

Keluarganya hancur, ayahnya mati secara tragis, kakak tertuanya diasingkan, dan seluruh kerabatnya bertebaran ke penjuru negeri. Ia jatuh dari puncak kebanggaannya ke dalam lumpur dalam sekejap, diintimidasi dan diinjak-injak oleh orang-orang yang dulu membungkuk hormat di hadapannya. Tetapi bagaimana dengan pria yang selama ini ia kejar? Bukan saja ia tidak membantunya, ia bahkan membuangnya ke tengah laut dengan tangannya sendiri, menyaksikan kehancurannya tanpa sedikit pun rasa iba. Di ujung malam itu, ia baru sadar betapa salahnya ia menaruh hati pada orang yang selama ini justru menikam keluarganya dari belakang.

Ironisnya, pria itu tidak pernah mencintainya sedikit pun. Semua yang ia lakukan hanya sandiwara, hanya topeng yang dipasang rapi untuk memanfaatkan kekacauan ini demi menjatuhkan keluarga Ardani dari dalam. Selama bertahun-tahun ia mengejar bayang-bayang yang bahkan tidak pernah sungguh-sungguh ada di hadapannya.

Malam ketika tubuhnya dibuang ke tengah laut, air dingin membanjiri paru-parunya dan menimbulkan rasa sakit yang menusuk ke sumsum tulang. Namun sehebat apa pun sakit di tubuhnya, itu tidak bisa dibandingkan dengan sakit di hatinya. Wulan tidak bisa menahan tawa bercampur tangis di tengah gelombang yang menelannya. Ia terlalu bodoh, terlalu keras kepala, menempuh jalannya sendiri tanpa mau mendengarkan nasihat siapa pun. Laut semakin dalam menelannya, tetapi ia hanya tertawa, menertawakan takdir yang ia pilih sendiri.

Ternyata cinta yang ia kira ia pegang erat-erat itu hanyalah lelucon belaka. Ia benar-benar orang bodoh yang dimanipulasi oleh orang lain. Semua ini ia tanggung sendiri, dan ia tak bisa menyalahkan siapa pun. Berakhir tenggelam seperti ini pun, ia pantas mendapatkannya — begitulah hukuman bagi orang yang selama ini menutup telinga terhadap kebaikan. Sekarang, di ambang kematian, penyesalan itu menyesak seperti air yang membanjiri paru-parunya.

Saat kesadarannya mulai kabur, sosok Nalendra tiba-tiba muncul di depan matanya. Pria yang selalu tenang itu telah memberikan semua yang bisa ia berikan — bahkan nyawanya. Selain ayah dan saudara-saudara laki-lakinya, ia memberikan segalanya untuknya, tanpa pernah meminta satu balasan pun. Pria yang paling baik kepadanya di dunia ini, tetapi telah tiada tiga tahun lalu, meninggalkan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Kini, ketika ia mengingatnya lagi, dadanya masih terasa sesak seolah baru kemarin luka itu terbuka.

Air telah menelan seluruh tubuhnya, dan ia tidak lagi merasakan sakit di badannya. Wulan tahu ia akan mati. Ia menertawakan dirinya sendiri dan diam-diam mengucapkan dua kata, "Nalendra..." Seolah dengan menyebut nama itu sekali lagi, ia bisa menyusul pria yang selalu ia tolak itu ke alam sana.

Ketika ia jatuh cinta kepada pria itu tanpa ia sadari, Wulan sendiri tidak mengetahuinya. Tetapi ia sering mendengar Nenek Utari berkata, orang yang paling ingin ia temui sebelum meninggal pastilah orang yang paling ia cintai. Nalendra... tidak apa-apa jika ia mati, asalkan ia bisa bertemu dengannya lagi. Jika di kehidupan selanjutnya ia dapat melihatnya lagi, ia akan memeluknya erat-erat dan tidak akan pernah melepaskannya lagi, sepanjang apa pun jalan yang harus ia tempuh. Dan itulah sumpah yang ia bawa saat ia membuka mata kembali di kamar ini tujuh tahun yang lalu.

Kini, di depan pintu kamarnya, pria itu berdiri — masih sama seperti dalam ingatannya. Dingin, kaku, dengan mata yang menyimpan kehangatan yang tidak pernah ia pahami. Seolah perselisihan hidup dan mati selama tujuh tahun di antara mereka tidak pernah ada, seolah semua air mata dan penyesalan itu hanya mimpi buruk yang kini sirna oleh cahaya obor. Satu-satunya yang berbeda hanyalah dirinya — yang kini datang dengan hati yang sudah belajar untuk bersyukur. Ini bukan lagi tahun-tahun yang menyedihkan itu. Kisah di antara mereka baru saja dimulai sekarang.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!