NovelToon NovelToon
PLAYING WITH FIRE

PLAYING WITH FIRE

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.

Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.

Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Vanessa berjalan menyusuri koridor kamar di lantai dua dengan langkah yang sengaja dibikin seringan mungkin.

 Senyuman miring yang dingin terukir di bibirnya, memantulkan rasa puas yang sangat langka dalam beberapa bulan terakhir ini.

Usai menutup dan mengunci pintu kamarnya dari dalam, ia merogoh tas tangan kulitnya secara perlahan.

Jemari lentiknya menarik keluar selembar kertas berharga yang masih beraroma tinta segar. Sebuah cek bernilai lima ratus juta rupiah, lengkap dengan tanda tangan mewah dan rumit milik Alessio Carlton.

Vanessa menatap angka-angka nol yang tertera di sana. Lima ratus juta rupiah. Bagi Keluarga Carlton, angka itu mungkin hanya seharga satu jam sewa kapal pesiar.

Namun bagi Vanessa, angka ini adalah peluru pertama yang berhasil ia rebut dari musuhnya.

"Lima ratus juta..." gumam Vanessa pelan, suaranya nyaris berbisik di tengah kesunyian kamar. "Kau pikir kau sedang menghinaku dengan uang ini, Alessio? Kau salah besar."

Dengan sangat hati-hati, Vanessa melangkah menuju lemari pakaian mewahnya. Ia menggeser tumpukan gaun malam, membuka kompartemen rahasia di balik papan kayu bagian bawah, dan menyembunyikan lembaran cek itu di sana.

Ia tahu betul tabiat Benny Grey dan Rika. Jika ia nekat mencairkan uang itu ke rekening pribadinya esok hari, sang Ayah yang serakah dan ibu tirinya yang licik itu pasti akan menggunakan kekuasaan hukum atau koneksi perbankan mereka untuk memblokir, menyita, atau menguras habis uang tersebut atas nama 'ganti rugi keluarga'.

"Besok pagi aku akan mencairkannya langsung ke rekening pribadi milik Maya," batin Vanessa penuh perhitungan.

Maya adalah satu-satunya sahabat yang masih bisa ia percayai sepenuh hati di luar lingkaran iblis ini.

"Uang lima ratus juta ini akan menjadi modal awal untuk pelarian ku dari neraka ini."

Tak lama kemudian, deru mesin mobil sport berkapasitas mesin besar memecah kesunyian halaman depan kediaman utama Carlton.

Suara ban yang mencengkeram pualam disusul bantingan pintu yang berat menandakan satu hal, Alessio telah kembali dari rumah sakit.

Kedatangan Alessio seketika mengubah atmosfer di dalam kediaman megah itu menjadi amat mencekam.

Hawa dingin seolah menusuk hingga ke tulang. Para pengawal berbadan tegap dan puluhan pelayan yang lalu-lalang di lorong-lorong rumah kini terbagi menjadi dua kubu tersembunyi.

Kubu pertama adalah mereka yang masih setia mengekor pada Jordan. Mereka menganggap Jordan adalah satu-satunya calon tunggal penerus tahta Carlton yang sah, sementara Alessio hanyalah 'putra terbuang' yang tak punya pengaruh.

Namun di sisi lain, kubu kedua mulai terbentuk, mereka yang ketakutan sekaligus segan begitu melihat aura dominasi Alessio yang begitu pekat dan menakutkan, jauh lebih berbahaya daripada keangkuhan mentah yang dimiliki Jordan.

Di tengah pembagian kubu yang tegang itu, Pak Ben kepala pelayan senior yang telah mengabdi selama tiga dekade di kediaman Carlton tetap menampilkan wajah netral tanpa riak.

Di depan publik rumah, Pak Pardi tidak menunjukkan keberpihakan pada siapa pun. Ia membungkuk dengan derajat yang sama baik pada Jordan maupun Alessio.

Hal itu dilakukannya bukan karena ragu, melainkan demi keselamatan jiwanya di tengah perang dingin dua ahli waris yang siap meledak sewaktu-waktu.

*****

Malam hari, di sudut terisolasi di lantai dasar, terdapat sebuah ruang kerja tua berpanel kayu jati gelap. Sebelum melangkah masuk, Alessio berdiri tegak di tengah ruangan, matanya yang tajam bagai elang menyapu setiap sudut dinding, bingkai lukisan tua, hingga sela-sela pendingin udara.

Menggunakan alat pemindai frekuensi mini yang tersembunyi di dalam jam tangannya, Alessio memastikan ruangan itu seratus persen bersih dari kamera tersembunyi, alat penyadap suara, maupun mata-mata kiriman Jordan.

Tak lama, Pak Ben melangkah masuk dengan hati-hati, lalu memutar kunci pintu dua kali hingga terdengar bunyi klik yang mantap.

Raut wajah Pak Ben yang tadinya kaku dan formal seketika berubah. Garis-garis di wajah tuanya melunak, digantikan oleh rasa hormat yang amat dalam dan rasa cemas yang tertahan.

"Bagaimana keadaan Anda selama sepuluh tahun di luar negeri, Tuan Muda Alessio?" bisik Pak Ben pelan, suaranya bergetar menahan emosi.

Alessio membalikkan badan. Jas hitamnya terpasang sempurna di bahunya yang tegap. Ia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi dingin.

"Aku sangat baik, Paman Ben," jawab Alessio dengan suara rendahnya yang memikat. "Sangat baik hingga aku punya cukup waktu untuk merancang bagaimana caranya menghancurkan tempat ini."

Paman Ben menghela napas panjang, ada rasa lega di matanya. "Saya selalu berdoa untuk keselamatan Anda, Tuan Muda. Dan saya tahu... Anda pasti akan kembali."

"Tentu saja," sela Alessio, melangkah mendekati jendela yang menampil area taman belakang. "Aku kembali bukan untuk sekadar berkunjung atau menghadiri pesta konyol mereka. Aku kembali untuk mengambil dan merebut kembali apa yang memang sejak awal menjadi hak milikku."

Namun, sejurus kemudian dahi tua Paman Ben berkerut cemas. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, merendahkan suaranya hingga nyaris menjadi bisikan tak terdengar.

"Tapi Tuan Muda... hamba sangat mengkhawatirkan rencana pertunangan Anda dengan Nona Yessika. Anda baru saja kembali, tapi mengapa harus Nona Yessika? Perempuan itu... sebenarnya adalah perempuan simpanan Tuan Jordan! Mereka sudah lama berhubungan di belakang Nona Vanessa! Tuan Muda bisa dimanfaatkan dan dijebak oleh mereka berdua!"

Alessio tidak terkejut sedikit pun. Ia bahkan tidak berkedip. Sebaliknya, ia justru terkekeh pelan, sebuah tawa rendah dari kedalaman tenggorokannya yang amat memikat sekaligus mengerikan.

"Merebut wanita milik Jordan?" bisik Alessio dengan senyum licik yang makin mendalam di bibirnya.

"Bukankah itu terdengar sangat menarik, Paman Ben? Kebetulan, aku sangat suka pada wanita milik Jordan. Aku bahkan sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama."

Paman Ben terpaku melihat binar kegelapan di mata Alessio. Namun, sebelum kepala pelayan tua itu sempat membalas, mata tajam Alessio sengaja melirik tajam ke arah celah pintu ruangan yang sedikit terbuka.

Di balik kegelapan celah pintu itu, sebuah bayangan tubuh ramping seketika bergerak mundur dengan terburu-buru.

Deg! Deg! Deg!

Jantung Vanessa berdegup begitu kencang hingga rasanya hendak melompat keluar dari rongga dadanya.

Niat awalnya melintas di lantai dasar hanya untuk mencari segelas air dingin setelah seharian menahan tekanan emosi, tetapi ia malah tak sengaja mendengar percakapan rahasia yang teramat berbahaya itu.

Dengan langkah kaki yang gemetar namun diusahakan tanpa suara, Vanessa berlari kecil menuju area dapur utama yang sepi. Napasnya memburu. Tangan kanannya mengepal erat di atas dada.

"Gila! Alessio tahu kalau Yessika itu simpanan Jordan?!" batin Vanessa panik, pikirannya berputar hebat bagai angin puting beliung. "Dia tahu mereka berselingkuh, tapi dia malah sengaja ingin bertunangan dengan Yessika demi merebutnya dari Jordan?! Pria itu benar-benar psikopat! Dan... apakah tadi dia melihatku mengintip di celah pintu?!"

Vanessa mencoba menetralkan napasnya yang memburu. Ia melangkah mendekati kulkas dua pintu berukuran besar di sudut dapur. Ia meraih sebuah gelas kaca bening di atas meja, lalu membuka pintu kulkas dan mengambil botol air dingin.

Namun, belum sempat air dingin itu tercurah penuh ke dalam gelas, sebuah bayangan tegap bertubuh tinggi mendadak muncul dari kegelapan lorong dapur dan mengurungnya secara tiba-tiba dari belakang!

Sret!

Sensasi dingin dan aroma yang tajam dari sandalwood seketika menyeruak. Gelas di tangan Vanessa bergoyang hebat akibat rasa terkejut yang luar biasa.

Air dingin di dalamnya menyiprat, hampir tumpah membasahi piyama satin putih gading yang dikenakannya.

Namun sebelum gelas itu jatuh, sebuah tangan kekar dengan kulit yang sedikit dingin dan jemari panjang yang kuat dengan cepat menggenggam pergelangan tangan Vanessa dari belakang, menahan gelas itu agar tetap stabil di udara.

"Jangan ceroboh, Nona Vanessa," bisik sebuah suara berat dan dalam tepat di balik tengkuk lehernya.

Embusan napas hangat pria itu menyapu lembut kulit leher Vanessa yang terbuka, membuat bulu kuduknya berdiri seketika.

Vanessa tersentak hebat. Tubuhnya membeku. Ia memutar badannya secara refleks untuk membebaskan diri, namun pergerakannya justru membawa bencana baru.

Brak!

Dengan gerakan yang amat cepat dan anggun, Alessio menumpukan kedua lengan kekarnya di sisi kiri dan kanan pintu kulkas yang terbuka.

Pria itu mengurung tubuh Vanessa secara mutlak di antara dada bidangnya dan dinginnya pintu kulkas. Jarak di antara wajah mereka kini tak lebih dari lima senti.

"Tuan... Tuan Alessio," desis Vanessa, berusaha keras menetralkan gemetar di suaranya walau dadanya naik-turun memburu karena panik dan emosi. "Tolong singkirkan tangan Anda. Apa yang Anda lakukan?!"

Alessio tidak mundur seinci pun. Matanya yang sehitam malam menatap lurus, menghujam tepat ke dalam manik mata Vanessa dengan intensitas yang begitu pekat dan intimidatif.

"Berhentilah bermain-main dengan Yessika," ujar Alessio dingin, nada suaranya tidak menerima bantahan sedikit pun.

"Sekarang aku sudah kembali ke rumah ini. Aku tidak akan membiarkanmu menindas atau menyentuh calon tunanganku lagi."

Rasa tidak terima yang membakar seketika menguasai dada Vanessa. Mengabaikan posisi mereka yang terlampau intim dan berbahaya, Vanessa mengepalkan kedua tangannya dan memukul dada bidang Alessio yang dilapisi jas mahal.

"Menindasnya?!" bentak Vanessa dengan nada tertahan, matanya berkilat penuh kemarahan.

"Tuan Alessio, buka mata Anda! Buka telinga Anda lebar-lebar! Justru Yessika dan Jordan yang selama ini menindasku! Mereka yang memfitnahku, merebut hakku, dan menjadikan hidupku seperti neraka! Yessika itu wanita licik yang..."

"Aku tidak peduli," potong Alessio cepat.

Suaranya merendah, menjadi begitu tenang namun justru terasa seratus kali lebih berbahaya. Alessio sedikit memiringkan kepalanya, memajukan wajahnya hingga bibirnya hampir menyentuh daun telinga Vanessa.

"Bahkan jika semua hal yang dikatakan Yessika padaku adalah kebohongan... aku akan tetap mempercayainya," bisik Alessio penuh penekanan yang gelap dan memikat. "Alasannya cuma satu, Nona Vanessa... karena dia adalah calon tunanganku."

Tangan Vanessa mengepal makin erat di kain kemeja Alessio hingga remasan jarinya memutih.

Gigi Vanessa menggeretak tajam. Namun, belum sempat dia berkata apa-apa, tiba-tiba...

"Apa-apaan ini?! Apa yang kalian lakukan?!"

Sebuah bentakan keras, parau, dan dipenuhi rasa cemburu yang membakar mendadak menggelegar dari arah pintu masuk dapur.

Jordan berdiri di sana. Wajahnya yang pucat akibat rasa sakit diperut yang semakin menyiksa kini berubah memerah padam karena murka.

Matanya melotot lebar, menatap tak percaya pada posisi adiknya dan tunangannya yang terkurung begitu rapat, menempel, dan terlihat sangat mesra di depan kulkas.

"Ah, kau sudah pulang KA-KAK?" sapa Alessio dengan nada dingin dan penuh ejekan. Namun, posisinya sama sekali tidak bergeser. Dia tetap mengurung Vanessa dengan kedua lengan kokohnya.

1
ryuka
bagusss vanesaa.. mati kutu kan kamu yesika
Mundri Astuti
kalo sebaliknya berarti Jordan yg merat 😛
Titi Liana
suka
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
Tri Handayani
seru semakin seru, up lagi donk kak
rurry Irianty
KK outhor up banyak² yaaa
Muft Smoker
aaaaaa gregeeet ,,

lanjuut kak ,,
ryuka
adduuhhh alesioo semoga rencana kamu berhasil ya
Tri Handayani
up lagi kpn thor🤭🤭🤭
ryuka: 🤭🤭🤭🫠🫠 ku tunggu up nya thoorrr
total 1 replies
Muft Smoker
kata aq mh udh aj pergi Vanessa toh klo 22 ny gx nikah ma km ,, 22 ny juga gx bakal dpat tahta yg mereka ingin kan ,,
Allea
ahh percuma vanes ngancam2 si arthur😅
Ayu Padi
jgn mau Vanessa
Mundri Astuti
kayanya ada sesuatu yg disembunyikan Arthur y, apa Jordan anak Arthur sama emaknya Kunti yak🤔
ryuka
gilaaa.. gillaaaa.. bpak nya gila
Muft Smoker
mungkin tuan Arthur bisa tutup mata dg kelakuan Jordan,, tp tanpa dsadari ia telah membangunkan singa yg sdang tidur ,,
Muft Smoker
ke tunggu peperangan tu terjadi ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏
Muft Smoker
karena hanya aq yg peduli dg harta mu ,,, hrus ny km ngomong ny bgtu yessika ,, 😏😏😏😏
Mundri Astuti
makin seru ini
ryuka
manttaaabbb alesiooo 🔥🔥🔥
Tri Handayani
ku tunggu up selanjutnya ka😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!