NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 005

Uang Perlindungan

"Coba sentuh dia sekali lagi."

Kalimat Kevin jatuh seperti bola besi di lantai.

Tidak ada yang langsung bicara. Pemuda bertopi yang pergelangan tangannya masih dicengkeram Kevin mencoba tertawa, tetapi suaranya pecah di tengah. Ia melirik teman-temannya, mungkin berharap ada yang maju membantunya. Namun orang-orang yang tadi ikut menertawakan Sekar justru pura-pura sibuk dengan meja masing-masing.

Nama Kevin ternyata cukup berat di tempat ini.

"Kev," Bryan berkata pelan, kali ini tidak bercanda. "Lepasin. Ada CCTV."

Kevin masih menatap pemuda itu.

"Minta maaf."

"Iya, iya." Pemuda bertopi meringis. "Maaf."

Kevin tidak bergerak.

Pemuda itu menggertakkan gigi, lalu menoleh ke arah Sekar tanpa berani melihat matanya lama-lama. "Maaf."

Sekar berdiri di belakang Kevin. Jantungnya masih terlalu cepat, tetapi ia memaksa dirinya menjawab. "Jangan ganggu perempuan lain lagi."

Bryan mengangkat alis, seolah tidak menyangka ia masih bisa memberi nasihat dalam keadaan seperti ini.

Pemuda bertopi mengangguk cepat. Kevin akhirnya melepaskan tangannya. Begitu bebas, pemuda itu langsung mundur sambil memegangi pergelangan. Temannya yang tadi mengangkat stik biliar ikut menjauh. Beberapa pengunjung menurunkan kepala, pura-pura tidak melihat apa pun.

Penjaga kasir di belakang meja baru berani bersuara. "Kevin, jangan ribut di sini."

Kevin menoleh dingin. "Bilang ke mereka."

Penjaga itu langsung diam.

Bryan menghela napas panjang. "Oke. Selesai. Semua masih hidup. Bagus."

Kevin berbalik menghadap Sekar.

Sekar mengira ia akan bertanya apakah ia baik-baik saja. Atau mungkin, kalau ia cukup beruntung, Kevin akan memanggil namanya dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya.

Ternyata tidak.

"Lo gila?"

Sekar berkedip.

Bryan menutup wajah dengan satu tangan. "Bro, nada lo bisa diturunin dikit."

Kevin mengabaikannya. Matanya menyapu cardigan Sekar, rok denim, tas kecil di bahunya, lalu kembali ke wajahnya. "Datang ke tempat kayak gini sendirian. Pakai baju begitu. Mau cari masalah?"

Sekar tahu ia sedang dimarahi.

Anehnya, dadanya justru hangat.

Di kehidupan sebelumnya, tidak ada orang yang memarahinya karena takut ia terluka. Semua orang hanya menyuruhnya mengalah, diam, jangan mempermalukan keluarga. Bahkan saat Om Budi mulai menunjukkan taring, mereka berkata Sekar terlalu keras kepala.

Kevin marah karena ia datang ke tempat berbahaya.

Kevin marah karena ia hampir disentuh orang asing.

Sekar menunduk sebentar untuk menyembunyikan senyum kecil yang muncul.

"Kenapa senyum?" suara Kevin makin berat.

"Karena kamu khawatir."

Bryan tersedak angin.

Wajah Kevin tidak berubah, tetapi telinganya yang memakai anting perak tampak sedikit memerah di bawah lampu hijau.

"Gue nggak khawatir. Gue nggak suka ada orang bikin ribut di depan gue."

"Oh."

"Jangan oh."

"Iya."

Kevin menatapnya seolah jawaban patuh itu lebih membuatnya kesal. "Pulang."

Sekar melihat ke arah tangga. Sisa takut dari tadi masih tinggal di lututnya. Namun ia tahu kalau ia pergi begitu saja, besok Kevin mungkin kembali membangun pagar. Ia harus meninggalkan sesuatu. Sebuah alasan untuk bertemu lagi.

"Aku bisa bayar," katanya.

Bryan yang baru saja menarik napas kembali tersedak. "Bayar apa?"

Kevin menatapnya datar.

Sekar membuka tas kecilnya. Di dalamnya ada dompet tipis berisi uang jajan mingguan dari Oma Lien, beberapa lembar seratus ribu dan lima puluh ribu yang seharusnya ia pakai untuk makan siang, fotokopi, dan jajan kecil. Ia mengambil semuanya, merapikan dengan kedua tangan, lalu menyodorkannya pada Kevin.

"Uang perlindungan."

Ruangan yang baru mulai hidup lagi mendadak sunyi untuk kedua kalinya.

Bryan menatap uang itu, lalu menatap Sekar, lalu menatap Kevin. "Gue hidup buat menyaksikan hari ini."

Kevin tidak menerima uang itu. "Apa maksud lo?"

"Kamu tadi melindungi aku." Sekar berusaha bicara seserius mungkin, walau kata-katanya terdengar seperti lelucon aneh. "Kalau aku bayar uang perlindungan, berarti mulai sekarang aku punya alasan untuk minta kamu melindungi aku."

"Lo pikir gue preman?"

"Bukan."

"Terus?"

"Aku pikir kamu orang baik."

Kata itu membuat rahang Kevin mengeras.

Orang baik.

Mungkin sudah lama tidak ada yang menyebutnya begitu. Di sekolah, ia anak nakal. Di ruang guru, ia masalah berjalan. Di tempat biliar, ia orang yang tidak boleh dipancing kalau masih sayang wajah sendiri. Tetapi Sekar melihat melewati semua label itu, langsung ke bagian yang paling ia sembunyikan.

Kevin menatap uang di tangan Sekar.

"Tarik lagi sebelum gue ambil beneran."

Sekar tidak bergerak.

Bryan berbisik, "Sekar, saran gue, kalau Bro bilang begitu, biasanya dia serius."

"Aku juga serius."

Kevin mengulurkan tangan.

Sekar merasakan ujung jarinya tersentuh saat Kevin mengambil uang itu. Sentuhannya singkat, lebih ringan dari angin, tetapi cukup membuat seluruh tubuhnya tegang.

Kevin menghitung cepat. Matanya turun ke jumlah uang itu, lalu naik lagi.

"Ini uang jajan lo seminggu?"

"Iya."

"Bodoh."

Bryan mengangguk setuju. "Sedikit."

Sekar menoleh padanya.

Bryan buru-buru mengangkat kedua tangan. "Maksud gue, secara konsep aja aneh."

Kevin memasukkan uang itu ke saku jaketnya.

Sekar menatap gerakan itu. Ia tahu seharusnya ia khawatir. Namun yang muncul justru rasa lega. Uang itu bukan benar-benar pembayaran. Itu tali kecil yang ia lempar ke arah Kevin. Dan Kevin, meski memaki bodoh, tidak menolaknya.

"Sekarang pulang," kata Kevin.

"Kamu terima?"

"Uangnya udah di gue."

"Berarti kamu setuju melindungi aku?"

Kevin menatapnya lama. Bryan di belakangnya membuat gerakan seperti orang berdoa, jelas menikmati drama yang terjadi.

"Gue setuju lo nggak boleh datang ke tempat kayak gini sendirian lagi."

"Kalau sama kamu?"

"Jangan mulai."

Sekar menahan senyum.

Mereka turun dari ruko bersama. Bryan berjalan paling depan sambil bersiul kecil. Di luar, sore mulai turun. Jalan kecil di belakang sekolah ramai oleh motor, pedagang gorengan, dan siswa yang masih nongkrong.

Yola sudah mengirim tujuh pesan.

Yola: Lo masih hidup?

Yola: Lokasi lo berhenti di ruko. Jangan bilang lo masuk.

Yola: Sekar jawab.

Yola: Kalau lo diculik anak rambut biru, gue lapor Bu Wati.

Sekar hampir tertawa saat membacanya.

Kevin melirik layar ponselnya. "Teman lo?"

"Yola."

"Suruh dia jemput?"

"Aku bisa pulang sendiri."

Kevin berhenti di dekat parkiran motor. "Dengan baju begitu?"

Sekar melihat dirinya, lalu melihat Kevin. "Kamu benar-benar khawatir."

"Gue bilang jangan mulai."

Bryan tertawa keras dari samping motor. "Bro, lo kalah. Mukanya udah ketahuan."

Kevin menendang ringan ban motor Bryan, membuat Bryan cepat-cepat mundur.

Sekar menyimpan ponselnya. "Kalau begitu, aku pulang naik ojek online."

"Nggak."

"Taksi?"

"Nggak."

"Jalan kaki?"

Kevin menatapnya seperti ia baru saja menawarkan diri masuk lubang buaya.

"Mulai besok," katanya pelan, "makan siang sama gue."

Sekar terdiam.

Kevin mengeluarkan uang yang tadi ia ambil, melipatnya, lalu memasukkannya lagi ke saku. "Uang ini buat makan lo. Sampai habis, lo makan sama gue. Kalau habis, baru kita bicara lagi."

Bryan langsung berdeham dramatis. "Oh, jadi ini bisnis perlindungan yang menyediakan paket makan siang."

"Diam."

Sekar menunduk, tapi kali ini ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

Makan siang bersama.

Di kehidupan sebelumnya, ia pernah melewati Kevin di kantin tanpa duduk satu meja. Kali ini, Kevin sendiri yang membuat aturan.

"Oke," katanya.

Kevin membuka kunci motor, suaranya tetap datar, tetapi sudut bibirnya seperti hampir bergerak.

"Besok jam istirahat. Jangan telat."

Sekar menggigit bibir, menahan senyum yang hampir terlalu jelas.

Makan siang berdua, dengan uang jajannya sendiri, di bawah pengawasan seorang anak nakal yang baru saja mengaku menerima uang perlindungan.

Ini bisa dihitung kencan pertama, kan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!