"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lexans
Suasana berubah cepat; gerimis tipis yang menemani dari sore itu kini telah berganti menjadi hujan deras yang mengepung Jakarta. Seolah merepresentasikan badai yang sedang bergemuruh di dalam dada seorang Damara Lexander Veldens. Setelah meninggalkan restoran privat dengan rahang yang mengatuk keras akibat penolakan dari Kayna , aura di sekitar pria itu begitu mencekam hingga sopir pribadinya bahkan tidak berani melirik melalui kaca spion tengah.
Mobil Rolls-Royce Phantom hitam miliknya membelah jalanan ibu kota yang basah dengan kecepatan tinggi, menuju kembali ke gedung monolit hitam—Veldens Management Headquarters.
Mata abu-abu Mara menatap kosong ke luar jendela yang dialiri air hujan. Di dalam benaknya, kalimat-kalimat penuh pembangkangan dari gadis itu terus berputar bagai kaset rusak.
“Aku menolakmu mentah-mentah! Aku tidak sudi menjadi boneka pajangan di dalam sangkar emasmu!”
“...pria sekaya apa pun yang akan disodorkan padaku, tidak akan pernah bisa membeli harga diriku!”
"Gadis bodoh," desis Mara sangat rendah, hingga suaranya tenggelam oleh deru mesin mobil.
Jemarinya yang mengenakan cincin perak berukir lambang keluarga Veldens mengetuk-ngetuk lututnya dengan ritme yang lambat namun mematikan. Belum pernah ada yang menolaknya. Belum pernah ada yang berani menatapnya dengan binar kebencian yang begitu murni tanpa rasa takut. Ego sang diktator benar-benar tersengat, meninggalkan luka bakar yang kini menuntut pelampiasan.
Mobil berhenti tepat di basement khusus yang terisolasi dari publik. Pintu mobil dibuka dari luar oleh James, tangan kanan kepercayaannya. James memiliki perawakan tegap dengan setelan jas hitam tanpa dasi. Ia sudah mengabdikan diri untuk Keluarga Veldens hampir 20 tahun.
"Semua anggota inti sudah berkumpul di lantai teratas, Tuan," bisik James dengan nada rendah yang sarat akan ketegangan. "Laporannya... tidak begitu bagus."
Mara tidak menyahut. Ia hanya melangkah keluar dari mobil dengan keangkuhan seorang predator malam. Langkah kakinya yang dibungkus sepatu pantofel mahal bergema di basement yang sepi. Mereka berdua melangkah menuju lift pribadi di sudut paling gelap. Lift ini tidak memiliki tombol lantai seperti lift pada umumnya; melainkan sebuah panel pemindai retina dan sidik jari murni milik Mara dan James.
Begitu pemindaian selesai, pintu lift terbuka dengan desingan halus. Lift itu bergerak naik dengan kecepatan luar biasa, melewati lima puluh lantai area legal Veldens Management—tempat para model, desainer, dan staf biasa bekerja di siang hari—dan berhenti tepat di lantai lima puluh satu. Lantai paling atas yang rahasia. Sebuah area yang tidak pernah dijamah oleh siapa pun di dunia ini, kecuali Mara, James, dan para petinggi Mafia Lexans. Bagian legal perusahaan mengira lantai ini hanyalah ruang mekanikal dan tangki air raksasa gedung, padahal di sinilah takhta berdarah dari kekaisaran penjualan senjata api ilegal terbesar di Asia Tenggara dikendalikan. Bisnis gelap warisan dari kakeknya, Willem Veldens, dijalankan dari tempat tersembunyi ini dengan sangat rapi dan bersih hingga tak tersentuh hukum.
Pintu lift terbuka, menyajikan sebuah koridor luas yang didominasi dinding beton ekspos berwarna kelabu gelap dengan pencahayaan lampu LED linier berwarna merah redup. Atmosfer di sini terasa dingin, sunyi, dan berbau mesiu serta cerutu mahal.
Mara melangkah masuk, melepas jasnya dengan sentakan kasar lalu melemparkannya begitu saja ke arah James, menyisakan kemeja hitamnya yang kini lengannya ia gulung hingga ke siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang kokoh.
Di ujung koridor, sebuah pintu baja kedap suara setebal dua puluh sentimeter terbuka secara otomatis begitu Mara mendekat. Di dalam ruang rapat berbentuk lingkaran itu, enam orang pria paruh baya yang merupakan kepala distrik penyelundupan Mafia Lexans langsung berdiri tegak dengan kepala tertunduk dalam. Keringat dingin membasahi pelipis mereka meskipun pendingin ruangan diatur pada suhu terendah. Mereka tahu, sang Capo sedang berada dalam suasana hati yang paling buruk.
Mara berjalan ke ujung meja bundar yang terbuat dari batu obsidian hitam. Ia tidak langsung duduk, melainkan menumpukan kedua tangan di atas meja, menatap satu per satu bawahannya dengan sepasang mata abu-abu yang kini berkilat kejam.
"James," suara Mara memecah keheningan, terdengar begitu tenang namun sanggup membuat jantung siapa pun yang mendengarnya berhenti berdetak. "Bacakan laporannya sebelum aku kehilangan kesabaran dan mulai mengosongkan isi pistolku di ruangan ini."
James maju selangkah, membuka tablet enkripsi khususnya. "Dua jam yang lalu, pengiriman tiga ratus unit senapan serbu otomatis kelas militer dan amunisi kaliber berat di perairan Selat Malaka hampir gagal total, Tuan. Kapal kargo kita terendus oleh patroli laut gabungan karena ada kebocoran koordinat dari distrik Barat. Kapten kapal terpaksa membuang setengah dari muatan umpan ke laut dan melakukan manuver ekstrem untuk lolos. Operasi ini berhasil diselamatkan, tetapi kita kehilangan komoditas senilai empat puluh miliar rupiah dan jalur distribusi itu kini hangus."
BRAAKK!
Mara menghantam meja obsidian itu dengan tinjunya hingga menimbulkan dentuman keras yang menggema di seluruh ruangan. Salah satu kepala distrik yang bertanggung jawab atas wilayah Barat—seorang pria berbadan subur bernama Darius—seketika jatuh berlutut di atas lantai, tubuhnya berguncang hebat karena ketakutan.
"A-ampun, Tuan Capo! Itu... itu adalah kesalahan teknis dari salah satu informan di lapangan! Saya bersumpah saya sudah memeriksa semuanya dengan bersih!" ratap Darius dengan suara parau yang gemetar.
Kemarahan Mara malam ini sudah berada di ambang batas terjauh. Penolakan keras kepala dari Kayna di restoran tadi telah menyulut sumbu pendek egonya, dan sekarang, berita tentang kegagalan operasi bisnis gelapnya seolah menyiramkan bensin ke dalam api yang sedang berkobar hebat di dalam dadanya. Emosinya berlipat ganda, melahirkan aura intimidasi yang begitu pekat, hingga ruangan itu terasa seperti kamar eksekusi.
Mara melangkah perlahan mendekati Darius yang bersujud. Pria itu berjongkok di hadapan bawahannya yang tak berdaya, lalu dengan gerakan kilat yang tak terduga, jemari kekar Mara mencengkeram rahang Darius dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang. Ia memaksa pria paruh baya itu menatap langsung ke dalam sepasang matanya yang sedingin es.
"Kesalahan teknis?" desis Mara, suaranya bergetar menahan amarah yang luar biasa. "Aku membayar kalian miliaran rupiah bukan untuk mendengar alasan tentang kesalahan teknis, Darius! Di dalam Lexans, tidak ada ruang untuk kata 'hampir gagal'. Sekali kalian ceroboh, nyawa dan rahasia organisasi ini taruhannya!"
"T-tolong, Tuan... Beri saya satu kesempatan lagi..." Darius menangis, darah mulai menetes dari sudut bibirnya akibat cengkeraman tangan Mara yang semakin mengencang.
Mara melepaskan cengkeramannya dengan sentakan jijik, membuat kepala Darius terantuk lantai marmer. Pria itu berdiri, meraba bagian belakang pinggangnya, dan dalam satu gerakan mulus, ia menarik sebuah pistol semi-otomatis berpeluru peredam suara.
Dorrr....
Sebuah tembakan dilepaskan tanpa peringatan, bersarang tepat di lantai beton yang hanya berjarak satu sentimeter dari jari tangan Darius, membuat pria itu menjerit histeris. Seluruh kepala distrik lainnya langsung menahan napas, tidak ada yang berani bergerak satu milimeter pun.
"Tembakan berikutnya tidak akan meleset jika dalam waktu dua puluh empat jam kau tidak menemukan siapa tikus yang membocorkan koordinat itu," ucap Mara dengan nada suara yang kembali datar dan tenang—sebuah ketenangan psikopatis yang jauh lebih mengerikan daripada teriakan kemarahan. "Potong tangannya, beri makan ke laut, dan ganti seluruh kerugian empat puluh miliar itu dengan aset pribadimu. Keluar!"
"B-baik, Tuan! Terima kasih atas kemurahan hati Anda!" Darius bergegas bangkit dan keluar dari ruangan dengan terbirit-birit, dibantu oleh pengawal lainnya.
Mara membalikkan tubuhnya, kembali menatap sisa anggota rapat yang masih terpaku di tempatnya. "Kalian semua, dengar baik-baik. Tingkatkan keamanan di seluruh jalur distribusi Kamboja dan Thailand. Aku tidak mau mendengar ada satu pun kendala lagi. Jika ada yang melakukan kesalahan sekecil apa pun... kalian tahu di mana kuburan kalian akan digali. Rapat selesai."
Para kepala distrik segera membungkuk hormat dan meninggalkan ruangan dengan terburu-buru, menyisakan Mara dan James di dalam ruangan bundar yang sunyi itu.
Mara berjalan menuju dinding kaca raksasa yang menyuguhkan pemandangan lanskap kota Jakarta yang basah oleh hujan. Di bawah sana, lampu-lampu jalanan tampak seperti aliran darah emas yang tak pernah berhenti mengalir. Napasnya masih memburu perlahan. Pikirannya kembali terseret pada sosok gadis bermata elang dari Jogja itu.
Mengapa takdir seolah sedang mempermainkannya malam ini? Di dunia bawah tanah, ia adalah seorang Capo yang ditakuti, yang kata-katanya adalah titah mutlak yang tidak bisa didebat. Namun di tempat lain , di depan seorang gadis muda berusia dua puluh tiga tahun bernama Kayna Ramida, seluruh kekuasaan dan kekayaannya justru dilemparkan kembali ke wajahnya dengan penuh penghinaan.
“Pria sekaya apa pun yang disodorkan padaku, tidak akan pernah bisa membeli harga diriku!”
Kata-kata Kayna kembali berdengung, membakar arogansi murni di dalam darah Veldens milik Mara. Sebuah seringai tipis, dingin, dan penuh obsesi yang pekat perlahan terukir di wajah tampannya yang diterangi temaram lampu merah ruangan.
"Kau bilang aku tidak bisa membeli harga dirimu dengan uang, Kayna?" gumam Mara, telapak tangannya menempel pada permukaan kaca yang dingin, matanya berkilat penuh kegilaan yang posesif. "Mari kita lihat... seberapa lama harga dirimu itu bisa bertahan saat seluruh duniamu mulai runtuh berantakan."
Mara menoleh ke arah James yang masih setia berdiri di belakangnya dengan sikap tegap.
"James," panggil Mara dengan nada suara yang sarat akan intrik busuk.
"Ya, Tuan Capo?"
"Dua hari kedepan, Kosongkan jadwalku. Aku akan pergi mengunjungi kelinci liar untuk dijinakkan."
"Baik, Tuan."
Begitu James melangkah pergi, Mara kembali menatap hujan Jakarta yang semakin menderu di luar sana. Rasa egonya yang terluka kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi sebuah misi perburuan yang kejam. Kayna Ramida telah resmi memicu sisi monster di dalam diri Mara, dan pria itu bersumpah tidak akan pernah berhenti sampai gadis itu sepenuhnya terjebak, hancur, dan menjadi miliknya secara mutlak di bawah naungan takhta berdarah Mafia Lexans.
...●Bersambung●...