NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Wakil Kepala Baru

Adrian menaruh sebuah kotak makan di depan Kayla.

"Hari pertama menjabat, jangan membuat stafmu melihat wakil kepala pingsan karena lupa sarapan."

Kayla merapikan kerah kemejanya. "Saya masih dokter pinjaman, Kapten. Bukan pejabat negara."

"Tetap bawa makan siang."

Tiga hari setelah jamuan Gunawan, Kayla memulai penugasan baru. RS Sentosa meminjamkannya kepada Pusat Aeromedis Angkasa Timur sebagai Wakil Kepala. Tiana ikut dalam tim karena kekurangan dokter setelah kepala lama pindah ke Fortuna dan membawa lima orang bersamanya.

Adrian mengantar Kayla dari Cluster Peony ke bandara sebelum menuju Menara Argatama.

"Kalau ada yang menyebutmu istri kapten sebelum dokter, telepon aku," katanya.

"Agar kamu memecatnya?"

"Agar aku mengingatkan bahwa istriku bisa memecatku dari rumah."

Kayla tertawa, lalu turun membawa kotak makan.

Pusat Aeromedis berada di sisi kompleks operasional bandara. Ruang tunggunya dipenuhi kru yang akan menjalani pemeriksaan kesehatan perusahaan, evaluasi kembali setelah sakit, serta pemeriksaan alkohol sesuai kebijakan keselamatan Angkasa Timur.

dr. Rendra menyambut Kayla di ruang rapat. Ia baru diangkat menjadi Kepala setelah pendahulunya pergi.

"Saya tidak akan berpura-pura keadaan baik," katanya. "Kami kekurangan orang, arsip belum rapi, dan antrean evaluasi kru menumpuk."

Di meja duduk tiga dokter lama.

dr. Hana, perempuan senior berwajah tegas, hanya mengangguk. dr. Leo berdiri terlalu cepat dan menjabat tangan Kayla dengan antusias.

"Saya melihat video arisan. Penanganan sumbatan jalan napasnya bagus sekali."

"Terima kasih. Tapi sebaiknya kita tidak menilai dokter dari video viral."

"Betul. Maaf."

dr. Wina tidak berdiri. Ia membolak-balik berkas sambil berkata, "Biasanya posisi wakil kepala diberikan kepada orang yang sudah lama bekerja di aeromedis. Tapi sekarang koneksi dengan kapten rupanya juga dihitung sebagai pengalaman."

Tiana hendak menjawab. Kayla meletakkan kotak makannya di meja.

"Kalau ada syarat yang tidak saya penuhi, tunjukkan dalam surat penugasan. Kalau hanya tidak suka suami saya, itu tidak masuk agenda rapat."

dr. Leo menunduk untuk menyembunyikan senyum. dr. Hana akhirnya menatap Kayla lebih serius.

dr. Rendra membuka rapat. Ia menjelaskan bahwa dr. Lukas dari RS Sentosa dan pimpinan Angkasa Timur menyetujui penugasan enam bulan, dengan evaluasi bulanan.

"Saya memberi dr. Kayla akses audit klinis dan wewenang menyusun ulang alur pemeriksaan," katanya. "Keputusan fit atau unfit tetap harus terdokumentasi dan dapat ditinjau sesuai prosedur."

Kayla membagikan rancangan kerja.

"Minggu pertama, kita inventarisasi alat dan kalibrasi ulang perangkat tes alkohol. Kedua, audit acak laporan tiga bulan terakhir beserta data mentah. Ketiga, seluruh kru dengan catatan tidak lengkap dijadwalkan evaluasi ulang."

dr. Wina menutup pena. "Itu akan mengganggu jadwal penerbangan."

"Laporan yang tidak bisa diverifikasi lebih mengganggu keselamatan."

"Selama ini tidak ada kecelakaan karena pemeriksaan kami."

"Tidak adanya kecelakaan bukan bukti prosesnya benar. Itu hanya berarti kita belum melihat akibatnya."

Kayla melanjutkan dengan usulan perekrutan terbuka untuk dokter tambahan, pemeriksaan latar kerja, pencatatan digital akses berkas, dan larangan satu dokter mengendalikan tes serta persetujuan akhir sendirian pada kasus berisiko.

dr. Hana mengangkat tangan. "Kalau semua pemeriksaan diulang, siapa yang menangani antrean harian?"

"Kita lakukan berdasarkan risiko, bukan sekaligus. Saya dan Tiana mengambil jadwal tambahan sampai tenaga baru masuk."

"Anda ikut jaga?"

"Saya mengusulkan beban kerja. Saya juga ikut menanggungnya."

Untuk pertama kalinya, dr. Hana mengangguk setuju.

Setelah rapat, dr. Hana membawa Kayla melihat ruang pemeriksaan. Satu alat tes alkohol memiliki stiker kalibrasi yang hampir lewat dua bulan. Manset tekanan darah ukuran besar tersimpan di lemari terkunci, sedangkan ruang sampel hanya memiliki satu kamera yang tidak mengarah ke meja penerimaan.

"Kami sudah meminta perbaikan," kata dr. Hana. "Permohonan selalu kembali dengan catatan tunggu anggaran."

Kayla memotret nomor inventaris, bukan wajah staf. "Kirim semua permohonan lama kepada saya. Saya akan gabungkan dengan penilaian risiko. Kalau ditolak lagi, penolaknya harus menandatangani alasan."

dr. Leo menunjukkan jadwal. Tiga dokter lama menangani volume yang dulu dibagi delapan orang. Beberapa hari, pemeriksaan dimulai sebelum pukul lima pagi dan berakhir setelah jam kantor.

"Kalau sistem ini diperketat tanpa tambahan orang, staf akan mulai melewati langkah," katanya.

"Karena itu perekrutan dan audit harus jalan bersamaan," jawab Kayla. "Saya tidak mau menyebut orang ceroboh kalau beban kerjanya memang dibuat tidak masuk akal. Tapi tekanan kerja juga tidak boleh menjadi alasan mengarang hasil."

dr. Hana menatapnya beberapa detik. "Setidaknya Anda datang untuk melihat ruangan sebelum menyalahkan kami."

"Saya datang untuk mencari bagian yang rusak. Bisa orang, bisa alat, bisa sistem."

Tiana mencatat seluruh temuan. Menjelang makan siang, kotak dari Adrian baru dibuka. Isinya nasi, ayam panggang, sayur, dan satu kertas kecil.

Kalau rapatnya buruk, makan dulu sebelum memecat siapa pun.

Tiana membaca dari bahunya. "Suamimu semakin mengerti cara mencegah bencana."

Kayla menyimpan kertas itu di saku jas. "Dia hanya takut aku pulang dalam keadaan lapar."

"Itu definisi suami yang belajar."

Mereka makan sepuluh menit di meja arsip, lalu kembali bekerja.

Rapat selesai menjelang siang. Di koridor, Kayla mendengar dr. Wina berbicara kepada dua staf lama.

"Biarkan saja. Orang baru selalu membawa banyak tabel. Sebulan lagi dia bosan dan kembali ke rumah sakit suaminya."

Kayla berhenti. "RS Sentosa bukan milik suami saya. Dan tabelnya mulai berlaku besok pagi."

Kedua staf cepat pergi. dr. Wina menatapnya tanpa rasa malu.

"Dokter terlalu sensitif."

"Tidak. Saya hanya punya pendengaran baik. Itu membantu ketika memeriksa jantung dan kebohongan."

Sore hari, Kayla dan Tiana masuk ke ruang arsip. Beberapa folder digital tidak memiliki lampiran data mentah. Formulir kertas disusun berdasarkan nomor kru, tetapi tanda tangan pemeriksa berulang dengan pola yang sama.

"Terlalu rapi," kata Tiana.

Kayla membuka laporan kuartal terakhir. Dua puluh tujuh kru memiliki tekanan darah hampir identik. Hasil tes alkohol semuanya nol tepat, dengan waktu pemeriksaan berjarak hanya satu menit meski alat seharusnya membutuhkan persiapan dan pencatatan.

"Ini bukan rapi," kata Kayla. "Ini dibuat agar terlihat rapi."

Tiana membandingkan nomor seri alat pada laporan dengan daftar inventaris. "Sebagian tes tercatat memakai alat yang sedang dikirim untuk servis pada tanggal itu."

Kayla menandai lima berkas. "Jangan ubah dokumen asli. Buat salinan baca saja, catat siapa yang mengakses, lalu minta log perangkat dari vendor."

"Kita memberi tahu dr. Rendra sekarang?"

"Setelah menemukan pola awal. Aku tidak mau menuduh orang hanya karena data jelek. Tapi mulai malam ini, tidak ada berkas yang keluar tanpa log."

Ia membuka satu berkas lagi.

Nama di halaman depan membuat jarinya berhenti.

Kapten Sandi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!