NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:41.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Kembali Menjadi Putri Ayah.

Mobil yang dikendarai Gultom perlahan meninggalkan halaman markas. Beberapa saat, tidak ada percakapan di antara mereka.

Gultom yang duduk di balik kursi kemudi sesekali melirik putrinya.

Levia duduk bersandar sambil memandangi pemandangan di luar jendela. Wajahnya terlihat begitu tenang, seolah keberangkatan Vandra tadi tidak meninggalkan apa pun di hatinya.

Akhirnya Gultom membuka suara. "Via."

Levia menoleh. "Hm?"

"Kamu gak sedih Vandra berangkat?"

Levia menggeleng. "Enggak."

Jawabannya begitu cepat dan tegas membuat Gultom sedikit mengernyit. "Yakin?"

Levia tersenyum. "Yakin." Ia kembali menatap jalanan di luar. "Kalau Vandra memang mau cerai, ya cerai aja."

Gultom terdiam.

"Ngapain pertahanin orang yang gak cinta sama kita?" lanjut Levia santai. "Itu namanya masokis."

Gultom hampir tersenyum mendengar istilah itu.

Levia mengangkat bahu. "Hidup terlalu berharga buat dihabiskan cuma untuk nunggu orang yang gak pernah noleh, apalagi sampai ngejar-ngejar."

Ia terkekeh kecil. "Kalau gak dapat orang yang bisa mencintai kita dengan tulus, ya sudah. Jomblo happy juga gak masalah."

Gultom akhirnya tersenyum. Namun senyum itu tidak bertahan lama. "Kadang..." katanya pelan, "kita baru sadar betapa berartinya seseorang setelah orang itu benar-benar pergi."

Levia memutar kepala ke arah ayahnya.

Gultom tetap memandang jalan di depan. "Dulu Ayah juga berpikir begitu."

Tangannya menggenggam kemudi sedikit lebih erat. "Ayah pikir ibumu akan selalu ada. Menemani Ayah sampai tua. Karena selama kami bersama dia selalu ada di rumah, selalu menunggu Ayah pulang, selalu mengurus kita."

Suara Gultom terdengar lebih berat. "Sampai akhirnya Ayah kehilangan dia."

Levia terdiam.

"Kalau waktu bisa diputar kembali..." Gultom mengembuskan napas panjang. "Ayah akan melakukan lebih banyak hal untuk membuat ibumu bahagia. Mungkin ada banyak hal yang dulu Ayah anggap sepele."

Ia tersenyum getir. "Sayangnya, penyesalan selalu datang setelah semuanya terlambat."

Levia menundukkan pandangan.

Gultom kemudian melirik putrinya melalui sekilas. "Tapi Ayah masih punya kamu."

Tatapan Levia perlahan terangkat.

"Karena itu..." lanjut Gultom, "meskipun Ayah gak bisa lagi memberikan kebahagiaan kepada ibumu, Ayah akan berusaha membuat kamu bahagia selama Ayah masih mampu."

Levia terdiam. Dadanya terasa sesak. Bukan karena sedih, melainkan karena untuk pertama kalinya ia benar-benar memahami betapa besar kasih sayang yang dimiliki ayah pemilik tubuh ini.

Selama ini Levia asli sibuk mengejar Vandra. Sementara di belakangnya ada seorang ayah yang hanya ingin putrinya menoleh dan menyadari bahwa dirinya tidak pernah sendirian.

Levia tersenyum kecil. "Ayah..."

"Hm?"

"Kalau begitu, jangan terlalu khawatir sama aku."

Gultom mengangkat alis.

"Aku sudah bisa menjaga diriku sendiri." Ia kemudian tersenyum lebih lebar. "Dan aku juga janji, mulai sekarang aku bakal lebih sering menemani Ayah."

Gultom tidak langsung menjawab. Namun sudut bibirnya terangkat. "Janji?"

"Janji."

Gultom mengangguk. "Kalau begitu Ayah percaya."

***

Beberapa hari setelah keberangkatan Vandra, perubahan di rumah Gultom semakin terlihat.

Pagi itu, sebuah mobil pengantar berhenti di halaman. Beberapa kardus besar diturunkan oleh dua orang petugas.

Levia berdiri di dekat pintu sambil memeriksa daftar barang. "Yang treadmill taruh di ruangan sebelah."

"Baik, Non."

"Sepeda statisnya juga di sana. Dumbbell jangan terlalu berat dulu."

Gultom yang baru keluar dari ruangkerja mengernyit. "Via, kamu beli semua itu?"

Levia menoleh. "Iya, Yah."

"Sebanyak ini?"

Levia tertawa kecil. "Aku mau serius olahraga."

Gultom memperhatikan kardus-kardus tersebut. "Kalau kamu mau olahraga, kenapa gak jalan pagi seperti biasanya?"

"Karena aku gak mau cuma mengandalkan jalan kaki." Levia menunjuk beberapa kardus. "Aku juga mau latihan kekuatan supaya berat badan turun dengan lebih sehat."

Gultom mengangguk pelan. "Kalau begitu, pakai ruangan kosong di belakang."

Levia membelalak. "Ruangan yang dekat taman?"

"Iya."

"Tapi itu ruang penyimpanan."

"Nanti Ayah minta orang untuk mengosongkan."

Levia langsung tersenyum lebar. "Serius?"

"Serius." Gultom mengusap kepala putrinya. "Kalau kamu memang mau berubah, Ayah dukung."

"Terima kasih, Yah!" Levia langsung memeluk lengan ayahnya.

Dari ambang pintu dapur, Ninis melihat semuanya. Tangannya yang sedang memegang nampan perlahan mengencang.

Dulu... Gultom hampir selalu mencarinya untuk hal-hal kecil. Mengingatkan jadwal obat, menanyakan makanan, meminta dibuatkan teh. Bahkan sekadar mencari teman berbicara.

Sekarang? Semua itu mulai diambil Levia.

"Obat Ayah sudah diminum?"

"Sudah, Sayang."

"Jangan lupa makan buah."

"Iya."

"Dokter bilang kolesterol Ayah harus dijaga."

"Iya, cerewet."

Gultom tertawa. Levia ikut tertawa.

Ninis berdiri beberapa meter dari mereka. Tidak ada yang menoleh kepadanya. Ia menggigit bagian dalam pipinya. "Dulu aku yang selalu melakukan semua itu."

Sejak Levia berubah, bahkan urusan obat Gultom pun tidak lagi menjadi tanggung jawabnya.

Levia sudah membuat jadwal. Kotak obat mingguan disusun berdasarkan waktu minum. Menu makanan Gultom juga diatur. Bahkan ketika Gultom hendak mengambil makanan yang terlalu asin, Levia akan langsung mengingatkan. Dan yang paling membuat Ninis kesal... Gultom menurut.

"Nis."

Suara Gultom tiba-tiba terdengar.

Ninis langsung tersenyum. "Iya, Pak?"

"Tolong ambilkan air putih."

Ninis segera hendak melangkah.

Namun Levia lebih dulu berdiri. "Aku aja, Yah."

Levia mengambil gelas dan menuangkan air. "Nih."

Gultom menerimanya. "Terima kasih, Via."

Ninis terdiam. Tatapannya mengikuti Levia yang kembali duduk di samping ayahnya. Senyum di wajahnya perlahan menghilang. "Bahkan sekarang aku gak punya alasan untuk mendekati Bapak."

Ia mengepalkan tangan. Selama bertahun-tahun, ia sudah berada di rumah itu. Ia tahu kebiasaan Gultom, tahu makanan kesukaannya, tahu jadwal obatnya. Ia tahu kapan pria itu sedang lelah dan membutuhkan teman bicara.

Namun sekarang semua pengetahuan itu seolah tidak berarti. Karena Gultom memiliki putrinya kembali. Dan Levia mengambil seluruh perhatian yang selama ini perlahan ia dapatkan.

***

Malamnya, Ninis berdiri sendirian di dapur. Pikirannya terus berputar. Ia tidak bisa membuat Gultom membenci Levia secara terang-terangan. Gultom terlalu menyayangi putrinya.

Semakin ia menjelek-jelekkan Levia, semakin besar kemungkinan Gultom justru membelanya.

"Kalau begitu bukan Levia yang harus aku singkirkan dari rumah ini." Tatapannya berubah tajam. "Rutinitasnya."

Levia sekarang memiliki jadwal olahraga, jadwal makan, jadwal mengurus Gultom. Dan hampir seluruh waktunya dihabiskan bersama ayahnya.

Ninis tersenyum tipis. "Kalau aku bisa membuat Levia kembali gagal menurunkan berat badan... membuatnya merasa lelah, frustrasi, lalu kembali menjadi Levia yang dulu..."

Ia menatap ke arah ruang keluarga. Dari sana terdengar suara tawa Levia dan Gultom. Senyumnya menghilang.

"Bapak pasti akan kembali membutuhkanku."

Ninis menarik napas pelan.

Namun sebelum melakukan apa pun, ia sadar satu hal. Levia yang sekarang jauh lebih sulit dibujuk. Ia tidak lagi mudah percaya.

Karena itu, Ninis harus mencari cara yang membuat dirinya terlihat seperti orang yang sedang membantu. Bukan menghalangi. Bukan melawan. Melainkan menjadi orang yang diam-diam mengendalikan keadaan dari belakang.

"Aku harus mikirin cara agar Levia bergantung padaku lagi."

 

...✨“Ketika kita berhenti mengejar sesuatu yang tak pernah menjadi milik kita, sering kali kita baru menyadari betapa banyak hal berharga yang selama ini menunggu untuk dihargai.”...

...“Jangan habiskan hidup untuk mengejar seseorang yang tak memilihmu, sampai lupa bahwa ada orang-orang yang sejak awal tak pernah berhenti memilihmu.”...

..."Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai seseorang, karena waktu tidak selalu memberi kesempatan kedua.”✨...

.

To be continued

1
Puji Hastuti
akhirnya Bu Sri bilang ke pak Gultom,lega rasanya.
abimasta
Ninis harus di pecat
Uthie
Nahh.. bagus bik Sari.. dikasih Tauin aja kecurigaan kamu sama si Ninis 😡👍
Anitha
Pak Gultom dan Levia harus lebih waspada ada parasit di rumahmu yang akan menghancurkan Nama Levia....jangan sampai lengah.

ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
Kadek Sri
lanjut
Yuni Alyssa
katanya gultom mau mengawasi ninis... jangan sampe kecolongan ya... pasang aja CCTV rahasia sambil pantau...
kymlove...
ayooo bik kasih tau kelakuan mencurigakan ninis biar mereka semakin waspada
Siti Hawa
lanjut thoor, klu bisa up yg banyak ya, ku sudah kasih Bintang 5
Siti Hawa
sang at bagus
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Kadek Sri
lanjut
Uthie
si Ninis makin kurang ajar 😡😡😡
Anitha
Ada udang di balik ba'wan kali yaaa Andri...

baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.

syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄
mery harwati
Andri Mahesa pengagum Levia secara diam² kah sebelum Levia nikah dengan Vandra? 🤔
kymlove...
ada apa dengan andri pak?? jahatkah??? atau apa??
Anitha
Wow kereeennnm Levia tambah Sukses tambah banyak ujiannya an si Ninis tambah iri saja
EVA OKTASARI
jangan-jangan andri ini mau deketin levia krn suka sama levia.
lin sya
siapa andri, apa dia berbahaya?
Uthie
lanjuuttttt
Elina thea
levia kamu harus hati-hati karna semakin kamu sukses,si Ninis malah tambah iri...jadi harus tetap waspada...
abimasta
andri akan mendekati livia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!