yovada, seorang anak remaja yang memilik obsesi pada pengetahuan. ia tidak peduli dengan apapun, selama itu menambah pengetahuannya maka akan ia lakukan. ia di kenal debagai seseorang yang gila dengan ilmu dan tidak mau menjalin sebuah hubungan karena ia tahu bahwa hubungan tanpa memahami pasangan adalah sebuah penyiksaan. ia yakin bahwa tiada yang memahami perasaannya hingha ia bertemu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman. sebuah rasa yang membuatnya bingung dengan jalannya. sebuah lembaran baru yang ia buka demi cerita baru dalam hidupnya. apa yang terjadi selanjutnya dan apa semua akan berakhi karena ego atau malah luluh karena sebuah rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najmun_huda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CP: 5 kaki kursi
“apa yang terjadi kemarin di perpustakaan?” Ucap Kesya kepada Yovada dengan suara yang begitu datar namun ada rasa penasaran yang kuat darinya.
“‘Bukan apa-apa, tidak perlu khawatir denganku. Khawatirkan saja dirimu. Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Ucap Yovada dengan dingin kepada Kesya. Yovada yang merasa dirinya sudah selesai dan tidak memiliki urusan lagi dengan Kesya. Di saat dirinya melangkah menjauh, seketika Kesya mengejar dan tidak sengaja tersandung kaki kursi yang ia duduki tadi. Ia tidak sengaja mendorong punggung Yovada yang membuat mereka terjatuh dan Kesya menindih Yovada. Yovada yang merasa punggungnya di sentuh seseorang langsung merasakan nyeri yang luar biasa dan kemudian terjatuh dan dirinya di tindih dengan keras yang membuat Yovada harus menahan jeritan sakitnya begitu kuat. Ketika Kesya menyadari itu, ia langsung bangkit dan melihat Yovada yang tidak bergerak. Ia membalik wajah Yovada dan terkejut karena wajahnya berubah pucat dengan keringat dingin.
Kesya langsung bangkit, wajahnya tetap dingin namun dirinya tidak pergi menjauh. Alih-alih pergi, dirinya memilih berdiam diri dan berusaha menolong Yovada. Ia membuat Yovada duduk dan bersandar di dinding. Ia memanggil petugas UKS dan langsung membawa Yovada ke ruangan UKS. Di sana, mereka mengetahui bahwa Yovada mengalami benturan keras di kepala dan juga punggung yang membuat jika seseorang menyentuh punggungnya maka akan berakibat ia merasakan rasa sakit yang begitu besar.
Di UKS, punggung Yovada di cek dan mereka menemukan bekas memar berwarna ungu pekat seperti bengkak karena benturan benda keras. Para tim UKS juga memeriksa bagian lain dan menemukan benjolan di kepala Yovada. Benjolan itu terbentuk karena benturan berkali kali di titik yang sama. Keadaan Yovada memang mengerikan bahkan Tim UKS pun kebingungan dengan hal ini.
“astaga... apa hanya karena tertimpa oleh gadis yang super dingin bisa membuat seorang jenius Yovada menjadi kesakitan parah?” Ucap salah satu Pria yang berada di sana yang bertugas menjadi penjaga UKS.
“sudah aku duga wanita itu berbahaya. bagaimana tidak, kalian lihat kan? Ia baru berulah dan seseorang sejenius Yovada saja bisa sakit segila ini. Pasti ini ada ilmu sihir yang membuatnya begitu mengerikan” Ucap seorang wanita yang menjadi penjaga UKS di sana. Wajahnya begitu tidak senang dengan wanita itu seakan ada sesuatu yang membuatnya merasa jengkel dengan wanita itu.
“sudahlah, kalian ini bukannya menolong atau memberi solusi malah menjelekkan orang lain. Itu bukan hal yang harus kita lakukan oke, tugas kita adalah bagaimana menyembuhkan atau setidaknya membuatnya dasar terlebih dahulu.” Ucap seorang petugas kesehatan dari luar yang memang menangani orang yang masuk UKS tersebut.
“namun di pikir lagi, Yovada tidak seburuk itu. Maksud aku coba lihat ia ketika sedang tertidur. Ia mirip seperti seseorang yang tidak berdaya.” Ucap seorang wanita tadi yang menjelekkan Kesya. Wanita itu bernama Aulia dan pria yang mendampinginya tadi adalah Zidan, sedangkan pria yang memang bertugas sebagai tim kesehatan adalah Zaid. mereka berusaha menangani Yovada agar dirinya bisa sadar dan kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun membangunkannya cukuplah sulit karena ada banyak bagian yang memang mengalami cedera parah. Mereka berusaha dari memberikannya obat oles seperti balsam dengan harapan memarnya cukup membaik namun semuanya sia-sia. Memarnya masih terlihat jelas bahkan setelah beberapa saat, Aulia yang melihat itu langsung berusaha membangunkannya dengan menggoyangkan tubuhnya namun tetap saja tidak bisa.
“Yovada belum bangun, apa ini pertanda buruk? Dipikir lagi memang cedera yang di alami cukup parah namun bagaimana bisa Kesya membuat Yovada babak belur seperti ini?” Ucap Zidan dengan penasaran.
“apakah kita bisa biarkan ia pingsan seperti ini saja? Ia cukup manis dan mungkin aku akan sering menjenguknya di sini” Ucap Aulia dengan penuh perhatian kepada Yovada. Namun tetap saja dirinya merasa kesal dengan Kesya.
“ini UKS bukan rumah sakit yang bisa rawat sambil menginap. Kita tidak bisa membiarkannya di sini terlalu lama. Jam 3 siang nanti seolah ini akan sepi dan kita tidak mungkin berada di sini sampai pagi.” Ucap Zaid dengan pusing karena Yovada tidak bisa di sadarkan. Akhirnya mereka akan menjelaskan pada Kesya tentang Yovada.
Aulia keluar dari ruangan UKS dan menemui Kesya. Kesya yang melihat itu hanya diam dan menatap Aulia dengan dingin. Dirinya seperti menegaskan bahwa ia tidak akan takut pada siapa pun. Kesya yang melihat Aulia seperti tidak memberikan dirinya jawaban pasti. Dirinya langsung berusa memasuki ruangan UKS namun dirinya malah di halangi Aulia untuk masuk. Tatapannya berubah yang dari dingin ke tatapan seperti merasa terancam. Mereka malah marah di depan UKS.
“apa yang kamu lakukan? Aku ingin bertemu dengan Yovada. Jangan mengalangi aku.” Ucap Kesya kepada Aulia dengan nada datar.
“hey, mana sopan santunmu manusia aneh. Jika kamu ingin bertemu dengan Yovada maka memohon lah kepadaku dengan bersundut, maka akan aku berikan jalan untuk bertemu dengannya.” Ucap Aulia pada Kesya dengan nada yang seperti merendahkan.
Kesya yang mendengar itu langsung tersenyum kecil dan kemudian ia langsung berbalik arah seperti tidak peduli dengan orang yang meremehkannya. Auliya yang mendengar itu langsung kesal dengan tindakan yang di lakukan Kesya. Ia langsung menarik tangan Kesya dan kemudian memaksanya untuk bersujud di hadapannya. Namun Kesya hanya terdiam dan tidak menanggapi apa yang di katakan oleh Aulia. Aulia ingin menarik rambut Kesya namun sebelum ia melakukannya, Zaid keluar dan melerai mereka.
“sudahlah... kalian bukannya menolong malah sibuk debat. Kesya, kamu masuk dan ceritakan kenapa Yovada bisa menjadi seperti ini.” Ucap Zaid dengan nada marah dan kesal karena di saat seperti mereka malah melakukan sesuatu yang tidak berguna. Zaid memberikan jalan kepada Kesya dan kemudian Kesya memasuki ruangan UKS.
Di dalam UKS, Kesya sedang duduk di hadapan Zidan, Zaid, dan Aulia yang dengan wajah tidak senang tentunya. Di sana Kesya menjelaskan bahwa dirinya hanya menahan Yovada namun ketika ia ingin berjalan mengejarnya, ia malah tersandung kaki kursi dan akhirnya ia terjatuh dan menimpa Yovada ari belakang.
Mendengar hal itu, Aulia langsung marah dan berbicara dengan kencang “sekarang kalian melihatnya kan? Sudah jelas ia bersalah dan ia harus di hukum atas hal ini.” Ucapnya dengan keras seakan ia yakin bahwa Kesya adalah pelaku yang menyebabkan Yovada harus merasakan sakit ini.
“sudahlah, di sini kita mencari titik terang bukan mengadili siapa yang bersalah. Lagi pula bagaimana bisa seorang wanita menimpa seorang pria ini dan membuat punggungnya memar di beberapa titik. Sudah jelas memar ini tidak terbentuk sekarang.” Ucap Zidan kepada Aulia dengan nada yang meragukan Aulia.
“Zidan benar, mana mungkin ia mendapat memar yang sebesar ini hanya karena di timpa seorang wanita. Sebaiknya kita alihkan ke penanganan yang lebih serius dari pada ini.” Ucap Zaid kepada mereka.
Di sisi lain, Yovada masuk ke bagian alam bawah sadarnya. Di sana ia melayang seakan tiada daratan yang dapat di pijak. Sekelilingnya gelap dan tidak dapat melihat apa-apa. Perlahan ia membuka matanya dan kemudian ia menyadari bahwa dirinya sedang tenggelam. Ia menatap langit dan melihat bahwa ada cahaya di atasnya, seperti cahaya matahari dari bawah air. Ia mencoba menggapainya namun dirinya semakin tenggelam. Ia terus berusaha dan mencoba berenang ke atas namun ia semakin cepat turun ke bawah. ia terus mencobanya dan ia terjatuh ke dasar lautan itu. Kini semuanya hampa dan tidak ada apa-apa yang dapat di lihat. Ia menatap ke atas dengan penuh kehampaan. Dalam hatinya ia hanya bisa berkata dengan penuh keyakinan dan harapan
“semua.... semua akan... baik-baik saja”
Ia membuka mata dan dirinya melihat bahwa kini tiada air di sekitarnya namun ia malah melihat dirinya ketika masih kecil. Ia bangkit dan berjalan menuju anak kecil itu. Ketika ia mau menyentuhnya, anak kecil itu langsung berlari dan kemudian Yovada mengejarnya untuk berbicara dengannya. Namun anak itu terlalu cepat hingga ia kehilangan jejaknya. Ketika kini ia sendirian dalam ruangan gelap. Sebuah cahaya muncul di salah satu tempat. Cahaya itu menyinari seorang anak dengan orang tuanya. Ketika anak kecil itu mau bicara, ia malah di abaikan dan di marahi oleh orang tuanya. Ayahnya sibuk dengan telepon dan ibunya sibuk di dapur tanpa memedulikan anak keci itu. Yovada yang mendengar itu langsung berlari sambil menegur mereka. Namun sama saja, cahaya itu kembali padam dan mereka menghilang di antara kegelapan
Cahaya itu muncul kembali dan anak itu menangis sambil memeluk lututnya. Yovada yang melihat itu langsung kesal dan marah. Ia berjalan dan menemui anak itu dan kemudian menegurnya.
“hey anak, aku tahu itu menyakitkan dan menyebalkan namun hidup tidak seburuk itu bukan. Aku ada di sini kok” Ucap Yovada kepada anak itu sambil mengelus kepalanya dengan lembut. Namun ketika ia mengelus kepala anak itu, ia mengangkat kepalanya dan terlihat luka memar di wajahnya. Pipi kirinya membengkak karena pukulan dan kanannya merah karena pukulan keras dari sebuah tamparan. Yovada yang melihat itu langsung merasa kesal dan merasa ada sesuatu yang mau meledak dari dalam dirinya.
Anak itu menatap Yovada dengan ketakutan dan kemudian ia memeluk Yovada dengan ketakutan dan juga mulai menangis sambil berkata dengan pelan.
“kakak... aku takut... tolong aku... aku janji akan menjadi lebih baik...”
Mendengar kalimat itu, Yovada langsung merasakan sesuatu ingin meledak dalam dirinya. Seketika rasa itu menjadi hampa dan penuh sebuah dendam. Air matanya mulai keluar dan bercucuran di hadapan anak itu. Ia memeluk anak itu dengan penuh rasa ketakutan yang sama pula. Dengan sadar ia mengatakan dengan pelan ke anak itu.
“jangan khawatir... aku janji... aku bersumpah... aku tidak akan merasakan ketakutan itu lagi... aku membenci mereka... kini kamu aman bersamaku... kamu adalah aku...” Ucap Yovada dengan penuh ketakutan dan juga penuh isak tangis.