NovelToon NovelToon
Second Half: Velix The Next Legend

Second Half: Velix The Next Legend

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Wawan wan

Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.

"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix

bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5: Batas Fisik dan Poin Pertama

BAB 5: Batas Fisik dan Poin Pertama

Napas Velix makin memburu, memutus udara sore yang kian mendingin. Di sudut pandangnya, indikator Physical Tolerance dari Sistem berkedip merah secara agresif, menyentuh angka 70%. Otot-otot paha dan betisnya terasa kaku, berdenyut protes akibat beban latihan lima kilometer yang belum sempat dipulihkan.

Namun, sepasang mata remaja berusia 14 tahun itu tetap menatap lurus ke depan dengan ketajaman sedingin es milik seorang pria dewasa.

Skor kini imbang dua-dua. Danu berhasil mencetak gol kedua setelah memanfaatkan keunggulan fisiknya untuk menabrak Velix hingga terjatuh. Sementara Velix membalas lewat gol cerdik memanipulasi ruang—memanfaatkan sifat Danu yang emosional dan terburu-buru untuk melakukan fake shot sebelum menceploskan bola ke gawang sandal.

Kini, siapa pun yang mencetak gol berikutnya akan keluar sebagai pemenang.

"Napas lu udah mau habis gitu, Vel!" ejek Danu, meski dahinya sendiri sudah dibanjiri peluh. Sifat kompetitifnya sebagai kapten sekolah tercoreng karena dipaksa bermain hingga babak penentuan oleh anak yang biasanya terabaikan. "Gol terakhir ini bakal jadi milik gua!"

Danu menguasai bola di tengah lapangan untuk serangan penentu. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini dia tidak mencoba melakukan trik pamer. Danu menurunkan pusat gravitasinya, menggiring bola dengan tusukan-tusukan pendek yang rapat—gaya bermain serius yang dia pelajari di akademi sepak bola.

Velix mundur selangkah demi selangkah, menjaga jarak aman. Pemahaman taktis masa depannya memperingatkan bahwa menerjang Danu dalam kondisi fisik sekarang sama saja dengan bunuh diri.

‘Sistem, hitung sisa energiku untuk satu kali akselerasi maksimal,’ instruksi Velix dalam hati, fokusnya terkunci total pada pergerakan bola.

[Kalkulasi Sistem: Energi Anda hanya tersisa untuk 3 detik akselerasi penuh sebelum mengalami kram otot.]

‘Tiga detik... itu sudah lebih dari cukup.’

Danu tiba-tiba melakukan gerakan memotong ke dalam (cut-inside), mencoba memanfaatkan sisi kiri Velix yang tampak longgar. Dia mendorong bola sedikit lebih kencang, bersiap melepaskan tembakan keras.

Pada detik itulah, ketenangan sedingin es Velix bekerja. Dia tidak mengejar bola, melainkan sengaja melempar tubuhnya ke depan jalur lari Danu untuk melakukan block tackle bersih, menahan bola tepat di bawah kaki Danu menggunakan sol sepatunya.

Dug!

Benturan fisik tak terhindarkan. Danu yang tidak siap dengan adangan sekeras itu kehilangan keseimbangan dan terhuyung jatuh ke rumput.

[Akselerasi diaktifkan: 3... 2...]

Velix tidak membuang waktu. Sebelum Danu sempat bangkit, Velix menyabet bola liar tersebut dengan ujung kakinya. Sisa waktu dua detik akselerasi dia gunakan untuk menyeret kakinya yang sudah mati rasa, menggiring bola mendekati gawang sandal Danu yang kosong melompong.

Satu langkah. Dua langkah.

"Velix, jangan harap!" teriak salah satu teman Danu dari pinggir lapangan.

Tepat di detik ketiga, otot betis kanan Velix menegang hebat—kram mendadak melumpuhkannya. Rasa sakit yang menusuk membuat tubuhnya ambruk ke tanah. Namun, sepersekian detik sebelum tubuhnya menghantam bumi, dengan sisa kesadaran dan kontrol yang luar biasa, Velix menjulurkan ujung jempol kakinya, menyontek bola dengan pelan.

Bola karet murah itu menggelinding pelan, memantul-mantul di atas rumput liar, sebelum akhirnya melewati garis di antara dua pasang sandal jepit hitam.

Gol. Tiga-dua.

[Misi Sampingan Selesai!]

[Anda memenangkan duel 1v1 melawan Danu.]

[Hadiah Dikirimkan: 10 System Points (SP) & +1.0 Kekuatan (Strength).]

[Total SP Anda saat ini: 17 SP.]

Velix berbaring telentang di atas tanah, memegangi betis kanannya yang mengeras karena kram. Rasa sakitnya luar biasa, tetapi sudut bibirnya justru terangkat lebar. Dia tertawa renyah, menatap langit Jakarta yang kini sudah berubah menjadi ungu gelap. Sisi antusiasnya sebagai pencinta sepak bola meledak penuh kepuasan. Dia berhasil menang, murni dengan otak dan efisiensi, mengalahkan keterbatasan fisiknya sendiri.

Suasana di sekitar lapangan mendadak sunyi senyap. Teman-teman Danu tidak berani bersuara, sementara Danu sendiri perlahan bangkit berdiri dengan lutut yang kotor oleh tanah. Wajah kapten SMP itu tampak syok, terpukul, dan dipenuhi rasa tidak percaya. Dia dikalahkan oleh Velix.

Danu berjalan mendekati Velix yang masih meringis memegangi kakinya. Untuk beberapa saat, Danu hanya diam menatap lawannya. Ketenangan dewasa yang dipancarkan Velix sejak awal pertandingan membuat emosi kekanak-kanakan Danu perlahan luntur, digantikan oleh rasa segan yang aneh.

"Lu... main pake otak dari tadi, ya?" bisik Danu, suaranya agak bergetar. Dia mengulurkan tangannya ke arah Velix. "Gua kalah. Sesuai janji, gua nggak bakal ganggu lu di seleksi tim sekolah nanti."

Velix menatap uluran tangan remaja itu. Sifat hangatnya di luar lapangan kembali muncul. Dia menyambut tangan Danu, membiarkan dirinya dibantu berdiri sambil tertatih-tatih.

"Nggak usah dipikirin soal bersihin sepatu," kata Velix dengan senyuman ramah yang menenangkan. "Gua cuma lagi beruntung nemu celah tadi. Makasih buat pertandingannya, Dan. Badan gua hampir remuk."

Danu tertegun melihat kebesaran hati Velix yang sama sekali tidak sombong setelah menang. Rasa hormat langsung tumbuh di hati sang kapten. "Lu... beda banget sama yang dulu, Vel. Sampai ketemu di seleksi sekolah minggu depan. Jangan sampai lu nggak lolos."

Setelah Danu dan teman-temannya pamit dengan sikap yang jauh lebih sopan, Velix berjalan pincang menuju pinggir lapangan untuk mengambil bola karetnya.

Di bawah remang lampu jalan kompleks yang baru menyala, Velix membuka panel statusnya yang baru saja diperbarui oleh Sistem.

[Peningkatan Atribut Terdeteksi:]

- Kekuatan (Strength): 38 -> 39 / 100

[System Points (SP): 17 / 50 (Menuju target Tier Perunggu)]

"Satu langkah lagi," gumam Velix dengan mata berkilat penuh tekad. Jalur menuju Manchester City dan Etihad Stadium baru saja terbuka satu senti, dan dia tidak akan membiarkan siapa pun menghentikannya.

1
Alia Chans
lanjut🌹✍️🤭
Wawan
Salam kenal buat Velix✍️
aldo
seru sekali 🙏🙏🙏🙏
aldo
ayo lanjut author 🙏🙏🙏🙏
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏
NoxVeil
Ayok like dan komen guys biar tambah smngt up nya💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!