kematian membuat dia hancur, namun kematian orang yang disayang juga yang membuat dirinya bangkit.
Berjuang dan bertarung menjadi jalan hidupnya yang baru, jalan hidup menuju keabadian. Anak polos yang menjadi harapan bagi semua manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartimbulSiregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Jaka Srenggi menggerakkan seluruh tubuhnya, rasa penatnya hilang, biasanya pagi dia akan merasakan sakit di seluruh tubuhnya, tapi kali ini berbeda, Jaka Srenggi merasa memiliki semangat yang besar, dan memiliki perasaan yang berbeda.
"Nanti malam aku akan mencoba tehnik lain." gumam Jaka Srenggi.
"Ibu!!" teriak Jaka Srenggi.
Tak ada jawaban, Jaka Srenggi pergi ke dapur dan makan pagi seperti biasa.
"Aku akan ke hutan mencari kayu bakar, sepertinya ibu tak sadar jika kayu bakar telah habis." ucap Jaka Srenggi saat melihat persediaan kayu bakar mereka telah habis.
Selesai makan Jaka Srenggi pergi ke hutan, dengan sebilah parang besar dia berjalan sendirian tanpa memiliki rasa takut, karena dia sangat mengenal hutan itu.
"Apa itu??" gumam Jaka Srenggi saat melihat satu sosok putih berbaring di tanah.
"Apa dia hantu? Jika dia hantu kenapa hantu berbaring di hutan??" gumam berpikir sendirian.
Jaka Srenggi memberanikan diri untuk mendekati sosok putih yang berbaring itu.
"Air!!" desis sosok itu pelan.
"Kau haus kakek tua??"
Jaka Srenggi membuka bekal minumnya dan memberikannya dengan meneteskan ke mulut sosok berbaju putih yang sudah ubanan.
Setelah minum beberapa tetes sosok tua itu membuka matanya.
"Apa kakek lapar??" tanya Jaka Srenggi
Kakek tua tak menjawab tapi menatap Jaka Srenggi dengan tatapan tajam, tatapan yang penuh dengan intimidasi untuk membunuh.
Jiwa polos Jaka Srenggi tak menyadarinya, malah dia membuka bekal makan siangnya.
"Ini kek, makanlah. Aku tahu kau lapar," ucap Jaka Srenggi.
Kakek tua itu mencoba untuk duduk, tapi karena kondisinya yang lemas dia sangat kepayahan, Jaka Srenggi membantu hingga kakek itu duduk dan bersandar di sebatang pohon.
"Makanlah kek!!" ucap Jaka Srenggi.
Kakek tua itu memandang makanan di depan nya dengan penuh kecurigaan.
"Kenapa kek? Apa kakek takut aku racuni??"
Hahahaha!!
Jaka Srenggi memakan bekalnya untuk meyakinkan kakek tua itu.
Kakek tua itu menunggu beberapa saat, setelah merasa bahwa Jaka Srenggi tak mengalami apa-apa setelah makan, kakek tua itu pun makan dengan lahapnya.
"Pelan-pelan saja kek, ini minum dulu." kata Jaka Srenggi geli karena melihat kakek tua itu makan sangat cepat.
Kakek tua itu merasa sangat malu.
"Seandainya orang lain, sudah aku pastikan kalau kepalanya terlepas dari tubuhnya, tapi anak ini lain! Dia sangat polos dan tak tahu dengan seni silat. Sungguh percuma mengeluarkan tenaga membunuhnya" kata kakek tua itu dalam hatinya.
"Silahkan kakek lanjutkan makan kakek, aku akan mengumpulkan kayu bakar, Aku juga harus cepat pulang, aku tak mau kelaparan seperti kakek!" ledek Jaka Srenggi.
Kakek tua itu merah padam menahan amarah dan rasa malu, tapi belum sempat dia mengeluarkan amarahnya Jaka Srenggi sudah meninggalkannya.
"Dasar bocah tak tahu diri, jika saja aku mau kau sudah mampus!"
Kakek itu bersungut-sungut sendiri karena menerima ledekan dari anak kecil. Selesai makan kakek itu duduk dalam posisi bersila, kakek itu seperti nya sedang memulihkan tenaga dalam nya.
Bruukkkkk!!
Suara kayu jatuh mengagetkan kakek tua itu, dia memang mendengar suara tapi tetap saja dia kaget karena kayu itu jatuh tak jauh dari tempat dia bersila.
"Kakek sudah baikan??" tanya Jaka Srenggi berbicara sebelum kakek tua itu bicara.
Hhhmmmm!!
"Bocah sialan!" maki kakek itu dalam hatinya. sungguh dia tak percaya jika anak kecil di depannya tak menghormatinya.
"Apa itu semua kayu yang akan kau bawa??" tunjuk kakek itu ke arah kayu bakar yang sudah dikumpulkan oleh Jaka Srenggi.
"Iya! kenapa kek??" tanya Jaka merasa heran dengan pertanyaan itu.
"Tidak ada! Namamu siapa??" tanya kakek tua itu.
"Jaka Srenggi kek, aku penduduk kota Bangau."
Kakek tua itu memegang pergelangan tangan Jaka Srenggi.
"Sangat mentah, dan belum memiliki dasar bela diri." ucap kakek tua itu.
"Apa yang mentah kek? Kayu bakarku itu sudah kering kek," kata Jaka Srenggi dan menunjuk kearah kayu bakar yang dia bawa.
Kakek tua itu rasanya ingin tertawa sekeras kerasnya karena jiwa polos dari Jaka Srenggi.
"Apa kau mau jadi murid ku??" tanya kakek tua itu. Entah mengapa kakek merasa sangat tertarik pada Jaka Srenggi
Kakek tua itu dalam dunia persilatan di kenal dengan julukan Petapa muka dua. julukan itu bukan tanpa sebab, itu karena kakek itu orangnya uring-uringan, tak jelas dia golongan putih atau golongan hitam.
Kadang dia akan membunuh orang dari golongan putih, tapi dia juga bisa dengan mudah membunuh para golongan hitam, baginya kalau dia tak suka maka orang itu tak pantas hidup di bumi.
"Murid? Murid apa kek??" tanya Jaka Srenggi.
"Yah murid! aku akan mendidik mu menjadi orang yang memiliki kemampuan berkelahi"
"Berkelahi? Aku tak mau berkelahi kek! Aku sudah puas dengan hidup ku yang sekarang. Aku tak mau!" tolak Jaka Srenggi
Petapa muka dua kaget mendengar penolakan Jaka Srenggi, selama ini belum pernah ada orang yang menolaknya, lebih tepatnya dia yang selalu menolak orang yang ingin berguru kepadanya.
Wajahnya sangat kecewa karena penolakan dari Jaka Srenggi.
"Apa kau yakin tak mau jadi murid ku bocah??" tanya Petapa muka dua tak percaya.
"Bukan hanya yakin, tapi sangat yakin kek. Aku tak ingin orang yang pandai berkelahi,"
"Baiklah, tapi aku tak bisa kalau tak membalas budi mu. Apa yang bisa aku lakukan untukmu??" tanya Petapa muka dua.
"Tak perlu kakek merasa hutang budi padaku, itu sudah kewajiban ku membantu manusia lain." kata Jaka Srenggi
"Tapi!!"
"Tidak ada tapi tapi kek, sudah hampir siang kek, aku harus kembali. Aku tak mau seperti kakek, kelaparan dan tidur memeluk rumput," ledek Jaka Srenggi.
Pletokkkk!!
Kepala Jaka Srenggi kena pukulan kecil dari tangan Petapa muka dua.
"Coba kau ulangi lagi?? Kau ini! aku ini lebih tua darimu, dan kau harus menghormati aku." kata Petapa muka dua pura-pura marah.
Melihat kemarahan kakek tua itu wajah Jaka Srenggi menjadi pucat.
"Maafkan aku kek, maafkan aku yang tak menghormatimu. Sungguh, aku hanya ingin bercanda saja." kata Jaka Srenggi dengan wajah penuh rasa bersalah.
Hahahaha!!
"Kau memang unik bocah. Seharusnya kau memang jadi murid ku," kata Petapa muka dua.
Tuk ... Tuk ... tuk!!
Kakek tua itu memberikan totokan di tubuh Jaka Srenggi.
"Apa yang kakek lakukan??" tanya Jaka Srenggi
"Kau akan mengetahuinya nanti!"
Jaka Srenggi tak menyadari jika Petapa muka dua membuka semua aliran urat dalam tubuhnya, dan itu membuka potensinya menjadi seorang pendekar.
"Bocah! aku akan menunggumu di gunung kemelut. Kapanpun kau ingin menjadi pendekar? Datanglah kepadaku. Aku akan selalu menerima mu menjadi murid ku. Ingat! gunung kemelut!!" ucap Petapa muka dua. Setelah mengucapkan kata-kata itu Petapa muka dua hilang dari pandangan Jaka Srenggi.
"Pendekar? Gunung kemelut???"