"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"
"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."
"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."
Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.
Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.
Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.
Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.
Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.
Namun harapan itu datang bersama ketakutan.
Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.
Dan saat hari itu tiba...
Akankah wanita itu tetap memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 ~ Bekas Luka yang Tak Kuingat
"Kak. Kenapa di sini? Jangan bilang kau diusir kakak ipar?"
Juan yang baru keluar ruangan untuk menenangkan hati menatap ke sumber suara. Terlihat seorang gadis muda nan cantik berdiri seorang diri di sana.
"Kau kenapa ke sini?" tanya pria itu sembari mengerutkan kening.
"Kak, kau memang lebih tua. Tapi bertanya seperti itu bukankah enggak sopan? Tentu saja aku datang untuk jenguk kakak ipar baikku itu."
"Sejak kapan kau dekat dengannya?"
"Haish, bagaimana pun dia tetap istrimu, kakak iparku. Aku datang menjenguk memangnya salah? Sudah! Ayo kita masuk."
Gadis itu mendorong kursi roda Juan, memaksa pria itu kembali masuk ke dalam kamar rawat.
"Kak, aku mau pipis. Bisa ...." Perkataan Ailin tertelan saat melihat sang suami tidak kembali sendiri. Wanita itu menatap gadis yang berdiri di belakang Juan, cantik, manis, dan masih muda.
"Dia... siapa?"
"Aku? Kau pura-pura enggak kenal aku lagi? Huh, makin menyebalkan saja!" Gadis itu tertawa tidak percaya.
"Dia siapa? Jangan bilang, kamu punya istri lain?" Ailin bertanya dengan tatapan menuduh, membuat Juan entah kenapa sedikit panik.
"Bukan ...."
"Kau gila, ya? Aku adik iparmu, Lulu Xie. Kalau mau pura-pura juga yang masuk akal sedikit dong!" Lulu membalas sewot, membuat sang kakak memukul lengannya kuat.
"Kak!"
"Jadi kamu adiknya kak Juan? Aku baru tahu Kakak punya adik."
"Heh, kau ...."
"Lulu!"
"Kak, dia ...."
"Antarin kakak iparmu ke toilet!"
"Apa? Nggak mau!"
"Kalau kakak bisa antar, kakak nggak akan suruh kamu." Juan berkata dengan nada memelan hingga membuat sang adik merasa bersalah.
"Ck, menyusahkan saja! Seharusnya aku enggak datang." Gadis itu mendumel sendiri, namun saat merasakan tatapan tak biasa dari sang kakak ia menoleh dengan takut.
"Oke, oke. Aku bantu." Lulu berkata dengan tawa kaku. Ia akan menurut kali ini , setidaknya demi uang jajan dari sang kakak.
Gadis itu lalu mendekat ke arah brankar, berdiri di samping dan melihat Ailin dengan datar. "Ayo!"
"Mendekatlah! Aku kesusahan turun."
"Heh, kau jangan manja, deh!"
"Lulu! Bantu kakak iparmu turun!" titah Juan yang sudah menatap kertas-kertas dokumen. Sementara Lulu mengeraskan rahang, kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Dengan enggan ia mendekati Ailin yang langsung mengulurkan tangan. Namun meski tidak rela, gadis itu tetap membantu dengan telaten. Mengiring Ailin dengan pelan hingga sampai ke dalam toilet.
"Kau bisa sendiri, kan?" tanya Lulu dengan ketus. Ailin mengangguk dan tersenyum tipis.
"Terima kasih," balas sang kakak ipar yang membuat Lulu tertegun. Kedua bola matanya membulat sempurna, tanpa membalas apa pun ia berjalan cepat pergi dari sana.
"Kak, dia kesambet, ya? Bisa-bisanya ucapin terima kasih." Lulu berkata dengan wajah yang masih syok. Gadis itu buru-buru mendekat dan duduk di samping Juan.
"Dia... hilang ingatan."
"What? Hilang ingatan? Semuanya?"
Juan menggeleng pelan. "Hanya sekitar lima tahunan."
"Berarti dia lupa kalau dia benci banget sama Kakak?" Lulu bertanya dengan penasaran yang dijawab anggukan pelan sang kakak.
"Pantas saja aku merasa aneh. Dia seperti cemburu padaku tadi. Ck, coba saja Kakak beritahu aku dari tadi. Setidaknya aku bisa pura-pura jadi pacar Kakak untuk mengerjainya. Ouchh, Kakk!" Lulu mengaduh sembari mengelus kepalanya yang habis ditabok map plastik keras.
"Kakak gitu banget sih sama adik sendiri."
"AKHHH!"
Juan yang acuh tak acuh pada sang adik langsung panik saat mendengar teriakan dari arah kamar mandi. Pria itu langsung menekan tuas kursi rodanya, bergerak cepat ke sana. Lulu juga mendekat, bukan karena peduli, tapi lebih ke penasaran.
Namun saat keduanya hampir mencapai toilet, pintu itu tiba-tiba terbuka. Ailin keluar dengan wajah tegang. Wanita itu langsung mengangkat piyama pasiennya.
"Ini apa? Kenapa aku punya bekas operasi seperti ini?" tanya Ailin sembari menunjuk sebuah garis samar di bawah perutnya.
Juan menghela napas lega. Pria itu mengira sang istri jatuh di kamar mandi, untung saja wanita itu keluar dalam keadaan baik-baik saja. Namun jarum infus di tangannya sepertinya tertarik, tampak sedikit darah muncul dari bawah plesternya.
"Ailin! Kenapa kamu ceroboh sekali?" geram Juan sembari menyentuh tangan sang istri. Pria itu berbalik, berniat untuk menekan bel perawat.
"Eh, Kak. Kau mau ke mana? Lebih baik Kakak langsung panggil saja, bisa saja belnya enggak terdengar."
"Tapi ...."
"Enggak papa, aku akan membantu kakak ipar kembali ke brankar. Kakak cepatlah pergi!"
Merasa perkataan sang adik ada benarnya, pria itu segera bergerak ke luar ruangan. Meninggalkan dua orang perempuan yang saling memandang itu.
"Kamu tahu ini kenapa? Seingat ku tubuhku mulus, apa ada yang diam-diam mengambil organ dalamku?" tanya Ailin bertubi, terlihat panik.
Namun Lulu tidak langsung menjawab. Gadis itu menatap bekas operasi itu selama beberapa detik sebelum mendongak untuk melihat wajah syok sang kakak ipar. Ekspresinya perlahan berubah aneh.
"Kau... beneran nggak ingat apa pun?"
.
.
.