Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.
Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SECANGKIR ROBUSTA
Waktu seolah melambat, menjadi hanya detak jantung Naya yang terdengar nyaring di telinganya. Zaki, dengan kemeja putih yang kini tampak sedikit kontras dengan bayang-bayang di sudut kafe, melangkah mendekat. Pemuda itu lalu meletakkan secangkir robusta panas di atas meja dengan gerakan yang tenang.
Namun, di balik ketenangannya, pikiran Zaki berkecamuk. Ia benar-benar tidak menyangka akan melihat gurunya di sini. Apakah ini sebuah kebetulan, atau... apakah Naya memang sengaja mencari tempat ia bekerja? Ada secercah keraguan yang sempat melintas di benaknya, namun melihat tatapan Naya yang tampak sama terkejutnya, ia menepis prasangka itu.
Sebaliknya, Naya masih terpaku. Pikirannya benar-benar kosong. Ia tidak memiliki firasat apa pun, tidak ada skenario di kepalanya bahwa Hana akan membawa mereka ke tempat kerja Zaki. Baginya, pertemuan ini adalah sebuah ketidaksengajaan yang terasa seperti dihantam badai mendadak di antara gemuruh luka yang tengah menyelimuti hatinya.
Tanpa banyak bicara, Zaki menarik kursi kayu di depan Naya, tepat di kursi yang baru saja ditinggalkan Hana lalu duduk dengan gestur yang penuh wibawa namun tetap menjaga etika.
"Saya tidak menyangka Ibu akan ada di sini," suara Zaki memecah keheningan, rendah namun jelas. Ia menatap Naya dalam-dalam, mencari jawaban dari ekspresi wajah gurunya yang masih terlihat pucat. "Apa Ibu... memang sedang mencari tempat ini?"
Naya menelan ludah, berusaha menyusun kepingan keberaniannya yang berserakan. Ia menatap cangkir kopi yang mengepulkan uap, lalu memberanikan diri menatap balik manik mata muridnya itu.
"Tidak, Zaki. Ini murni kebetulan," jawab Naya pelan, suaranya sedikit bergetar. "Sahabat Ibu yang memilih tempat ini. Ibu bahkan tidak tahu kalau kamu bekerja di sini sampai tadi Ibu melihatmu."
Zaki terdiam sejenak, mengamati kejujuran di balik sorot mata Naya. Suasana kafe yang semula riuh kini seolah menyusut, hanya menyisakan mereka berdua di tengah aroma kopi yang pekat dan rasa canggung yang kian mengental.
Ia mendesis pelan, sebuah helaan napas yang terdengar berat di tengah riuhnya suara mesin penggiling kopi. Jakunnya tampak bergoyang naik-turun, pertanda ia sedang berusaha mengendalikan gejolak di dadanya sendiri.
Tak lama, Zaki kembali menatap Naya dengan senyum tipis. Sebuah senyum yang bagi Naya justru terlihat manis, bahkan hampir terasa teduh di tengah kekacauan pikiran yang ia rasakan.
"Ibu tahu?" Kata Zaki menjeda kalimatnya, jemarinya mengetuk halus pinggiran cangkir robusta yang mengepul. "Orang-orang sering bilang kedai atau kafe ini adalah tempat pelarian. Tempat di mana aroma kopi yang pekat perlahan mengikis lelah, sedikit demi sedikit mengurai beban hidup yang tertumpuk di pundak."
Ia menatap Naya tepat di manik matanya, senyumnya kini menyimpan empati yang begitu tulus. "Seperti robusta ini, Bu. Pahitnya mungkin terasa menampar di awal, getirnya mengingatkan kita pada luka yang belum kering. Tapi, justru di sanalah letak keindahannya. Luka yang kita rasakan sekarang, seberat apa pun itu, adalah bagian dari proses pematangan diri. Sesuatu yang pahit memang perlu ada, agar saat manisnya kebahagiaan itu datang nanti, kita bisa benar-benar menghargai rasanya."
Naya terdiam membisu. Ia terpaku melihat Zaki yang ada di hadapannya saat ini. Sosok di depannya bukan lagi pemuda yang selalu menunduk sopan di hadapannya sebagai seorang siswa. Aura yang terpancar dari Zaki kini terasa begitu dewasa, sebuah perpaduan antara ketenangan seorang pria yang sedang mencoba menyusun kepingan hatinya, dan ketulusan seorang pelipur lara yang sedang berusaha meredam badai di dalam batin Naya.
Ya. Setiap kata yang meluncur dari bibir Zaki terasa meresap perlahan, meruntuhkan benteng pertahanan yang selama ini Naya bangun dengan susah payah. Dan kali ini, ia benar-benar merasa tersentuh. Bukan sebagai guru kepada muridnya yang pintar dan berprestasi, ataupun mampu bertutur kata sopan dan santun, melainkan sebagai dua manusia yang sama-sama tahu rasanya berjuang menghadapi luka yang tak terlihat.
"Pahitnya saja sudah membuatku gemetar, Zaki," bisik Naya akhirnya, suaranya parau. "Tapi mendengar itu darimu... rasanya sekarang sedikit lebih ringan."
Zaki tidak membalas dengan kata-kata, ia hanya mengangguk pelan.
"Ibu tak menyangka, kamu bisa bicara sedewasa ini," ucap Naya. Kejujuran itu lolos begitu saja, tanpa sempat ia saring. Ia membiarkan kalimatnya menggantung di udara, seiring dengan tatapannya yang mengunci gerak-gerik Zaki.
Ia memandang lurus, menelusuri tiap inci sorot mata pria itu, berusaha mencari setitik keraguan atau mungkin rasa canggung yang biasanya muncul saat seorang murid merasa 'dilihat' terlalu dalam oleh gurunya. Namun, kali ini Zaki tidak membuang muka. Ia justru membalas tatapan itu dengan ketenangan yang mengejutkan.
Bahunya yang bidang terlihat rileks di balik kemeja putih yang lengannya masih tergulung. Tidak ada gurat kemerahan karena malu atau sikap kikuk yang pernah Naya temui di sekolah. Yang tersisa hanyalah tatapan yang teduh, seolah ia sedang memegang kendali atas situasi yang justru membuat Naya merasa seperti murid yang sedang belajar memaknai kehidupan.
"Hidup tidak selalu memberi kita pilihan untuk tetap menjadi anak-anak, Bu," sahut Zaki dengan nada rendah yang menenangkan.
Ia membiarkan jeda sejenak, membiarkan kebisingan kafe seolah menjauh dari meja mereka. "Terkadang, pengalaman atau mungkin luka yang datang terlalu cepat bisa memaksa kita untuk mendewasa lebih awal. Saya rasa, kita berdua sedang berada di titik itu sekarang. Bukankah begitu, Bu?"
Kalimat Zaki seolah menjadi cermin bagi Naya. Ia tidak hanya sedang berbicara sebagai mantan siswanya, tapi sebagai seseorang yang benar-benar memahami gejolak batin yang sedang Naya alami.
Naya merasa tersudut, namun bukan oleh rasa tidak nyaman, melainkan oleh rasa kagum yang asing. Ia merasa lelaki di depannya ini tidak sedang berusaha menghiburnya dengan kata-kata manis, melainkan sedang berusaha berdiri di sampingnya dengan porsi yang setara.
Naya tak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, meresapi aroma kopi yang masih mengepul, merasa bahwa pertemuan ini mungkin adalah satu-satunya hal tak terduga yang ia butuhkan hari ini.
****
Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri