NovelToon NovelToon
Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Komedi
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.

━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Slamet bangun sebelum matahari penuh muncul.

Bukan karena rajin. Tapi karena tanah tidak seenak kasur dan punggungnya protes keras sejak subuh.

Dia duduk di depan tenda, mengusap muka, menatap kamp yang sudah mulai bergerak. Beberapa elf membawa tombak ke arah hutan — patroli pagi rupanya. Yang lain menyalakan api unggun yang semalam hampir padam.

Sihir terjemahan masih aktif. Dia bisa mendengar semuanya.

Sebagian besar obrolan mereka soal ransum, jadwal jaga, dan seorang komandan dari pos lain yang katanya galak. Tidak ada yang menyebut namanya.

Slamet berdiri, meregangkan punggung sampai berbunyi, lalu menatap sekeliling dengan satu pertanyaan sederhana di kepala.

Sarapan ada tidak ya.

Elf perempuan itu muncul dari balik tenda sebelah. Dia membawa dua mangkuk, menyodorkan satu ke Slamet tanpa kata-kata.

Slamet menerimanya.

Bubur lagi. Lebih encer dari kemarin. Tapi hangat.

"Makasih," katanya.

Elf itu mengangguk, lalu duduk di sebelahnya.

Mereka makan dalam diam selama beberapa waktu.

Setelah sarapan, elf perempuan itu memberinya tiga tugas.

Pertama, ambil air dari sungai dengan dua ember kayu yang diikat tali.

Kedua, bawa kayu bakar dari tumpukan di tepi kamp ke dekat api unggun utama.

Ketiga, bersihkan abu dari api unggun semalam.

Slamet menatap tiga tugas itu.

Lalu menatap elf perempuan itu.

"Ini bayarannya makan?"

"Kau menumpang di kamp kami."

"Iya."

"Maka kau bekerja."

Slamet berpikir sebentar.

"Masuk akal."

Dia mengambil ember dan mulai berjalan ke sungai.

Elf perempuan itu mengikutinya.

Bukan karena menemani. Lebih karena mengawasi, meski dia tidak mengatakannya secara langsung. Dia berjalan dua langkah di belakang, tombaknya tidak dipegang tapi posisinya mudah dijangkau.

Slamet tidak keberatan.

Di sungai, dia mengisi dua ember dengan gerakan yang tidak efisien sama sekali — terlalu penuh, terlalu berat, hampir tumpah dua kali sebelum dia menemukan ritme yang bisa dia pertahankan sampai kamp.

Elf itu menatap prosesnya tanpa komentar.

Di perjalanan kembali, dia akhirnya berbicara.

"Kau pernah melawan monster?"

Slamet berpikir sambil menjaga embernya tidak tumpah.

"Pernah."

"Menang?"

"Sering."

"Kau menggunakan sihir?"

"Nggak."

"Lalu bagaimana?"

Slamet berpikir.

"Biasanya musuhnya umur dua belas tahun."

Elf itu tidak langsung menjawab.

"Apa itu artinya?"

"Musuh gue rata-rata masih bocah."

"Kau melawan anak-anak?"

"Di game iya."

Elf itu terdiam.

"Game lagi," gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri.

"Iya."

"Kau sering membicarakan itu."

"Karena banyak yang bisa dijelasin pakai itu."

Elf perempuan itu tidak bertanya lagi sampai mereka kembali ke kamp.

Dari batang pohon besar di ketinggian, Aura menatap ke bawah dengan dagu bertumpu di atas tangan.

"Dia angkat air."

"A-Aku tahu," kata Mare di sebelahnya.

"Makhluk yang membuat predator level empat puluhan kabur... angkat air pakai ember kayu."

"Iya."

Aura mengernyitkan dahi.

"Ini sengaja."

Mare tidak langsung setuju. "Atau memang itu yang dia lakukan."

"Tidak mungkin."

"Kenapa tidak mungkin?"

"Karena tidak masuk akal."

Mare menatap Slamet yang sedang berjalan pelan-pelan menjaga ember tidak tumpah, sesekali miring ke kiri ketika salah satu embernya lebih berat.

"A-Ainz-sama pernah bilang," kata Mare pelan, "bahwa hal yang paling berbahaya adalah hal yang tidak bisa kita prediksi."

Aura diam sebentar.

"Kamu mau bilang dia tidak bisa diprediksi?"

"Aku mau bilang aku tidak tahu harus memprediksi apa."

Aura menatap Slamet lagi.

Dia hampir tersandung batu kecil. Nyaris tumpah. Lalu lanjut jalan seolah tidak terjadi apa-apa.

"...Frustrasi sekali," gumam Aura.

Siang harinya, komandan regu itu duduk di depan tenda komandonya dan membaca ulang catatannya dari kemarin.

Dari Indonesia. Tidak tahu lokasinya.

Datang sendiri. Karena perut sakit.

Joki rank. Bayaran tergantung.

Pernah bertarung ribuan kali. Sambil duduk. Pakai mage. Tapi tidak bisa sihir.

Dia menutup buku catatannya.

Lalu membukanya lagi.

Dibaca ulang dari awal.

Hasilnya sama.

Dia menghela napas, lalu menatap Slamet yang sedang membersihkan abu dari api unggun dengan ekspresi orang yang sedang melakukan sesuatu yang tidak terlalu dia sukai tapi juga tidak cukup benci untuk dikeluhkan.

Tidak terlihat kuat. Tidak terlihat berbahaya. Tidak terlihat berbohong.

Semua jawabannya kemarin terdengar jujur. Itu masalahnya.

Karena kalau dia berbohong, komandan itu tahu apa yang harus dicari.

Tapi orang yang menjawab jujur dengan jawaban yang tidak masuk akal adalah masalah yang berbeda.

Dia belum pernah menghadapi situasi seperti itu sebelumnya.

Sore menjelang senja, elf perempuan itu duduk di sebelah Slamet di luar kamp, di tepi padang rumput yang menghadap ke barat.

Sihir terjemahan sudah mulai melemah. Kadang ada jeda kecil antara kata yang diucapkan dan artinya yang sampai ke kepala.

Mereka berdua tahu waktunya tinggal sedikit.

"Kau tidak takut mati?"

Slamet berpikir sebentar.

"Takut lah."

"Kalau begitu kenapa kau sering membicarakannya dengan santai?"

"Habit."

"Habit?"

"Kebiasaan. Di tempat gue banyak cerita tentang itu. Game, anime, novel."

Elf itu tidak mengerti setengah kata yang dia ucapkan. Tapi dia tetap mendengarkan.

"Kalau di game mati ya tinggal hidup lagi."

Hening sebentar.

"Hidup lagi?"

"Respawn."

"Itu sihir?"

"Bukan."

"Lalu apa?"

"Game."

Elf itu menatap dua bulan yang mulai naik di langit sore.

Slamet juga menatapnya.

"Walaupun di sini kayaknya nggak bisa sih."

Tidak ada yang mengomentari kalimat itu.

Angin lewat.

Api unggun di belakang mereka mulai dinyalakan untuk malam.

Beberapa detik kemudian, sihir terjemahan habis sepenuhnya.

Elf perempuan itu mengatakan sesuatu.

Slamet tidak mengerti lagi.

Dia hanya mengangguk.

Elf itu balas mengangguk.

Mereka duduk sebentar lagi sebelum keduanya berdiri dan kembali ke kamp masing-masing.

Malam itu laporan naik ke Ainz.

"Tidak ada insiden hari ini, Ainz-sama," kata Aura. "Dia bekerja di kamp. Angkat air, bawa kayu, bersihkan api unggun."

Ainz tidak merespons.

"Percakapannya dengan elf masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang jelas."

"Ada informasi baru?"

Aura berhenti sebentar.

"Dia menyebut sesuatu."

"Apa?"

"Respawn."

Ainz tidak bersuara.

"Dalam konteks apa?"

"Dia mengatakan di tempat asalnya, kalau mati bisa hidup lagi. Lalu mengatakan di sini mungkin tidak bisa."

Hening yang cukup panjang.

"...Itu yang dia katakan?"

"Ya, Ainz-sama."

Ainz menyilangkan jari-jari tulangnya.

Respawn.

Satu kata. Tapi bukan kata yang dikenal di New World. Bukan istilah sihir, bukan wild magic, bukan terminologi apapun yang dipakai makhluk hidup di sini.

Satu-satunya tempat dia pernah mendengar kata itu digunakan secara natural — tanpa penjelasan, tanpa konteks tambahan, seolah semua orang seharusnya tahu artinya...

Adalah YGGDRASIL.

Ainz terdiam beberapa saat.

Seseorang yang mengaku tidak bisa bertarung, namun pernah memenangkan ribuan pertarungan.

Seseorang yang menggunakan mage tanpa bisa sihir.

Dan sekarang, seseorang yang menyebut kata "respawn" seolah itu hal biasa.

Tidak ada satupun yang cukup untuk menjadi bukti.

Tapi jika semuanya digabungkan, hasilnya justru semakin sulit diabaikan.

Potongan-potongan itu mulai membentuk sesuatu di pikirannya.

Tidak cukup untuk menjadi kesimpulan.

Tapi cukup untuk menjadi kecurigaan.

Kecurigaan yang tidak dia sukai.

Untuk pertama kalinya sejak nama Slamet masuk ke dalam laporannya, Ainz membuat keputusan.

"Aura."

"Ya, Ainz-sama?"

"Aku ingin melihatnya sendiri."

1
🏵YI FENG🐲
Anjay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!