Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Bapak Kesambet?
Bab 5
Bapak Kesambet?
Andra menyiapkan makan malam sederhana tapi cukup mengenyangkan jika di makan. Menu praktis ala anak kost yaitu mie ramen kemasan. Cocok dengan cuaca malam yang terasa dingin. Menu berkuah itu menimbulkan aroma yang menggugah selera.
Setelah selesai menyajikan menu makan malam, Andra kembali ke kamar untuk mengajak Mila makan. Pasti wanita itu sudah selesai dengan ritual mandinya.
Andra mengetuk pintu kamar miliknya beberapa kali karena Mila tak kunjung menyahut.
"Mil, makan malam sudah siap. Kamu harus makan dulu sebelum istirahat," ucap Andra dari balik pintu.
Sementara di dalam kamar, Mila sedang bingung harus memakai baju apa. Di dalam lemari itu semua isinya baju pria.
Setelah beberapa kali mendengar panggilan dari Andra, Mila akhirnya menjawab. Dia sedikit merenggangkan pintu dan menyembulkan kepalanya.
"Maaf, Pak. Saya tidak punya baju ganti. Apa Bapak punya solusi?" tanya Mila yang kini otaknya sudah segar sehabis mandi. Seolah dia lupa dengan kesepakan yang tadi telah di buat beberapa menit yang lalu.
"Oh, maafkan saya Mil. Saya akan suruh orang untuk mengantarkan pakaian ganti untukmu." Andra sempat menepuk jidatnya karena tidak memperhatikan detail tamu kehormatannya.
"Maafkan saya, lagi-lagi merepotkan Bapak," ucap Mila sungkan. Kepalanya sedikit tertunduk karena dia sadar posisi.
"Ssstt... Siapa yang merasa di repot kan. Menjelang pakaiannya datang, kalau tidak keberatan silakan kamu pakai saja baju saya dari pada kamu kedinginan." Andra memberi solusi terbaik menurut versinya.
Karena Mila pun merasa tubuhnya sudah menggigil, AC di kamar tersebut belum di kecilkan suhunya.
"Baik," jawab Mila dengan suara bergetar menahan dingin.
Andra merasa tidak tega, dia pun menelepon orang suruhannya untuk datang dengan cepat.
"Saya tunggu di ruang makan ya, Mil." Andra menutup kembali pintu kamar karena dia mendengar sahutan dari Mila.
Sedangkan Mila mengambil salah satu kemeja yang ukurannya lebih besar dari jejeran pakaian lainnya di dalam lemari. Pilihannya jatuh di kemeja warna hitam. Dia pun langsung mengenakannya tanpa pakaian dalam. Bagaimana pun asetnya sedikit mencuat karena posisi sedang kedinginan.
Tapi wanita itu sepertinya tidak sadar akan kondisi tubuhnya. Dia pun melilit handuk di rambutnya agar cepat kering. Sekarang tubuhnya sudah sedikit mendingan dari sebelumnya.
Begitu Mila keluar dari kamar dan berjalan menuju ke meja makan, Andra menatapnya tanpa berkedip. Tanpa sadar dia menelan saliva dengan susah payah, seolah kerongkongannya kering kerontang menatap pemandangan indah yang belum pernah dia lihat dari tubuh Mila selama ini.
Karena memang belum pernah, Mila selalu pakai pakaian formal dan ini juga pertama kalinya dia melihat wanita itu secara pribadi dengan penampilan yang berbeda.
Mila melambaikan tangannya di depan wajah bosnya itu. Dia heran kenapa Andra malah bengong bahkan sampai ngiler menatap dirinya.
"Pak, halo. Bapak kesambet?" sapa Mila sembari menarik kursi.
"Ah, eeh. Anu-itu..." Andra mendadak gugup dan salah tingkah. Dia pun mencoba mengalihkan perhatian serta pandangan matanya.
Sementara Mila masih belum sadar juga, dia mengusap perutnya yang memang terasa sangat lapar. Masalah yang sedang menimpanya kini seolah membuat dia ingin makan dan makan.
"Silakan di makan, keburu dingin nanti kurang enak," ajak Andra dengan suara senormal mungkin.
Mila mengangguk dan menarik mangkuk mie ramen bagiannya. Dia mulai mencicipi kuahnya yang terasa enak di lidah.
"Hmm, enak. Bapak pinter masak ya ternyata," puji Mila di sela makannya.
Andra sedikit tersedak mendengar pujian tersebut. Ini pertama kali dia mendapat pujian dari Mila.
"Ah, kamu berlebihan Mil. Saya cuma berusaha untuk tidak mengecewakan kamu. Tapi, ... Sepertinya kamu lupa sesuatu," ujar Andra.
"Lupa sesuatu?" Mila mengulang kalimat yang Andra lontarkan.
Andra mengangguk sembari meniup sendok berisi mie yang masih mengepulkan asap.
"Lupa apa ya, Pak. Maaf kalau saya salah," tukas Mila.
Duh, rasanya Andra ingin menggetok kepala Mila saat ini juga. Dia pikir, Mila bukan wanita pelupa jika bukan urusan kantor. Ternyata hal sederhana yang baru beberapa menit di buat pun dia bisa lupa.
Andra berdehem sekali lagi sebelum dia mengingatkan akan kesepakan yang tadi sempat mereka buat jika di luar jam kerja.
"Tadi janjinya kamu panggil saya apa?" tanya Andra pelan dan lemah lembut.
Mila terdiam sejenak dan menunda mengunyah mie yang baru saja masuk mulut. Pipinya terlihat menggembung dan hal itu sangat bikin gemas ingin sekali Andra mencubit pipi cantik itu.
"Oh iya, maafkan saya ya, m-Mas," ucap Mila sedikit kaku.
Andra tersenyum simpul mendengar panggilan itu. Seperti panggilan sayang yang selama ini dia impikan.
Usai makan, Andra mengantar Mila ke kembali ke kamar, sungguh tubuh indah di hadapannya itu ingin sekali dia terkam. Mila benar-benar tidak sadar jika dirinya telah mengundang sesuatu dalam diri Andra.
"Selamat beristirahat. Saya tidur di ruang tamu, kalau ada apa-apa panggil saja," ujar Andra tanpa berani menatap ke arah Mila. Karen dia berusaha sekuat tenaga menahan sesuatu.
"Maaf sekali lagi ya, saya menyusahkan bos." Mila menunduk merasa tidak enak.
"Jangan sungkan seperti itu," kata Andra.
Mila pun menutup pintu kamar dan menuju ke kasur. Baru saja akan duduk ponselnya berdering. Tampak nama Arjun tengah memanggil dan itu sudah panggilan yang ke 30 kali. Wanita itu membiarkan panggilannya hingga mati sendiri.
"Kamu nyariin aku kah?" Gumam Mila sembari membuka pesan yang begitu banyak dari Arjun.
Mil, kau di mana?
Angkat telponku!
Dasar istri tidak tahu diri, beraninya mengabaikan suami.
Caci maki lainnya masih beruntun di layar, Mila merasa jengah dengan situasi ini. Dia pun mematikan ponsel dan memilih untuk memejamkan mata.
Malam ini, untuk pertama kalinya Mila tidur di luar rumah selama pernikahan. Rasa lelah itu sudah sampai di puncak ubun-ubun dan siap untuk di leburkan.
"Besok aku akan mencari rumah kontrakan baru saja, biar mereka merasakan bagaimana tidak ada aku di rumah itu," ucap Mila sebelum dia benar-benar terlelap ke alam mimpi.
Jika bangun nanti, dia berharap semua akan baik-baik saja tanpa ada hal yang menambah beban pikiran atau pun beban hidupnya.
*
"Kurang ajar!" Arjun menendang meja ruang tamu hingga terbalik.
Tatapan penuh emosi pada layar ponselnya, dia baru saja menghubungi Mila untuk yang ke 50 kalinya tapi malah nomor wanita itu tidak aktif.
"Duh, Kak. Ini udah malem, bisa nggak sih jangan berisik!" teriak Vio dari kamar ruang tamu.
Di susul juga oleh omelan bu Lisa yang juga kesal karena Arjun sejak tadi uring-uringan.
"Mama mau tidur, kamu diem dulu bisa nggak, sih!" omel bu Lisa yang berdiri di tengah pintu sambil berkacak pinggang.