Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Malam semakin larut, tetapi nafsu Drake belum sepenuhnya padam. Setelah sesi panjang yang melelahkan, mereka berbaring telanjang di atas ranjang yang sudah tampak berantakan. Tubuh Nathalie masih lemas, napasnya belum sepenuhnya stabil. Drake berbaring menyamping, satu tangannya dengan santai memainkan rambut hitam panjang Nathalie, sementara matanya menatap wajah perempuan itu dengan kepuasan yang dalam.
Drttt.....
Drttt.....
Ponsel Nathalie yang tergeletak di meja samping ranjang berdering keras. Ia tersentak kaget dan buru-buru meraihnya. Nathalie melirik Drake sekilas sebelum mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, iya Miska,” ucapnya berusaha agar suaranya terdengar normal.
“Kamu di mana? Kenapa belum sampai klub? Sudah ramai loh malam ini,” tanya Miska dari seberang telepon dengan nada khawatir sekaligus kesal.
Nathalie melirik ke arah Drake yang masih berbaring di sampingnya. Pria itu tersenyum licik, seolah mengetahui siapa yang menelepon. Tangan Drake yang nakal mulai merayap pelan di tubuh Nathalie. Jari-jarinya menyentuh dada mulus perempuan itu, lalu dengan sengaja memainkan putingnya yang masih sensitif setelah percintaan tadi.
“Ahh...” desahan kecil tak terkendali lolos dari bibir Nathalie. Ia langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya menatap tajam ke arah Drake penuh protes.
Drake hanya tersenyum semakin lebar, jarinya semakin lincah memilin dan meremas lembut, membuat tubuh Nathalie menggeliat pelan di atas ranjang.
“Nathalie? Kamu kenapa?” tanya Miska curiga dari seberang telepon. “Suaramu aneh banget.”
Nathalie berusaha mengatur napasnya yang mulai memburu. “Aku… aku tidak apa-apa. Kepalaku rasanya pusing sekali hari ini. Aku tidak berangkat, sedang tidak enak badan,” jawabnya buru-buru, suaranya sedikit parau.
“Ya sudah, kamu istirahat aja di kosan. Nanti kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku ya,” kata Miska dengan nada khawatir.
“Iya… terima kasih, Miska,” balas Nathalie cepat.
Tapi Drake semakin iseng. Ia menunduk, bibirnya menyentuh leher Nathalie, sementara tangannya terus bermain di dada perempuan itu. Lidahnya menjilat kulit sensitif di balik telinga Nathalie, membuat desahan kecil kembali nyaris lolos.
“Akh…”
Nathalie buru-buru menutup mulutnya lagi, tubuhnya menegang menahan sensasi yang datang tiba-tiba.
“Nathalie, kamu benar-benar tidak apa-apa?” tanya Miska lagi, suaranya semakin curiga.
“Aku tidak apa-apa. Aku tutup dulu telponnya…” ucap Nathalie tergesa-gesa. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mematikan panggilan tersebut.
Begitu telepon terputus, Nathalie langsung mendorong dada Drake dengan kesal, wajahnya memerah campur malu dan marah.
“Taun, Kamu sengaja ya?!” bentaknya pelan, suaranya masih bergetar karena sensasi yang tertahan.
Drake tertawa rendah, suaranya serak dan penuh nafsu. Ia menarik tubuh Nathalie kembali ke pelukannya, menindihnya lagi dengan mudah.
“Siapa suruh kamu angkat telepon saat sedang bersamaku?” bisiknya di telinga perempuan itu. “Sekarang… lanjutkan yang tadi.”
Suasana di kamar langsung memanas lagi. Drake tersenyum iblis melihat wajah Nathalie yang memerah karena malu dan nafsu yang tertahan. Tanpa memberi kesempatan bicara, ia mengangkat tubuh perempuan itu dengan mudah dan membawanya masuk ke kamar mandi mewah apartemen.
Air shower langsung dinyalakan. Air hangat menyembur deras dari kepala shower besar, membasahi tubuh telanjang mereka berdua. Drake mendorong Nathalie ke dinding marmer yang dingin, kontras dengan air panas yang mengguyur mereka.
“Kamu berani bohong di telepon tadi,” bisik Drake serak di telinga Nathalie sambil menggigit pelan cuping telinganya. “Sekarang kamu harus mendapatkan hukuman mu”
Tangan Drake yang kuat meremas dada Nathalie dengan kasar, jari-jarinya memilin puting yang sudah mengeras karena air hangat. Nathalie mendesah keras, kepalanya mendongak ke belakang.
“Ahh… tuan…”
Drake tidak sabar. Ia menekan tubuh Nathalie ke dinding, mengangkat satu kaki perempuan itu ke pinggangnya, lalu memasukkan miliknya ke dalam milik Nathalie dengan satu dorongan kuat dan dalam.
“Aaahhh!” jerit Nathalie. Suaranya bergema di kamar mandi yang penuh uap.
Drake langsung bergerak liar, menghantam dengan ritme cepat dan kuat. Setiap hantaman membuat tubuh Nathalie naik-turun di dinding licin karena sabun dan air.
Air shower terus mengguyur tubuh mereka, membuat kulit saling gesek semakin licin dan panas. Drake satu tangannya mengangkat kaki Nathalie, dan satunya lagi meremas dadanya.
“Bilang… kamu milik siapa?” desis Drake sambil mempercepat gerakannya.
Nathalie hanya bisa mendesah liar, suaranya pecah-pecah. “Ahh… milikmu… Tuan Drake… ahh! Lebih dalam…!”
Drake mengangkat kedua kaki Nathalie, memeluk pinggangnya, dan menyetubuhinya sambil berdiri. Posisi ini membuat penetrasi semakin dalam dan kuat. Tubuh Nathalie bergoyang hebat di gendongan Drake, payudaranya naik-turun mengikuti setiap hantaman.
Desahan mereka semakin liar, bercampur suara air shower dan benturan tubuh basah. Drake menggigit bahu Nathalie, meninggalkan tanda merah, sementara perempuan itu mencakar punggungnya karena kenikmatan yang membara.
Beberapa menit kemudian, Nathalie mencapai klimaks lebih dulu. Tubuhnya mengejang hebat, otot dalamnya menjepit kejantanan Drake dengan kuat sambil menjerit nama pria itu.
“Tuan Drake…! Aku… aaahhh!!”
Drake menyusul tak lama kemudian. Dengan erangan rendah yang dalam, ia menyemburkan cairannya panas di dalam tubuh Nathalie sambil menekannya kuat ke dinding.
Mereka berdua terengah-engah di bawah guyuran air hangat. Drake masih menempel di dalam tubuh Nathalie, bibirnya mencium leher perempuan itu dengan posesif.
“Ini baru setengah malam,” bisiknya sambil tersenyum. “Kita belum selesai. Kita akan melakukannya sampai pagi"
Nathalie hanya bisa memejamkan mata, tubuhnya lemas total di pelukan Drake. Air hangat terus mengalir, membasuh keringat dan air mata yang bercampur di wajahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul sebelas pagi, Nathalie baru terbangun di ranjang king size yang terasa dingin dan sepi. Cahaya matahari menyusup lemah melalui tirai tipis. Tangannya meraba-raba sisi tempat tidur, mencari keberadaan Drake tapi tidak ada. Sepertinya laki-laki itu sudah berangkat kerja, pikirnya.
Ia menoleh ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul sebelas pagi.
"Ternyata sudah jam sebelas," gumam Nathalie dengan suara serak, masih merasa mengantuk. Semalam Drake menggempurnya hingga pagi.
Dengan gerakan lambat, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas marmer. Layar menyala, menampilkan notifikasi bank yang tak terduga. Uang seratus lima puluh juta rupiah telah masuk ke rekeningnya.
Nathalie memeluk ponsel itu erat di dadanya, menghela napas panjang dan dalam. Ada rasa lega yang membanjiri hatinya, akhirnya ia punya cukup uang untuk di berikan pada sang ibu. Tagihan rumah sakit tak lagi mengancam. Namun, di balik lega itu, ada rasa sedih yang dia rasakan. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ia tak mungkin terus seperti ini. Menjual tubuhnya pada Drake, pria kaya yang dingin dan penuh nafsu, bukanlah jalan yang bisa ia tempuh selamanya. Malam demi malam, ia merasa semakin hancur. Tubuhnya mungkin dibayar mahal, tapi jiwanya perlahan terkoyak. Nathalie menatap langit-langit kamar, bertanya-tanya berapa lama lagi ia sanggup bertahan sebelum benar-benar kehilangan dirinya sendiri.