NovelToon NovelToon
My Cold Husband, Rafael

My Cold Husband, Rafael

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Noor.H.y

Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Terkejut

Tak ingin berdebat dengan orang tuanya, Kanaya terpaksa tidak masuk kuliah dan mengikuti semua yang di perintahkan Kirana. Kanaya pikir, ia dan ibunya akan pergi ke salon untuk melakukan perawatan seperti yang sudah dibicarakan tadi. Namun siapa sangka, bukan mereka yang pergi ke salon, melainkan para terapis dan penata salon yang datang langsung ke rumah mereka.

Sejak pagi suasana dirumah Wijaya sudah terlihat sibuk. Beberapa wanita berpakaian serba masuk membawa koper besar berisi alat-alat perawatan. Ada yang membawa peralatan hair spa, koper makeup, hingga alat manicure dan pedicure.

Kanaya yang baru turun dari tangga langsung terdiam melihat ruangan keluarga yang mendadak berubah seperti salon mewah pribadi.

"Mom.. Ini apaan ?" tanyanya pelan, dengan wajah bingung.

Kirana yang duduk santai sambil menikmati teh hanya melirik sekilas ke arah putrinya. "Mommy nggak bisa keluar rumah hari ini. Jadi Mommy memanggil mereka semua untuk kesini."

Kanaya menghembuskan napas panjang. Heran dengan apa yang dilakukan ibunya, kalau memang tidak bisa keluar rumah kenapa tidak membatalkan saja, tidak usah perawatan ke salon juga tidak apa-apa kan. Pikiran Kanaya, yang menurutnya sang ibu terlalu lebay. Padahal cuma untuk makan malam saja, itupun di rumah sendiri.

"Silahkan duduk, kak. Kita mulai hair spa dulu yah." ujar salah satu terapis dengan ramah.

Dengan langkah malas, Kanaya berjalan menuju kursi yang sudah di siapkan. Rambut panjangnya mulai diperlakukan dengan lembut oleh sang terapis, dipijat perlahan hingga aroma harum dari krim rambut memenuhi ruangan.

Tak lama kemudian, terapi lain mulai menyiapkan alat facial, sementara di meja samping sudah berjajar kuteks dengan berbagai warna cantik.

"Lengkap banget.. Mom," gumam Kanaya lirih.

"Tentu saja," balas Kirana santai "Anak Mommy harus tampil cantik malam ini,"

"Ya sudah, kamu nikmati saja. Mommy pergi ke dapur dulu mengecek persiapan menu disana." kata Kirana, sebelum melangkah meninggalkan Kanaya.

Kanaya memilih diam. Ia menyandarkan tubuhnya pasrah di kursi, membiarkan satu persatu perawatan dilakukan padanya. Mulai dari hair spa, facial brightening, manicure, hingga body spa ringan.

Meski awalnya kesal karena di paksa, perlahan tubuh Kanaya mulai terasa rileks. Pijatan lembut di kepala dan aroma terapi yang menenangkan tanpa sadar membuat pikirannya sedikit lebih ringan dari biasanya.

Deringan ponselnya tiba-tiba terdengar, memecah suasana tenang yang sejak tadi memenuhi ruangan. Kanaya yang semula memejamkan mata sambil menikmati pijatan di kepalanya perlahan membuka mata.

Ia meraih ponsel yang berada di atas meja kecil di samping kursi. Jemarinya menggeser ikon hijau di layar, hingga panggilan video itu langsung tersambung dan menampilkan wajah Keisya disana.

"Kanaya..!" pekik Keisya begitu wajah sahabatnya muncul di layar. "Ngapain hari ini pake nggak masuk kuliah segala sih... Jahat banget buat aku mati gaya karena harus ngadepin dosen killer itu sendirian."

Kanaya meringis kecil sambil menjauhkan ponsel sebentar dari telinganya, "Ya Sorry.. Tapi nggak usah teriak-teriak gitu juga kali, biasa aja."

"Gimana aku nggak teriak coba ? sebagian materi presentasi ada di kamu, eh malah kamu nya nggak masuk. Alhasil, kita harus presentasi lagi minggu depan." omel Keisya cepat. Namun beberapa detik kemudian matanya menyipit curiga saat melihat latar belakang di belakang Kanaya, "Eh bentar.. Itu kenapa ada orang belakang kamu sih ?"

Kanaya menoleh sekilas. Salah satu terapis masih sibuk menata alat facial di meja dekatnya.

"Lagi treatment di rumah," jawabnya malas.

"Hah ?"

Keisya langsung membelalakan mata dramatis, "Aku capek-capek di kelas pagi, terus harus presentasi dan ngadepin guru killer itu sendirian, sementara kamu malahan spa cantik-cantikan ?!"

Kanaya terkekeh pelan untuk pertama kalinya pagi itu, "Bukan mau ku juga kali."

"Tapi jujur, aku lupa soal presentasi itu. Yang aku ingat cuma kelas Pak Bagas dosen soft spoken itu malah yang mau membahas materi penting hari ini," Kanaya nyengir tanpa merasa bersalah sama sekali.

Keisya menghela napasnya panjang, "Hufft.. Sudah lah lupakan saja."

"Eh Key.. Kenapa nggak kerumah aku aja, ikut treatment juga nih. Mayan, gratisan dari Mommy." ujar Kanaya. Sedangkan Keisya terdiam dengan sedikit berpikir.

"Em.. Sorry Nay, kayanya nggak bisa deh. Lagian bentar lagi juga ada kelas sampai sore. Aku nggak mau di marahin Bunda lagi ya gara-gara bolos kelas," balas Keisya.

Kanaya terkekeh kecil, "Ya udah, semangat belajarnya cantik..." lirihnya, sebelum mematikan sambungan telepon.

"Tumben banget dia treatment salon sampai dibawa kerumah, emang ada acara apa ya.." gumamnya Keisya, baru saja berpikir saat sambungan telepon dengan Kanaya mati.

"Tau ah.. Mending ke kantin. Laper banget.. Abis ngadepin guru killer.." lanjutnya, berjalan menuju kantin universitas.

* *

Mobil mewah itu membelah jalanan ibu kota yang mulai di penuhi cahaya lampu malam. Di dalamnya, suasana terlihat cukup tenang meski masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.

Dikursi paling belakang, Opa Theo duduk dengan tongkat kayunya berada di samping. Wajah pria itu terlihat tenang namun penuh wibawa khas seorang konglomerat. Sesekali matanya menatap jendela, menikmati gemerlap malam.

Sementara itu Rafael duduk di samping sang kakek dengan setelan hitam rapi yang semakin menonjolkan aura dinginnya. Tangannya sibuk memainkan ponsel, membalas beberapa pesan pekerjaan yang belum selesai sejak sore tadi.

"Kamu masih ingat dengan Kanaya bukan ? Gadis kecil manis yang juga bersahabat dengan Keisya ?" tanya Opa Theo tiba-tiba mengalihkan pandangannya dari jendela menatap sekilas cucunya.

"Hmm.." gumam Rafael. Tanpa menjawab dan bertanya lebih, karena ia sudah sedikit mencari tahu tentang gadis kecil yang dari dulu sudah dekat dengan keluarganya.

Opa Theo mengangguk pelan, "Keluarga Wijaya bukan keluarga sembarang, mereka punya pengaruh penting dengan perusahaan kita. Selain keluarga kita yang sudah dekat dari dulu, ayahmu dan Harun juga sudah mengatur perjodohan kalian berdua sejak kalian kecil."

Kata-kata yang di luncurkan dari mulut Opa Theo berhasil membuat Rafael menoleh dengan raut wajah kaget dan sedikit bingung.

"Opa harap dengan penikahan kamu dan Kanaya, bisa membuat hubungan kedua keluarga kita semakin erat lagi." lanjut Opa Theo, mengusap lengan cucunya pelan.

Di kursi depan, Arya yang mendengar percakapan mereka hanya tersenyum kecil dengan pandangan yang fokus menyetir mobil memperhatikan jalan. Sedangkan Mauren sang istri, terlihat sibuk memastikan penampilannya tetap rapi sebelum tiba di rumah keluarga Wijaya.

"Harusnya Keisya ikut, dia pasti heboh kalau tahu Kanaya akan menjadi bagian dari keluarga kita." lirih Mauren, dengan senyum bahagia di wajahnya.

Tak lama kemudian, mobil mereka memasuki kawasan elit dengan deretan rumah megah disisi kanan dan kiri jalan. Hingga akhirnya sebuah gerbang besar perlahan terbuka saat mobil keluarga Dirgantara tiba di depan rumah keluarga Harun Wijaya.

Lampu-lampu taman menyala indah menghiasi halaman rumah besar itu.

Mobil berhenti sempurna.

Pintu mobil terbuka perlahan, Rafael turun lebih dulu, lalu berjalan memutar untuk membantu Opa Theo yang mulai keluar dengan bantuan tongkat kayunya. Setelah itu Arya dan Mauren ikut menyusul turun dari mobil.

Di depan pintu utama, Harun dan Kiran sudah berdiri menyambut kedatangan keluarga Wijaya. Senyum ramah langsung terukir di wajah harun begitu melihat Opa Theo beserta keluarganya.

"Pak Theo.." lirih hangat Harun sambil melangkah mendekat.

Opa Theo terkekeh pelan sebelum membalas jabatan tangan Harun dengan erat, "Sudah lama tidak bertemu denganmu seperti ini,"

"Mari kita masuk dulu, Pak." ajak Harun ramah.

Sementara Kirana tersenyum lembut pada Arya dan Mauren, lalu pandangannya tanpa sadar beralih pada Rafael yang berdiri tegap di samping sang kakek.

Pria itu memang tampan dan berkarisma. Wajah dinginnya justru membuat auranya semakin berkelas. Tak heran jika banyak perempuan yang terpikat padanya.

"Kamu Rafael, ya ?" kata Kirana lembut.

Rafael menganggukkan kepala sopan, "Iya, Tante."

"Terakhir tante lihat kamu masih SMP. Sekarang sudah jadi pria dewasa, terlihat tambah tampan saja sekarang." ucap Kirana sambil tersenyum kecil.

Mereka pun masuk ke dalam rumah, namun sebelum itu Rafael ijin pada kakeknya untuk menjawab telepon penting dari Andra.

"Mbok, tolong bilang pada Kanaya.. Suruh cepat turun ya." ujar Kirana pada Mbok Sumi.

"Baik.. Nyonya."

* *

Di dalam kamar, Kanaya berdiri di depan cermin besar sambil memperhatikan penampilannya untuk terakhir kali.

Dress sopan berwarna baby blue yang membalut tubuhnya jatuh dengan indah, memberi kesan lembut dan anggun pada dirinya. Rambut panjangnya di gerai bergelombang dengan sebagian sisi rambut di jepit ke belakang menggunakan jepit mutiara sederhana yang manis.

Riasan tipis flawless menghiasi wajahnya. Tidak berlebihan, namun justru semakin mempertegas kecantikan alami gadis itu. Bibir merah mudanya terlihat segar, sementara matanya yang bening tampak semakin hidup.

Tok.. Tok.. Tok..

Suara ketukan pintu membuat Kanaya menoleh.

"Non, Nyonya tadi berpesan non Kanaya untuk segera turun ke bawah." ujar Mbok sumi dari balik pintu.

"Iya Mbok, Aku turun sebentar lagi."

Kanaya berjalan mantap untuk keluar kamar. Ia berjalan sembari berpikir, sebenarnya siapa tamu yang datang malam ini, sampai ayah dan ibunya begitu antusias.

Langkah kaki Kanaya terdengar pelan menuruni anak tangga satu-persatu. Tangannya menggenggam railing tangga sambil sesekali merapikan ujung dress yang di kenakannya.

Namun baru beberapa langkah turun, gerakannya mendadak berhenti.

Netra indahnya membulat kaget saat melihat sosok pria tua yang tengah duduk bersama ayahnya.

"Opa Theo..?" lirihnya tanpa sadar.

Suasana seketika membuat semua menoleh kearah tangga.

Opa Theo yang mendengar suara itu langsung mengangkat kepalanya. Beliau tersenyum hangat saat melihat Kanaya berdiri disana dengan penampilan anggunnya malam itu.

"Kanaya.." ucap beliau pelan dengan senyum mengembang di wajahnya.

Kanaya tidak menyangka sama sekali kalau tamu yang akan datang kerumah itu keluarga Dirgantara. Selain keluarganya yang memang sudah dekat dari dulu, ia juga sahabat Keisya yang tak lain cucu dari Opa Theo juga.

Jadi, kalau Kanaya berkunjung kerumah Keisya, ia pasti selalu bertemu dengan Opa Theo dan mereka juga cukup dekat selama ini.

Setelah selesai menyapa Opa Theo, Kanaya juga di kejutkan dengan Mauren dan Arya yang tak lain orang tua sahabatnya itu.

"Tante Mauren," lirihnya menatap Mauren, "Om Arya," lalu beralih menatap Arya.

"Ya ampun.. Jadi Daddy dan Mommy dengan segala persiapannya dari pagi sampai nyuruh aku untuk nggak pergi kuliah, untuk menyambut kedatangan kalian semua." kata Kanaya, yang menurutnya sangat berlebih. Karena yang ia tahu mungkin tamu malam ini adalah orang asing, atau bahkan datang dari luar negeri.

Tanpa menjawab, mereka semua yang ada di sana hanya terkekeh mendengar ucapan dari Kanaya.

"Kanaya sayang, ayo duduk sini samping Mommy." Kiran berdiri, lalu menuntun putrinya untuk duduk di samping dirinya.

"Tunggu.. Kok aku nggak lihat Keisya Om ? Diaa nggak ikut ?" tanya Kanaya menatap Arya.

Arya menggeleng pelan, "Key belum pulang, jadi kita tinggal."

"Iya.. Harusnya Keisya itu ikut juga, tapi dianya malah ngaret, pergi kuliah nggak pulang-pulang." lanjut Mauren menimpali.

Rafael berjalan masuk kedalam rumah, setelah selesai menerima teleponnya tadi.

"Maaf Om, Tante.. sudah membuat kalian menunggu." lirihnya. tanpa menyadari ada seorang gadis yang terkejut melihat dirinya.

"Tidak apa-apa nak, ayo duduk." ujar Harun.

Rafael melangkah berjalan dan duduk di sisi Opa Theo.

"Loh.. Kok kamu bisa ada disini ?!" seru Kanaya, dengan menatap Rafael kaget.

Membuat semua orang yang ada disitu, saling pandang menatap bingung.

* * * *

1
Noey Aprilia
Ya suami kutub lh,apa lg.....🤣🤣🤣....
Noey Aprilia
Mskpn klkas,tp ttp prhtian....
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
Noey Aprilia
Rafael nih tipe2 kulkas,tp aslinya prhtian....dia ga tau msti brskap ky gmna,mkanya kya acuh gt....tp ykin bgt kl bntr lg dia bkln bucin parah....
Noey Aprilia
Kanaya....tau ga kl sbnrnya km yg nyosor dluan?????🤭🤭🤭....
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Noey Aprilia
Enth spa yg bkln bucin dluan....ga sbr aja nunggu mreka mesra,trs bkin sng mntan nangis guling2...
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣
Noey Aprilia: Sama2....smngttt...😘😘😘
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!