NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berhala Keputusasaan

Kabut pagi yang tebal menyelimuti hamparan Bukit Ratapan secara perlahan. Dataran landai ini hanya berjarak beberapa mil dari tembok luar ibu kota yang megah.

Angin berhembus membawa udara beku yang membuat rumput-rumput liar merunduk pasrah di bawah langit pucat. Suasana terasa sangat mencekam, seolah alam pun tahu akan ada pertumpahan darah yang segera terjadi.

Di balik bayangan pepohonan kayu besi raksasa, puluhan sosok berjubah abu-abu berjongkok dalam keheningan mutlak. Mereka tampak persis seperti sekawanan hantu pencabut nyawa yang menanti tumbal.

Mereka adalah para eksekutor Gagak Besi yang dikirim langsung oleh Aldrich malam sebelumnya. Ini adalah kelompok pembunuh bayaran paling mematikan yang pernah dilahirkan dari rahim dunia bawah tanah kerajaan.

Sang pemimpin pembunuh menatap tajam ke arah jalanan berbatu di bawah bukit dengan mata memicing. Wanita jangkung itu menyembunyikan separuh wajahnya di balik topeng besi berkarat yang mengerikan.

Nama aslinya telah lama mati terbuang di jalanan kotor, digantikan oleh julukan maut Nyonya Karat. Selama belasan tahun beroperasi, ia dan kelompoknya sama sekali tidak pernah mencicipi pahitnya kegagalan.

Jari-jarinya yang terbungkus sarung tangan kulit mengelus bilah pedang kembar bergerigi miliknya dengan antisipasi buas. Di dalam dadanya, ada denyut kepuasan yang sangat dingin saat membayangkan tumpukan koin emas hadiah.

"Rombongan target sudah mulai terlihat di ujung jalan berbatu itu, Nyonya Karat," bisik seorang pembunuh pengintai di sebelahnya. Pria kurus itu menunjuk ke arah kepulan debu tipis yang muncul dari balik kabut pagi.

Nyonya Karat tersenyum di balik topengnya, sebuah senyuman kejam yang tak pernah menjanjikan keselamatan bagi siapa pun. "Siapkan seluruh jebakan kawat baja berduri kita melintang di jalanan berlumpur itu sekarang juga."

Ia sangat yakin bahwa Pangeran Valerius hanyalah seorang pemuda beruntung yang dilindungi oleh pasukan perbatasan bodoh. Ia tidak menyadari bahwa mangsa yang ia tunggu sebenarnya adalah predator puncak yang sedang kelaparan.

Dari kejauhan, iring-iringan kereta kuda hitam milik Valerius berjalan dengan ritme yang sangat lambat namun pasti. Suara derit roda kayunya memecah kesunyian Bukit Ratapan seperti rintihan kematian yang berulang-ulang.

Seratus prajurit perbatasan berbaris mengelilingi kereta itu dengan formasi kaku yang terlihat sangat tidak wajar. Mata mereka kosong melompong ke depan, namun memancarkan aura niat membunuh yang sangat pekat dan liar.

Baron Kaelos masih memimpin di depan, tubuh tambunnya bergoyang-goyang lemah mengikuti irama langkah kudanya. Keringat dingin terus mengucur deras membasahi kerah zirah bajanya yang kini terasa semakin mencekik.

Di dalam kabin kereta yang nyaman, Valerius tiba-tiba membuka sepasang mata kelamnya yang sedingin bongkahan es. Ia bisa merasakan riak niat membunuh yang sangat jelas bersembunyi di balik pepohonan kayu besi di depan sana.

Skill 'Mata Penilai Iblis' miliknya menangkap puluhan titik aura merah gelap yang tersebar mengepung area bukit. Valerius tersenyum asimetris, merasa sangat terhibur dengan upaya putus asa kakak kandungnya yang tak kenal lelah.

"Kakakku benar-benar tidak memiliki kreativitas sama sekali dalam menyambut kepulanganku," gumam Valerius pelan. Ia bangkit dari kursi beludrunya dan menendang pintu kereta hingga terbuka lebar menabrak bingkai kayu.

Suara bantingan pintu itu bergema keras, membuat Kaelos dan seluruh prajurit perbatasan seketika menghentikan langkah mereka. "A-Ada apa, Tuan Muda Valerius yang agung?" tanya Kaelos dengan suara serak yang bergetar hebat.

Valerius melangkah turun ke atas tanah berbatu, jubah hitamnya berkibar pelan ditiup angin pagi yang menggigit kulit. "Kita sedang kedatangan tamu tak diundang yang bersembunyi layaknya tikus got di balik pepohonan itu."

Mendengar ucapan majikan mereka, seratus prajurit perbatasan serempak menghunus pedang mereka dengan gerakan kaku. Tidak ada teriakan perang atau kepanikan di barisan mereka, hanya ada keheningan mutlak milik boneka bernyawa.

Nyonya Karat yang bersembunyi di atas dahan pohon merasa jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa targetnya memiliki insting monster yang bisa merasakan penyergapan mereka sebegitu cepatnya.

"Sialan, jebakan kita sudah ketahuan sebelum terpicu," umpat Nyonya Karat dengan gigi yang gemeretak marah. "Semuanya serang sekarang juga, bantai semua prajurit itu dan penggal kepala sang pangeran!"

Puluhan pembunuh Gagak Besi melompat turun dari atas dahan pohon bagaikan hujan bayangan abu-abu yang mematikan. Mereka melemparkan belati-belati lempar beracun ke arah barisan prajurit perbatasan dengan akurasi yang sangat mengerikan.

Namun pemandangan selanjutnya membuat darah Nyonya Karat mendadak terasa membeku di dalam pembuluh darahnya. Prajurit perbatasan itu sama sekali tidak menghindar atau mengangkat perisai untuk menangkis hujan belati beracun tersebut.

Belati-belati itu menancap dalam di bahu, lengan, dan paha para prajurit, namun tak ada satu pun dari mereka yang menjerit kesakitan. Mereka justru mencabut belati beracun itu dari daging mereka sendiri dengan wajah datar tanpa ekspresi.

Efek cuci otak dari gelar 'Tiran Penenun Keputusasaan' milik Valerius telah menghilangkan rasa sakit dari sistem saraf mereka. Para prajurit perbatasan itu kini bertransformasi menjadi pasukan zombi fanatik yang hanya mengenal satu tujuan absolut.

"Bantai semua anjing ibu kota ini demi keagungan Tuan Valerius!" raung seorang prajurit dengan mata yang melotot merah. Seratus prajurit itu menerjang maju bagaikan gelombang pasang berdarah, menghantam barisan pembunuh elit dengan kekuatan fisik di luar batas normal.

Benturan keras antara baja dan baja seketika meledak memekakkan telinga di seluruh penjuru Bukit Ratapan. Pembunuh Gagak Besi yang biasanya tenang kini mulai dilanda kepanikan melihat musuh yang terus maju meski tubuh mereka tercabik-cabik.

Seorang pembunuh mencoba menggorok leher prajurit perbatasan, namun sang prajurit justru membiarkan lehernya tersayat dangkal. Prajurit itu membalas dengan memeluk erat sang pembunuh dan menggigit wajahnya dengan gigi telanjang hingga dagingnya koyak.

"Lepaskan aku, dasar monster gila!" jerit pembunuh elit itu histeris, mencoba mendorong prajurit yang merobek wajahnya. Ia mati dalam keadaan sangat mengenaskan ketika pedang tumpul menembus perutnya berulang kali tanpa ampun.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!