Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.
Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ide Cemerlang
Di dapur, Azizah tengah sibuk menata hasil belanjaannya. Ia menyusun semuanya dengan telaten ke dalam kulkas. Tatapannya tertuju pada isi kulkas yang kini kembali penuh. Deretan sayuran segar dan bahan makanan pokok memberinya kepuasan tersendiri. Bagi Azizah, melihat lemari pendingin yang terisi penuh adalah simbol bahwa rumah itu kembali hidup.
Setelah urusan dapur selesai, ia melangkah ke kamar mandi untuk menata sabun dan sampo baru, lalu berakhir di ruang laundry. Begitu sabun cuci pakaian diletakkan di raknya, pandangannya teralih ke teras belakang. Tempat di mana ia meletakkan bunga-bunga lama yang ia gantung dua hari lalu.
Azizah melangkah keluar, lalu menyentuh kelopak bunga-bunga itu dengan ujung jarinya. Senyum bahagia pun merekah di bibirnya saat merasakan teksturnya yang sudah berubah. Bunga-bunga itu sekarang sudah kering sempurna. Terik matahari yang menyengat selama dua hari terakhir serta hembusan angin yang konsisten ternyata bekerja lebih cepat dari dugaannya.
Ia mengamati bunga-bunga itu dengan mata berbinar. Rencananya masih panjang. Setelah ini, ia akan mengeringkan beberapa bahan alami lainnya untuk diracik bersama bunga-bunga itu. Membayangkan hasil akhirnya saja sudah membuat hatinya antusias.
Azizah melangkah masuk kembali ke dalam rumah. Baru saja ia hendak melanjutkan kegiatannya, suara denting ponsel di atas meja dapur menghentikan langkahnya. Sebuah pesan masuk dari Amisha.
‘Azizah, bagaimana kabarmu? Kalian baik-baik saja, kan?’
Azizah tersenyum lebar. Ia segera mengetik balasan dengan perasaan tenang.
‘Baik, Ma. Mas Ezra bahkan selalu menikmati masakanku.’
Tidak sampai satu menit, balasan muncul.
‘Ya Allah, Alhamdulillah. Mama senang sekali. Mama sudah menduga, kau memang bisa memberikan perubahan positif pada Ezra. Terima kasih ya, Nak.’
Azizah membalas lagi.
‘Iya, Ma. Azizah akan berusaha sebaik mungkin menjadi istri yang baik.’
Balasan berikutnya muncul segera setelahnya.
‘Lain waktu... ajak Ezra menginap di sini ya? Mama merindukan kalian..’
Azizah terdiam sejenak, tatapannya teralih dari layar ponsel. Pikirannya melayang pada saat-saat awal ia bekerja di rumah Amisha. Ia ingat betul ketika Dewi pernah bercerita bahwa Ezra tidak pernah sekalipun menginap di sana, bahkan kamarnya pun menjadi zona terlarang yang tidak boleh dimasuki siapa pun.
Apa mungkin Mas Ezra mau menuruti ajakan itu? Batinnya ragu.
Ponselnya bergetar kembali, menyadarkannya dari lamunan.
‘Tapi jangan dipaksakan kalau Ezra tidak mau. Dulu, Mama memang selalu membujuknya untuk pulang. Tapi sekarang, setelah ada dirimu, Mama menjadi jauh lebih tenang.’
Azizah mengetik dengan lega.
‘Iya, Ma.’
Pesan balasan kembali masuk.
‘Kalau ada apa-apa bilang ke Mama, ya. Pokoknya jika ada sesuatu yang mengganjal, langsung bilang. Biar Mama bantu.’
Azizah meremas ponselnya. Sebuah pertanyaan yang selama ini menyesak di dada akhirnya ia beranikan diri untuk diutarakan. Soal posisi Sienna.
‘Ma, maaf sebelumnya. Tapi.. apa Sienna tidak tahu kalau Mas Ezra sudah menikah? Kemarin, aku melihat Sienna berkirim pesan dengan Mas Ezra. Dan sepertinya, hubungan mereka masih berlanjut.’
Balasan dari Amisha datang dengan cepat.
‘Mama sudah menyuruh orang untuk menyelidiki. Wanita itu saat ini sedang berada di Hawaii. Karena itu Azizah, manfaatkan waktu saat ini untuk lebih dekat dengan Ezra. Mama yakin Ezra pasti akan luluh dengan sendirinya. Jika wanita itu kembali dan membuat ulah, biar Mama yang memberinya pelajaran. Pokoknya tidak boleh ada yang menyentuh menantu Mama! Titik!’
Senyum tulus mengembang di wajah Azizah. Untuk sekian lama, ia benar-benar merasa memiliki sosok ibu yang melindunginya.
‘Iya, Ma. Azizah mengerti.’
Pesan Amisha berakhir dengan sebuah emoticon hati yang besar. Azizah tersenyum kecil, lalu meletakkan ponselnya dengan hati yang jauh lebih ringan.
......................
Di kantornya, Ezra duduk dengan tegak. Fokusnya terbagi antara tumpukan berkas pengadaan proyek terbaru di atas meja dan penjelasan sekretarisnya.
“Untuk proyek hair perfume ini, Pak, kita sudah mendapatkan beberapa sampel aroma yang sesuai dengan target pasar kita,” jelas sang sekretaris sambil menunjukkan lembaran spesifikasi produk.
Ezra memeriksa berkas itu dengan teliti. Ia tidak terburu-buru. Matanya menyisir setiap poin detail mengenai bahan baku dan proyeksi biaya.
“Kualitas bahan dasarnya harus dipastikan tahan lama, aku tidak mau aroma yang cepat hilang. Konsumen kita menginginkan produk yang memberikan kepercayaan diri sepanjang hari,” sahut Ezra dengan nada profesional.
“Tentu, Pak. Kita juga sedang menegosiasikan harga dengan pemasok untuk menekan biaya produksi tanpa menurunkan kualitas,” tambah sang sekretaris.
Ezra mengangguk singkat.
“Selesaikan draf kontraknya Senin depan,” perintah Ezra tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya, “Dan pastikan tim riset memberikan laporan final sebelum kita masuk ke tahap produksi massal.”
“Baik, Pak.”
Ezra melirik ke arah jendela. Langit di luar sana perlahan berubah warna menjadi jingga kemerahan.
“Baiklah. Kau boleh pulang,” ucap Ezra sambil menutup berkas.
“Baik, Pak. Saya permisi,” jawab sang sekretaris, lalu melangkah keluar ruangan.
Begitu pintu menutup rapat, Ezra menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulitnya. Ia memejamkan mata sejenak. Mencoba mengusir sisa-sisa penat di kepalanya.
Drrt... Drrt...
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan di kontaknya. Ezra membuka pesan itu dengan dahi berkerut.
‘Mas, untuk makan malam nanti, apa Mas menginginkan sesuatu?’
Ezra menghela napas. Ia menyadari bahwa ia belum menyimpan nomor Azizah. Tanpa berpikir panjang atau memberikan banyak pertimbangan, ia mengetik balasan singkat.
‘Terserah kau saja.’
Setelah menekan tombol kirim, ia menyimpan nomor itu ke dalam daftar kontaknya dengan nama Azizah, tanpa embel-embel tambahan. Ia mematikan layar ponselnya, meletakkannya kembali ke atas meja, dan memaksakan fokusnya untuk kembali menyelami tumpukan berkas yang menanti untuk diselesaikan sebelum ia benar-benar bisa pulang.
Entah berapa lama Ezra tenggelam dalam tumpukan berkas, hingga ia sadar langit sore telah berganti menjadi pekatnya malam. Ia merenggangkan otot-otot tubuhnya yang mulai kaku dan menghela napas panjang tanda bahwa sesi kerjanya hari ini telah mencapai batas. Setelah membereskan dokumen-dokumennya, ia beranjak keluar kantor dan memacu mobilnya pulang dengan kecepatan santai.
Setibanya di rumah, pemandangan yang sama kembali menyambutnya. Baru saja Ezra menginjakkan kaki di teras, pintu rumah terbuka dan sosok Azizah muncul dengan wajah yang meneduhkan. Ezra tidak lagi menolak. Ia membiarkan Azizah meraih tangan dan mencium punggung tangannya, serta mengambil alih tas kerja dan kotak bekalnya yang telah kosong.
Azizah dengan cepat menunjukkan layar ponselnya kepada Ezra.
‘Bagaimana pekerjaanmu hari ini, Mas? Apa berjalan lancar?’
“Ya,” balas Ezra singkat, lalu segera melangkah menuju lantai atas tanpa menoleh lagi.
Azizah hanya mematung sejenak melihat punggung suaminya yang masih tampak kaku. Ia mengembuskan napas, mencoba meneguhkan hatinya sendiri. Tidak apa-apa, pikirnya. Setidaknya Ezra tidak lagi membentaknya seperti hari-hari awal mereka menikah. Dengan langkah ringan, Azizah membawa tas kerja Ezra ke ruang kerja pria itu, lalu segera kembali ke lantai bawah untuk merampungkan makan malam yang telah ia siapkan.
Azizah tersenyum lebar saat melihat kotak bekal Ezra yang sudah kosong. Ia senang karena Ezra begitu menyukai makanan buatannya. Tanpa membuang waktu, ia segera meletakkan kotak itu ke dalam wastafel, lalu segera menata hidangan berupa semur tahu ke atas meja makan. Sambil menunggu Ezra turun dari lantai atas, ia duduk di kursi bar di meja dapur, dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki yang mantap terdengar menuruni anak tangga. Ezra langsung terfokus pada Azizah yang tengah sibuk memasukkan campuran bahan ke dalam toples kaca.
“Apa yang kau buat?” tanya Ezra tiba-tiba.
Azizah tersentak, saking fokusnya ia bahkan tidak menyadari kedatangan sang suami. Ia segera berdiri dan menunjukkan layar ponselnya.
‘Itu bunga yang kukeringkan kemarin. Aku ingin membuat potpourri, ditambahkan irisan lemon kering, kayu manis, cengkih, rosemary kering, dan sedikit minyak esensial. Kupikir, bisa digunakan untuk pengharum ruangan dan dekorasi, daripada bunga-bunga itu terbuang sia-sia.’
Ezra berkacak pinggang, menatap tajam ke arah toples itu. Azizah terdiam, jantungnya berdegup kencang karena takut Ezra marah melihat ia bereksperimen di rumahnya.
“Kenapa kau tahu banyak hal, Azizah?” tanya Ezra, nadanya lebih ke arah bingung daripada marah.
Azizah mengerjapkan mata, bingung harus menjawab apa.
“Maksudku itu,” Ezra menunjuk tumpukan potpourri di meja dapur, “Aku bahkan tidak pernah terpikir sebelumnya dan selalu membuang bunga-bunga layu itu begitu saja. Sekarang, aku sadar bahwa tidak semua barang bekas harus berakhir di tempat sampah.”
Azizah mengembuskan napas lega. Ia berpikir Ezra akan memarahinya. Dengan sedikit berani, ia mengetik balasan.
‘Jadi.. Mas sedang memujiku?’
Ezra berdecak sinis, “Tentu saja tidak! Aku hanya merasa diriku bodoh karena tidak menyadarinya lebih awal.”
Azizah menghela napas kecewa, walaupun dalam hati ia tahu itu adalah cara Ezra mengakui sesuatu.
“Tapi, ini pasti akan bernilai bisnis jika diperjualbelikan,” lanjut Ezra, matanya kini mulai berbinar dengan naluri pebisnisnya, “Sekaligus menghemat anggaran karena bahan bakunya berasal dari limbah bunga di rumah ini.”
Azizah menatap suaminya itu dengan takjub. Pebisnis memang berbeda, pikirnya.
Ezra kemudian duduk di kursi meja makan, “Jika saja besok bukan hari libur, aku pasti sudah membahas hasil karyamu itu di rapat divisi.”
Azizah ikut duduk di depan Ezra, matanya berbinar semangat. Ia segera mengetik.
‘Maksudnya, Mas akan memulai bisnis dari ideku?’
Ezra menatap tajam wanita di depannya, “Jangan senang dulu. Belum tentu barangmu itu disetujui oleh tim riset di kantorku. Memulai bisnis tidak semudah yang kau bayangkan. Memangnya kau mengerti apa tentang dunia bisnis?”
Azizah mengerucutkan bibirnya kesal. Pria itu memang selalu tahu cara merangkai kata-kata untuk menjatuhkan mentalnya.
Begitu menyadari sesuatu, Azizah mengambil sesuatu di kamarnya, lalu kembali lagi ke meja makan.
Ezra menatap kartu miliknya yang diletakkan di meja samping piringnya, “Kenapa kau mengembalikannya?”
Azizah mengetik dengan cepat.
‘Itu milikmu. Saat aku butuh belanja keperluan rumah tangga lagi, aku akan memintanya.”
Ezra menghela napas, lalu menggeser kartu itu ke depan Azizah, “Sekarang kartu itu milikmu.”
Azizah hendak mengetik untuk membalas. Tapi Ezra terlebih dahulu bersuara.
“Aku tidak menerima penolakan. Jangan sampai Mama tahu kalau aku tidak memberimu uang. Bisa-bisa aku dihajar sampai babak belur.”
Azizah tanpa sadar tersenyum. Benar kata Ezra, bahwa Amisha pasti bisa bertindak seperti itu.
“Dan ya, kenapa belanjamu murah sekali? Apa kau sengaja menghemat?” tanya Ezra.
Azizah cukup terkejut dengan pertanyaan pria itu. Ia mengetik balasan.
‘Apa menurut Mas itu cukup murah? Aku bahkan hendak meminta maaf karena menghabiskan banyak uangmu. Padahal aku sudah memilih barang-barang mana yang benar-benar dibutuhkan. Tapi tetap saja, harganya masih mahal.’
Ezra menggeleng tidak percaya. Ia baru menemui wanita yang memiliki sifat seperti Azizah. Selama ini, ia selalu bertemu wanita yang tanpa ragu menghabiskan materi untuk barang-barang yang tidak perlu. Seperti yang dilakukan Sienna.
Azizah kembali mengetik.
‘Sebelum ke supermarket, aku bahkan ke pasar dulu, tapi saat membayar aku ditolak karena pedagangnya tidak memiliki mesin pembayarannya.’
Membaca itu Ezra tertawa kecil. Sebuah tawa yang membuat Azizah melebarkan mata. Karena sejak mereka mengenal, baru kali ini ia melihat Ezra tertawa. Walaupun alasan tawa pria itu adalah kebodohannya.
“Kau memang benar-benar unik, Azizah. Orang-orang di sana pasti menertawakanmu.”
Azizah mengetik.
‘Maaf.’
Ezra menyandarkan punggungnya, “Untuk apa meminta maaf? Itu bukan kesalahan besar. Hanya ketidaktahuanmu saja. Tapi karena hal itu, kau bisa belajar tentang cara kerja di kota.”
Azizah menatap pria itu dengan haru. Rasanya, Ezra sedang menghiburnya.
“Berhenti bicara. Aku sudah lapar.”
Azizah buru-buru meletakkan ponselnya. Karena sibuk mengobrol, ia lupa mengisi piring suaminya.