NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Mengambil Tugas Berat

Papan pengumuman tugas sekte dipasang di dinding luar aula administrasi, panjangnya hampir tiga kali rentang tangan orang dewasa, dan setiap pagi, gulungan-gulungan kertas baru ditempel di sana. Warnanya berbeda-beda berdasarkan tingkat kesulitan, ada yang putih untuk tugas ringan yang boleh diambil murid rendahan, ada yang kuning untuk menengah, dan merah untuk tugas yang biasanya hanya menjadi milik senior. Zhao Fei membaca dari kiri ke kanan dengan tenang, melewati semua yang putih tanpa memperlambat pandangannya sampai matanya berhenti di satu gulungan merah.

Membasmi monster di jalur perdagangan dekat kaki Gunung Cemara. Tingkat kesulitan tinggi. Upah: tiga pil qi tingkat rendah dan sejumlah koin perak.

Tangannya mengambil gulungan itu dari papan.

Murid di sebelahnya memandang dengan ekspresi yang sulit disembunyikan, campuran antara kaget dan ingin memperingatkan. Tapi tidak ada yang bicara.

Zhao Fei sendiri juga tidak perlu penjelasan panjang untuk keputusan ini. Gunung Cemara adalah lokasi Tabib Wen. Jalur tugas itu akan membawanya melewati tempat yang sudah dia rencanakan sejak membaca peta di perpustakaan. Dengan mengambil tugas ini, dia tidak perlu mencari alasan lain untuk meninggalkan sekte. Semua sudah tersedia dalam satu paket.

Tidak ada pilihan yang lebih baik dari ini, pikirnya sambil melipat gulungan itu.

Dia pun berjalan menuju gerbang dengan perlengkapan seadanya. Pedang pendek di pinggang kanan, tas kecil berisi bekal dan catatan di bahu, peta yang sudah dihafalnya tapi tetap dibawa untuk jaga-jaga.

Sementara di sudut lapangan latihan, Xiaopang berdiri. Wajahnya ceria seperti biasa, dan ketika melihat Zhao Fei, tangannya terangkat dan melambai lebar-lebar, lebih antusias dari yang diperlukan, seperti seseorang yang mencoba menyembunyikan kekhawatiran di balik gerakan yang terlalu besar.

Zhao Fei pun mengangkat tangannya sebentar. Lalu terus berjalan.

Di saat yang sama, Li Wei tengah asyik berdiri di samping tiang kayu dekat gerbang dengan punggung bersandar santai. Sebatang tangkai gandum menjuntai dari sudut mulutnya, digerakkan ke kiri dan kanan oleh lidahnya. Wang Hu dan Zhang Ming juga berdiri sedikit di belakangnya, cukup dekat untuk menunjukkan kesetiaan tapi cukup jauh untuk tidak menghalangi jalan.

Tatapannya mengikuti Zhao Fei dari arah papan pengumuman sampai ke gerbang. Pandangan itu tidak tersembunyi. Tidak pula peduli untuk disembunyikan.

Ketika Zhao Fei sudah hampir melewati gerbang dan tidak mungkin mendengar, Li Wei mengambil tangkai gandum dari mulutnya. Meludahkan sisa biji ke tanah dengan suara yang terdengar terlalu puas.

"Murid rendahan baru itu," katanya, cukup keras untuk didengar Wang Hu dan Zhang Ming, "nekat mengambil tugas senior." Dia mendengus. "Sombong sekali. Semoga mati saja di perjalanan."

Wang Hu dan Zhang Ming tertawa, seperti yang memang diharapkan dari mereka.

Tidak ada yang berani menanggapi dari murid-murid lain yang kebetulan ada di dekat gerbang saat itu.

Jalur setapak di luar sekte mulai menanjak setelah melewati perbatasan desa terakhir.

Pepohonan di kanan kiri jalan semakin rapat seiring jam berlalu. Ladang yang terbuka perlahan digantikan oleh hutan yang lebih gelap, dengan akar-akar besar yang menonjol dari tanah seperti tulang-tulang raksasa yang terkubur setengah. Sinar matahari tidak lagi bisa jatuh lurus, hanya bisa menerobos dalam serpihan-serpihan kecil yang bergerak mengikuti angin yang menggerakkan daun-daun di atas.

Adapun Zhao Fei berjalan dengan waspada. Tangannya selalu dalam jarak satu gerakan dari gagang pedang pendeknya.

Suasana hutan ini tidak sepenuhnya asing. Dia sudah menghabiskan ribuan tahun di berbagai alam yang lebih berbahaya dari ini. Tapi perbedaannya jelas karena dulu dia yang paling ditakuti di mana pun dia berdiri. Sekarang, tubuh yang dia pakai ini tidak memancarkan ancaman apa pun yang bisa dibaca oleh makhluk-makhluk di sekelilingnya.

Lokasi sarang monster laba-laba yang tertulis dalam papan tugas tidak sulit ditemukan.

Setumpuk batu besar yang tersusun seperti gua kecil di pinggir jalur setapak, dengan tanda-tanda kerusakan di batang pohon sekitarnya. Kuku-kuku tajam yang terlalu besar untuk milik hewan biasa. Sisa-sisa barang bawaan pedagang yang tidak utuh lagi.

Zhao Fei berdiri di jarak yang cukup, mengamati pola gerakan di sekitar sarang itu selama beberapa menit.

Enam ekor. Tiga besar, tiga lebih kecil. Dari pengetahuannya tentang makhluk sejenis, titik lemah mereka ada di bagian belakang leher dan sendi kaki depan. Dua tempat yang jarang diserang orang yang tidak berpengalaman. Tapi untuk tugasnya saat ini adalah tidak membunuh laba-laba itu, melainkan mengambil lumut yang berkhasiat tinggi di dalam gua yang dihuni makhluk-makhluk itu. Selama aku tidak menyentuh jaring mereka sedikitpun, ini akan selesai dengan mudah.

Tanpa pikir panjang dia melangkah masuk, dan benar saja, sepuluh menit kemudian, semua sudah selesai. Tidak ada qi yang keluar dari tubuhnya. Hanya pedang pendek, lumut yang dia cari, dan pengetahuan yang dikumpulkan selama sepuluh ribu tahun.

Satu urusan selesai, pikirnya sambil membersihkan pakaiannya dari debu, sebelum memutar punggungnya ke arah sarang dan mulai berjalan ke utara, menuju Gunung Cemara.

Dia baru melangkah beberapa ratus kaki ketika telinganya menangkap sesuatu.

Suara itu berasal dari semak belukar di sebelah kirinya, dedaunan bergerak ke arah yang tidak sesuai dengan arah angin. Sesuatu yang berat sedang bergerak di baliknya, sesuatu yang cukup besar untuk menggerakkan semak setinggi pinggang dengan hanya gesekan tubuhnya.

Lantas Zhao Fei berhenti. Tangannya bergerak perlahan ke gagang pedang sebelum semak-semak itu terbelah dan seekor harimau putih muncul dari baliknya. Tubuhnya sebesar kerbau muda yang sudah dewasa, bulu putih bersih dengan garis-garis hitam yang terlihat jelas. Matanya kuning menyala, tertuju langsung pada Zhao Fei dengan intensitas yang tidak dimiliki binatang lapar biasa.

Dia sudah hidup lama, pikir Zhao Fei. Aura di sekitarnya juga berbeda. Mendekati level roh.

Pedang pendek di pinggangnya tidak akan cukup. Melawan makhluk seperti ini tanpa qi yang bekerja seperti menghantam batu dengan ranting kayu kering.

Akhirnya Zhao Fei tidak berpikir lebih lama sebelum dirinya memutuskan untuk lari.

Kecepatan harimau itu jauh di atas perkiraan awalnya.

Dalam hitungan detik saja, suara langkah kaki besar itu sudah terdengar di belakangnya, jaraknya lebih dekat dari yang dia inginkan. Cakarnya menghantam tanah dengan bunyi yang mengguncang daun-daun kering di sekitar.

Sementara Zhao Fei berbelok ke kiri, menerobos celah antara dua pohon yang jaraknya tidak cukup lebar untuk harimau itu lewat langsung. Dia mendengar suara cakar menggores kayu di belakangnya.

Lalu berbelok ke kanan, menyeberangi aliran air yang dangkal. Harimau itu melompati aliran air itu seperti anak panah yang dilepaskan dari busur, tidak memperlambat langkahnya sama sekali.

Tubuh ini tidak akan kuat berlari terus, pikirnya sambil terus melangkah. Paru-parunya sudah mulai meminta lebih banyak udara dari yang bisa disediakan, dan kakinya semakin berat. Aku butuh sesuatu yang bisa menghentikannya.

Tatapannya menyapu sekeliling sambil terus berlari, mencari sungai yang lebih besar, tebing, gua, apa saja yang bisa digunakan. Namun tidak ada yang terlihat di kanan, tidak ada pula di kiri.

Karena sibuk berpikir, saat dirinya melompati akar pohon besar yang menjulang dari tanah, dan mendarat di sisi lainnya.

TWAANG.

Sesuatu yang kencang menyambar pergelangan kaki kanannya. Dalam sepersekian detik, tali yang terbuat dari akar pohon yang dipilin kuat itu menariknya ke atas dengan kecepatan yang tidak memberi waktu untuk bereaksi.

Zhao Fei pun terbalik.

Tasnya hampir terlepas. Kedua tangannya berhasil menangkapnya sebelum jatuh, tapi itu membuat posisinya semakin canggung. Tubuhnya bergantungan terbalik di antara dua pohon besar, kepala dan tangannya menjuntai ke bawah, wajahnya beberapa meter dari permukaan tanah yang ditutupi akar dan daun kering.

Ini jelas perangkap pemburu yang dipasang di tempat yang tidak terlihat dari arah dia datang.

Sementara tepat di bawahnya, harimau putih itu tiba beberapa saat kemudian. Makhluk itu mengendus-endus tanah, mencari jejak mangsanya, lalu mendongak. Mata kuning yang menyala itu menemukan Zhao Fei yang bergantungan terbalik di atasnya.

Harimau itu mencoba memanjat. Cakarnya menggores batang pohon, meninggalkan bekas seperempat telapak tangan dalamnya. Tapi batang pohon itu terlalu besar, terlalu licin di bagian atas.

Kemudian harimau itu mundur beberapa langkah dan melompat.

Cakarnya hampir menyentuh tangan Zhao Fei. Hampir. Zhao Fei menarik tangannya ke atas sejauh yang bisa dilakukan, tubuhnya berputar sedikit karena gerakan itu.

Harimau pun mendarat. Mencoba lagi. Kali ini lebih rendah dari sebelumnya.

Lagi.

Lebih rendah lagi.

Hingga akhirnya, harimau itu berhenti melompat. Dia duduk di bawah pohon itu dengan ekor yang bergerak lambat ke kanan dan kiri, matanya tidak beranjak dari Zhao Fei.

Jadi kita bermain kesabaran sekarang, pikir Zhao Fei. Situasi ini lebih buruk dari yang aku kira.

Kepalanya mulai terasa pusing. Darah turun terus ke arah yang salah. Pergelangan kakinya kebas di mana tali itu mencengkeram. Tasnya sudah diapit di antara kedua lengannya agar tidak jatuh.

Tapi dia tidak panik. Kepanikan tidak pernah berguna dalam situasi apa pun, dan sepuluh ribu tahun sudah cukup untuk mengajarinya itu dengan sangat baik.

Matahari bergerak ke barat. Cahaya yang masuk melalui celah-celah daun berubah menjadi lebih merah, lebih panjang, lebih tipis. Sore akan segera jatuh menjadi malam.

Sedangkan harimau itu masih di sana. Berkeliling, duduk kembali. Tidak pergi.

Harimau ini lebih sabar dari yang aku perkirakan.

Burung-burung yang tadi terdengar bersahutan mulai satu per satu berhenti. Hutan menjadi lebih pekat dari sebelumnya. Zhao Fei mengatur napasnya, membiarkan tubuhnya tidak membuang energi yang tidak perlu.

Kemudian, dari arah yang tidak bisa dia lihat karena posisinya yang terbalik, terdengar suara langkah kaki orang yang tahu persis ke mana dia pergi.

Harimau putih itu menegang seketika. Kupingnya tegak, badannya merendah. Matanya berpindah dari Zhao Fei ke arah suara itu, sampai langkah kaki itu berhenti.

Kemudian, sebuah suara terdengar di antara pepohonan. Ringan, tapi terdengar jelas sampai ke telinga Zhao Fei yang bergantungan terbalik.

"Kau lagi yang terjebak perangkapku, atau kau memang sengaja masuk untuk menjaga harimau ini tetap di sini?"

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!