NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Sejak kehadirannya sebagai dosen, di Sekolah Tinggi Agama Islam B seolah memiliki magnet baru. Muhammad Fadhlan Ganendra, dikenal sebagai dosen killer dan "Kulkas Dua Puluh Pintu" yang bisa membekukan nyali mahasiswa dengan satu tatapan, pesonanya tetap membuat para kaum hawa rela mengantre demi sekadar melihatnya turun dari mobil mewah di parkiran kampus.

Hari ini Fadhlan datang ke kampus untuk menghadiri rapat bersama rektor, wakil rektor juga rekan dosen yang lain. Mobil mewahnya memasuki parkiran kampus, membuat mahasiswa maupun mahasiswi yang melihatnya berdecak kagum.

Ya, selain tampan, berwibawa dan mempesona, Fadhlan selalu terlihat gagah dengan pakaian yang rapih, maskulin, dan gaya coolnya.

​"Ya Allah... gantengnya ciptaan-Mu. Bagi satu untuk Jihan, Ya Allah," racau Jihan saat melihat Fadhlan keluar dari sedan hitam mengkilapnya dengan setelan jas yang pas di tubuh tegapnya.

"Betul kata Naya, seprtinya dia bukan sembarang dosen. Mobilnya aja beda lagi dari sebelumnya, udah gitu mobil mewah semua lagi" ujar Adiba menggelengkan kepala.

'keluarganya jelas dari keluarga terpandang dan ternama, kata kakek. Hal wajar baginya jika banyak yang mengagumi dan segan padanya bukan?' Syifa bermonolog di dalam hati.

​"Mungkin itu mobil rental," celetuk Syifa asal, meski jauh di lubuk hatinya, ia pun berdecak kagum.

"Aduh kamu Syif, sejak kapan mobil mewah jadi mobil rental? Tapi jujur, aku heran. Kenapa dia mau jadi dosen di kampus ini yang gajinya ngga seberapa ya?" Jihan menaruh curiga tentang latar belakang dosen barunya itu.

"Aku dengar juga pak Fadhlan sebelum pindah ke sini, dia seorang dosen di Universitas yang cukup terkenal di kota P loh" imbuh Adiba yang setuju dengan perkataan Jihan.

"Nah iya kan, apalagi dia juga lulusan universitas dari luar negeri gais. Aku curiga kalau dia bukan hanya seorang dosen" ujar Jihan yang semakin penasaran.

"Hei sudah, nanti orangnya denger" Syifa menegur kedua sahabatnya.

​Fadhlan berjalan melewati mereka. Untuk beberapa detik, netranya bertemu dengan calon istrinya. Fadhlan mengulas senyum tipis, sangat tipis hingga hanya Syifa yang bisa merasakannya.

'menggemaskan sekali calon istriku' gumam Fadhlan dalam hati.

'Innalillahi..jaga hati dan pandangan hamba-Mu ini Ya Allah, sebelum sah menjadi suami istri ' batinnya, detik itu juga, jantung Syifa berdegup lebih kencang, seolah baru saja menyelesaikan lari maraton.

"Eh barusan pak Fadhlan senyum ngga sih? Jarang-jarang loh dia senyum, makin ganteng ya Diba kalau pak Fadhlan senyum, ya walaupun sedikit" tutur Jihan yang menangkap momen tadi.

"Mau bilang sok ganteng, tapi ngga munafik sih, beliau memang ganteng" ucap Adiba mengakui.

"Boleh mengkhayal jadi pacarnya engga ya?" tanya Jihan mulai berandai-andai.

"Terserah kamu deh Jihan, yuk buruan ke kelas" ajak Adiba menggandeng Syifa.

"Eh Syifa, kenapa pipimu merah gitu? Jangan-jangan..kamu juga naksir ya sama pak Fadhlan?" tanya Jihan yang melihat pipi Syifa merona.

"Apaan sih Jihan! Maaf ya, aku bukan circle fans fanatik dia" berusaha mengelak.

"Hayo, ngaku dehh" ledek Jihan lagi.

"Inget Syif, udah ada calon suami" ujar Adiba berbisik di telinga Syifa.

'huft, calon suamiku yang tadi lewat, Adiba' jawab Syifa dalam hati.

Pipinya merona hebat, membuat Jihan terus menggodanya sepanjang jalan menuju kelas.

...----------------...

Sore harinya, Syifa berhenti di sebuah kedai bubur ayam langganan untuk membelikan pesanan kakeknya. Di tengah antrean, seorang pria memanggil namanya.

​"Asyifa, ya?"

​Syifa menoleh. "Iya, betul. Siapa?"

​"Saya Hasbi. Temannya Jihan, yang waktu itu bertemu di kantin." Pria itu tersenyum ramah, mencoba mencairkan suasana canggung.

​Obrolan singkat terjadi, namun perhatian Syifa teralih ke seberang jalan. Sebuah mobil yang sangat ia kenali, mobil yang tadi pagi ia lihat di kampus, memasuki halaman sebuah bangunan bertuliskan "Panti Asuhan An-Nur".

​Fadhlan turun dari sana. Namun, yang membuat napas Syifa mendadak sesak adalah pemandangan selanjutnya. Seorang wanita muda berhijab menyambut Fadhlan dengan senyum paling sumringah yang pernah Syifa lihat. Mereka tampak begitu akrab, apalagi saat anak-anak kecil mengerumuni mereka, menciptakan gambaran sebuah keluarga yang sempurna.

​"Bukannya itu dosen baru kita? Pak Fadhlan?" Hasbi ikut memperhatikan. "Masya Allah, ternyata beliau bukan hanya tampan, tapi juga dermawan. Lihat betapa dekatnya beliau dengan anak-anak panti."

​Dada Syifa berdenyut nyeri. Siapa wanita itu? Kenapa mereka terlihat akrab sekali? Apa wanita itu orang spesial baginya? Apakah dia bagian dari masa lalu pak Fadhlan yang belum selesai? Apakah aku hanya pengantin pengganti untuk menutupi perasaan yang sebenarnya?

​Netra Syifa mulai memanas. Ia segera menyeka sudut matanya, berpura-pura terkena debu jalanan saat Hasbi menyadari perubahan raut wajahnya. Begitu pesanannya selesai, Syifa segera berpamitan dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Hasbi yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.

...----------------...

Di tempat lain, Hasbi kembali ke teman-temannya dengan senyum yang sulit disembunyikan.

"Lama yah pak, beli buburnya di Arab?" sindir Adit, salah satu temannya.

"Maaf, tadi ada urusan sedikit"

"Urusan apakah yang membuat dikau lama kembali?" pertanyaan dari Miftah berhasil membuat Yusuf menaruh curiga pada Hasbi.

Sebenarnya Hasbi tidak ingin memberitahu, karena ada Yusuf disana. Tapi karena sudah terlanjur dan jika tidak di jawab akan semakin banyak pertanyaan dari teman-temannya.

"Tadi ngga sengaja ketemu temannya Jihan" jawabnya santai.

"Oh, gue tahu. Syifa ya?" tebak Adit.

Dengan senyum mengembang, Hasbi mengangguk malu.

​"PDKT dong!" goda Yusuf saat Hasbi menceritakan pertemuannya dengan Syifa.

​"Astaghfirullah, tidak begitu kawan. Hanya sekedar mengobrol, sambil menunggu antrian yang ramai," jawab Hasbi tenang, meski di dalam hati ia mulai menyusun rencana. Namun, peringatan Yusuf tentang adiknya, Arumi, yang akan kembali dari pondok, sempat membuatnya tertegun.

"Ekhem! Pucuk di cinta ulam pun tiba" bisik Adit pada Hasbi.

"Gas lah bro, nanti keduluan sama orang" lirih Miftah menyenggol lengan Hasbi.

"Arumi bentar lagi balik mondok loh, Bi. Kemarin juga minta nomor lu, gue udah kasih ke dia" pungkas Yusuf mengalihkan topik pembicaraan.

"Alhamdulillah, ikut senang mendengarnya. Eh? Buat apa?"

"Ngga tahu gue, kangen sama lu mungkin" jawab Yusuf enteng, sembari berjalan mengambil sendok di meja makan.

​Hasbi meraih ponselnya. Ia mulai mengetik pesan pada Jihan, menanyakan segala hal tentang Syifa. Ia tidak tahu bahwa saat ini, "mahasiswi idamannya" itu sedang menangis dalam diam, meragukan kesungguhan seorang pria yang akan menikahinya dua minggu lagi.

...----------------...

Malam itu, kamar Syifa terasa lebih sempit dari biasanya. Bayangan wanita di panti asuhan tadi terus menari-nari di pelupuk matanya, menghancurkan setiap jengkal kepercayaan yang baru saja mulai ia bangun untuk Fadhlan. Keraguan itu menyergap hebat, rasanya ingin sekali ia berteriak membatalkan semuanya, namun bayangan wajah kakek yang sedang sakit menahan lidahnya.

​"Nduk, kamu sudah tidur?" Suara lembut Ummi Salwa memecah keheningan.

​Syifa tak kuasa lagi membendung sesak. Begitu Ummi duduk di tepi ranjang, Syifa langsung menghambur ke pelukannya. Isak tangis yang tertahan sejak di kedai bubur tadi pecah seketika.

​"Ummi... Syifa lihat Pak Fadhlan dengan wanita lain. Syifa ingin batalkan saja perjodohan ini," rintihnya di sela isak tangis.

​Ummi Salwa mengusap punggung putrinya dengan sabar. "Istighfar, Nduk. Ingat perintah Allah untuk tabayyun. Jangan sampai prasangka membawamu pada fitnah. Kita tidak tahu siapa wanita itu. Bisa jadi saudara, atau pengurus panti. Jangan biarkan emosi mengambil keputusan untukmu."

​Nasihat Ummi perlahan meredam api di hati Syifa. Meski sesaknya masih ada, ia sadar bahwa menuduh tanpa bukti adalah lubang dosa. Malam itu, ia tertidur di pangkuan Ummi, sebelum akhirnya memutuskan untuk menenangkan diri di rumah Adiba keesokan harinya.

...----------------...

Lembayung senja mulai menyepuh langit ketika motor Abi Musthofa berhenti di depan sebuah rumah berarsitektur Jawa-modern yang asri. Rumah itu selalu memancarkan ketenangan, sama seperti pemiliknya.

Syifa turun dari motor dengan langkah goyah. Matanya yang sembab sengaja disembunyikan di balik tundukan kepala. Abi Musthofa menepuk pelan bahu putrinya sebelum melangkah bersama menuju teras, tempat Ustadz Taufiq dan Adiba sudah berdiri menyambut mereka.

"Assalamu'alaikum.. " tutur Abi Musthofa dan Syifa berbarengan.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah"

Ustadz Taufiq bersalaman dengan Abi Musthofa, mereka terlihat akrab karena istri mereka yang kebetulan dulunya berasal dari pondok pesantren yang sama.

"Mari, silakan duduk Mas Musthofa. Kebetulan sekali angin sore sedang sejuk"

"Abi, Adiba izin ajak Syifa langsung ke lantai dua, nggih? Jihan sudah menunggu di atas." Adiba melirik cemas pada jemari Syifa yang bergetar.

"Oh ya sudah, sekalian matur sama mbak di belakang untuk buatkan kopi hitam untuk Abi dan Abinya Syifa." tutur Ustadz Taufiq.

"Nggih Abi"

"Syifa menginap di rumah Adiba dulu nggih, Bi? Mau... menenangkan pikiran sebentar." menyalami tangan Abi Musthofa dengan penuh takzim.

"Iya, nduk. Jaga hatimu, jangan lupa jaga shalatmu, dan jangan merepotkan selama di sini, ya?" tersenyum teduh, dan mengusap kepala putrinya yang tertutup hijab.

"Loh, kok merepotkan? Saya malah senang luar biasa, Mas Musthofa. Rumah ini jadi ramai kalau ada Jihan sama Syifa menginap. Umminya Adiba jadi ada yang bantu mengajar ngaji anak-anak di serambi. Malah berkah untuk kami." terkekeh ringan memotong ucapan.

...----------------...

Matahari yang perlahan tenggelam menyisakan semburat jingga di wajah kuyu Syifa. Jihan yang melihat kedatangan sahabatnya langsung berdiri dengan heboh, namun ekspresinya berubah drastis saat melihat mata sembab Syifa.

"Nah, ini anaknya dateng juga! Sini, sini Syifa cantik... Kamu kenapa sih dari kampus tadi mellow banget? Mukanya ditekuk terus. Fix, kamu harus jelasin ke kita sekarang juga, nggak ada rahasia-rahasiaan!" Omel Jihan, meski nadanya sarat akan rasa khawatir.

"Jihan... hushh. Biar Syifa napas dulu, biar dia minum." Adiba menaruh nampan berisi teh hangat.

"Oh iya, iya! Maaf, kelepasan. Minum dulu deh, Syif. Nih, aku juga udah bawain jajan pasar kesukaan kamu yang di dekat pasar lama." menepuk jidatnya sendiri.

Syifa meneguk teh hangat itu perlahan, mencoba mengusir sumbatan di tenggorokannya. Dengan tangan bergetar, dia merogoh tasnya, mengambil ponsel, dan menyodorkan layarnya ke hadapan Adiba. Jihan, yang tingkat keingintahuannya mendadak melonjak mencapai 99%, langsung menggeser duduknya hingga bahu mereka bertabrakan, ikut mengintip layar.

​Jihan membaca deretan teks pada undangan video digital itu dengan suara nyaring, khas dirinya yang apa adanya. "Pernikahan Asyifa Humaira, putri pertama Bapak Musthofa Latif dan Ibu Salwa Shafira... dengan M. Fadhlan Ganendra, putra pertama almarhum Bapak Fadhil Ganendra dan almarhumah Ibu Aminah Larasati?"

Suasana di balkon mendadak hening. Angin sore berembus dingin. Adiba menoleh lambat-lambat, menatap Syifa dengan mata membelalak. Sementara Syifa hanya bisa menggenggam erat gelas tehnya, mengangguk lesu dengan air mata yang mulai menggenang kembali.

"Asyifa Humaira dan M. Fadhlan Ganendra? Fadhlan Ganendra... Kok nama itu rasanya familier banget ya di kupingku? Tapi di mana, ya?" Jihan mengernyitkan dahi, mengetuk-ngetuk dagunya.

"Ya Allah, Jihan! Kamu ini suka ceplas-ceplos tapi pikunnya kuadrat!" Adiba berdecak sebal, menyenggol lengan Jihan.

"Oh ya! Itu kan nama dosen baru kita! Pak Fadhlan yang ganteng, keren, berkharisma, yang kalau ngomong bikin seisi kelas langsung bungkam!" Seketika matanya membulat sempurna, mulutnya menganga.

"Nah, koneksinya baru nyambung tuh" mencibir pelan.

"Eh! Wait... Jangan bilang... Fadhlan yang dimaksud di undangan ini itu... Pak Dosen Kulkas kita?!" Jihan menarik bahu Syifa, panik.

"Fadhlan Ganendra yang ini... dan Pak Fadhlan dosen kita itu, orang yang sama, Syif?" Suaranya melembut, menatap lekat kedua manik mata Syifa.

Pertanyaan Adiba menjadi ketukan terakhir yang meruntuhkan pertahanan Syifa. Air matanya menetes bebas membasahi pipi. Syifa mengangguk pasrah.

"What?! Kok bisa?!" pekik mereka berbarengan.

"Aaa... Serius ini? Aku lagi nggak mimpi kan, dibonceng alien atau gimana? Sahabatku mau nikah sama dosen killer yang ditaksir sefakultas?!" Jihan emegang kepalanya, speechless.

Sambil terisak, Syifa akhirnya menumpahkan seluruh cerita yang selama ini mengganjal di dadanya. Mulai dari perjodohan mereka, rencana pernikahan, hingga rahasia Fadhlan yang seolah ditutupi rapat-rapat. Adiba dan Jihan mendengarkan tanpa menyela, ikut larut dalam rasa sesak yang dirasakan sahabat mereka.

"Huaaa... Jahat deh kalian! Syifa udah dikhitbah tapi nggak bilang-bilang ke aku! Tapi... it's okay, Syif. Yang sabar ya, aku tahu posisi kamu pasti bingung banget." matanya ikut berkaca-kaca, langsung menghambur memeluk Syifa.

"Maaf, Jihan... Aku waktu itu bingung banget, nggak bermaksud buat merahasiakan ini dari kalian..." suaranya sengau karena menangis.

"Huft... Syifa, kenapa nggak bilang dari awal kalau calon suami kamu itu Pak Fadhlan? Setidaknya bebanmu nggak kamu pikul sendiri, Syif." Adiba merangkul Syifa dari sisi lain, mengusap punggungnya sedikit memberi ketenangan.

"Aku juga awalnya nggak tahu kalau dia ternyata dosen baru di kampus kita, Diba.. hikss... hikss... Pas hari pertama kelas, aku syok banget."

"Huhu, my bestie... Beruntung sekaligus merinding ya dapet Pak Fadhlan. Eh, tapi aku ingat kemarin sore, Mas Hasbi nge-chat aku. Dia bilang nggak sengaja ketemu kamu. Terus waktu itu katanya kalian ngga sengaja liat dosen baru. Yang dimaksud... Pak Fadhlan ya?" Jihan melepas pelukan, dan teringat sesuatu.

"Hem... Iya, aku nggak sengaja ketemu Mas Hasbi juga di sana." Syifa mengangguk pelan.

"Kamu sudah tanyakan ke Pak Fadhlan, Syif? Tentang alasan dia menerima perjodohan ini?" Adiba menggenggam erat tangan Syifa, mencoba menyalurkan kekuatan.

"Dia bilang, dia tidak bisa memberitahu alasannya sekarang kenapa dia setuju dengan perjodohan ini. Dia seolah menyembunyikan sesuatu yang besar dari aku, Diba..." Syifa menggeleng, air matanya kian deras.

"Sudah, Syif, jangan menangis lagi! Kita berdua jadi ikutan sedih dan sakit hati lihat kamu begini. Pokoknya besok sepulang kuliah, kita bertiga datang ke panti asuhan itu! Kita cari tahu kebenarannya sendiri. Awas aja kalau Pak Dosen berani bohongin atau manfaatin sahabatku yang polos ini, bakal aku kempesin ban mobilnya!" Jihan mengepalkan tangannya, mendadak geram.

"Tenang, Syif. Kebenaran pasti akan ketemu jalannya. Yuk, kita ambil wudhu, terus ikut shalat jamaah bareng Abi sama Ummiku di bawah." Adiba tersenyum tipis melihat tingkah Jihan, lalu mengusap sisa air mata Syifa.

"Iya, malam ini kita deep talk lagi. Pokoknya kita nginep dan peluk Syifa bareng-bareng!" sembari mengambil mukena.

...****************...

1
Ulfa 168
udah sampai bab segini blm saling mencintai, maaf lama2 JD bosan bacay... kurang seru
Chani Bae ✨: iya kak, maaf ya ☺🙏 tapi terimakasih sudah berkenan mampir dan sudah beri dukungannya🧡
total 1 replies
banat_helwa
lama² males baca nya kpn coba si syifa sadar sebagai istri
Ida Zubedd
makanyaa sifa buru buka hatimu buat mas mas santri
Chani Bae ✨: hihi iya gemes yaa sama Syifa, do'ain aja yuk biar ingatan Syifa pulih dan inget kalau Fadhlan bukan seorang pria asing yang tiba" dateng ngelamar & nikahin dia ☺
total 1 replies
Ida Zubedd
novelmu adem ayem thor kata2nyaaa , sukaaa bnget ndak grusak grusuk .
Chani Bae ✨: Masyaa Allah kaka terimakasih sudah berkenan mampir di novel pertama saya 🥰🙏 maaf kalau masih banyak kekurangan karena author juga masih harus banyak belajar yaa.. 🙏
total 1 replies
Bunga
good
Chani Bae ✨: Terimakasih kak 💛🙏
total 1 replies
Ulfa 168
lanjut
Ulfa 168
lanjut thor
Chani Bae ✨: ditunggu updatenya ya kaka ☺🧡
total 1 replies
Ulfa 168
bagus cerita nya kak ditunggu kelanjutannya
Chani Bae ✨: terimakasih kakak 🥰🙏 siapp...
total 1 replies
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Chani Bae ✨: alhamdulillah 😭🥰
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!