LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Retakan di Cermin Hati, Benih Cinta yang Terlarang
Ada pertanyaan yang terus muter di kepala aku. Kenapa rasanya sakit banget lihat kamu sedih? Kenapa aku marah sampai nggak kontrol diri cuma karena ada orang lain yang deketin kamu? Kenapa aku merasa... possessif? Kenapa aku nggak mau berbagi kamu dengan siapa pun? Apa... apa ini masih perasaan kakak-adik? Atau ada sesuatu yang lain yang udah tumbuh tanpa kita sadari, sesuatu yang mengubah segalanya?"
Sabiru membuka matanya perlahan, menatap Allbiru dengan mata berkaca-kaca yang memantulkan cahaya bulan. Pertanyaan yang sama juga berkecamuk hebat di hatinya, mencari jawaban yang tak kunjung datang, menakutkan namun mendebarkan. "Aku... aku juga nggak tahu, Kak Allbiru. Tapi setiap kali Kakak deket, jantung aku rasanya mau copot. Aku merasa aman, tapi juga... deg-degan. Berbeda. Bukan deg-degan takut, tapi deg-degan yang bikin aku nggak mau Kakak pergi. Deg-degan yang bikin aku ingin waktu berhenti saat kita begini."
Keheningan menyelimuti mereka berdua, hanya diisi oleh suara jangkrik yang mulai berbunyi riang dan tetesan air terakhir dari atap teras. Jarak di antara mereka semakin tipis, bukan secara fisik, tapi secara emosional. Sebuah pengakuan tak terucap menggantung di udara, padat dan berat, siap meledak kapan saja. Allbiru menatap bibir Sabiru sebentar, godaan untuk mendekat, untuk menghapus jarak itu begitu kuat, tapi ia cepat-cepat mengalihkan pandangan, sadar bahwa garis batas yang mereka jaga selama lima belas tahun ini sedang retak, siap hancur menjadi sesuatu yang baru. Sesuatu yang berbahaya, terlarang menurut dunia, namun indah mempesona bagi hati mereka.
"Apa pun perasaan ini, Sabi," ucap Allbiru akhirnya, suaranya tegas namun penuh kerinduan yang dalam. Ia menggenggam tangan Sabiru erat, seolah enggan melepaskannya lagi, seolah jika dilepas Sabiru akan hilang selamanya. "Aku akan tetap jadi pelindungmu. Sampai kapan pun. Walaupun dunia menentang, walaupun status kita kakak-adik, aku nggak akan biarin siapa pun sakiti kamu. Termasuk diriku sendiri. Aku akan belajar memahami perasaan ini, demi kamu."
Sabiru tersenyum tipis, senyum yang penuh harap, cinta, dan tanda tanya besar. "Sampai kapan pun, Kak Allbiru. Aku juga nggak mau kehilangan Kakak. Apapun yang terjadi, kita hadapi bersama ya."
Malam itu, di bawah langit yang mulai bersih, benih cinta terlarang telah resmi tumbuh di antara mereka. Akarnya mulai menembus tanah hati, mencari nutrisi dari kenangan bersama. Namun, di balik ketenangan yang palsu itu, bayangan hitam masih mengintai dari sudut kota yang gelap, menunggu momen yang tepat untuk menyerang.
Di sebuah gang sempit yang kotor dan becek, ponsel Rio Pratama berkedip menerima pesan baru dari nomor tidak dikenal. "Target utama (Sabiru) sedang rentan secara emosional. Celah sudah terbuka. Rencana B siap dijalankan. Siapkan mobilnya. Kita gunakan ketakutan mereka terhadap kecelakaan."
Rio tersenyum tipis di balik kacamata hitamnya, senyum yang dingin dan tanpa jiwa, seperti ular yang melihat mangsanya. Ia menyalakan mesin mobil tua yang berasap itu. Raungan mesin mobil membelah kesunyian malam, suara yang sangat mirip dengan suara maut yang pernah merenggut kebahagiaan Malia bertahun lalu. Bagi Rio, ini bukan sekadar tugas, ini adalah permainan kucing-kucingan yang menyenangkan. Badai sesungguhnya mungkin belum berakhir; ia baru saja dimulai, dan kali ini, sasarannya bukan lagi tanah warisan, melainkan nyawa dan cinta yang baru saja mekar. Ia akan menggunakan trauma masa lalu sebagai senjata paling mematikan.