Bertahun-tahun telah berlalu, namun Esther masih saja tidak bisa melupakan sosok Lian, meskipun ia sudah berkali-kali mencoba dengan menjalin hubungan dengan pria lain.
Semua hubungan itu berjalan baik. Bahkan terlalu baik.
Pria-pria green flag yang diinginkan banyak wanita… semuanya pernah singgah dalam hidup Esther.
Tapi tetap saja, tidak ada yang cukup.
Hingga suatu malam di sebuah bar, sebuah kejadian membuatnya terjebak dalam perasaan dilema yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Moan my name."
"Kak... ahhh—"
Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaruArun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 MENCOBA MELUPAKAN
Esther mencoba melupakan malam itu meskipun terkadang ia kembali mengingatnya dan membuat dadanya sesak. Empat hari ia lalui dengan penuh kebosanan di dalam kamar hotel. Tidak ada hal yang bisa ia lakukan di dalam sana selain menonton film.
Hari ini setelah tanda memar malam itu di tubuhnya perlahan memudar, Esther kembali ke rutinitasnya sebagai dosen—mengajar mahasiswa.
"Untuk penjelasan materinya di cukupkan sekian, apalagi ada hal yang ingin kalian tanyakan soal tugas, kalian bisa kontak saya langsung."
"Bu," seorang pria tiba-tiba mengangkat tanganya.
"Iya, ada apa?"
"Bisakah bagi kontak ibu sekarang? Supaya lebih mudah bagi kami jika ingin bertanya dan bertukar kabar," ujar mahasiswa itu sambil tersenyum nakal. Jelas sekali dari wajahnya bahwa dia adalah pria yang suka bermain wanita.
Esther tersenyum ramah. Ia sudah biasa menghadapi godaan mahasiswa seperti itu, bahkan bisa dikatakan itu adalah makanan sehari-harinya. Jadi ia sudah hafal dan paham apa yang sebenarnya di maksud olehnya.
"Kau bisa mendapatkannya setelah kau mengerjakan separuh tugasmu," jawab Esther lalu pergi meninggalkan kelas.
Esther melangkah pelan melewati koridor kampus menuju ruangannya. Ia membereskan barang-barangnya satu persatu ke dalam tas sebelum akhirnya ia menyimpan tas itu ke salah satu bajunya.
"Kau mau langsung pulang?" tanya Giselle yang baru saja datang.
Esther mengangguk. "Aku ingi menemui keponakanku, sudah lama aku tidak bertemu dengannya."
Giselle menatap Esther penuh selidik. "Kemana kau selama empat hari ini? Kau hanya memberi kabar bahwa kau ada keperluan mendadak yang tidak bisa kau tinggalkan... Apa itu? Apa kau menikah diam-diam?"
"Ngaco," elak Esther sambil mengibaskan tangannya ke udara. "Aku benar-benar ada urusan kemarin, dan itu tidak bisa aku tinggalkan."
"Iya urusan itu ap—"
"Bye, aku buru-buru."
Esther segera meninggalkan Giselle yang masih berbicara itu.
"Esther, Hei, Tunggu ...."
Esther berjalan cepat melewati koridor sambil menoleh ke belakang, mengecek apakah Giselle mengikutinya ke luar atau tidak. Tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang hingga membuat Esther terkejut.
"Joshua.. "
Pria itu berdiri di dekat dinding, menghimpit tubuhnya. Rambut hitamnya yang biasanya ditata sangat rapi kini sedikit berantakan, matanya sayu seolah sudah berhari-hari tidak terlelap.
"Apa yang kau lakukan disini?" Esther menatap sekitar dengan raut wajah panik. Takut ada orang yang memergokinya.
"Tentu saja menemui mu," jawabnya. "Setiap hari aku datang kemari mencarimu, tapi kau selalu tidak ada. Rekanmu bilang kau sedang ada keperluan yang tidak bisa kau tinggalkan, dan hari ini akhirnya aku menemukanmu, Bebe."
"Aku tidak mau bicara denganmu, lebih baik kau pergi dan jangan pernah menemui ku lagi."
Joshua segera menahan tangan Esther saat wanita itu hendak meninggalkannya. "Apa maksudmu?"
"Kita putus."
Esther menghempaskan tangan Joshua yang membeku setelah mendengar putusannya dengan kasar lalu pergi meninggalkannya.
"Esther tunggu dulu," Joshua menyusul Esther setelah ia sadar. Ia meraih tangannya sekali lagi untuk menghentikan langkahnya.
"Jangan sentuh aku."
"Esther aku mohon jangan seperti ini, jangan putuskan aku. Aku tidak sanggup." ujarnya dengan nada rendah yang membuat Esther hampir goyah. "Kau boleh diamkan aku selama yang kau mau, tapi jangan putuskan aku, aku mohon, aku tidak mau kita putus."
"Itu salahmu, Joshua," Esther memukul Joshua dengan keras. "Kalau kau tidak menciumku dan mengingkari perjanjian yang kita buat, kita tidak akan putus, Joshua."
Esther menatap Joshua, kedua matanya berkaca-kaca, dadanya naik turun tak beraturan. Namun bukan itu yang sebenarnya membuat Esther begitu emosi, bukan Joshua, melainkan sikap Lian yang membuatnya kecewa. Dan Joshua lah yang menjadi sasaran empuk emosi Esther yang terpendam selama ini.
Joshua terdiam, kedua tangannya mengepal disisi tubuhnya. "Pukul aku lebih keras lagi jika itu bisa membuatmu memaafkan ku."
Esther menatap Joshua dengan air mata yang mengalir, "Berhenti mencariku dan jangan pernah temui aku lagi."
Esther pergi usai mengatakan itu, meninggalkan Joshua yang mematung seolah dunianya hancur. Telinganya berdengung, suara langkah kaki Esther tak lagi terdengar di telinganya.
...****************...
Suara ketukan pintu membuat Ava yang tengah bermain dengan Arthur di ruang tamu menoleh. "Sebentar sayang, mama buka pintu dulu, ya."
"Iya," Jawab Arthur. Ia kembali sibuk dengan mobil-mobilannya. Mendorong benda itu mundur dan melepaskannya hingga kedua mobil yang ia tarik bersamaan itu bertabrakan.
"Esther.. kau darimana saja? Semua orang mencarimu berhari-hari," Ava memeluk Esther sebentar. Ia menatap adik iparnya itu hingga ia melihat matanya memerah dan sedikit bengkak. "Kau menangis? Kenapa?"
"Siapa yang menangis?" elak Esther tertawa sambil melewati Ava dan masuk ke dalam rumah.
"Arthur, peluk bibi sini sayang," Esther merentangkan kedua tangannya. Arthur dengan cepat menurut, meninggalkan mainannya, dan turun dari sofa sambil berlari memeluk bibinya itu dengan erat.
"Bibi sombong," ucap anak empat tahun itu dengan jelas. "Tidak membawa makanan atau mainan lagi untukku dengan alasan sibuk."
Arthur melepaskan pelukannya. Ia menatap Esther sebelum menariknya ke sofa dan menyuruhnya merapikan mainannya, seperti biasa.
"Jangan bohong Esther, aku tahu kau dengan baik," Ava berjalan mendekat usai menutup pintu. "Apa kau bertengkar dengan Joshua?"
"Aku putus dengannya." ucap Esther dan menoleh. Tangannya sibuk mengambil satu persatu mobil-mobilan Arthur ke dalam box.
"Kau serius?"
Esther berdecak kecil lalu menoleh. "Apa aku terlihat bercanda kak?"
"Kenapa kau memutuskannya? Joshua itu baik, mapan, dia juga cukup tampan untuk tipemu, dan yang lebih penting dia menyayangi mu. Lalu apa masalahnya sampai kau memutuskannya?
Ava tidak perlu penjelasan Esther. Ia sudah tahu dengan pasti bahwa adik iparnya yang sudah memutuskan hubungan mereka.
"Apa mama dan papa tahu hal ini?"
Esther menggeleng.
"Astaga Esther, kau hampir tiga puluh dan kau malah memutuskan Joshua? Apa kau tidak mau menikah?"
Esther terdiam. Ia mau menikah dan memiliki keluarga seperti kakaknya. Tapi mengingat apa yang sudah ia lakukan pada dirinya sendiri membuat Esther merasa tidak layak untuk siapapun, termasuk Joshua.
"Arthur suka paman Jo," sahut Arthur tiba-tiba. Ia menengok sekitar, mencari sosok pria itu. "Dimana paman Jo? Kenapa tidak ikut dengan bibi?"
Arthur menatap mama dan bibi nya yang saling memandang. "Bibi, kenapa paman Jo tidak datang bersamamu? Padahal aku sangat ingin main lego dengannya."
"Paman Jo sibuk, jadi dia tidak bisa datang kemari untuk bermain denganmu, sayang," Ava mendekat dan mengusap puncak kepala anaknya.
"Benarkah?"
Esther ragu-ragu menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Bagaimana kala kau bermain lego dengan bibi saja?"
"Bibi bisa membuat pesawat?"
"Bisa."
"Baiklah, ayo ikut Arthur ke kamar."
...*****...
Malam baru saja tiba namun udara dingin sudah menusuk sampai ke tulang. Suara sorak-sorai orang di sisi jalanan menggema meneriaki nama pengemudi yang mereka jagokan.
"Lian! Lian!"
"Arash! Arash!"
"Menurutmu siapa yang akan menang kali ini?" salah seorang wanita bertanya pada rekan di sampingnya.
"Tentu saja Arash." ucapnya penuh keyakinan.
Raungan kenalpot mobil kian nyaring saat sorot lampu mulai terlihat mendekat ke arah mereka. Kedua mobil itu saling beradu di kejauhan, ban mobil berdecit, body mobil keduanya hampir menempel, berebut posisi pertama untuk melewati garis finish.
"Yeeeee..."
Semua penonton berhamburan ke tengah jalan setelah kedua mobil itu melewati garis finish. Mobil putih itu langsung berputar, menghadap mobil hitam yang baru saja tiba seperti menghadangnya. Pintu terbuka, menampilkan Lian yang tertawa puas berjalan ke arah mobil hitam di mana Arash membuka pintu.
"Ada apa? Tidak biasanya kau seperti ini, Arash." Lian menatap temannya itu heran.
Arash yang tidak pernah sekalipun bisa Lian kalahkan malam ini justru sebaliknya. Ia bisa dengan mudah menyalipnya berkali-kali di tikungan hingga ia yang pertama melewati garis finish.
"Aku balapan karena rindu suasananya, bukan karena ingin menang. Lagipula sekarang aku punya dua orang yang harus aku jaga selain diriku sendiri, jadi aku tidak mau mengambil resiko dan membuat mereka khawatir." jelas Arash sambil bersandar di kap mobil.
Lian berdecih pelan, "Kau bukan amatiran yang baru mencoba Arash, kau selalu melaju cepat tanpa berpikir hingga finish, lalu sekarang?"
"Kau akan mengerti saat kau menikah," Arash menepuk pundak Lian lalu menarik bahunya." jadi segeralah nikahi kekasihmu itu supaya kau tahu rasanya. Lagipula kau sudah hampir kepala empat, apa kau tidak mau serius dengan kekasihmu itu?"
"Serius atau tidak apa urusannya denganmu? Lagipula dia yang tidak mau aku nikahi, bukan aku yang tidak mau menikahinya."
"Terserah kau saja karena aku mau pulang."
"Pulang? Kau mau pulang?" Lian menatap Arash tak percaya. "Bukannya kita mau ke bar setelah balapan?"
"Lain kali saja, sekarang waktunya Arthur tidur. Dia pasti sedang mencariku untuk membaca dongeng sebelum tidur untuknya."
Arash masuk kedalam mobil dan pergi, sementara Lian berdiri sambil menatap kepergian sahabatnya itu. "Menikah katanya.. " gumamnya sambil mendengus. "Dia bahkan menikah karena di paksa awalnya, sok-sokan menyuruhku menikah. Padahal aku belum genap tiga puluh lima tahun."