lent Residue mengisahkan pernikahan tanpa cinta antara Nathan Ryu, seorang putra mahkota Ryu Corp yang memilih mengabdi sebagai Kapten Pasukan Khusus, dan Alveera Mayra, dokter magang idealis yang terpaksa setuju menikah demi menyelamatkan posisi keluarganya di dunia medis. Hubungan dingin mereka yang penuh jarak diuji ketika mereka bertemu di zona konflik Distrik Marvella, di mana Alveera baru menyadari bahwa suaminya yang kaku adalah "malaikat maut" yang paling ditakuti di medan perang. Namun, bara konflik yang sesungguhnya baru dimulai saat mereka kembali ke pusat kota; Nathan harus menjabat sebagai CEO untuk melindungi Alveera dari sabotase bisnis, tepat saat mantan kekasih Nathan muncul kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKAN SIANG DI UJUNG TANDUK
Restoran fine dining di lantai teratas gedung Ryu Corp menawarkan pemandangan seluruh kota yang memukau, namun bagi Alveera Mayra, ruangan kaca ini terasa lebih mencekam daripada bunker di Marvella. Ia duduk dengan punggung tegak, masih mengenakan kemeja kerjanya yang dilapisi blazer hitam, kontras dengan Valerie yang tampak bersinar dalam balutan gaun merah sutra.
Di tengah mereka, Nathan Ryu duduk dengan aura dominan yang membekukan atmosfer. Ia tidak menyentuh hidangan pembukanya, hanya menyesap kopi hitam tanpa gula sambil menatap datar ke arah jendela.
"Nathan, riset teknologi sensor dari V-Tech akan sangat revolusioner jika digabungkan dengan sistem robotik bedah di rumah sakitmu," ujar Valerie sambil menyentuh jemari Nathan di atas meja secara sekilas. "Ayahku bilang, ini adalah kunci untuk memonopoli pasar medis Asia."
Nathan menarik tangannya perlahan untuk mengambil gelas air, sebuah gerakan penolakan halus yang hanya disadari oleh Alveera. "Aku akan meninjau proposalnya, Valerie. Tapi Ryu Corp tidak pernah terburu-buru dalam mengambil keputusan strategis."
Valerie tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu namun menyimpan duri. Ia menoleh ke arah Alveera yang sedari tadi hanya diam. "Bagaimana menurutmu, Alveera? Sebagai seorang 'intern', kau pasti paham betapa pentingnya alat canggih untuk menutupi... kurangnya pengalaman medis seseorang."
Alveera meletakkan garpunya dengan denting halus yang membelah kesunyian. Ia menatap Valerie tepat di mata. "Teknologi memang membantu, tapi alat secanggih apa pun tidak bisa menggantikan nurani dan ketenangan seorang dokter di lapangan. Di Marvella, aku menyelamatkan nyawa dengan peralatan seadanya, sementara orang-orang dengan teknologi terbaik hanya sibuk menghitung profit di balik meja."
Wajah Valerie sedikit menegang. Ia merasa tersindir. "Oh, jadi kau merasa bangga karena menjadi relawan? Nathan, istrimu ini sangat idealis. Terlalu naif untuk dunia bisnis kita yang keras."
Nathan melirik Alveera. Ada kilatan aneh di matanya mungkin rasa kagum yang tertahan, atau mungkin rasa kesal karena Alveera mulai membalas. "Idealisme adalah residu dari masa muda, Valerie. Di dunia nyata, kita butuh hasil."
"Tepat!" seru Valerie senang. "Itulah kenapa kita dulu sangat cocok, Nathan. Kita bicara bahasa yang sama. Bukan bahasa 'kemanusiaan' yang membosankan."
Valerie sengaja memajukan tubuhnya, memperkecil jarak dengan Nathan. "Ingat mawar merah yang kau berikan padaku di London? Tato di lehermu itu... kau belum menghapusnya, kan? Itu adalah tanda bahwa kau tidak pernah benar-benar melepaskanku."
Tangan Alveera di bawah meja mengepal hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Ia menatap Nathan, menunggu bantahan pria itu. Namun, Nathan hanya terdiam, rahangnya mengeras, dan ia justru membuang muka ke arah lain.
Hati Alveera terasa seperti dihantam palu godam. Jadi benar, tato itu untuknya.
"Cukup," suara Alveera bergetar, namun ia berusaha tetap tenang. Ia berdiri dari kursinya. "Aku punya jadwal operasi di UGD satu jam lagi. Terima kasih atas makan siangnya, Tuan Ryu. Dan Nona Valerie... mawar mungkin indah, tapi jika batangnya sudah busuk, durinya hanya akan meracuni siapa pun yang memegangnya."
Alveera berbalik dan melangkah pergi dengan cepat. Ia tidak menoleh lagi, meski ia bisa merasakan tatapan Nathan menusuk punggungnya.
Baru saja Alveera sampai di depan lift, sebuah tangan kekar menarik lengannya dan mendorongnya masuk ke dalam lift yang kosong, menekan tombol berhenti darurat.
Itu Nathan. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Alveera. Napasnya terasa hangat di kening Alveera, namun tatapannya sedingin es.
"Apa yang kau lakukan, Alveera? Kau mempermalukanku di depan mitra bisnis penting!" geram Nathan rendah.
"Mempermalukanmu?" Alveera tertawa getir, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Kau membiarkan wanita itu menghinaku, menghina profesiku, dan mengklaim tato di tubuhmu sebagai miliknya di depanku istrimu! Siapa yang sebenarnya sedang dipermalukan di sini, Nathan?"
"Pernikahan ini adalah kontrak, kau tahu itu!"
"Kontrak tidak memberimu hak untuk menginjak-injak harga diriku!" Alveera mendorong dada Nathan dengan sekuat tenaga. "Jika kau begitu mencintainya, kenapa kau tidak menikahinya saja dulu? Kenapa kau harus menyeretku ke dalam neraka pribadimu?"
Nathan terdiam. Ia menatap Alveera yang kini menangis dalam diam. Untuk pertama kalinya, tembok pertahanan "The Silent Reaper" tampak retak. Ia ingin menjelaskan bahwa tato itu bukan tentang cinta, melainkan tentang sebuah penyesalan besar yang melibatkan Valerie dan kegagalan misinya di masa lalu. Tapi lidahnya terasa kelu.
"Keluar, Nathan," bisik Alveera. "Biarkan aku melakukan pekerjaanku sebagai dokter. Itu satu-satunya hal yang membuatku merasa masih hidup di tempat ini."
Nathan menatap Alveera untuk waktu yang lama, lalu tanpa berkata apa-apa, ia menekan tombol lift dan melangkah keluar saat pintu terbuka di lantai dasar.
Alveera bersandar di dinding lift yang dingin, memejamkan mata. Ia baru menyadari satu hal pahit; di dunia Nathan Ryu, ia hanyalah seorang penyusup di antara duri-duri mawar masa lalu suaminya.
---