NovelToon NovelToon
Logika Diatas Cinta

Logika Diatas Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seeula

Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Provokasi Kartu Nama Hitam dan Kebodohan Impulsif di Pojok Restoran

​Semburat jingga kemerahan dari matahari senja mulai menyapu langit ibu kota yang bising. Seminggu telah berlalu sejak pembatalan pernikahan akbar yang sempat menghebohkan jagat maya itu. Nadine Lavena berjalan menyusuri trotoar beton yang ramai, membiarkan embusan angin sore menerpa wajahnya yang tanpa ekspresi. Pikirannya terasa hampa, lelah, dan nyaris mati rasa setelah badai pengkhianatan yang memporak-porandakan harga dirinya. Langkah kaki ini murni hanya sebuah pelarian sesaat. Ia butuh mengistirahatkan kepalanya dari tatapan kasihan dan bisik-bisik miring orang-orang di kantor yang mulai terasa seperti jarum halus.

​Langkah kaki Nadine terhenti di depan sebuah bangunan dengan eksterior bata merah tanpa plester. Sebuah papan besi berkarat bertuliskan nama restoran dengan konsep industrial berdiri kokoh di samping pintu masuk. Dari balik jendela kaca besar yang mulai sedikit berembun karena perbedaan suhu, suasana di dalam tampak begitu tenang. Kontras dengan kegaduhan jalan raya di luar sana.

​Nadine mendorong pintu kayu berbingkai besi hitam tebal. Bunyi denting bel kuningan menyambut kehadirannya, langsung disusul oleh aroma pekat biji kopi Arabica yang baru saja digiling, berpadu dengan keharuman mentega manis yang menguar dari panggangan roti yang baru matang. Perpaduan aroma yang menenangkan. Dinding semen ekspos berwarna abu-abu gelap, jajaran lampu gantung Edison yang berpijar kuning temaram, serta tiang-tiang baja hitam kokoh memberikan atmosfer kasual yang ia butuhkan saat ini.

​Nadine memilih meja paling pojok, sebuah area yang agak temaram namun memberinya sudut pandang bebas ke seluruh penjuru ruangan. Ia meletakkan tas jinjing kulitnya dengan anggun, lalu memesan secangkir iced americano tanpa gula dan sepotong croissant cokelat kepada pelayan yang datang mendekat.

​Tak lama setelah pesanannya tiba di atas meja kayu yang kasar, perhatian Nadine teralih oleh kedatangan seorang perempuan cantik bergaun merah ketat. Perempuan itu memilih meja yang berada tepat di jalur pandang Nadine. Dari gesturnya yang terus-menerus memeriksa riasan melalui cermin bedak kecil, juga aroma parfum melati sintetik yang menyengat tajam dari tubuhnya, perempuan itu jelas tengah menunggu seseorang yang sangat penting dengan tingkat kecemasan tinggi.

​Pintu restoran kembali berdenting beberapa menit kemudian. Detik itu juga, Nadine merasakan atmosfer di dalam ruangan mendadak turun beberapa derajat. Dingin yang menusuk.

​Seorang pria melangkah masuk dengan keangkuhan yang nyata dalam setiap gerakannya. Postur tubuhnya yang maskulin dan tegap dibalut setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi, meregang sempurna pada proporsi tubuh yang tampak terlalu tidak nyata untuk ukuran manusia biasa. Wajahnya luar biasa tampan dengan rahang tegas yang kaku, namun sepasang matanya memancarkan aura es yang menusuk. Pria itu adalah Kyle Ernest.

​Kyle berjalan lurus tanpa mengalihkan pandangan, menuju meja perempuan bergaun merah yang langsung menegakkan punggungnya dengan senyum lebar. Pria itu duduk di hadapannya tanpa sedikit pun berniat membalas keramahan tersebut. Sikapnya begitu angkuh saat tangannya menjatuhkan selembar dokumen tebal di atas meja kayu.

​"Langsung saja ke intinya. Ini draf pernikahan kontrak yang saya tawarkan. Baca dan tanda tangani jika Anda setuju."

​Suara berat dan datar itu terdengar sangat acuh tak acuh, seolah-olah Kyle sedang melakukan transaksi jual beli tanah alih-alih menawarkan sebuah komitmen hidup.

​Perempuan seksi itu mengernyitkan dahi. Begitu matanya membaca poin demi poin di lembaran tersebut, wajah cantiknya yang dilapisi riasan tebal mendadak berubah masai. "Apa-apaan ini, Pak Kyle? Tidak diperbolehkan tidur seranjang? Tidak boleh mencampuri urusan pribadi Anda? Bahkan tidak ada pembangunan keharmonisan secara nyata di luar rumah kecuali berakting di depan kamera? Anda sedang bercanda dengan saya?"

​Mata perempuan itu meneliti wajah Kyle, mencoba mencari celah. Secara objektif, perempuan mana yang tidak akan tergoda oleh ketampanan dan proporsi tubuh Kyle yang begitu sempurna? Perempuan itu memajukan tubuhnya, menatap Kyle dengan pandangan sensual yang kentara, mencoba menggoda pria es itu secara terang-terangan. "Kita bisa memulainya dengan lebih santai, Kyle. Tubuhmu... terlalu sayang untuk diabaikan begitu saja dalam sebuah pernikahan, bukan?"

​Kyle sama sekali tidak bergeming. Tatapannya tetap sedingin es utara, sama sekali tidak tersentuh oleh godaan murah itu. "Saya tidak butuh romansa ataupun sentuhan fisik dari Anda. Tugas Anda hanya berakting sebagai istri yang patuh di depan orang tua saya agar mereka berhenti mengganggu saya dengan kencan buta ini."

​"Perjanjian ini benar-benar konyol dan menghina saya!"

​Perempuan itu berdiri dengan menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai semen ekspos, merasa harga dirinya diinjak-injak di tempat umum. Sebelum membalikkan badan untuk pergi, dengan refleks yang cepat ia meraih gelas air putih dingin di atas meja dan menyiramkannya tepat ke wajah tampan Kyle.

​"Percuma ganteng kalau tidak bisa digunakan! Dasar pria aneh!"

​Hentakan sepatu hak tingginya yang memekakkan telinga mengiringi langkah gusarnya keluar dari restoran.

​Nadine yang sejak awal menyaksikan seluruh pertunjukan gratis itu dari pojok ruangan spontan menarik sudut bibirnya. Suara percakapan mereka yang cukup jelas terdengar karena posisi meja yang berdekatan membuat insting humornya terusik. Sebuah senyuman tipis terukir di wajah anggunnya, memperlihatkan sedikit barisan giginya yang rapi. Drama di depannya ini jauh lebih menghibur daripada tayangan televisi mana pun.

​Namun, gerakan kecil dari bibir Nadine ternyata tidak luput dari sepasang mata tajam milik Kyle. Pria itu meraih selembar tisu dari wadah di meja, mengusap sisa air putih yang menetes dari ujung rambut dan rahang tegasnya dengan gerakan perlahan, tanpa mengubah ekspresi dinginnya sama sekali. Matanya kini terkunci sepenuhnya pada Nadine.

​Kyle berdiri dari kursinya. Langkah kakinya yang lebar terdengar mantap mendekati meja pojok tempat Nadine duduk, lalu menatap wanita itu dari atas dengan pandangan mengintimidasi yang tajam.

​"Kenapa? Anda juga mau menggunakan saya?"

​Nadine menghentikan senyumannya, namun ia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah takut atau salah tingkah karena tertangkap basah sedang menertawakan kemalangan orang lain. Ia mendongak dengan tenang, membalas tatapan tajam pria beraura es di depannya dengan ketenangan yang setara.

​"Maaf, saya tidak tertarik. Hanya merasa lucu."

​Mendengar jawaban yang begitu tenang dari seorang wanita asing, Kyle menaikkan sebelah alisnya. Ketertarikan samar yang belum pernah ada sebelumnya melintas di matanya yang biasa mati rasa. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Kyle menarik kursi besi di hadapan Nadine dan duduk dengan sikap angkuh yang khas.

​"Jadi bagaimana jika Anda saja yang menjadi pasangan kontrak saya?"

​Nadine terkejut. Cangkir kopi yang baru saja hendak diletakkannya kembali ke atas meja tertahan di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya mendarat dengan denting pelan. Ia menatap Kyle dengan tatapan tidak percaya, mengamati wajah tampan yang kini dipenuhi kelicikan yang mulai tampak di sela-sela ekspresi dinginnya.

​"Anda gila ya? Sekurang-itukah persediaan perempuan yang mau dengan Anda?"

​"Yang mau banyak, bahkan mengantre sampai luar jalan raya. Hanya saja saya tidak ingin mereka mencampuri urusan pribadi saya, apalagi menuntut kisah romantis sungguhan di dalam rumah. Namun Anda baru saja bilang tidak tertarik pada saya, jadi bagaimana jika terima saja?" Kyle bersandar pada kursi besi, melipat kedua tangannya di depan dada dengan pose menantang.

​"Tidak, saya tidak mau."

​"Berarti ucapan Anda yang tidak tertarik pada tubuh saya itu bohong. Anda menolak karena sebenarnya Anda takut akan tergoda pada saya, sama seperti wanita bergaun merah tadi."

​Senyum smirk Kyle mengembang tipis, sangat tipis namun cukup untuk memprovokasi harga diri Nadine yang sedang berada di titik sensitif.

​"Tidak, saya tidak berbohong." Nadine menegaskan suaranya, sepasang matanya menajam menatap Kyle dengan ketegasan yang mutlak.

​"Ya sudah, terima saja jika begitu. Buktikan kalau ucapan Anda yang tidak tertarik itu nyata."

​{Pria ini... benar-benar tinggi hati sekali. Dia pikir semua hal di dunia ini bisa dia taklukkan dan dia tebak dengan mudah menggunakan ketampanannya?}

​Naluri pertahanan diri di dalam otak Nadine tiba-tiba merasa tertantang oleh perkataan provokatif dari Kyle. Sifat dasarnya yang keras kepala seketika mendominasi akal sehatnya, menenggelamkan rasa waspada yang seharusnya ia miliki terhadap orang asing. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Kyle yang kelabu sedingin salju.

​"Oke, saya terima."

​"Deal."

​Kyle memberikan senyuman smirk yang menandakan kemenangan mutlaknya atas ego wanita di hadapannya. Sebelum berdiri dari kursi dan meninggalkan meja, pria itu merogoh saku jas abu-abunya, mengeluarkan sebuah kartu nama eksklusif berwarna hitam dengan tulisan berlapis emas, lalu meletakkannya dengan ketukan pelan di atas meja kayu.

​"Pendaftaran pernikahan akan diadakan tiga hari lagi di kantor KUA setempat, sekaligus menandatangani surat perjanjian pernikahan kontraknya. Jangan sampai terlambat, Calon Istri."

​Kyle berdiri, membalikkan tubuh maskulinnya, dan melangkah keluar dari restoran dengan gaya dinginnya yang berkuasa, meninggalkan aroma kayu cendana tipis di sekitar meja Nadine.

​Lima belas menit berlalu setelah kepergian Kyle, dan Nadine masih terpaku di kursinya, menatap kartu nama hitam bertuliskan 'Kyle Ernest - CEO Ernest Group' itu dengan pandangan horor yang mendalam. Kesadaran penuh mendadak menghantam kepalanya bagai gada besi yang sangat berat. Es di dalam gelas iced americano-nya telah mencair sepenuhnya, menyisakan air kopi yang tawar.

​{Nadine Lavena, kamu benar-benar bodoh! Sangat, sangat bodoh! Bagaimana bisa kamu menyetujui ajakan pernikahan kontrak dari orang asing yang sama sekali tidak kamu kenal hanya karena terpancing gengsi murah?}

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!