“Aku mencintaimu, Mey. Mari kita menikah.”
Mey seorang gadis yang terpaksa bekerja sebagai ladies companion alias LC di tempat karaoke demi membiayai kebutuhan hidupnya dan Liani, anaknya yang lahir di luar nikah. Ron mengentas Mey dari dunia hiburan malam, menjadikannya kekasih, dan kemudian melamarnya.
Sayang Ron tak bersedia menerima Liani dan meminta Mey tetap menitipkannya di panti asuhan. Pria itu berjanji takkan melarang Mey menemui anaknya dan memakai uang Ron untuk membiayai kebutuhannya. Gadis itu setuju. Dia mempercayakan Liani pada Bu Widya, pengelola panti.
Setelah menikah, karir Ron melejit dari sales biasa hingga menjadi distributor sepatu ternama. Dia dan Mey dikaruniai dua anak bernama Cyll dan Sam. Mey menjadi nyonya sosialita dengan hidup gemerlap hingga kemudian syok berat mengetahui kebobrokan perilaku suaminya.
Apa yang dilakukan Mey selanjutnya? Akankah dia mempertahankan pernikahannya? Lalu bagaimana hubungannya dengan Liani?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sofia Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Sakit
Bu Widya cemas. Sudah tiga hari Liani sakit. Panas, batuk, pilek. Bocah itu sudah dibawa ke dokter dan diberi obat. Batuk dan pileknya membaik, tapi panasnya masih naik-turun. Tidur anak itu jadi tidak tenang. Suka terbangun-bangun dan menangis. Bu Widya sampai memindahkan Liani dari kamarnya supaya tidak mengganggu istirahat anak-anak lain. Perempuan welas asih itu membawa anak Mey itu tinggal di paviliun samping panti untuk sementara waktu. Tempat itu merupakan fasilitas hunian khusus buat Bu Widya.
Di dalam paviliun tersebut ada ruang tamu, kamar tidur, kamar kerja, kamar mandi luar, serta teras kecil di belakang untuk tempat mesin cuci dan jemuran. Tempat itu sudah ditinggali Bu Widya selama sepuluh tahun dan dirawat dengan baik. Mey dulu pernah ditawari untuk menempati kamar kerja.
“Lalu Bu Widya nanti kerja di mana?”
“Barang-barang di kamar kerja kan bisa dipindahin ke ruang tamu, Mey. Cuma meja, kursi, dan lemari arsip saja, kan? Ga banyak.”
“Ga usah, Bu. Biar Mey tetap ngekos saja. Ruang tamu ini nanti jadi sumpek kalau ditambahi barang-barang lagi. Kan sudah ada sofa dan meja di sini.”
Bu Widya tertawa kecil. “Nanti meja, kursi dan lemari arsip kan bisa ditaruh nempel tembok, Mey. Jadi ga sumpek.”
Mey menggeleng tegas. “Ga usah, Bu. Mey ngekos saja. Di panti ada jam malam. Mey kan kerja serabutan, ga jelas pulang jam berapa. Ga enak kalau kena tegur satpam.”
Bu Widya mengalah. Dia sebenarnya kasihan sekali pada gadis yang baru dua bulan melahirkan ini tapi harus pontang-panting mencari nafkah. Dalam sehari dia bisa melakukan dua pekerjaan. Pagi sampai sore bekerja di laundry. Malam sebagai pelayan di kedai kopi. Mey selalu menyempatkan diri menemui Liani di panti antara jam lima sore hingga enam petang, yaitu di sela-sela perpindahan kerjanya dari laundry ke kedai kopi. Hanya di hari Minggu Mey bisa full mengasuh anaknya di panti. Kalau tanggal merah, dia bahagia karena laundry tutup, jadi dia cuma bekerja malamnya di kedai kopi.
Beberapa waktu kemudian Mey memberitahu Bu Widya bahwa dia diterima bekerja sebagai LC di sebuah tempat karaoke. “Cuma menemani tamu nyanyi dan minum kok, Bu,” kata gadis itu membela diri. “Ga ngapa-ngapain.”
Bu Widya diam saja. Dia kuatir Mey terjerumus di jalan yang salah. Tapi tak kuasa melarang gadis itu karena dia bukan anak kandungnya. “Yah, pokoknya kamu jaga diri saja baik-baik ya, Mey,” pesan wanita bijak itu. “Kalau ada tawaran yang menyimpang, ingatlah Liani. Jadikan dia pagar untuk mencegahmu berbuat hal-hal yang melanggar norma.”
Mey menggigit bibir. Dia merasa tersindir. Bukankan kelahiran Liani sendiri adalah hasil dari perbuatan melanggar norma?
“Maaa...Maaa....”
Rintihan Liani menyadarkan Bu Widya dari lamunan. Ditengoknya batita yang terbaring lemah di ranjang itu. Ah, anak ini mungkin kangen ibunya. Bu Widya segera menelepon Mey.
Tuuut...tuuut...tuuut....
Lama sekali tak ada jawaban sampai akhirnya bunyi telepon berhenti sendiri. Bu Widya menelepon lagi. Terjadi hal yang sama.
“Mey ke mana, sih? Lama ga nongol-nongol. Di-chat ga dibalas. Anaknya sakit ga dijenguk. Aduh, coba ku-chat lagi saja dia,” gerutu Bu Widya.
[Mey, Liani kangen sama kamu. Penyakitnya belum sembuh. Kamu datang ke sini, ya.]
Bu Widya mengeklik tombol ‘Kirim’. Kemudian pesan yang diketiknya tadi muncul di layar ponsel. Langsung ada tanda otomatis dua centang abu-abu, pertanda pesan WA-nya sudah masuk.
Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Tanda centang itu masih berwarna abu-abu, belum berubah menjadi biru. Pertanda belum dibaca oleh Mey.
Bu Widya geram sekali. Ini pertama kalinya dia kehilangan kesabaran terhadap ibu kandung Liani itu.
[Mey, sudah satu minggu lebih kamu tidak datang jenguk anakmu. Bahkan selama tiga hari ini dia sakit kamu ga nongol juga. Padahal sudah Ibu beritahu lewat WA. Kasihan Liani, Mey. Tidurnya terganggu terus sampai Ibu memindahkannya dari kamar panti ke paviliun. Dia kangen kamu, Mey.]
Tak ada jawaban. Padahal muncul centang dua abu-abu di layar ponsel.
Bu Widya tak sabar lagi. Diteleponnya Mey berkali-kali meski tak diangkat. Ibu kandung macam apa yang tak tergerak untuk menjenguk anaknya yang sakit berhari-hari!
Tiba-tiba ada telepon masuk. Dari Mey.
Bu Widya langsung menerimanya. “Halo, Mey. Kenapa baru terima nelepon Ibu sekarang? Dan kamu kok sudah satu minggu lebih ga ada kabar?”
Terdengar suara berat seorang pria. “Bu Widya, ini Ron. Mey mual dan muntah-muntah setiap hari. Kata dokter itu bawaan tubuhnya akibat hamil muda. Dia ga boleh kecapean apalagi stres. Makanya HP Mey untuk sementara saya simpan. Dia sama sekali ga pegang HP. Biar full istirahat di rumah. Saya setiap pagi kerja sebentar terus siangnya pulang memantau keadaan Mey. Lalu saya keluar lagi sampai sore. Saya tahu Bu Widya sering kirim Mey chat WA, tapi saya diamkan saja. Bahkan tak pernah saya baca. Saking ini Bu Widya nelepon terus tanpa henti, akhirnya terpaksa saya angkat. Ada masalah apa, Bu?”
Rasa geram dalam hati ibu pengelola panti itu sirna. Ternyata Mey tidak enak badan akibat kehamilan trimester pertamanya. Barangkali Liani ikut merasakan sakit ibu kandungnya. Namanya juga hubungan batin antara ibu dan anak. Apapun bisa terjadi.
“Ron, sudah tiga hari ini Liani sakit panas, batuk, pilek. Dia menyebut-nyebut Ma...Ma.... Kayaknya kangen sama mamanya.”
“Sudah diantar ke dokter?”
“Sudah. Batuk pileknya membaik, tapi panasnya masih naik-turun. Boleh Ibu bawa Liani datang ke rumah kalian untuk menemui Mey?”
Ron menjawab dingin. “Istri saya lagi hamil muda dan tidak enak badan. Kalau didatangi anak yang sakit apa tidak bahaya? Nanti malah berpengaruh terhadap janin yang dikandungnya.”
“Tapi...Liani kan juga anak Mey, Ron....”
“Begini saja, bawa anak itu ke dokter lagi. Cari dokter yang lebih pintar atau kalau perlu rawat inap di rumah sakit sekalian biar cepat sembuh. Biayanya berapa nanti Bu Widya tinggal hubungi saya. Akan saya tanggung sepenuhnya. Beres, kan? Sebentar lagi saya kirim nomor HP saya ke HP Ibu.”
Rasa geram kembali menyelimuti hati Bu Widya. Dia menyesal menjadi saksi pernikahan Mey. Ron ternyata berhati batu, tak punya belas kasihan terhadap bayi yang belum genap berusia dua tahun!
Tanpa ba-bi-bu lagi Bu Widya menutup telepon. Akan dia selesaikan sendiri masalah sakit Liani. Sementara itu Ron di seberang sana menggerutu, “Ga sopan bener. Langsung main tutup telepon saja. Memangnya dia siapa, bos besar?!”
Kemudian pria itu mengecek nomor WA Bu Widya pada daftar kontak telepon Mey. Begitu ditemukannya, langsung dikirim ke nomor WA-nya sendiri. Lalu Ron meraih ponselnya. Dia mengirim pesan WA pada Bu Widya.
[Ini nomor WA saya, Ron, suami Mey. Biaya pengobatan anak itu nanti silakan di-reimburse ke sini. Akan saya tanggung semuanya.]
Setelah Ron mengirim pesan itu, muncul dua centang warna abu-abu. Pria itu mendengus. Dia tak suka ikut campur masalah yang bukan urusannya seperti ini. Tapi demi kesehatan darah dagingnya yang tumbuh dalam rahim Mey, dia terpaksa harus rela mengeluarkan dana buat biaya berobat bayi yang sama sekali tak ada hubungan darah dengannya!
Ron tak menyadari bahwa Mey sejak tadi menguping di balik pintu kamar. Air mata wanita itu berlinang. Betapa dia amat merindukan Liani. Ternyata anaknya itu sakit. Mey tidak tahu. Maafkan Mama, Nak. Mama janji begitu kondisi Mama membaik, akan segera menjenguk Liani....
***