NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Hari Kedua Pasutri

Suara dari masjid mulai mengalun, perlahan mata Sagara mulai terbuka. Beberapa kali mengedip untuk menyesuaikan pencahayaan, sejenak ia nampak terpaku lalu terlonjak begitu saja dari tidurnya.

"Di mana aku?" tanyanya dengan nyawa yang masih belum terkumpul sempurna. Ruangan tempatnya tidur terasa asing, sampai matanya mengedar dan mendapati seorang perempuan yang masih nyaman merajut mimpi. "Oh yah, kamar istri," gumam pria itu, menggaruk kepalanya. Baru ingat jika dirinya melangsungkan pernikahan kemarin, pernikahan kilat dan tak terduga.

Sagara mendekat ke sisi Nara, ditatap lekatnya wajah si gadis yang telah menjadi istrinya, kelopak matanya lentik, alis melengkung indah, hidup kecilnya terlihat mancung, dan bibir tipis namun penuh, merekah dan terlihat kenyal. Tanpa sadar Sagara meneguk ludahnya sendiri. Pria itu pun kembali menjauhi tempat tidur seraya mengusap wajahnya kasar.

"Astaga, apa yang kamu bayangkan Sagara. Kenapa kamu menjadi mesum seperti ini, haisss ...." Ia mengacak rambut sebahunya yang sudah berantakan, semakin berantakan tak karuan. "Ini salah kamu yang selalu mengatakan aku mesum, jadi mesum betulan karena diamini malaikat," ujarnya menunjuk ke arah Nara yang masih damai dalam tidurnya.

Tidak ingin kembali terjebak oleh sesuatu yang dapat menghilangkan kendali dirinya, Sagara pun keluar dari kamar dan menuju kamar mandi. Ia akan bersiap-siap menuju masjid, sebentar lagi azan subuh berkumandang.

Sagara mengenakan baju Koko, sarung dan pecinya. Saat akan keluar dari kamar tersebut, ia kembali melihat ke arah Nara. Berpikir untuk membangunkannya agar sholat juga, mengingat dirinya sekarang adalah suami dari si gadis. Ia pun berjalan mendekati tempat tidur. "Nara, bangunn ... udah subuh." Pria itu mengguncang pelan bahu Nara yang membelakanginya.

"Naraaa ..." suaranya mengalun di keheningan kamar.

"Hmmm," gumam Nara tidak jelas.

"Bangun sholat dulu, baru nanti dilanjut tidurnya."

"Hmm, nggak sholat, Bu. Masih halangan," ujar Nara dengan mata masih tertutup seraya menyingkirkan tangan Sagara yang menepuk bahunya yang ia kira adalah ibunya. Suara seraknya menandakan gadis itu masih amat mengantuk.

Sagara menghela napas, ia memperbaiki selimut gadis itu, kemudian berdiri tegak. Langkah kakinya terdengar pelan keluar dari kamar dan menutup pintu tanpa meninggalkan bunyi nyaring.

***

Nara menguap, merenggangkan tubuhnya. Diliriknya jam dinding dan seketika matanya membulat. Jam menunjukkan pukul 6 lewat, hampir mendekati jam 7. "Astaga, aku nggak sempat nulis," gumamnya menyayangkan, karena biasanya ia akan menulis beberapa bab untuk novelnya. Waktu subuh otaknya encer dan ide-ide mengalir deras.

"Haisss ... ini semua gara-gara pria itu!" rutuknya. Sebab, Sagara lah yang menjadi penyebab ia tidak bisa tidur dengan lelap. Baru terlelap saat pukul 3 pagi, sedangkan pria itu tidur dengan amat nyenyaknya. Sama sekali tidak terganggu dengan tempat baru ataupun suasana yang berbeda.

Setelah puas merutuk pria yang telah menjadi suaminya, Nara turun dari tempat tidur. Mengikat rambutnya asal lalu keluar dari kamar dan mendapati ibunya tengah berbincang hangat dengan pria menyebalkan itu.

"Selamat pagi, Ibu." Nara memeluk ibunya dari belakangnya, lalu mencium pipinya. Matanya melirik sinis pada Sagara, ia merasa tersaingi oleh pria itu yang mengambil perhatian ibunya.

"Ya ampun Kanaraaa, kamu ini sudah jadi istri, Nak. Kenapa masih bangun di jam segini, seharusnya kamu itu bangun lebih pagi dari suamimu," omelan pagi sang ibu mulai. Jika pagi-pagi sebelumnya terkait cari jodoh, sekarang malah statusnya yang sebagian istri.

"Nak Saga itu bangun sejak tadi subuh, terus bantuin Ibu ini itu. Sedangkan kamu, jam segini baru bangun? Yang benar saja! Untung suamimu Nak Saga yang pengertian, mau memaklumi, bahkan tidak membiarkan Ibu membangunkan mu karena katanya kamu masih mengantuk," omelan Ratna terus mengalir, lalu kemudian nasehat-nasehat panjang lebarnya. "Lain kali bangun lebih pagi dari suamimu, terus mandi biar tidak bulukan kaya anak hilang seperti ini."

Nara menepuk dahinya, astagahh ... ibunya mengatainya anak hilang di depan pria menyebalkan ini. Lihat senyumannya sekarang, tampak amat menjengkelkan.

"Ya sudah, sana. Kamu bersihin diri. Mandi, baru setelah itu kita makan bersama." Ratna mendorong punggung anaknya menuju kamar mandi. Nara mau tidak mau, menuruti.

"Haduhh, Nak Sagara. Maat atas kelakuan Nara, ya. Anak itu memang begitu, terlalu lama tinggal sendiri. Jadi, begitu dia." Ratna masih tidak berhenti mengomeli anaknya itu.

Sagara mengusap tengkuknya, tersenyum memaklumi. "Iya, Bu. Itu jadi tugas Sagara sekarang untuk membimbing Nara kedepannya," katanya dengan wajah penuh tekat, membuat mertuanya itu merekahkan senyum.

Perbincangan mereka kembali mengalur-ngidul sembari tangan terus berkerja aktif untuk menyelesaikan masakan. Sampai Nara keluar dari kamar mandi dan dengan sayup-sayup mendengar percakapan mereka.

"Itu salah Sagara, Bu. Terlalu fokus bekerja sampai-sampai tidak sadar mengabaikan Nara. Akhirnya dia pulang kampung sendiri, padahal rencananya kami akan datang bersama ke desa ini. Jadi, Nara sok tidak kenal dengan Saga saat itu," ucap pria itu lancar jaya, saat mertuanya kembali menanyakan terkait pertama kali mereka bertemu dan seolah tidak saling kenal. "Ibu tahu, pertemuan pertama kami di desa ini di jembatan dekat pembatas desa sana."

"Oh, terus apa yang terjadi?" tanya Ratna penasaran.

"Saat Saga panggil Nara, tangan Saga langsung disambar, dipelintir ke belakang punggung, Bu. Uhw, sakit sekali. Saga nggak nyangka Nara ganas juga kalau lagi ngamuk," lanjut pria itu dengan wajah memelas.

"Hais, anak itu. Bisa-bisanya dia memperlakukan kamu seperti itu. Kenapa tidak dibicarakan dengan baik-baik saja." Ibunya Nara itu terlihat emosi.

"Tidak apa-apa, Bu. Tidak masalah, Saga terima semuanya. Bukan hanya karena salah Saga, tapi cinta Saga yang besar untuk Nara," katanya dengan senyum tipis, terlihat nyata dan natural.

Mata Nara membola, pandai sekali pria itu berakting, gumamnya dalam hati. Terlihat, ibunya itu tengah menepuk-nepuk bahu Sagara, bangga pada pria itu.

"Iya! Jika kamu melakukannya lagi, siap-siap saja kamu dapat yang lebih sakit dari itu. Awasss, ya ..." datang-datang Nara langsung mencubit lenga pria itu, ikut dalam akting dan skenario yang pria itu rangkai.

"Auhww," ringis Sagara dibuat-buat, itu membuat Ratna menatap tajam pada anaknya.

"Nara, bagaimana pun Nak Saga ini telah menjadi suami mu. Jangan bertingkah lagi seperti saat kalian masih menjadi sepasang kekasih. Jadi, harus kamu hormati menantu Ibu," peringatnya keras.

Nara sampai menganga, sedangkan Sagara tersenyum amat lebar.

Alisnya naik-turun, seolah mengatakan 'Dengar itu!'

Bibir Nara mencebik. "Seharusnya Ibu itu bela Nara, bukan dia," protesnya.

"Heh! Kamu ini yang sopan sama suami. Panggil Nak Saga dengan Aa, jangan dia begitu."

Nara meringiskan bahu, menggelikan menurutnya. Sedangkan Sagara melakukan hal yang sama, namun tidak terlalu kentara dan terang-terangan seperti Nara. Mempertahankan citra menantu baik dan tanpa celah.

"Haduh Naraaa, Ibu suruh kamu tadi mandi. Tapi malah cuci muka doang, ngilangin tai mata!" omelan pagi Ratna takkan ada habisnya, jika menyangkut anaknya ini.

***

Bersambung ...

1
Maulidia Okta
wah karna ada uwak sakit, nara sama sagara pasti bisa lebih dekat lagi, udh kayak suami istri beneran...
Maulidia Okta
gitu donk yang akur dan mendekati mesra nick.....
Maulidia Okta
duh...mulau ada bau² kedekatan nich
Maulidia Okta
duh... enteng banget aa gara, ngomong ya....
Anvika: Iya, kaya ngajak main diaa🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
suka cefitanya....
Anvika: Makasih kak😍🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
nara ribet banget ya
Anvika: Heheh, memang ribet dia kak🤭
total 1 replies
fabdul
Walaupun tanpa cinta, tapi tetap berkomitmen 👍
Anvika: Setuju, kak😊
total 1 replies
fabdul
Mampir💪
Anvika: Siap, Kak. Semoga suka ceritanya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!